Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mengerikan


__ADS_3

Ponsel miliknya Malik beberapa kali berdering dengan suara yang begitu sangat nyaring dan terdengar ke seluruh ruangan tersebut.


"Sebentar, Papa terima telepon dulu ya!" Malik menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya sembari berjalan keluar.


"Ya sudah kita sarapan yuk? nanti keburu siang." Ajaknya Rendy pada sang adik yang langsung menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian keduanya berjalan keluar dari kamar bunda dan papanya.


"Kak, kira-kira bunda mimpi apa ya? kok kelihatannya tampak khawatir banget, bahkan menganggap kalau semalam udah kejadian aneh gitu di rumah ini 'kan nggak ada kejadian apa-apa!" suara Alena sambil berjalan membuntuti langkah kaki sang kakak.


"Entahlah, kakak kan nggak ada di sini semalam! kam bertemu di rumah sakit, jadi mana ku tahu!" Ucap Rendy sembari mengajak rambut adiknya tersebut.


"Ih ... jangan ngacak-ngacak rambut aku dong ... kan jadi berantakan, nggak cantik lagi tahu ..." Sambil mengerucutkan bibirnya ke depan dan tangannya menyisirnya rambut yang acak-acakan barusan, berjalan bersama sang kakak menuruni anak tangga.


Rendy hanya tersenyum sembari merangkul pundak sang adik hingga akhirnya langkah mereka terhenti. Di depan meja makan dan semua sarapan sudah disiapkan oleh bibi dan jarum jam sudah menunjukkan hampir setengah tujuh pagi.


"Apakah ibu sedang sakit?" tanya bibi yang merasa heran saja karena Renita tidak tampak turun.


Rendy lebih dulu mendudukan dirinya di atas kursi yang ditarik sebelumnya. "Bunda tidak kenapa-napa, Bi ... sehat kok bunda. Cuman kesiangan doang! Mungkin semalam dia nggak bisa tidur."


"Oh begitu ya, syukurlah kalau baik-baik saja Bibi cuma merasa tumben saja, dalam sepanjang sejarah ... ibu di sini. Baru kali ini, pagi seperti ini ibu belum turun. Saking rajinnya dan perhatian pada keluarga!" Sambungnya Bibi sembari menuangkan air minum ke dalam berapa gelas.


"Hehehe Bibi bisa aja dalam sepanjang sejarah, sejarah apa Bi. Sejarah pendidikan harus jaga perekonomian?" Alena mengulang perkataan dari bibi sembari tersenyum dan mengambil air minum yang dia suguhkan.


"Oya, Bi ... apakah semalam di rumah ini ada maling atau ada orang yang mencurigakan gitu?" tanya Rendy dengan nada serius.


Sejenak bibi terdiam sambil keningnya yang sudah tidak kencang lagi itu mengerut. "Semalam ... Tidak Den, tidak ada apa-apa!" bibi mengarahkan pandangannya pada Alena secara bergantian.


"Ooh, gitu ya. Jadi tidak terjadi apapun, syukurlah. Jangan banyak bicara, baca doa sebelum sarapan!" kata Rendy sambil mengambil nasi goreng dan dua buah telur mata sapi.

__ADS_1


Alena pun menuruti sang kakak, tampak bibirnya komat-kamit membaca doa dan setelah itu berulah dia makan. Namun seperti biasa kalau sedang makan bareng pasti ada aja drama yang dibuat, ketika Alena mau mengambil telur mata sapi, diambil sama sang kakak. Sehingga di piring pun kosong.


Sementara Bibi menyediakannya hanya empat telor mata sapi saja menghitung untuk Rendi dan Alena karena kalau buat Renita dan Malik itu didadar.


"Ya ampun ... Kak, Kakak sudah ada dua ngapain ambil punyaku? itu bagian aku doang! Kak sini kan!" Alena mau mengambil telor mata sapi dari piring nya Rendy yang jelas-jelas sudah ada bagiannya.


Yang akhirnya mereka berdua rebutan mata sapi di piringnya Rendy.


"Kamu bikin aja lagi, ini buat Kakak semuanya, Kakak nggak kenyang kalau dua!" ucap Rendy sambil perang garpu sama sendok.


"Kakak, kan bisa minta lagi sama bibi, dibikinkan lagi saja itu ... yang dua ini buat aku dan aku mau masuk sekolah pagi, sementara Kakak agak siangan." Rajuk nya Alena yang sudah mulai berkaca-kaca matanya, kedua menik matanya sudah mulai memanas pengen nangis, kesel jengkel sama sang kakak.


Sementara sang kakak tidak peduli, dia belum puas kalau adiknya belum nangis. "Kamu aja yang minta lagi sama bibi, bikinkan yang baru ini buat Kakak semuanya." Sambil memasukkan ke dalam mulutnya satu persatu sehingga mulutnya Rendy penuh.


"Nggak mau, nanti lama ... keburu, siang. Ayolah Kak ... ya udah lah, makan nih semuanya. Makan sampai habis dengan piring-piringnya sekalian biar puas." Alena berdiri dan menyodorkan piring nasi gorengnya kepada Rendy. Dia sangat merasa kesal melihat telur mata sapi di piring kakaknya tinggal satu.


"Alena ... kenapa? sudah sarapannya?" tanya sang Bunda yang baru saja turun bersama sang ayah.


Alena terisak kecil lalu memeluk sang Bunda. "Bun, telor mata sapi aku dimakan dia semuanya!" Menuding ke arah Rendy yang tersenyum puas.


"Tidak apalah ... kan tinggal bikin lagi, nggak mau bikin sendiri kan ada Bibi minta tolong," sahutnya sang ayah sambil berjalan menghampiri meja makan.


Renita mengusap kepala Alena dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang diajaknya berjalan kembali ke meja makan. "Kata papa benar, kan bisa bikin lagi!"


"Gimana mau bikin lagi, Bun ... udah siang, sebentar lagi aku mau berangkat!" ucapnya Alena dengan nada manja.


"Ya ... siang sedikit tidak apalah ... orang bukan jalan kaki perginya juga, naik mobil. Sudah ah ... jangan cemberut begitu jelek, senyum? biar lebih cantik. Masa Putri Bunda cemberut Pagi-pagi." Renita menyuruh Alena duduk lalu kemudian menyajikan telur mata sapi yang sudah dibuatkan oleh bibi barusan dan tampak masih mengepul panas.

__ADS_1


"Huh ... dasar anak manja gitu aja marah," goda Rendy sembari menghabiskan sarapannya.


"Aku nggak mau bicara lagi sama Kakak, aku marah!" Alena menjulurkan lidahnya kepada Rendy yang dibalas dengan mengulang kan sendok garpu yang ada di tangannya.


Malik tersenyum melihat kedua Putra dan putrinya mereka yang kadang akur, yang kadang ... ya begitulah, bagai kucing dan tikus. Sesaat Renita pun mengingat-ingat kembali yang dia berasa nyata padahal cuman mimpi dan bertolak belakang dengan kenyataan, mimpi yang cukup mengerikan! membuat kedua bahunya bergidik dan kepalanya pun menggeleng.


"Kenapa sayang?" selidik Malik melihat ekspresi wajah Renita yang tampak memikirkan sesuatu yang menakutkan.


"Ha! Tidak, tidak kenapa-napa Nanti aja aku ceritain kalau ada waktu. Nggak sekarang, sarapan dulu udah siang banget nih, ya Allah ... bisa-bisanya aku kesiangan!" Gumamnya Renita sembari memulai sarapannya.


"Ceritanya nanti kalau lagi bareng-bareng ya, Bun? Alina kan penasaran sebenarnya Bunda mimpi apa sih? sehingga segitunya sampai ante-ng ... banget, tidur pun nye-nyak banget seolah-olah tidak mau bangun lagi, ups!" Alena langsung menangkap mulutnya. Melihat kanan kiri tatapan sang kakak maupun sang ayah begitu tajam ka arah dirinya. "Sorry?"


Setelah selesai sarapan. Mereka pun udah siap untuk pergi ke tempat tujuannya masing-masing. Alena pergi ke sekolah di antar sama sopir, sementara Malik dan Renita pergi bersama menuju kantor, dan Rendi menaiki motor kesayangannya menuju kampus.


Di sepanjang perjalanan, Renita pun melamun membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan yang begitu lekat di ingatan.


"Masih belum mau cerita nih?" Malik menoleh pada sang istri sesaat yang diam seribu bahasa dan pandangannya pun tertuju keluar jendela.


Renita pun mengalihkan pandangannya pada sang suami. "Rasanya kejadian itu asli bukan mimpi, tapi untung saja aku ... terbangun dan mengakhiri cerita yang mengerikan itu."


"Cerita yang mengerikan. Seperti apa sayang aku nggak ngerti 'kan kamu belum cerita sehingga bisa-bisanya mimpi anteng begitu!" Malik menggelengkan kepalanya seraya menatap dengan fokus ke depan membelah jalanan yang padat dengan kendaraan yang kebetulan waktunya berangkat kerja, yang kuliah yang sekolah.


Renita menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang. "Pokoknya sangat mengerikan, mimpi yang berasa sangat nyata!"


Malik menatap ke arah sang istri dengan sangat lekat seraya mengerutkan keningnya. Dia sangat penasaran apa sih yang dimaksud oleh istrinya ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2