Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Ulat yang lumpuh


__ADS_3

Bu, saya ingin bertemu dengan mas Azam. Dimana sekarang dia?" Tanya Sheila yang kini tau kalau ibu itu ibunya wanitanya Azam.


"Dia tidak di sini lagi, mereka sudah pindah!" jawabnya ibu itu dengan nada dingin.


Jefri dan Sheila saling bertukar pandangan seraya berkata berbarengan. "Pindahnya kemana?"


"Saya tidak tahu, karena pindahnya pun saya tidak ikut."Jawabnya lagi.


"Masa sih ibu tidak tahu dak ketika pindahnya tidak ikut? Kan anda ibunya--"


"Benar, rasanya tidak masuk akal kalau ibu tidak tahu kemana mereka pindah." Sheila memotong perkataan Jefri.


"Ya ... Terserah, baiknya kalian tanya saja orangnya langsung dan jangan tanya saya." Kata wanita tersebut sambil Blak ... menutup pintu rumahnya.


Sheila menggeleng sambil menoleh pada Jefri yang sedang sibuk dengan ponselnya seraya mengeratkan giginya.


"Sial, nomor ku di blok!" Jefri tampak marah.


"Coba pake nomor ku saja," ucap Sheila sambil memberikan ponselnya pada Jefri.


Tapi ketika di pakai panggilan, terdengar suara operator. "Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan."


Jefri menatap tajam pada Sheila yang ponselnya tidak ada pulsa nya. "Katanya habis gajian. Mau borong eskrim, pulsa aja pailit."


"He he he ... Itu pulsa telepon. Kan bisa wa bukan? panggilan wa dong babang ..." Sheila memberikan kembali ponselnya.


Jefri melakukan panggilan lewat WhatsApp, namun tidak di angkat. Berkali-kali pun hasilnya sama. "Kurang ajar."


Sheila mengambil ponselnya dari Jefri. Sembari menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


Jefri bertanya pada tetangganya, siapa tahu kalau mereka tahu kemana Sharon pindah bersama suaminya. Tetapi tidak satupun yang tahu sebab mereka pindah hanya sebatas keluarga saja dan tidak membawa barang-barang selain dirinya dan pakaian saja. Begitu menurut informasi yang Jefri dapatkan.


Kemudian mereka memilih untuk kembali ke rumah sakit membawa hasil yang nihil. Jefri menggerutu dalam hati bisa-bisa nya sang kakak pindah rumah dan dia kehilangan posisinya dimana.


"Sabar Mas, orang sabar badannya lebar, ha ha ha ..." Sheila malah tertawa.


"Nggak usah tertawa. Aku lagi nggak pengen ketawa!" Suaranya dari depan yang berbau dengan suara angin.

__ADS_1


"Yey ... siapa juga yang mengajak mu ketawa? aku ketawa sendiri kok," Sheila mengulum senyumnya.


Tampak kepala Jefri yang memakai helm sedikit menggeleng. Lalu melajukan motornya lebih cepat hingga Sheila semakin membuka pinggangnya Jefri.


"Jangan terlalu kenceng dong Mas ... nanti kalau istrimu cemburu jangan salahkan aku ya? karena kamu sendiri yang buat, eh tapi jangan-jangan nanti aku dikira pelakor lagi." Sheila memilih pegangan pada pegangan motor di belakang ketimbang memegangi pinggang Jefri.


Jefri hanya tersenyum lebar mendengar celotehan dari Sheila.


Dalam beberapa saat motor Jefri tiba juga di rumah sakit dan langsung menemui Renita soal hasil dari pencariannya yang sia-sia.


Renita hanya terdiam merasakan sakit di dada, segitunya nasib putranya yang terlantar dari ayahnya. "Sudah lah, biar saja 6angnpenring serang Rendy sudah sembuh dan tidak legi menanyakan papanya." Pasrah dengan keadaan.


"Mbak, apa salahnya sih Mbak telepon Mas Azam, bilang kalau Rendy lagi sakit! siapa tahu kalau Mbak yang telepon mas Azam angkat jadi dia dengerin Mbak," kata Sheila kepada Renita.


Renita menggeleng lalu berkata. "Malas, nanti yang ada di cuekin dan akhirnya sakit hati, biar saja dia maunya gimana?" Renita pun berlalu masuk ke dalam ruangan inap Rendy yang bermain dengan Malik yang sudah datang lagi menemani Rendy.


"Ck," Sheila menoleh pada Jefri yang mengangkat kedua bahunya lalu mengikuti Renita masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Wah ganteng banget deh tuh cowok, siapanya mbak Renita ya--"


Sheila terdiam dan seakan berpikir, apa iya. Namun tidak berkata-kata apalagi bicara langsung sama sang kakak.


"Papa-Papa, aku ada tebakan deh buat Papa." Kata Rendy yang berada di sampingnya Malik.


"Apa itu?" tanya Malik sembari menatap anak itu, nenek dan kakek nya hanya melihat dan mendengarkan.


"Ulet apa yang suka bermain di kasur?" sekilas perkataan Rendy bagaikan sesuatu yang jorok tapi bagi dia itu tidak.


Malik mengedarkan pandangan pada semuanya yang ada di sana yang malah menggeleng tidak tahu. "Apa itu sayang? Papa gak ngerti deh."


"Nyerah? nyerah?" Rendy tersenyum.


Malik mengangkat tangannya. "Nyerah ach."


"Ular yang lumpuh yang gak bisa kemana-mana makanya kerjaannya di kasur terus, he he he ..." Rendy tertawa.


Begitupun yang lain ikut tertawa, biarpun tertawa garing. Yang penting anak itu bahagia.

__ADS_1


Renita tersenyum tipis lalu mendekati ke arah rendy.lvdan mengusap kepalanya. "Cepat sembuh ya sayang. Biar kita cepat pulang dari sini."


"Iya, Bunda ... Rendy pasti cepat sembuh kok!" anak itu mengangguk lalu menyembunyikan wajahnya di pangkuan sang bunda.


Kemudian orang tua Renita pamit untuk pulang ke rumah Renita dan menginap di sana. Tadinya mau menunggui Rendy di rumah sakit, namun Renita tidak ijinkan, mending pulang saja istirahat di rumah. Kalau di rumah sakit cukup dengan dirinya dan Jefri juga Sheila saja.


Sheila mengantar orang tuanya naik taksi. Dan Jefri sedang ke mushola.


Renita sedang mengusap kepalanya Rendy yang tampak mengantuk. "Makasih banyak ya, atas semua perhatiannya." Renita menoleh pada Malik yang tidak jauh dari mereka.


"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin dan cepat sembuh seperti sebelumnya, gitu aja!" jawabnya Malik seraya menatap ke anak itu.


"Sebaiknya ... sekarang kau pulang saja, karena keluarga kamu pasti menunggu! dan aku nggak mau nanti ... menjadi gunjingan orang, kalau kau menelantarkan keluarga mu sementara memperhatikan orang lain!" Titah Renita yang menyuruh Malik untuk pulang.


Malik hanya menggeleng sembari tersenyum mengembang. dan dia malah menghampiri sofa lalu duduk di sana.


"Kenapa nggak pulang sih nanti dicari sama keluarganya gimana?" gumamnya Renita dalam hati. Melepas tatapan pada Malik yang tampak santai di sofa lalu menonton televisi.


"Tidak perlu menjawab untuk pergi menemukan pagi dikala waktunya nanti!" Jelasnya Malik sembari mengarahkan nya pada Renita.


"Tapi!"


"Tidak perlu pikirkan aku, pikirkan saja pikirkan kesehatan Rendy. Dengan hati yang happy dan niscaya dia akan cepat sembuh!" Malik dengan mengalihkan pandangan pada Rendy yang mulai ngantuk berat.


Kemudian walaupun beranjak untuk pergi ke mushola. Sementara Jefri datang ke tempat tersebut berbarengan dengan Sheila yang sehabis mengantar orang tuanya.


"Mbak pak Malik itu punya istri nggak sih? jangan sampai nanti dikira Mbak merebut suami orang! Jelas-jelas suami sudah direbut orang!" suara Sheila menghiasi setelah berada dari dekat Renita ng kakak.


"Em ... nggak tahu kalau dia sudah punya keluarga atau belum!" Jawabnya Renita.


Sheila yang hanya bisa menggelengkan kepalanya ....


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya makasih banyak


...🌼🌼...

__ADS_1


__ADS_2