
"Selamat ya, Sayang ... sekarang kamu sudah wisuda pertanda kuliah mu sudah selesai. Tidak terasa ya? bertahun-tahun sudah dilewati akhirnya kamu menjadi sarjana juga. Rasanya baru kemarin bunda menggendong mu dan mengantar mu bolak-balik ke TK." Renita memeluk erat putranya penuh haru, air mata bahagia terus mengalir di pipinya.
"Terima kasih, Bun ... ini semua berkat bunda. Aku sayang Bunda! Terima kasih Bunda ..." balasnya dalam pelukan Renita. Rendy kehabisan kata untuk diucapkan pada sang bunda.
"Masih terasa ketika kamu masih Bunda gendong! dan manja!" Terbayang di saat Rendy masih kecil dan pada saat itu juga bahtera rumah tangga nya bersama Azam diterpa badai prahara yang teramat menyesak kan dada.
Azam, suami yang sangat ia cintai kala itu. Tergoda wanita lain yang sudah punya anak 2, sehingga lebih rela meninggalkan ia dan putra semata wayangnya. Dan memilih janda itu dan membuat ia menjadi janda serta menelantarkan putranya yang sangat butuh kasih sayang dan materi. Sakit hati ini, sesak dadanya kala itu! Ia menjadi janda. Gara-gara seorang janda anak 2.
Renita berusaha berjuang demi kehidupannya dan putranya dan tidak menuntut haknya pada Azam yang lepas tanggung jawab kala itu. Dan kini anak laki-laki yang ia perjuangkan itu sudah dewasa dan sudah menjadi sarjana. Sebentar lagi dia akan mengepakkan sayapnya untuk menggapai cita-cita menjadi seorang pilot.
"Bunda ..." lirih Rendy sambil merangkul pundak bunda nya yang tampak melamun.
"Oh, iya. Bunda jadi melamun ya!" Renita mengusap pipinya yang basah. Dan menoleh pada Malik, pria yang mendampingi beberapa tahun terakhir ini serta memudarkan rangkulannya.
"Rendy ... selamat ya, Nak!" Malik memeluk Rendy dan mengusap punggung putranya yang kini sudah menjelma pemuda tampan lebih tinggi darinya.
"Terima kasih, Pah ..." balasnya sambil memeluk Malik dengan penuh haru.
Selanjutnya Alena yang memeluk kakak Rendy dengan ucapan yang menohok. "Kak selamat ya ... dan jangan nakal bila nanti sudah jadi pilot, sebab Kakak itu membawa nyawa bukan benda mati!" yang mendapat anggukan serta cubitan kecil dari Rendy di pipinya.
Namun di saat-saat perasaan yang bahagia, rasa gelisah Rendy kembali meronta. Dia menoleh cemas pada sang Bunda. "Bun, tadi Papa bilang apa? kok dia nggak bicara sama aku, dia berdiri di sana dan hanya tersenyum padaku!" Rendy menuding ke arah tempat yang pernah dia lihat ada Azam nya.
Malik, Renita dan juga Alena mengikuti arah yang rendy ditunjukkan kemudian Renita menggeleng. "Bunda nggak ketemu papa, iya kan yank?" Renita menatap pada Malik.
Malik pun langsung mengangguk. "Bunda benar, kami tidak melihat papa Azam di sini."
Lantas Rendy mengangguk, selanjutnya Rendy bergabung sama temen-temennya. Meluapkan kebahagiaan bahwa mereka sudah lulus dan mereka pun mengabadikan nya dengan berfoto-foto bersama.
"Aneh juga, kok mas Azam nggak datang ya? padahal kan ini hari yang kita tunggu-tunggu, mas Azam juga sudah pernah bilang sama aku. Kalau dia pasti akan menghadiri wisudanya Rendy! kira-kira Ada apa ya?" gumam Renita dengan wajah yang sedikit cemas, karena mengingat Azam dan Rosita yang katanya akan datang, tapi ini acara sudah selesai pun tidak terlihat batang hidungnya.
Bagaimanapun dia merasa tidak enak hati, jadi khawatir! takut mereka ada apa-apa di jalan. Dadanya terus berdebar-debar. Jantung pun berdegup kencang dan tidak tahu apa sebabnya. "Kok aku jadi tidak enak hati ya!"
__ADS_1
"Jangan begitu sayang ... Jangan berpikir yang macam-macam pamali, mungkin Azam memang ada halangan yang membuat mereka tidak jadi datang, sudahlah jangan banyak pikiran. Biarkan Rendy happy dulu sama teman-temannya, berfoto bersama mengabadikan suasana wisuda ini." Ujarnya Malik sembari merangkul bau istrinya.
"Iya nih, Bunda pikirannya sanksi aja. Kali aja om dan tante emang ada halangan! makanya nggak jadi pergi!" Timpal Alena menambahkan perkataan dari sang ayah. Membuat Renita menatap datar.
"Tapi, kan ... tadi kata Kak Rindy juga terakhir chat mereka sudah pergi!" Hati Renita sudah tidak bisa dibohongi lagi, wajahnya menunjukkan rasa gelisah! bagaimanapun Azam itu pernah hidup bersama dengannya beberapa tahun.
Malik merogohnya dan mengambil ponsel yang terus berdering. "Siapa yang telepon Bun? nggak kenal nomornya!" Malik sesaat menatap sang istri sebelum dia menekan ikan hijau untuk menerima sambungan telepon.
"Halo!"
(Halo Pak, Selamat siang, bisa bicara dengan Pak Malik?)
"Iya, saya bersama Malik sendiri. Ada apa ya? dan ini dari mana?"
(Maaf bapak, Saya dari pihak rumah sakit memberitahukan bahwa pak Azam bersama istri baru saja mengalami kecelakaan dan kami menemukan ponselnya dan mengambil nama bapak yang terakhir korban hubungi, sekarang mereka berada di rumah sakit jalan xx. Dan pak Azam sudah tidak bisa tertolong lagi.)
"Ha? Ke-cela-kaan?" suara Malik patah-patah.
Perlahan kepala Malik menoleh pada sang istri dengan pikiran yang bercabang dan rasa tidak percaya. "Azam dan Rosita mengalami kecelakaan, sekarang mereka berada di rumah sakit. Dan katanya Azam sudah tak terang lagi!"
"Apa! kamu serius kan? nggak bohong kan? siapa yang menelpon kamu, jangan bercanda?" Renita sangat tampak kaget mendengar berita barusan, setengah tidak percaya dengan apa yang diomongkan oleh suaminya.
"Sayang barusan yang nelpon dari pihak rumah sakit, dan itu benar kok nomor rumah sakit memang, ayo kita ke sana!" Malik langsung menuntun tangan sang istri berjalan menuju parkiran mobil yang agak jauh dari situ.
Alena sedikit bengong mendengar percakapan dari kedua orang tuanya! namun dia ingat sama sang kakak. " Pa, Bun ... Kak Rendy!"
Renita juga Malik menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang dan memang benar, seharusnya 'kan Rendy yang lebih dulu dikasih tahu. Sehingga langkah Mereka pun berbalik dan mendatangi Rendy yang masih berfoto ria bersama teman-temannya.
"Ren, ikut Bunda yuk? sudah selesai kan foto-fotonya?" suara Renita terdengar begitu bergetar menahan rasa sedih, walaupun dia belum tahu itu berita benar atau hoax.
Rendy dan juga teman-temannya memandangi ke arah Renita yang berkerudung navy beserta pakaiannya yang berwarna senada, dia memandangi dengan lekat ke arah Rendy.
__ADS_1
"Ada apa, Bu ... kok terburu-buru dan mau ke mana?" Rendy malah menatap heran kepada Bunda yang tatapannya pun tampak berkaca-kaca.
"Sudah, Rendy ikut aja dulu sama kami," jelas Malik yang berdiri di samping Bunda Renita.
Rendy semakin merasa aneh, mau ke mana dan Ada apa sebenarnya? namun dia pun langsung berpamitan kepada teman-temannya yang masih berpakaian wisuda serta toga.
"Baiklah. Bun, Pah ayo kita pergi? tapi Rendy harus tahu dulu, kita mau ke mana? dan ada apa? kenapa Bunda tampak sedih." Rendy semakin merasa heran, setelah memandangi Bundanya dengan jarak dekat. Yang tampak sangat gelisah dan sedih.
Terlihat Malik menghela nafas dalam-dalam lalu tangannya bergerak mengusap pundak Rendy seraya berkata dengan lirih. "Barusan Papa mendapat kabar ... dari pihak rumah sakit, katanya Papa Azam meninggal karena kecelakaan, makanya kita mau ke sana untuk membuktikan apa berita itu benar atau cuma hoax belaka!"
Kepala Rendy menggeleng dan kedua netra matanya langsung berembun. "Tidak, Pah itu tidak mungkin! terakhir Papa Azam chat aku dan dia bilang kalau dia sedang di jalan menuju tempat wisuda!" lantas Rendy pun merogoh sakunya mengambil ponsel, ternyata ada beberapa panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Malik yang ikut melihat ke layar ponselnya Rendy langsung menuding ke nomor kontak tersebut. "Nah itu, Papa mendapatkan kabar soal Papa Azam dari nomor kontak itu."
"Tapi Pah, tidak mungkin. Tidak mungkin papa Azam--" suara Rendy berhenti tenggorokan.
"Yang sabar yang kuat. Lagian ini baru berita! kita belum tahu kebenarannya. Ya Allah ... kenapa nggak telepon aja nomor papa atau nomor mama!" Malik langsung menghubungi nomor Azam begitupun dengan Rendy dia menelepon nomor Rosita, mereka seakan tidak sabar ingin tahu kebenarannya.
Namun nomor itu aktif tapi tidak ada yang ngangkat setelah berapa kali barulah ada yang angkat di nomor Rosita, tapi yang mengangkat adalah pihak rumah sakit dengan nama rumah sakit sesuai seperti yang dikatakan pada Malik sebelumnya.
"Astagfirullah!" gumam Malik dan Rendy berbarengan dan semakin merasa campur aduk.
Renita hanya menatap keduanya dengan dada terus berdebar hebat.
Kemudian Malik. Renita, Rendy dan Alena melangkah bersama. Alena yang tidak banyak bicara hanya mengikuti gerak-gerik yang lain. Ketika mau memasuki mobil, terdengar suara seorang gadis.
"Rendy, congratulation ..." dia berdiri sambil memeluk buket bunga yang bertuliskan congratulation Rendy.
.
Bersambung.
__ADS_1