
"Alhamdulillah ya sekarang mereka sudah sah, jadi suami istri dan saya titipkan Renita juga Rendy kepada Malik dan keluarga!" ucapnya ibu nya Renita yang ditujukan kepada ibunya Malik.
"Iya alhamdulillah dan sekarang mereka tinggal melanjutkan dan menjalani kehidupan berumah tangga! jangan khawatir saya akan menyayangi mereka seperti saya menyayangi anak-anak saya," balasnya Ibu Malik sembari merangkul besannya tersebut.
"Sekali lagi titip Rendy sebagai putra Renita dan dia itu dekat juga dengan Malik, semoga mereka saling menyayangi dan cocok sampai kapanpun!" tambahnya kakek dari Rendy.
"Tentu, jangan khawatir. Saya menerima keluarga baru nya Malik dengan segala ketulusan saja, seperti yang kalian tahu!" ibunya Malik saya menganggukkan kepalanya.
"Apalagi dengan kondisi Renita yang sekarang itu, gara-gara insiden tersebut membuat Renita mengalami kelumpuhan dan saya ucapkan sangat banyak-banyak terima kasih, karena Malik dan juga keluarga bisa menerima segala kekurangan nya," sambungnya lagi sang ayah Renita.
Kemudian mereka membuat sesi foto sampai beberapa kali, setelah mengucapkan selamat kepada Malik dan Renita secara langsung. Semua yang berada di sana ikut bahagia dengan kebahagiaan Renita dan Malik, yang kini sudah menjadi suami istri yang sah.
Apalagi Rendy dia paling heboh di saat sesi pemotretan, dengan beberapa gaya yang dia tunjukkan. Sebuah ekspresi wajah yang sangat-sangat bahagia.
Namun tak ayal di sana pun ada wajah-wajah yang kamuflase, menunjukan kebahagiaan namun itu hanya menyamarkan ekspresi yang sebenarnya.
Renita pun ada kalanya digendong oleh Malik dalam sesi pemotretan tersebut. Wajah mereka berdua mengguratkan sebuah kebahagiaan yang tiada terhingga, dan selanjutnya mereka semua menikmati nasi kotak yang ada.
Biarpun seadanya dan di tempat yang seperti ini, namun tidak mengurangi rasa kebahagiaan dan syukur dengan apa adanya di acara sakral dan penuh hikmat ini.
"Gimana sih? kamu bilang kamu bisa mencegah pernikahan ini, tapi kenapa berlangsung juga? seharusnya ini tidak terjadi!" ucap seorang wanita yang mengenakan kerudung berwana merah ceri. Yang di tujukan pada Sheila, mereka berdua sedang berada di taman Rumah sakit.
"Aku sudah berusaha untuk menggagalkan nya, tapi gimana lagi? terjadi juga! dan aku bingung harus berbuat apa lagi?" Sheila yang tampak kebingungan. Dia sudah berusaha walau dengan secara halus dan gagal.
__ADS_1
"Seharusnya kamu lebih berusaha lagi dong, agar pernikahannya tidak terjadi. Kalau sudah begini kita bisa apa? sekarang mereka sudah menjadi suami istri!" wanita yang berkerudung hitam itu tampak menggeleng kepalanya dengan kesal.
"Kamu tidak bisa menyalahkan aku begitu saja dong. Terus kamu usahanya apa untuk menggagalkan pernikahan mereka? kamu hanya berpangku tangan doang, kan? tidak melakukan apa-apa!" Sheila menatap tajam ke arah wanita tersebut. Tidak terima kalau kalau di salahkan.
"Apa kau bilang, aku tidak ada usaha? aku sudah berusaha. Cuma hasilnya aku juga gagal dan seperti usaha kamu, nggak bisa ... apalagi secara terang-terangan! gimana caranya? sementara kami sebenarnya sepupu, nggak mungkin kan aku bilang cinta sama dia dan bilang Malik nggak boleh menikah sama wanita lain." wanita tersebut menatap tajam ke arah Sheila.
Wanita itu tiada lain Dan tiada bukan adalah Sophia, sepupunya Malik yang di balik sikapnya yang dingin itu memang tidak menyukai keberadaan Renita dia kurang suka jika Malik menikahi wanita tersebut.
Rupanya mereka berdua bekerja sama untuk menggagalkan pernikahan Malik dan Renita, tetapi pada kenyataannya pernikahan itu tetap berlangsung dengan sangat lancar tak ada halangan apapun. Sekalipun pernikahan terjadi di sebuah ruangan Rumah sakit. Tidak menjadi penghalang bagi Malik mempersunting sang pujaan hati.
Shopia tahu kalau Sheila juga naksir kepada Malik begitupun dengan Shopia, biarpun dia sepupuan tapi dia cinta sama Malik, apalagi beberapa lama ini mereka tinggal di rumah yang sama dan orang-orang di sekitar rumah Malik mulanya tahu kalau Sophia adalah istrinya Malik. Padahal bukan, hanya sepupu dan semua yang mengurus keperluan Sophia dari kehamilan dan lahiran dan juga sampai sekarang adalah Malik! karena suaminya Shopia pergi begitu saja tanpa memberikan nafkah ataupun apa kepada Shopia maupun putranya.
Dan sekarang Malik menikah dengan Renita, jelas Shopia tidak menyetujuinya. Selain dia cemburu, dia pun tidak mau seandainya Renita menjadi prioritas buat Malik dan itu pasti.
"Oh, jadi kamu menyesal dengan apa yang terjadi? terus kamu mau bilang sama mereka gitu?" tanya Sophia dengan nada ketus.
"Rasanya tidak adil saja, jika kita berusaha untuk memisahkan mereka berdua! sementara Mungkin itu Cinta sejati mereka, coba kita pikirkan dan renungkan. Jika saja kita mencintai seseorang dari lama dengan tulus, kita pun pasti akan menerima segala kekurangannya ataupun kelebihannya dan kita akan memperjuangkan apa yang ingin menjadi milik kita! begitupun dengan Abang Malik yang berusaha berjuang untuk menuju tujuannya yaitu menikahi mbak Renita," ungkapnya Sheila.
Sheila sembari menanduk dalam. Dia menyadari. Mungkin dia telah salah! sudah mempunyai hati yang jelek, yang buruk terhadap saudaranya sendiri. bahkan mempunyai niat licik segala.
"Hem, Cemen. Belum apa-apa sudah nyerah." cibirnya Shopia sembari menggeleng.
"Dan aku pun menyadari, sekalipun aku bisa menggagalkan pernikahan mereka. Apa yang akan aku dapatkan? belum tentu aku bisa mendapatkan Abang Malik, sebab ... kau pun tidak akan membiarkan aku memilikinya, begitu Bukan?" Sheila melirik ke arah Sophia yang terus menggeleng-gelengkan kepalanya kasar.
__ADS_1
"Jadi buat sebenarnya buat apa sih. Aku berusaha untuk memisahkan mereka berdua?" tanya Sheila yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Hem dasar, Cemen yang tidak punya keberanian dan be-go. Otak udang, gaya kepiting!" lagi-lagi Shopia mencibir Sheila.
Sheila sudah membuka mulutnya untuk bersiap bicara kembali, namun tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah belakang mereka berdua seraya menepuk tempat duduk yang mereka.
"Hei ... kalian ngobrolin apa sih, serius amat? mojok lagi di sini jangan-jangan ada rahasia ya?" Jefri menunjuk ke arah keduanya dengan tidak ragu-ragu.
Keduanya terkesiap dan langsung menoleh ke arah sumber suara dimana Jefri sedang berdiri dan menunjukkan jarinya ke arah mereka berdua.
"Ma-Mas, bikin kaget aja deh. sudah lama bukan beli di situ?" selidiknya Sheila sembari menggerakkan tubuhnya berubah posisi duduk menjadi berdiri.
"Ha ha ha ... kalau saja aku udah lama di sini, nggak mungkin aku bertanya kalian ngomongin apa? lah aku dengerin dong ... pertanyaan yang tidak bermutu!" celetuknya Azam sambil mengambil minuman yang ada di tangan Sheila lalu menyedotnya.
"Baguslah ... kalau tidak mendengarnya, karena ini obrolan wanita yang tidak baik didengar oleh seorang laki-laki dan sudah sepantasnya kau tidak menguping obrolan orang lain!" Sophia dengan ketus lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Sheila dan Jefri.
"lah. Nenek Lampir malah pergi saja aku samperin! sudah wajah ditekuk, jarang senyum. Perkataan juga ketus. Siapa sih laki-laki yang mau sama dia?" gumamnya Jefri sambil menatap punggungnya wanita tersebut.
Sheila menaikkan bahunya. "Aish ... mana aku tahu!"
Kemudian Sheila pun berjalan bersama Jefri memasuki ruangan inap renita kembali ....
Bersambung
__ADS_1