
Selang 30 menit, mobil Renita tiba di kediamannya Sheila dan Dion. kebetulan Sheila nya pun baru saja datang dari kampus.
"Kamu dari mana Sheila. Baru pulang ya?" sapa Ranita sambil turun dari mobilnya. Brugh.
"Aku baru pulang dari kampus nih, kok kalian nggak bilang-bilang sih mau datang?" Sheila memeluk sang kakak dengan sangat erat.
"Kan mau bikin surprise. Kalau bilang-bilang bukan surprise dong." Balasnya Renita sambil membalas pelukan sang adik.
"Tante apa kabar? tambah gendut aja tuh perut?" Rendy mengusap perut sang Tante.
"Iya dong kan ada isinya kalau nggak ada isinya nggak mungkin gendut seperti ini!" jawabnya Renita sembari mengacak rambut Rendy.
"Oh iya! udah berapa bulan sekarang kehamilannya?" tanya Renita sambil sama-sama berjalan mendekati teras.
"Sekarang ... sudah menginjak delapan bulan, Mbak. Terus calon keponakan ku sudah berapa bulan nih?" tanya balik Sheila.
"Kalau gitu bentar lagi ya lahiran. Masya Allah Semoga dilancarkan dan disehatkan ibu dan juga bayinya! kata dokter sih ... baru 17 Minggu." Kata Renita kembali.
"Aamiin ... doain ya, Mbak ... biar aku lahirannya lancar! terkadang aku jadi parno sendiri lho." tambahnya Sheila kemudian mereka menundukkan dirinya di ruang keluarga.
Sementara Rendy entah ke mana, dia biasanya sih kelayapan ke taman.
"Tentu Mbak doain. Semoga lancar sehat, dan ... rencananya mau lahiran Caesar atau normal?" tanya Ranita kepada Sheila.
"Aku takut normal, Mbak. Dan keluarga nya Dion sudah menganjurkan untuk caesar aja. Mbak dulu kelahiran Rendy normal bukan?" tanya Sheila kepada Renita.
"Kemarin Alhamdulillah normal dan nggak ada jahitan." Sahutnya Renita sambil memberikan oleh-oleh untuk sang adik.
"Iih ... ngapain repot-repot sih! lagian kenapa sih nggak bilang-bilang? jadinya kan aku nggak persiapan beli apa gitu, buat cemilan, makanan nya!" Sheila menyimpan oleh-oleh dari sang kakak di meja.
"Nggak usah ngerepotin lah, yang ada aja. Oh ya emangnya apa yang ditakutkan kalau lahiran normal, justru lahiran normal itu seandainya bisa gitu ya normal lebih tanpa resiko lho, ketimbang Caesar." Renita menatap lembut sang adik.
__ADS_1
"Ya ... takut aja, Mbak! takut nggak bisa nahan sakit dan banyak alasan lainnya. Dan seperti yang Mbak tahu kalau aku kan takut darah, takutnya aku nggak sanggup lihat darah. Mbak ... pas tengah-tengah aku pingsan gimana!" Sheila menaikkan kedua bahunya.
"Ah kamu ngomongnya kayak gitu! ya banyak berdoa biar lahirannya lancar diberi kemudahan, keselamatan. Nah itu! itu yang bikin parno sendiri membayangkan yang tidak-tidak," sambungnya sang kakak.
"Entahlah, Mbak. Yang jelas aku pengen yang praktis aja lah." kemudian Sheila memanggil bibi untuk membawakan minuman dan kuenya.
"Oh ya Bi siapkan buat makan malam ya yang agak banyakan!" pintanya Sheila pada sang asisten yang tengah mengantarkan minuman.
"Iya baik Non," bibi pun mengangguk kemudian dia mengundur diri sambil membawa oleh-oleh dari Renita ke dapur.
"Gimana, sekarang tentram, damai sentosa. Loh jinawi bukan! bersama ibu mertua, tidak panas lagi kan?" tanya Sheila pada sang kakak.
"Ha? ya gitu deh ... sekarang lebih perhatian ... baik. Emang sih dari dulunya juga baik ... perhatian, cuman ya itu! karena dia ingin cucu dari Malik jadi ngomongnya suka merepet. Tapi maklumlah sudah tua!" jawabnya Renita sembari meneguk minumannya.
Suasana terasa hening, karena mereka berdua sejenak terdiam dan Sheila menatap lekat pada sang kakak! seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu yang sekian lama terpendam dan ia sendiri ragu untuk mengatakannya.
"Kamu kenapa? kayak ada yang aneh aja, kalau kamu bersih-bersih silakan aja! Mbak nggak apa-apa di sini, sendiri di sini! mandi saja dulu biar segar," titahnya sang kakak.
Renita merubah posisi duduknya menjadi lebih berhadapan dengan Sang adik. "Emangnya kamu mau ngomong apa serius banget dan kesalahan apa?" Selidiknya Renita yang merasa penasaran.
"Em ... begini Mbak, tapi Mbak janji nggak akan marah sama aku ataupun melaporkan aku, yang mungkin di anggap menutup-nutupi kesalahan orang!"
Membuat Renita semakin penasaran dengan Perkataan dari sang adik barusan.
"Kamu ngomong apa sih? Mbak makin nggak ngerti deh!" Renita mengerutkan keningnya serta tatapan yang begitu penasaran.
"Em, itu ... Mbak masih ingat kan dengan insiden yang pernah menimpa Mbak? yang--"
"Yang mana? insiden yang mana sih?" potong Renita yang rasanya tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari sang adik.
"Itu Mbak, ketika Mbak ada yang nabrak!" sahutnya Sheila.
__ADS_1
"Iya, terus kenapa?" tatapan Renita semakin dalam dan seolah-olah ingin menyelidiki apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya Sheila.
"Setahu aku ... orang yang menabrak Mbak pada waktu itu ... adalah suruhan nya Shopia--"
"Apa? kamu jangan asal ngomong, nanti jatuhnya fitnah lho!" lagi-lagi Renita memotong perkataan dari sang adik.
"Mbak ... aku serius kok nggak mengada-ngada, itu setahu aku bahwa Shopia menyewa orang untuk mencelakai Mbak. Agar apa? agar Mbak tidak jadi menikah dengan Abang Malik." Jelasnya Sheila.
Degh.
Renita tampak shock. Mendengar nya dan dia menangkup mulutnya dengan telapak tangan, antara rasa percaya dan tidak! biarpun tahu gimana Shopia yang tidak suka sama dirinya, kok sampai tega berbuat semacam itu?
"Aku minta maaf Mbak! aku tahu tapi aku nggak bilang, bukannya aku tega sama Mbak! bukan. Tapi aku tahunya setelah kejadian, dan dia mengajak kerjasama untuk terus menggagalkan pernikahan Mbak dan Abang. Bahkan aku juga mengakui kalau aku suka sama abang waktu itu. Dan ... dan berharap Shopia pun tidak mendapatkannya!" Sheila sejenak menjeda perkataanya.
Renita yang merasa shock, tangan masih menutup mulutnya yang menganga. Kedua manik matanya berkaca-kaca dan kepalanya pun menggeleng kasar, ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang adik.
"Jadi ujung-ujungnya kita berdua seolah-olah bersaing untuk mendapatkan Abang, akan tetapi aku sudah sadar mengakui kalau itu salah! aku tidak boleh menyukai orang yang sebenarnya jodoh kakakku. Namun Shopia sepertinya dia tetap bereaksi untuk bisa mendapatkan Abang! hingga akhirnya aku dengar dia diusir dari rumah," sambungnya Sheila dengan nada rasa bersalah.
Berkali-kali Renita menghela nafas dalam-dalam serta menelan saliva nya yang menyiksa tenggorokan.
Tangan Sheila menyentuh tangannya Renita yang satu lagi. "Dengan segala kerendahan hati ... aku minta maaf Mbak, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya dan aku tidak ingin dosaku ini menjadi penyebab seandainya nanti lahiran ku sulit. Aku mohon maafkan aku dan doakan aku yang terbaik!"
Sejenak Renita terdiam, bibirnya mengatup tatapannya yang berkaca-kaca menatap kosong! dalam benaknya tetap tidak percaya kenapa Shopia sampai tega dan adiknya sendiri pun seakan-akan ikut membantu untuk menggagalkan pernikahannya dengan Malik.
"Kamu tega Sheila, kamu tega ikut-ikut untuk menggagalkan pernikahan Mbak sama Abang! seolah-olah kamu tidak ingin melihat Mbak bahagia setelah kegagalan rumah tangga Mbak bersama Mas Azam!" gumamnya Renita dengan suara yang bergetar.
Tubuh Sheila merosot ke lantai dia berlutut dan menyusupkan wajahnya di atas pangkuan Renita, sheila menangis tersedu dan terus meminta maaf karena dia tidak ingin dibayang-bayangi dengan rasa bersalah. Apalagi saat ini dia sedang hamil besar! banyak ketakutan yang menerpa jiwanya.
Renita menghela nafas dalam-dalam serta menatap sang adik dengan tatapan yang berkaca-kaca Bahkan buliran air beningnya pun lolos terjatuh ke kepala sang adik ....
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya untuk penyemangatku terima kasih.