Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tampak mesra


__ADS_3

Di suatu hari, Renita tengah keluar belanja keperluan baby. Dan Alena ditunggui oleh papa Malik dan omanya.


Ada juga Yusna yang mengajak anak gadisnya yang bernama Erika yang sudah kelas dua SMP.


"Uuh, gemes-gemes." Erika menyentuh pipi baby Alena yang tengah bermain dan dan mulai berceloteh dengan bahasanya yang tidak dimengerti.


"Emangnya mama mu tidak mau nambah lagi nih baby, kan kamu dah gede. Adik mu juga." Malik menoleh pada Erika yang tampak gemes sekali dengan Alena.


"Iya, kamu masih pakai KB ya Yusna?" tambahnya Bu Amelia pada Yusna yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Iya, aku masih kb. Bu ... ach malas dia saja sudah gadis masih manja apa-apa harus Mama. gimana mau nambah!" jawabnya Yusna sambil melirik pada putrinya tersebut.


"Iih, Mama ... wajar lah kalau kamu manja juga orang Mama juga tidak ada kerjaan kok." Balasnya Erika yang berjongkok di dekat ranjang baby.


"Apa, siapa bilang aku tidak ada kerjaan? setiap hari aku ada saja kegiatan. Seperti arisan ... ke salon, nemenin papa pertemuan atau ada acara lainnya." Timpal Yusna.


"Cuman itu doang kan? di rumah ngapain? kerjaan rumah ada asisten. Jadi dari pada gak ada kerjaan mendingan urus kita." Kata Erika kekeh dengan pendapatnya kalau mamanya gak ada kerjaan.


"Makanya jangan manja dong Nduk ... sudah gadis kok, punya pacar kok manja, geli Oma dengarnya." Celetuknya Bu Amelia.


"Iih ... Oma ... biar saja, kalau saja mama punya baby sih ... kita juga gak bakalan manja. Atau mama sibuk bekerja! kita juga pasti mikir kali." Seru nya Erika kembali.


"Malas ach. Oh ya emang istrimu ke mana?" tanya Yusna kepada Malik.


"Oh, dia sedang keluar belanja keperluan baby, emang kenapa?" Malik balik bertanya pada sang kakak.


"Lagian kenapa nggak diantar sama kamu?" tanya kembali Yusna.


"Dia cuman belanja ke supermarket untuk keperluan bayi dan aku ditugaskan untuk nungguin baby, ya sambil bekerja juga ada proyek yang harus ku urus!" ujarnya Malik sembari mengarahkan pandangannya ke layar laptop.


"Yah ... apa salahnya sih diantar dulu sebentar! gimana kalau dia itu pergi sama laki-laki lain?" jiwa julidnya Yusna kembali meronta.


"Maksud Mbak apa? dia kan memang pergi sama laki-laki yaitu sopir. Terus apa masalahnya?" Malik mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Yusna.


"Ya siapa tahu aja ketemuan gitu sama laki-laki lain, kan kamu tahu sendiri dia dekat juga sama mantan suaminya dengan alasan anak." Kata Yusna dengan nada yang kurang mengenakan.

__ADS_1


"Mbak ngomong apa sih? jangan bicara yang macam-macam dan buang pikiran kotor mu itu. Kalau memang mereka ketemuan ... ya biarlah, mungkin ada urusan. Lagian mereka bertemu bukan cuma rumah juga, waktu Renita masih ngantor ketemu tiap hari! orang dia bawahannya juga." Ujar Malik sambil menggeleng.


"Ketika di kantor sering ketemu juga sebagai bawahan! di rumah juga tetap disusul dengan alasan anak. Emang kamu nggak cemburu?" selidiknya Yusna terus memberi asupan kepada Malik.


Bu Amelia maupun Erika hanya melirik ke arah Yusna dan Malik bergantian. Tanpa mengucapkan kata sebagai lontaran.


Malik menggerakan duduknya juga mengurutkan kening tidak mengerti dengan maksud dan tujuan sang kakak. "Buat apa aku cemburu? toh mereka sudah punya jalannya masing-masing, Renita istri aku dan Azam pun punya jalan sendiri. Sudah kubilang Mbak jangan punya pikirin yang aneh-aneh! jangan sampai menimbulkan fitnah."


"Aku bicara sesuai fakta. Karena mereka memang begitu dekat sebagai mantan seolah-oleh tidak ada jarak, emangnya kamu tidak curiga gitu? itu aja maksud aku!" Balasnya Yusna.


"Buat apa curiga, Mbak? aku percaya kok mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa selain silaturahmi yang baik aja!" Malik begitu percaya pada istri dan Azam.


...--------------...


Di sebuah restoran mewah. Shopia berdua dengan seorang pria yang usianya ya sedang-sedang saja tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.


"Emangnya nggak kenapa-napa, Mas, kita makan di sini? maksud aku nggak ada yang lihat gitu? kalau sampai ada yang lihat, berabe lho," ucap Sophia sembari clingak celinguk melihat ke arah kanan dan kiri.


"Aku rasa tidak, tidak akan ada yang melihat!" jawabnya pria tersebut yang menggunakan kacamata hitam.


Sementara tangan Shopia sengaja diletakkan di atas paha pria yang menjadi lawan bicaranya tersebut dan sedikit bergerak mengelusnya.


Sedangkan si lelakinya tampak senang-senang saja dengan perlakuan dari Shopia.


"Oh ya Mas, setelah kita makan. Antar kau ke supermarket ya? aku sudah nggak punya belanjaan mingguan seperti sabun dan bamyak lainnya." Shopia mencondongkan tubuhnya ke arah lawan bicaranya tersebut dan mengekspos apa yang dia miliki yang tampak montok.


Dan mata si pria tersebut begitu jelalatan melihatnya, bahkan kalau bisa ingin ke dalam-dalamnya juga.


"Boleh, apa sih yang tidak boleh buat kamu cantik, akan aku antar dan aku belanjakan kok!" jawabnya si pria yang ternyata tiada lain dan tiada bukan adalah suaminya Yusna.


Dalam berapa bulan ini mereka begitu dekat. Si pria tergoda dengan Shopia yang memiliki tubuh lebih berisi, montok atas bawah sangat menggoda.


Lain dengan istrinya yang tampak kurus! boro-boro berisi kalau kata yang bohong sih ... sampai kelihatan tulangnya! padahal materi sudah dicukupi oleh pria itu yang bernama Anto.


Jelas dong kalau Yusna kalah saing dari Shopia yang lebih montok dan demplon. Sehingga Anto tergila-gila pada Shopia yang yang justru menggodanya. Bak gayung bersambut.

__ADS_1


Selesai makan, mereka pun pergi supermarket untuk belanja semua kebutuhan Shopia.


Di saat keduanya memasuki supermarket dan Renita keluar sambil menunduk dan menjinjing berapa kresek belanjaannya. Shopia pun tidak melihat kalau wanita yang melintasinya itu adalah Renita, dia asik saja memeluk tangan Anto sambil berjalan masuk ke dalam.


Pas beberapa langkah Renita menyadari sekilas dengan wanita yang baru saja berpapasan dengannya.


"Eeh, berasa kenal. Apakah dia Shopia?" gumamnya Renita sembari menggerakkan kepalanya, melihat ke arah dalam yang terhalang kaca besar tembus pandang yang menjadi jarak antara luar dan dalam.


Renita mendapati kalau memang itu Shopia dan yang paling mencengangkan bagi Renita adalah pria yang bersama wanita tersebut.


Yang tiada lain adalah suami kakak iparnya. "Mas Anto, ngapain sama Shopia tampak mesra juga, ya Tuhan ... jangan sampai-jangan sampai." Renita langsung mengetuk-ngetuk keningnya dan ingin menghilangkan pikiran-pikiran yang jelek pikirannya itu.


"Astagfirullah ... semoga laki-laki itu bukan Mas Anto, siapa tahu aja laki-laki lain yang mirip sama Mas Anto. Tapi--" Renita bengong sesaat, karena memang benar kok dia Anto apalagi ketika kecamatan hitamnya sempat terlihat dibuka.


Lagi-lagi Renita menggelengkan kepalanya ingin membuang semua pikiran buruk yang mulai menyerang tentang hal apapun yang berkaitan dengan Shopia dan Anto, sambil berjalan mendekati mobil yang langsung disambut oleh sopirnya yang membawakan semua belanjaan Renita.


Renita masuk ke dalam mobil, namun pandangannya tetap saja mengarah ke arah supermarket yang di mana Shopia dan laki-laki itu berada.


"Jalan Pak? lebih cepat ya, saya khawatir kalau Alena ngamuk," pintanya Renita kepada sopir setelah mengalihkan pandangannya dari area supermarket para sang supir.


"Masa ngambek, Bu ... kan ada papanya ada Omanya juga, lagian kan susu formula kalau bundanya nggak ada," kata Pak sopir dari belakang kemudi.


"Iya sih Pak ... tapi suka beda aja gitu kalau Bundanya nggak ada!" sahutnya Renita.


"He he he ... sudah hafal dengan tangan atau bau bundanya." Tambahnya pak supir.


"Iya, Pak. Pasti itu orang setiap hari kan kita yang ngurus!" tambahnya Renita.


Mobil sudah melaju berapa meter dari tempat yang tadi. "Bu, apa tadi melihat kalau mbak Shopia yang masuk ke supermarket tadi!"


Renita yang tengah menunggu minuman mineral di tangannya seolah terhenti dan menatap ke arah supir. "Bapak melihatnya?"


"Iya, Bu. Dan saya yakin kalau itu Mbak Shopia bersama laki-laki dan yang bikin saya tertegun, Bu ... dia kan sepertinya suami Mbak Yusna! yang bikin aneh saya itu sikapnya tampak mesra sekali, itu yang bikin aneh!" sambungnya Pak sopir.


Renita mengunci bibirnya sesaat dan menatap ke arah pak supir yang tampak serius dan fokus melihat ke jalan ....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2