Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Buktikan dulu


__ADS_3

"Aku gak mau, takut nanti ada yang ngamuk gimana?" Renita mesem.


"Kasian deh aku! dah dari lama memendam rasa akhirnya di tolak juga." Malik dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Buktikan dulu sama aku kalau kamu memang belum beristri." Tantang Renita sambil menyudahi makannya.


"Oke, siapa takut! besok sepulang kerja aku jemput kamu bersama Rendy, ku ajak ke rumah." Sambutnya Malik dengan meyakinkan.


Kemudian mereka pun pulang dengan membawa kue tar yang tadi cuman di ambil sedikit.


"Sebentar!" Malik mengambil sesuatu dari bawah meja yaitu sebuket bunga mawar yang indah.


Renita menatap gerak-geriknya Malik yang memberikan bunga padanya.


"Mau di ambil gak bunganya? kalau gak mau aku buang saja nih!" ancamnya Malik.


"Ya ampun ... kau ini sampai segitunya sig?" Renita mengulum senyumnya sambil memeluk bunga dari Malik dan juga mencium baunya.


"Terima kasih sudah mengambil bunga dari ku!" Malik menatap lekat sembari mengulas senyumnya.


"Oo! justru aku yang harusnya berterima kasih atas semua ini. kebaikannya dan juga kejutan nya malam ini, dan tak akan aku lupakan semudah itu!" ucap Renita sambil memeluk bunganya.


"Sama-sama, justru aku senang jika melihat kamu bahagia! jangan berhenti tersenyum apalagi memperlihatkan kesedihan padaku. Karena aku takkan sanggup melihat aku sangat menderita--"


"Hoo ... so sweet ... berada masih anak remaja di gombalin kayak gitu, he he he he ...."


"Siapa juga yang menggombal. Aku berkata dengan serius dan tulus dari hati, bukan sesuatu yang dibuat-buat." Timpalnya Malik.


"Ya udah, kita pulang yo? nanti Rendy ngedumel di rumah," ajak Renita dengan lembut sambil membawa langkahnya yang menenteng tas kecil dan juga bunga mawar di pelukan.


Sementara Malik menenteng baper bag yang berisi kue tar. Berjalan di belakang Renita yang berjalan lebih dulu di depannya Malik.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil dengan menggunakan bel safety, kemudian Malik menyalakan mesin nya menginjak kopling lalu melaju dengan kecepatan sedang.


"Besok sore aku akan jemput kalian untuk ku ajak ke rumah dan menemui sepupu ku itu, biar kamu tau dan yakin kalau aku ini tidak punya istri. Kalau aku punya istri ... gak mungkin aku berani melamar mu dengan alasan apa pun pernikahan ku. Aku gak mungkin setega itu!" ungkap Malik sambil fokus menyetir.


"Iya, gimana besok aja lah--"

__ADS_1


"Kok bagaimana besok sih? harus meyakinkan dong ... iya atau tidak!" jelas Malik sambil menghentikan mobilnya.


"Kamu kenapa sih ... maksa deh!" Renita menggeleng pelan sambil mesem-mesem.


"Aku hanya ingin kejelasan dari kamu, itu saja. Bohong bila kamu tidak ada rasa pada ku! setidak nya saat ini." Malik menatap dalam pada Renita.


Sejenak Renita membalas tatapan dari Malik uang mengandung arti. "Besok aku ... insya Allah, kalau ada usia kan! apa salah bila bicara seperti itu?"


"Oke. Makasih kalau begitu." Malik mengangguk pelan lalu melajukan mobilnya kembali.


Hening ....


Kini mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali keduanya saling melirik dan sesekali juga pandangan mata pun bertemu, membuat hati mereka bergetar.


Selang beberapa waktu kemudian, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Malik tiba juga di kediaman Renita yang tampak sepi. Tapi terlihat dari jendela yang terbuka sedikit kalau Rendy sedang bermain di lantai dengan semua mainannya.


"Assalamu'alaikum ... Bunda pulang! ini kok belum bobo? sudah malam lho." Kata Renita.


Malik yang berdiri di dekat pintu dan langsung dihampiri oleh Rendy, setelah memeluk Bundanya sebentar.


"Papa Malik bawa apa?" tanya Rendy sambil menatap paper bag yang di tangan Melik.


Rendy menoleh pada saat Bunda. "Apakah hari ini memang Bunda sedang ulang tahun?"


"Iya sayang, Rendy mau doakan apa buat Bunda?" Anita duduk di sofa dan membingkai wajah Rendy.


"Tapi Rendy nggak punya kado apa-apa buat Bunda, tidak apa-apa kan Bun? Rendy cuman bisa ngasih doa saja buat Bunda. Semoga Bunda bahagia panjang umurnya dan sehat selalu!" anak itu menatap lekat ke arah sang Bunda lalu memeluknya.


"Aamiin, Bunda nggak minta kado apapun dari Rendy! selain doa dari Rendy, doa yang terbaik buat Bunda makasih doanya ya?" Renita memeluk putra nya sangat erat.


Malik yang melihat ke arah Renita dan Randy pun tersenyum, lalu dia berpamitan untuk pulang. Dia harus segera pulang dan meninggalkan tempat tersebut. Kurang baik bila lama-lama dia berada di sana, nggak enak dengan omongan tetangga.


"Sekali lagi Makasih ya?" Renita mengantar Malik ke teras sambil menuntun Rendy.


"Sama-sama, sampai ketemu besok!" balasnya Malik sambil mengulas senyumnya.


"Papa, kenapa kenapa nggak menginap saja di sini? tidurnya sama Rendy aja!" anak itu menggoyangkan tangan Malik.

__ADS_1


Malik mengusap pipinya Rendy suaranya berkata. "Iya, lain kali Papa menginap di sini. Dan besok Papa akan kembali menjemput Bunda dan Rendy untuk ikut ke rumahnya Papa. Mau nggak?"


"Mau-mau, aku mau ikut. Beneran ya Pah besok jemput--"


"Iya Sayang, besok Papa jemput. Besok sore sepulang bunda dari kerja, oke?" Malik mengusap pucuk kepala Rendy.


Lalu Malik pun pergi meninggalkan tempat tersebut dengan mobil yang dia kendarai.


Renita dan Rendy melambaikan tangan ke arah mobil Malik yang semakin lama semakin menjauh.


Renita mengunci pintunya lalu berjalan. "Sayang, dah malam bobo gih? apa mau makan kue dulu?" Renita meraih paper bag yang masih di meja ruang tengah. Di bawanya ke dapur.


"Mau makan kue dulu Bun ... nanti Rendy mau bobo. Boleh Bun?" Rendy mengikuti langkah nya sang bunda yang berhenti di dekat meja makan.


"Boleh, tentu boleh. Iya Fen ... kue nih di makan. Nanti sebagian di Bagikan ke tetangga dekat ya! banyak kok!" Renita menoleh pada Feni sambil memotong kue nya untuk Rendy.


"Oooh iya, Bu ... besok pagi aku bagikan sama tetangga." Balasnya Feni sambil mengangguk dan mengambil kuenya yang akan dia cicipi.


Setelah Rendy selesai makan kue, Renita antar ke kamarnya biar dia tidur. Lalu dia ke kamar pribadinya sambil membawa bunga dari s


Malik tadi, berjalan sambil senyum-senyum sendiri.


"Aku ... setidak agak tenang bila Malik tidak beristri dan tidak terlalu risih di amuk sama istri nya, bagaimana pun aku tahu rasanya di khianati oleh suami." Gamenya Renita sambil cklek, menutup pintu kamarnya menaruh bunga di atas tempat tidur.


Bukan di meja lagi, bunga itu Renita simpan. Melainkan di atas tempat tidur yang sebagai teman dalam kesendiriannya.


Giliran Arum jam yang terus berputar tidak terasa lamanya, membawa sebuah malam yang membawa semua penghuni ini ke sebuah pagi.


Meskipun masih gelap gulita, sejuk dan dingin menyapa tubuh menembus tulang. Dan matahari pun masih malu-malu menampakan dirinya untuk bersinar dan menerangi alam ini.


Renita sudah bangun dan beberes mulai di kamar, ruangan lain. Mencuci. Lanjut membuat sarapan buat mereka bertiga roti pamggang telor ceplok.


Renita jadi kepikiran dan ingin membawa sarapan itu untuk Malik. Tapi malu dan di sisi lain mau membawa juga. Hingga akhirnya dia membawa roti panggang dan telor ceplok ke kantor. Di makan nya sama siapa aja tidak apa!


Renita melajukan motornya setelah mengantar Rendy dan Feni ke sekolah. Di Balik helm berwarna ping. bibir Renita senyum-senyum sendiri, entah apa yang membuat hati nya berbunga-bunga. Bak taman bunga yang bermekaran, apakah ini tandanya sedang jatuh cinta? di usianya yang bukan remaja lagi ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Apa kabar hari ini reader ku semua? Semoga hari ini kabar baik ya dan semoga ada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta'ala, senantiasa diberikan rahmatnya Aamiin ya robbal alamin


__ADS_2