Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Berusaha


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ..." suara seorang pria yang membawa sebuah map dan ingin bertemu dengan Malik.


"Wa'alaikumus salam ... silakan masuk dan kita mengobrol di ruangan ku saja!" Malik langsung mengajak tamunya ke ruang kerja yang ada di rumah tersebut.


Rupanya dia pengacara nya Malik yang sengaja di datangkan, karena ada yang Malik obrolkan.


Renita dan sang ibu mertua tetap di ruang keluarga dan Rendy yang bermanja pada sang bunda.


Setelah beberapa saat. Malik dan tamunya pun tampak keluar dari ruangan Malik yang lalu tamunya pun berpamitan.


"Abang, gimana dengan saran mamah?" gumamnya Renita setelah berada di dalam kamar sambil mengenakan wewangian di tubuhnya. Menatap diri di pantulan cermin.


Malik yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil memangku laptop menolehkan kepalanya pada sang istri.


"Aku sih sebenarnya tidak ada masalah ya, mau cepat atau lambat ... namanya juga rejeki." Balasnya Malik sembari menghela nafas dalam-dalam.


"Tapi malah ingin segera mempunyai cucu dari kamu, aku juga sepemikiran sama kamu. Tapi di sisi lain aku ngerti dengan perasaan mama, dan aku juga tidak bisa pa-pa. Toh bukan adonan dari terigu yang langsung jadi. Ini menyangkut mahluk hidup kan ..." Renita menatap ke arah wajahnya Malik melalui cermin yang berada di hadapannya itu.


"Iya sayang, tapi oke lah, apa salah kita coba. Besok kita ke dokter ahli." Malik menutup laptop nya lalu turun menapakkan kakinya di lantai dan mendatangi sang istri.


"Jam berapa kita akan ke dokter? kan harus buat janji dulu--"


"Itu gampang dan aku yang akan urus semuanya sayang. Dan sekarang kita mencoba secara alami saja dulu." Malik memangku tubuh istrinya hingga melayang di udara dan Renita dengan refleks memeluk pundak sang suami.


Trek!


Mematikan lampu sehingga gelap gulita, setelah sebelumnya membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur.


Di kamar tersebut. Suasananya gelap dan hanya terkena sepercik cahaya dari luar melalui gorden yang tebal dan Malik memposisikan dirinya di atas tubuhnya Renita dan meraba-raba apa yang ingin dia sentuh sehingga pada akhirnya Malik bisa menyatukan kedua bibir mereka. Menyentuhnya dengan lembut dan penuh perasaan.


"Semoga dengan program alami ini, lebih efektif ketimbang program bayi tabung yang lebih ribet. Prosesnya pun lebih lama harus bayar pula! mendingan kayak gini he he he!" sejenak Malik melepaskan pagutan bibir mereka.


Dan lebih memposisikan tubuhnya biar lebih pas nantinya ketika bermain dengan lawannya. Sesuatu yang bergelantungan tapi bukan monkai sudah meronta-ronta meminta untuk di lepas di tempatnya untuk ngadem.


Renita tidak menjawab dengan kata-kata dia hanya suara nafas saja yang terdengar begitu berat dan menikmati setiap sentuhan yang Melik berikan. Tangan Renita turun mengusap punggung Malik dengan lembut.

__ADS_1


Dalam hati Renita pun berharap kalau buah cinta mereka akan tumbuh dengan cepat tanpa harus melakukan program ini itu.


"Bukannya aku pelit, tapi rasanya lebih baik di sedekahkan ketimbang kita membuat program bayi tabung yang prosesnya lebih lama, mendingan kita pikirkan lagi. Siapa tahu aja dengan lebih banyak sedekah akan mengundang atau pancingan doa-doa yang terbaik untuk kita berdua, ya kan sayang?" lirihnya Malik yang berharap sebuah jawaban.


Pada akhirnya terdengar juga gumamnya dari Renita. "Aku juga setuju, mungkin dengan sedekah akan lebih efektif sebagai usaha kita agar segera mendapat momongan."


"Baiklah besok setelah konsultasi ke dokter. Kita akan ke panti asuhan dan juga panti jompo, kita akan bersedekah di sana ajak juga Randy," sambungnya Malik.


"Ya ... aku setuju, jadi besok konsultasi lebih dulu, nggak langsung anu gitu?" tanyanya Renita dengan tangan yang mengeratkan rangkulan di pundaknya Malik.


"Nggak lah sayang, besok paling konsultasi dulu setelah itu baru kelanjutannya mau gimana!" jawabnya Malik dengan suara yang lebih parau, bergetar serta nafas yang semakin tidak karuan.


Detik kemudian tidak terdengar lagi obrolan mereka selain suara nafas yang saling bersahutan, seperti orang yang sedang berolahraga, hah-huh, hah-huh.


Keringat pun bercucuran dan membasahi tubuh keduanya yang capek, lelah! namun terasa sangat puas. Sehingga senyuman pun begitu mengembang bila saja dapat di lihat dengan kasat mata.


Malam pun kian larut dan beranjak pagi, seperti biasa setelah beres-beres di kamar. Renita langsung berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Ren, jangan lupa ya nanti siang kalian harus pergi ke dokter ahli dan konsultasi untuk program bayi tabung. Manusia itu wajib berusaha dan hasilnya Allah yang menentukan," suara sang ibu mertua yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang Renita.


Sejenak Renita terdiam beberapa saat kemudian berkata. "Iya Mah ... insya Allah dan mohon doanya saja!"


Renita tidak menjawab lagi. Dia lebih memilih melanjutkan aktifitasnya, bibi pun hanya melirik sambil mencuci perabotan di wastafel.


Selanjutnya Renita naik untuk mengecek apakah Rendi sudah siap atau masih tidur.


"Sayang, dah mandi belum?" Renita mendorong daun pintu kamarnya Rendy.


"Sudah dong Bun, lihatlah ... aku sudah rapi dan sudah siap untuk berangkat sekolah!" suara Rendy seiring dengan terbukanya pintu.


"Wah ... Putra Bunda sudah ganteng. Sudah lebih mandiri," Renita menghampiri putranya, lalu sedikit merapikan kerah pakaian seragamnya.


"Iya dong Bunda, aku kan sudah besar yang lain saja sudah punya adik. Aku aja yang belum punya adik, jadi aku harus belajar mandiri." Tambah nya Rendy kembali sambil mengenakan tas punggungnya.


Sejenak Renita menatap wajah polos putra nya tersebut, lagi-lagi kata-kata itu menyinggung perasaannya, yang tiada lain bahasan tentang baby.

__ADS_1


Perasaannya bagai dicabik-cabik diremas-remas hingga menimbulkan rasa nyeri, baby, buah hati! cucu. Itu yang dia dengar di hari-hari terakhir, sesuatu yang tidak bisa dia pinta Dan terkabulkan di saat itu juga.


Renita berusaha menghela nafas dengan sangat dalam lalu ia hembuskan dengan kasar. mencoba menetralisir perasaannya.


"Ya sudah, turun deh ke meja makan! sarapan. Bunda mau membereskan tempat tidurnya dulu dan melihat Papa apa sudah siap atau belum!" lirihnya Renita sembari mengusap rambutnya Rendy.


Dan anak itu pun langsung mengangguk dan berjalan keluar, melewati sang Bunda yang masih berdiri di tempat. Yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur nya Rendy yang masih belum dirapikan.


Kemudian Renita merapikan tempat tidurnya sang buah hati dengan pikiran yang berkecamuk dan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, membuka-buka gordennya sejenak. Membuka jendela menghirup udara segar dari luar.


Langkah Renita terayun teratur, melangkah menuju kamarnya dan sebelum masuk. Sudah muncul Malik berjalan keluar sembari mengenakan jam di tangannya.


"Yank sudah siap?" sapa Renita sembari menghentikan langkahnya.


Malik mengangkat wajahnya. "Iya sayang, aku sudah siap!"


Lantas Renita pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap mengenakan pakaian formal.


Dan Malik malah menyusul kembali ke dalam kamarnya. menutup pintunya dengan rapat, lantas memandang sang istri yang sedang mengganti pakaiannya, iya perhatikan proses demi prosesnya.


Renita tidak menyadari kalau Malik berada dan berdiri dekat pintu, dia pikir Malik sudah turun ke lantai bawah! tapi ternyata ketika tubuhnya berbalik. Langsung mendapatkan senyuman puas dari Malik yang sedang berpangku tangan dan menatap ke arah dirinya.


Alangkah terkejutnya Renita dan wajahnya tampak merah malu dibuatnya. "Kau, berdiri di situ? kok nggak bilang-bilang sih."


"He he he ... ngapain bilang-bilang? yang ada kamu kabur ke kamar mandi, kita sudah lama menikah dan tidak ada lagi yang kita tutup! terkadang kamu masih malu di depanku!" Malik menatap lekat dengan menunjukan senyum nya yang manis pada sang istri.


Lantas meraih pinggang sang istri yang hendak melewatinya dan menarik handle pintu. sehingga tubuh wanita berbalik dan membentur dadanya Malik.


"Apa-apaan sih ... kita ini belum sarapan, Rendy sudah nunggu deh sama mama di bawah!" gumamnya Renita sembari menghalangi kedua tangan di depan dada antara dadanya dan dada yang Malik.


"Aku minta waktunya sebentar, sebentar :sebentar ... aja." Dan Malik langsung nyosor aja menyentuh benda ranum yang baru saja memakai lip balm.


Nyess.


Rasanya dingin, sejuk menusuk jantung serta kenyal-kenyal gimana gitu. Tapi pada akhirnya saat mengasikan. Tiba-tiba Renita mendorong dada nya Malik.

__ADS_1


"Kita sudah di tunggu sarapan." Renita merapikan kerudungnya dan juga pakaiannya.


Malik terdiam dan menatap tanpa ekspresi ke arah Renita. Renita mengambil jas yang ternyata masih menggantung di dekat lemari ....


__ADS_2