Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Melabrak


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, jelas terdengar di gendang telinganya mereka berdua dengan adanya suara aneh dari dalam sebuah kamar. Renita dan Jefri menjadi kaget dan berpikirannya menjadi traveling, Renita yang sudah berpikiran buruk menyuruh Rendi untuk duduk di sebuah kursi yang berada di ruang tengah.


"Rendy, sayang Bunda kan? Rendy tungguin dan duduk di sini ya! Bunda sama Om mau menemui orang yang sakit di dalam, jangan kemana-mana ya?" Renita menatap lekat ke arah wajah putranya lalu dicium keningnya penuh kasih sayang.


Anak itu yang sedang menikmati makanan ringan mengangguk. Lalu Renita berdiri dan menoleh ke arah Jefri yang mengangguk kan kepalanya! lantas keduanya berjalan menuju sebuah kamar yang terdapat suara-suara aneh tersebut.


Keduanya berdiri di depan pintu yang terdapat suara-suara penuh kenikmatan tersebut, dan sejenak kepala mereka bergerak celingukan melihat pada suasana sekitar yang sepi tanpa ada seorang lain pun.


Dengan dada yang sesak, hati yang sakit. Pendengaran pun ikut sakit dan mata terasa sangat perih! itulah yang dirasakan oleh Renita saat ini, dia berkali-kali menghembuskan nafasnya melalui mulut.


Begitupun dengan Jefri, biarpun dia laki-laki yang kuat dan tangguh. Rasanya dia merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan yang berstatus istri dari kakaknya tersebut.


Setelah memantapkan hati. Tangannya Jefri bergerak mengarah ke handle pintu yang dirasa memang tidak dikunci lalu dia putar, dia dorong sekuatnya dan blakkkkk ....


Pintu pun terbuka sangat lebar, apa yang mereka dapatkan dari dalam kamar yang mereka datangi itu. Sebuah pemandangan yang mencolok sungguh sangat-sangat mencolok kedua netra mata insan tersebut di Landa kemarahan dan curiga.


Renita tertegun sejenak sembari menelan Saliva nya berkali-kali yang terasa mandek di tenggorokan, rasanya kering kerontang.


Apa yang dia lihat ... dimana suaminya sedang melakukan adegan anu-anu dengan wanita yang bernama Sharon mana tidak memakai selimut sehingga terekspos semuanya.


Kedua insan yang tengah asyik anu-anu itu, terkaget-kaget. Shock dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut berwarna hitam berbunga mawar. Ketika melihat pintu terbuka dan langsung berdiri kedua orang yang Azam kenal, jelas dia kenal karena yang berdiri di pintu adalah istri dan adiknya sendiri.


"Astaghfirullah!" Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Renita yang tampak sangat shock melihat pemandangan tersebut.


"Renita!" gumamnya Azam, terlihat sangat terkesiap dan panik, dia sendiri buru-buru mengambil celana pendeknya lalu dia pakai!


Jefri yang sesaat memegang ponselnya dan merekam dari ketika mereka masuk kamar, lantas memasukkannya ke dalam saku, Jefri melompat dari pintu menarik tangan sang kakak lalu dia murka dan dihajarnya habis-habisan.


Dugh ... Dugh ....


"Auwhzzzzz ...."


Jbethzzzz ... Jbethzzzz ....

__ADS_1


"Auwhzzzzz ...."


Jefri memukul sang kakak tidak berjeda membuat Sharon menjerit-jerit agar dihentikan.


Azam tersungkur ke lantai tanpa bisa banyak melawan dan kebanyakan menangkis saja pukulan dari sang adik.


Karena Azam masih panik, dia shock secara tiba-tiba sang istri dan juga adiknya berada di sana, padahal belum lama ini Renita menelpon dirinya. Kalau dia mau pulang.


"Ke-kenapa kalian ada di sini? Sia-siapa yang memberi tahu kalian?" suaranya Azam terbata-bata sambil menahan sakitnya di sekujur tubuh, terutama bagian wajah, dada dan perut.


"Saya tidak menyangka, Mas. Ternyata ... Mas bajingan juga! Mas tega ya mengkhianati istri sendiri. Saya benar-benar tidak menyangka, Mas. Mas tega berbuat seperti itu!" Jefri menggelengkan kepalanya dengan rahang yang sangat mengerat, matanya merah menatap ke arah sang kakak.


Kaki Jefri pun memberi tendangan yang bertubi-tubi ke arah Azam, dan ajam berusaha menghindar. menangkap kaki adik nya.


Sharon semakin menjerit-jerit meminta Jefri untuk menghentikan pukulannya kepada Azam. Terdiam ketika melihat Renita menghampiri dan berusaha menarik selimut yang sedang dia pakai menutupi tubuhnya yang polos.


"Kamu tahu, saya siapa? tahu nggak saya siapa?" Renita menunjuk ke arah hidungnya sendiri dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Sharon.


Sharon menggelengkan kepalanya pelan, karena dia memang tidak tahu siapa Renita! dia tahu kalau Azam punya istri tapi belum pernah melihatnya sama sekali.


"Sa-saya. calon istrinya Mas Azam. Kamu ngapain ke sini? kamu tidak berhak datang ke sini dan melabrak seperti ini!" Sharon semakin mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh dia.


"Oo! Jadi kamu baru sebagai calon istri mas Azam ... iya? dan kamu sudah memberikan segalanya pada laki-laki bajingan itu! kamu tahu kalau dia sudah punya istri, tau nggak?" bentaknya Renita.


Sharon mengangguk dan berkata. "Aku tahu, dia punya istri dan ... aku bersedia di madu!" dengan ringannya Sharon menjawab demikian.


"Oh ya? kamu bersedia di madu hebat ..." Renita bertepuk tangan. "Kamu mau di madu, karena dia berduit bukan? seandainya dia gak berduit? apa kamu masih mau di madu?" lagi-lagi Renita membentak perempuan yang baru saja main kuda-kudaan dengan suaminya, Azam.


Sebenarnya Renita pengen menghajar habis-habisan wanita itu, pengen jambak rambutnya. Pengen mukul! pengen nampar pipinya kanan-kiri. Tapi dia pikirkan lagi, semua itu tidak akan menyelesaikan masalah dan justru kemungkinan dia yang akan tersudutkan! karena perilaku tangannya sehingga dia ngekar nafsunya tersebut, mencoba bersabar dan kuat menahan. Agar semuanya tidak berbalik arah.


"Bunda-Bunda ... ada apa? Rendi takut kalau Bunda bentak-bentak seperti itu sih!" tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang pintu, yaitu suaranya Rendy.


Rendy ketakutan mendengar suara yang ribut-ribut dari kamar tersebut.

__ADS_1


Renita belum puas dengan semua yang ingin dia ungkapkan kepada perempuan tersebut. Namun dia melihat sosok Rendy yang berdiri di balik pintu, membuat Renita urungkan niatnya.


"Kenapa papa berada di situ Bunda? papa kenapa Bunda? itu berdarah hidungnya Bunda Papa berdarah!" anak itu histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah sang ayah yang terduduk di pojokan dan hidungnya pun berdarah, tidak jauh dari Jefri berdiri.


Renita langsung memangku anak itu dan dia tidak menjelaskan kenapa papanya seperti itu, kenapa di situ!.


Lalu Renita menoleh ke arah Azam. "Mas. Aku tunggu kamu di rumah! kita bicarakan ini! Jefri, kita pulang!" ucap Renita sambil melihat kedua bergantian. Dengan suara yang bergetar menahan ingin menangis.


Renita pun mengajak Jefri untuk pulang dan membiarkan suaminya berada di sana, Renita akan menunggunya pulang nanti.


Ketika Renita dan Jefri mau keluar rumah, datanglah si Ibu yang tadi membawa balita dan sekarang bertambah! menuntun anak perempuan yang sekitar 6-7 tahunan.


Dan juga warga di sana berdatangan karena ikut mendengar jeritan-jeritan dari dalam rumah tersebut! tentunya mereka bertanya. Bahkan mereka berniat menghakimi Renita dan Jefri, namun Jefri langsung menunjuk ke arah kamar yang ada Azam nya.


"Saya adalah istri dari pria yang punya mobil tersebut, yang sekarang orangnya ada di dalam kamar dan saya mau bertanya kepada kalian semua! apakah mereka berdua sudah menikah atau belum? kalau belum apa kalian semua akan menghakimi saya dan juga adik saya ini? dan membiarkan orang membuat dosa bahkan dosanya pun akan terbagi-bagi pada orang yang sengaja membiarkannya!" jelasnya Renita dengan tegas kepada orang-orang tersebut.


"Apa yang sudah kau lakukan kepada putri ku?" teriak si Ibu yang tadi membawa anaknya Sharon ke luar.


"Ibu-Ibu ... Ibu seorang wanita juga dan saya sudah katakan kalau saya istrinya Azam, apa Ibu tidak merasakan Gimana kalau seandainya suami Ibu berbuat seperti itu? sekalipun mereka sudah menikah apa Ibu tidak sakit hati? jika suami Ibu menikah lagi tanpa sepengetahuan Ibu? apalagi kalau mereka belum menikah! kenapa Ibu membiarkan Putri Ibu melakukan zina bahkan bersama suami orang?" Renita menatap tajam ke arah si ibu.


Membuat seketika mulutnya ibu itu terdiam tidak, tahu harus berkata apa lagi. Lalu dia berjalan tergesa-gesa mendatangi kamar putrinya bersama warga yang sudah duluan mendatangi kamar tersebut.


Rendy memeluk pundaknya sang ibunda yang tampak sudah tidak kuat menahan tangisnya, namun terus berusaha untuk tegar agar air matanya tidak pecah di tempat itu, lalu menoleh pada Jefri dan keduanya langsung berjalan untuk menghampiri motor yang berada di warung.


Namun baru beberapa langkah saja, Renita hentikan langkahnya dan melihat ke arah mobil Azam. Lantas dia mundur dan membuka pintu depan yang ternyata ada kuncinya di sana.


"Kunci motor kamu tinggalkan di rumah itu dan mobil ini kita bawa pulang! ayo buruan!" perintah Renita pada sang adik ipar.


Sejenak Jefri terdiam. "Motornya gimana?"


"Biar saja dan titipkan di sana." Jawabnya Renita lalu masuk ke dalam mobil, melajukan nya memutar haluan sendiri selama Jefri menitipkan motornya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan pelit-pelit like-nya dong komen juga kali aja ada typo nya, makasih


__ADS_2