
"Selamat malam ... apa benar ini kediamannya Tuan Malik?" tanya seorang pria yang berbadan tegap berdiri di depan pintu dan tatapannya langsung mengarah ke dalam rumah.
Sejenak bibi terdiam dan menatap ke arah laki-laki tersebut dengan sangat meneliti dari atas sampai bawah. "I-iya."
"Apakah orangnya ada di rumah?" selidik orang tersebut menatap tajam ke arah bibi.
Dan Bibi langsung mengangguk seraya berkata. "Iya ada. Tuan ada di rumah, sebentar saya panggilkan!"
Kemudian Bibi langsung ngeloyor ke dalam rumah, untuk menemui tuannya yaitu Malik. "Maaf Aden,
di luar ada tamu."
"Siapa Bi?" tanya Malik seraya berdiri merapikan bajunya lantas berjalan mendekati pintu utama.
"Tidak tahu Den." Dan bibi langsung melanjutkan langkahnya ke dapur, untuk mengerjakan tugasnya yang tertunda.
Renita dan ibunya Malik saling bertukar pandangan, seakan-akan saling bertanya siapakah yang datang.
"Rendy. Sudah malam! bobo gih? mainannya beresin dulu ya! ada tamu lagian!" ucap Renita kepada Rendy.
"Besok kan sekolah, nanti kesiangan lho ..." tambahnya sang omah sembari bertanya-tanya dalam hati, siapa kah orang yang bertamu.
Rendy menoleh kepada keduanya seraya berkata. "Baik Bunda, Oma. Rendy mau beresin mainannya dulu."
Malik berdiri melihat ke arah orang yang sedang memunggungi pintu. "Selamat malam Apa Ada perlu dengan saya?"
Laki-laki yang bertubuh tinggi dan tegap tersebut berbalik! melihat ke arah Malik dan tatapannya sangat tajam juga kurang bersahabat namun bibirnya menyungging. "Apakah anda yang bernama Malik?"
Sebelum Malik menjawab pertanyaannya, laki-laki itu mengambil ponsel dan melihat gambar seseorang dan ia menyamakannya dengan orang yang berada di hadapannya tersebut.
"Iya nama saya Malik, maaf, sama siapa ya. Apa mungkin salah orang?" Malik menatap heran pada laki-laki yang rasanya tidak pernah ia temui apalagi mengenalnya.
"Ya saya ingin bertemu dengan Malik dan sesuai dengan gambar orangnya memang anda." Orang itu mengangguk.
"Emangnya anda ada perlu apa sama saya? Oh ya baiknya kita ngobrol di dalam saja biar lebih tenang! silakan masuk?" Malik menyilakan tamunya untuk masuk dengan perkataan yang ramah.
__ADS_1
"Terima kasih!" orang itu langsung mengikuti langkah Malik yang berjalan ke dalam, dan berhenti di sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk tamu.
"Silakan duduk?" Malik menunjuk ke arah sofa ada tamunya duduk. "Dan katakanlah apa yang ingin anda bicarakan sama saya, ada perlu apa? sementara rasanya Saya tidak mengenal Anda."
Namun sebelum tamunya duduk, dia mengulurkan tangan terlebih dahulu. "Oh ya, kenalkan Nama saya Bang Ben."
Malik pun menyambut tangannya orang tersebut, dan setelah berjabat tangan keduanya duduk saling berhadapan dan berseberangan.
"Tujuan saya ke sini untuk menagih hutang--"
"Hutang? hutang apa? saya tidak pernah mengenal anda apalagi berhutang sama anda!" langsung memotong perkataan dari pria tersebut yang mengaku namanya Bang Ben.
"Iya, saya ke sini memang datang untuk menagih hutang yang nominalnya sebesar 100 juta." ujarnya Bang Ben dengan sangat jelas.
"Tapi saya tidak berhutang sama anda--"
"Saya adalah debkolektor dan memang yang mempunyai hutang itu bukan anda! tapi wanita yang bernama Shopia. Ini saudaranya bukan?" orang itu menunjukan gambar Shopia dari ponsel.
"Apa? benar itu saudara saya yang bernama Shopia, memang nya kenapa?" Malik menatap heran Shopia yang berhutang kenapa dia yang ditagih.
"Dia yang mempunyai hutang sebesar 100 juta dan setelah berapa kali di tagih dia menyuruh saya untuk menagihnya ke sini--"
"Kan saya sudah bilang! kalau wanita itu menyuruh saya untuk datang ke sini dan menagihnya, karena dia sendiri tidak mampu untuk membayar! dan kalau anda tidak mau membayarnya jangan salahkan kami. Kalau berbuat sesuatu yang tidak pernah anda inginkan terhadap wanita itu dan juga anaknya!" ucap pria itu yang ujung-ujungnya mengancam akan menganiaya Shopia dan Putranya.
"Oh gitu ya. Jadi anda ingin memeras ya--"
"Saya bukannya memeras Anda tapi saya datang untuk menagih hutang! hutang wanita yang bernama Shopia yang tidak bisa dia membayarnya!" bagi orang itu dengan nada tinggi.
Renita dan sang ibu mertua yang mengintip dari ruangan tengah merasa ketakutan dan cemas pada Malik dengan suara nada tinggi orang itu.
"Ya ampun ... ada apa ini Ren ... kok orang itu teriak-teriak?" kata sang ibu mertua sembari memegangi tangan Renita.
"Aku tidak tahu Mah ... semoga aja tidak ada apa-apa!" Renita tampak khawatir dengan suaminya yang menghadapi pria tersebut.
"Memang Anda datang ke sini untuk menagih hutang. Sementara saya tidak punya hutang apapun, apa itu bukannya sama aja dengan ingin memeras saya? datangi yang punya hutang nya, bukan datang ke sini!" jelasnya Malik dengan nada yang masih terlihat tenang.
__ADS_1
"Aduh bego atau gimana sih? saya kan sudah bilang dia itu tidak bisa membayar dan dia minta saya untuk datang ke sini menagihnya pada anda!" orang itu tampak bertambah kesal, tangannya hampir saja menggebrak meja kaca yang berada di hadapannya itu.
"Saya sih tidak masalah jika saya harus membayarnya saat ini juga, saya bisa! tapi apakah anda siap? jika saya laporkan Anda ke pihak yang berwajib!" ucapnya Malik dengan tetap tenang menatap tajam ke arah laki-laki tersebut.
"Saya hanya ingin anda membayar hutangnya Shopia. Saya tidak akan pernah datang kemari jika tidak disuruh sama wanita itu!" bentak laki-laki tersebut sambil menunjuk-nunjuk. Kalau maksudnya hanya untuk menagih hutangnya Shopia.
"Saya mengerti dan saya juga sudah bilang kan saya siap membayar saat ini juga! tapi apakah anda siap jika kalian justru akan berurusan dengan pihak yang berwajib?" lagi-lagi Malik menyebut-nyebut pihak yang berwajib yaitu kepolisian.
Laki-laki Itu tampak kebingungan setelah mendengar yang di ucapkan Malik berulang-ulang, kalau dia akan dilaporkan ke pihak yang berwajib alias polisi.
"Silakan aja pilih mau uang dari saya dan berurusan dengan polisi, atau ... pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" ucap Malik yang seraya menunjuk ke arah pintu.
"Anda pikir saya takut sama anda ha?" laki-laki tersebut berdiri dan bertolak pinggang matanya melotot ke arah Malik. "Mau bayar atau tidak?"
"Memangnya kalau saya tidak mau bayar kenapa? apa kau akan mengobrak-abrik rumah ini atau menyerang saya, silakan? karena di rumah ini CCTV semuanya aktif. Dan tentunya akan mudah sekali untuk mengenali siapa yang membuat ulah!" Malik namun tetap dengan sikapnya yang tenang tidak terpengaruh dengan orang tersebut.
"Hah, jangan banyak omong! karena yang saya butuhkan bukan omongan tapi duit!" orang itu langsung bersiap untuk menonjok dadanya Malik.
Tetap dengan cepat langsung ditangkap oleh tangan kanannya Malik dan bergerak melintir tangan orang tersebut ke belakang.
Sehingga laki-laki itu meraung kesakitan karena tangannya dipelintir ke belakang. Namun tidak kehabisan akal kakinya bersiap untuk menginjak kakinya Malik. Tetapi kalah cepat dengan gerakannya Malik yang menghantam tengkuk kaki pria itu dengan dengkulnya sehingga.
Brugh!
Laki-laki yang berbadan tegap tinggi itu berlutut ke lantai bahkan lututnya sempat menghantam ujung meja yang terbuat dari kaca.
"Apakah masih ingin melawan? ayo lawan, kalau kau ingin uang berarti kau harus kuat melawan saya! bukan kayak gini mudah kalah kayak rempeyek saja!" cibirnya Malik. Sambil terus memegangi kedua tangan orang itu di belakangnya.
Pada akhirnya orang itu minta ampun dan minta dilepaskan, dia tidak minta lagi uang bayaran yang dia bilang menagih hutangnya Shopia.
"Boleh, kalau kau ingin dilepaskan. Tetapi ada syaratnya jangan pernah mendatangi rumah ini lagi dan jangan pernah mengganggu keluarga saya siapapun itu!" Malik menunjuk hidung laki-laki tersebut dengan tatapan yang sangat tajam, yang seakan ingin menghunus jantung lawan bicaranya.
Orang itu menunduk dalam, tidak berani menatap netra mata Malik yang seakan bersinar mengeluarkan bola api kemarahan.
Malik menyuruh orang itu berdiri dengan tetap ia awasi. Menggiringnya keluar rumah serta tangan tetap memegangi orang tersebut sampai ke teras barulah di lepaskan dan di suruh pergi.
__ADS_1
Namun entah kenapa tatkala Malik sedang lengah. Sehingga orang tersebut menghantam pelipisnya Malik, membuat pria tampan itu terhuyung ....
Jangan lupa lik komen dan jejak lainnya. Makasih.