Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Gantikan


__ADS_3

Pada suatu hari ... Rendy mau penerbangan pertama rute Jakarta-Semarang. Renita dan Malik pun mengantarkan ke bandara untuk sekedar memberi dukungan pada Rendy dia penerbangan yang pertama.


“Hati-hati ya ... jangan lupa berdoa juga dan ingat ... kamu itu bukan hanya membawa dirimu sendiri tetapi juga membawa orang banyak.” pesan bunda sambil memeluk putranya.


Malik menepuk pundaknya Rendy sambil berkata. “Semangat dan berdoa ya? semoga selamat sampai tujuan dan juga kembali tanpa kurang suatu apapun.”


“Iya, Pah. Mohon doa nya dan aku janji ... suatu saat nanti, aku akan mengajak kalian terbang bersama ku.” rendy sambil tersenyum. “Oya, Pa ... makasih atas dukungan Papa juga,” ucapnya sambil tersenyum merekah, di wajahnya tampak sekali memancarkan kebahagiaan.


“Jangan pikirkan itu dulu ... itu gampang, sekarang giman acaranya agar kamu bisa bekerja dengan baik dulu, oke?” Malik dengan lirih dan mendapat anggukan dari sang istri.


“Kata Papa benar, jangan memikirkan kita dulu. Itu gampang, yang penting kamu bekerja dulu dengan baik dan amanah. Lancar dan tidak ada halangan apapun. Aamiin ...” Renita mengusap wajahnya.


Kapten yang mau membimbingnya sudah tampa dan mengajak Rendy untuk bersiap memasuki awak, sehingga Rendy berpamitan pada kedua orang tuanya.


Renita dan Malik melambaikan tangan mengiringi langkahnya Rendy yang terus melambai pada mereka berdua.kedua manik matanya yang indah, Renita berkaca-kaca merasa terharu dengan kepergian putranya untuk mengemban tugasnya. Hati seorang ibu tidak akan mampu dipungkiri gimana cemas dan sekaligus bahagia dengan tercapainya cita-cita anaknya.


“Kok sayang menangis. Jangan sedih ahc. Doa kan agar putra kita semat sampai tujuan dan kembali lagi tanpa kurang suatu apapun.” Malik merangkul bahu istrinya.


“Aku menangis bahagia dan sekaligus sedih,” ucap Renita memeluk suaminya menyembunyikan wajahnya yang menangis di dada Malik.


“Sudah lah ... jangan sedih, doa yang terbaik saj untuk putra kita, giman kalau kita akan mengadakan sukuran untuk Rendy tapi nanti sekembalinya dia dari tugas, gimana? Setuju gak.” Malik mengusap kepala sang istri yang masih dalam pelukannya.


Renita memudarkan rangkulannya dan menatap wajah suaminya. “Serius?”


“Serius dong sayang ... dan itu bertepatan dengan ulang tahunnya bukan?” dan Renita pun mengangguk membenarkan perkataan suaminya.


Lantas mereka pun pulang dan langsung ke kantor. Setibanya di kantor Renita menemui staf nya untuk mengatakan kalau siang ini akan di adakannya meeting. Renita mengembuskan nafas dengan panjang merasa lega, kini bebannya berasa berkurang. Sebab Rendy sudah lulus dan kin sudah menjadi seorang pilot, terbayang betapa gagahnya pemuda itu mengenakan pakaian pilot dan itu adalah cita-citanya sedari kecil.


Kini waktu sudah menunjukan pukul empat sore dan Renita bersiap untuk pulang, baru saja membereskan meja kerjanya. Malik sudah nampak di ambang pintu sambil tersenyum padanya.


“Pulang yo sayang?” malik mendekati dan meraih tangan Renita yang masih sibuk membereskan berkas.


Terpaksa Renita menghentikan nya dan mengikuti langkah suaminya. Keduanya selalu tampak sangat bahagia, berjalan mesra dengan saling bergandengan tangan.


.

__ADS_1


.


Di rumah Malik dan Renita, tepatnya di dalam rumah sudah berhias dengan hiasan sangat cantik juga ada balon-balon dan ucapan happy birthday, dan juga sekaligus acara syukuran. Tamu pun sudah berdatangan tuk ikut mendoakan Rendy atas usianya yang bertambah dan juga mulainya bekerja menjadi pilot. Teman-teman kuliahnya pun sebagian datang dan sudah tampak hadir. Doa pun di mulai oleh seorang ustad setelah semua tamu tampak hadir di sana untuk ikut mendoakan yang terbaik.


Setelah membaca doa selesai. Kini waktunya makan-makan hidangan yang sudah tersedia.


“Selamat ulang tahun ya sayang ... semoga panjang umur, sehat ... dan mudah rejekinya. Di lancarkan segala urusannya.” Ucap Renita dan Malik pada Rendy yang mengangguk.


Yusna dan anak-anaknya pun tampa hadir, Shopia juga terlihat bersama putranya Genta. Yang juga sudah memberikan ucapan selamat pada Rendy.


Ucapan selamat ulang tahun pun terus terdengar dari semua tamu kepada pemuda tampan yang kamya belum punya kekasih ini.


“Bu ... ada tamu di luar mencari Ibu,” kata salah satu asisten pada Renita.


Renita dan Malik saling tatap lalu melihat ke arah Rosita yang sudah ada di antara mereka semua, keluarga Renita dan keluarga dari Azam pun ada berkumpul di sana juga sedang makan, terus siapa tamu yang di bilang bibi?


Kemudian Renita segera mendatangi tamunya. Renita berjalan menuju teras, tetapi di teras tidak siapa-siapa dan tamu semuanya berada di dalam masih menimati hidangan yang ada.


“Kemana dia, dan siapa sih?” gumamnya Renita sambil tengok kanan dan kiri.


“Wa’alaikum salam ... makasih berkenan hadir, kenapa gak masuk? sebaiknya kau masuk berkumpul dengan yang lain.” Renita menunjuk pada area pintu.


“Siapa dia Mbak? kalau gak salah ... dia Sharon ya? yang merebut suami Mbak dulu.” Suara Jefri dengan tiba-tiba terdengar dari arah samping nya Renita.


“Shuuut ... Jefri ... itu Cuma masa lalu dan tidak perlu di bahas lagi lah, mendingan masuk yo?” Renita menggandeng tangan Sharon ke dalam, walau mulanya Sharon tidak mau masuk dengan alasan malu, namun tak ayal masuk juga. Berjabat tangan dengan keluarga lainnya,


Jefri membuntuti dari belakang, Rendy pun tampak sedikit kaget dengan kedatangan Sharon yang dia ingat betul, kalau wanita itu lah yang sudah menghancurkan keluarganya kala itu. Sehingga papa berpisah dengan bunda nya dan dia sendiri tidak lagi di sayang olah sang papa waktu itu, dan bila di kenang terasa sangat menyakitkan.


"Rendy, sebenarnya sejak lama saya ingin bicara sama kamu, Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan saya di masa lalu yang telah menghancurkan keluargamu dan mengambil papamu! saya merasa bersalah dan Saya mengakui itu, sebab itulah saya minta maaf kepada kamu khususnya karena barang itu sendiri sudah makan kok tinggal kamu dan juga keluarga lainnya maafkan atas segala kesalahan dan dosa saya!" dengan tiba-tiba Sharon yang duduk bersimpuh ditujukan perkataannya kepada Rendy.


Rendy memandangi ke arah Renita yang mengangguk dan juga Malik yang hanya terdiam. kemudian Rendy mengalihkan pandangannya ke arah Sharon. "Sudahlah tante tidak usah dibahas lagi!"


Sharon pun tidak berkata lagi, sejenak dia terdiam dan cukup memaklumi dengan sikap Rendy yang seperti ini, dia marah ataupun benci pun itu wajar. sesaat kemudian Sharon berpamitan.


Walaupun Renita sudah mencegahnya agar tidak buru-buru pulang, tapi Sharon kekeh sehingga diantar kembali oleh Renita sampai ke teras.

__ADS_1


Para tamu yang terdiri tetangga dan teman nya Rendy sudah pada pulang dan tinggal keluarga saja yang ada di sana, Shopia pun sudah pulang bersama putranya. Yusna pun berpamitan  untuk pulang. Sheila dan Dion pun sama pamitan juga.


“Aduh ... gimana sih ... kalian kok buru-buru amat sih?” Renita memeluk Sheila, setelah tadi Yusna dan Shopia yang sudah lebih dulu.


“Sampai ketemu lagi nanti Mbak, sekarang pulang dulu.” Ungkap Sheila sambil cepaka-cepiki dengan Renita.


“Kak. Coba tebak siapa yang datang?” suara Alena yang mendatangi Rendy yang sedang terdiam begitu saja sambil sesekali mengobrol dengan opa, oma. Nenek dan kakeknya.


"Siapa. Gak jelas banget!"


Kemudian dari Abang pintu muncul seorang gadis yang pakaian sopan dan juga berjilbab sama tas cantik. Membuat bibir Rendy terbuka karena dia meyakini kalau itu Pricilia.


Kemudian Rendy pun tersenyum dan menunggu gadis itu menghampirinya. Pricilia meraih dan mencium tangan Renita juga Malik, terus omah Opa kakek nenek yang diperkenalkan oleh Alena. Setelah itu barulah dia duduk tidak jauh dari Rendi yang terus tersenyum.


Malik dan Deni telepon duduk bersama mereka dan saling berpandangan aku melihat keduanya yaitu ke arah Rendy dan Pricilia.


"Jujur, Papa sangat bahagia karena sekarang ini Rendy sudah mencapai cita-citanya, sekarang tinggal Alena yang harus lebih giat lagi belajar agar dapat menggapai cita-cita!"


"Bunda juga, kebahagiaan Bunda tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dan Bunda tak akan berhenti berdoa dan meminta kepada yang maha kuasa untuk kebahagiaan kita, putra dan putri Bunda."


"Rendy, aku minta maaf ya jika selama ini aku tidak seperti yang kamu harapkan! sekarang aku janji dan aku tahu kenapa kamu suka penampilanku seperti ini dan kurang suka dengan penampilanku yang terbuka, aku bisa belajar untuk lebih memperbaiki diri," ucapnya Pricilia sembari menunduk.


"Iya, aku lebih suka dengan penampilanmu seperti sekarang ini! tapi aku harap kamu berpenampilan seperti ini bukan gara-gara aku! tapi harus karena keikhlasanmu sendiri!" Rendy dengan lirih sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.


Kemudian di depan orang-orang yang ada di sana, Rendy mengutarakan isi hatinya. Kalau sebenarnya dari SMP pun dia suka sama Pricilia. Dan sekarang dia menembaknya! tapi bukan untuk pacaran melainkan untuk tunangan sampai berapa bulan lagi dia siap nikahinya.


Malik tersenyum dan merangkul sang istri yang justru menangis terharu. Atas kebahagiaan yang udah iya dapatkan, di balik prahara rumah tangga yang pernah terjadi.


Apapun yang terjadi, yakinlah kalau suatu saat akan Allah gantikan dengan yang lebih baik sesuatu yang terbaik. Rumah tangga yang pernah hancur jangan terlalu bersedih ataupun meratapi, karena siapa tahu Allah menyiapkan seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin


.


Selesai.


Makasih kepada reader ku semua yang sudah mengikuti setiap tulisan karyaku, yang hanya sebatas tulisan yang kurang berkenan ataupun memberikan kesan yang terbaik! maafkan segala kekurangan ku selama ini. Sekali lagi Makasih banyak kepada kalian semua! karena kalianlah aku berada di sini🙏

__ADS_1


__ADS_2