Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Ultah


__ADS_3

"Sebaiknya cari tau dulu status dia. Siapa tahu dia punya istri, nanti terganggu terus dikira Mbak mengganggu rumah tangga orang gimana? udah jelas-jelas suami Mbak diganggu wanita lain itu sakit kan?" ucap sang adik.


Renita menoleh ke arah Malik sejenak memandangi pria itu. "Iya nanti Mbak tanyakan! tapi rasanya tidak mungkin kalau Mbak langsung tanya aja, nggak enak lah!"


"Tapi kan ... untuk kebaikan Mbak sendiri. Lagian Mbak nggak harus menanyakan langsung kan sama dia ... bisa tanya-tanya ke temennya mungkin! staf yang lain mungkin yang mengetahui nya dengan naik, kan bisa aja dengan cara lain Mbak!" tambahnya Sheila.


Wanita cantik berkerudung berwarna pic itu menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan melalui mulut. Ia dan Malik memang dulu pernah satu kelas dan berteman baik! tapi karena lama tidak bertemu, kelas tidak tahu kabarnya gimana? sudah berkeluarga atau belum! Renita tidak tahu, apalagi dengan keberadaan diluar negeri.


Kemudian Malik pun berpamitan kepada Renita dan Sheila juga Jefri. "Rendy dah tidur! aku mau pulang dulu ya? kapan-kapan aku pasti ke sini lagi, soal kerjaan jangan pikirkan dulu! yang penting Rendy sehat!"


"Makasih ya? atas kunjungannya atas semua kebaikannya juga salam buat keluarga!" ucapnya Renita sembari mengangguk hormat.


Malik tersenyum kepada semua orang yang ada di sana. "Oke, aku pergi dulu Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam hati-hati bro!" kata Jefri sok kenal.


Dan Malik menanggapinya pun dengan santai. "Oke bro jaga keponakan mu ya."


"Yoi, itu pasti bro ... jangankan keponakan ku, ibunya pun ku jagain biar nggak ada yang ganggu gitu. Ha ha ha ..." balasnya Jefri sembari mengangkat telapak tangannya di udara.


"Mas ini ngomong apa sih? sok kenal amat. Gimana kalau dia itu punya istri terus istrinya ngamuk-ngamuk sama mbak ku gimana babang?" Sheila tidak setuju melihat seolah-olah ingin mendekatkan mbaknya dengan pria yang belum jelas asal-usulnya.


"Tapi sebagai laki-laki nih ya. Sepertinya dia seorang laki-laki yang bebas, yang tidak terikat dengan siapapun ... tapi entahlah aku tidak tahu juga!" Jefri sambil menggoyangkan kedua bahunya.


"Nah ... kan! nggak tahu juga kan? aku nggak mau ya nanti Mbak aku malah dikira pengganggu rumah tangga orang!" Sheila cemberut.


"Dengar ya Non! jodoh itu siapa yang tahu, yang penting mbak tidak mengganggu orang dan biasanya punya batasan! kalau memang dia jodohnya tidak apalah. Apalagi sayang sama Rendy kan itu pasti yang Mbak cari kok!" ungkapnya Jefri kepada Sheila.


"Memang iya sih ... aku juga ngerti itu, tapi--"


"Sudah-sudah, kalian jangan berdebat lagi ach, berisik!" timpalnya Renita memotong perkataan dari sang adik.

__ADS_1


Setelah dua hari dirawat dan sorenya Rendy dibawa pulang. Karena kesehatannya lebih baik semakin pulih dan sampai sekarang pun papanya nggak ada kabar. Nggak datang nggak nanyain padahal chat dari Jefri pun dibaca.


"Makasih ya kamu Sudah menemani Mbak selama di rumah sakit dan sekarang sebaiknya kamu pulang! karena bagaimanapun kamu harus bekerja buat keluarga mu. Dan bilang sama ibu juga Bapak kalau Rendy nya sudah sehat kok! jangan khawatir, lagian kamu juga yang nemenin Mbak juga Rendy sudah cukup!" ungkap Renita kepada Jefri, setelah berada di rumah dia, tidak enak hati selama dua hari ini Jefri menemaninya.


"Iya Mbak, itu memang sudah kewajiban ku untuk menggantikan papa nya dan istri aku pasti mengerti. Lagian kalau saat kerjaan sih yang penting dapurnya! dapur ngebul kan ha ha ha ..." balasnya Jefri.


"Iya tahu ... asal dapur ngebul. Tapi kan kamu 2 hari nggak kerja otomatis pemasukan berkurang lho ... sama istrimu!" tambah lagi Renita sembari tersenyum.


"Mbak tidak usah khawatir ya? udahlah kalau gitu aku pulang dulu ya! kalau ada apa-apa langsung telepon aku, Rendy! Om pulang dulu ya. Sehat-sehat ya nak? jangan banyak pikiran ... apalagi sekarang ada Papa Malik lho, dia akan sering-sering mengunjungi Rendy." Ujar Jefri kepada Rendy dengan suara pelan dan menggendongnya.


"Heran deh aku, kok mas Jefri seolah-olah mendukung sih?" Sheila sedikit menggeleng kan kepalanya.


"Beneran ya Om? papa Malik akan akan sering mengunjungi Rendy. Nggak bohong kan, Om?" tanya anak itu menatap penuh serius.


"Iya, Om serius, kalau Om bohong nanti Om dimarahin aja ya, oke!" kata Jefri sangat meyakinkan.


Membuat wajah anak itu begitu Sumringah sebab matanya berbinar. "Rendy suka deh sama Papa Malik."


...----------------...


Setelah beberapa bulan, masa-masa persidangan pun selesai, dan yang memenangkannya tentu Renita. Rumah dan hak asuh Rendy jatuh ke Renita dan Azam sama sekali tidak mau menggugat balik! karena dia menyadari akan kesalahannya.


Kini Renita sudah merasa lega karena urusannya dengan Azam sudah selesai dan anak pun akan tetap bersamanya. Biarpun begitu Renita memberikan kebebasan Azam untuk menemui putranya kapan saja.


Dan selama berapa bulan ini mereka sempat bertemu hanya dua kali saja! itu pun secara kebetulan karena bertemunya di sebuah Mall tempat permainan.


Renita sendiri tidak mau ambil pusing, yang terpenting Rendy pun sudah ... mungkin terbiasa tanpa kehadiran Azam, malah sebaliknya Rendy sering bawel menanyakan Malik! kalau dia tidak datang.


Meskipun Renita dan Azam bukan satu keluarga lagi, tapi keluarga Azam dan keluarga Renita sering bertemu di rumahnya Renita, makan-makan bareng berkumpul bareng, bak keluarga besar.


Seperti saat ini pun mereka sedang berkumpul, apalagi di hari ulang tahunnya Rendy yang ke-5 ini tentunya mereka berkumpul.

__ADS_1


Renita pun mengundang anak-anak tetangga dan juga teman-teman sekolahnya Rendy untuk hadir di acara itu, sehingga di rumah pun tampak riuh dan sangat ramai.


Rendy pun sangat tampak bahagia acara ultahnya di rayain, di rumah itu banyak hiasan karakter kesukaan Rendy, seperti Ultraman kesukaannya.


Balon-balon bergelantungan serta dibentuk-bentuk melengkung tampak sangat cantik, wajah Rendy begitu sumringah dan senyumannya pun tidak pernah pudar, di saat menghadap kue ulang tahun! namun Renita tidak membiasakan ada lilinnya. Jadi kue tar tanpa lilin.


Namun tiba-tiba kepala anak ini celingukan seolah-olah mencari seseorang, lalu menghampiri sang Bunda yang sedang mengobrol dengan ibu dari anak-anak yang datang.


"Bunda-Bunda, Papa Malik kok belum datang? Dia kan sudah janji mau datang ke sini!" anak itu tampak sedih.


Renita berjongkok dan menatap wajah sedih anak itu yang ditanyakan bukan papanya melainkan Malik. "Em ... mungkin Om Malik masih sibuk atau mungkin masih diperjalanan! biasanya kalau Om Malik berjanji ... selalu di tepati bukan?"


"Iya Bunda, Papa Malik itu kalau udah janji pasti tepati! tapi kenapa sekarang belum datang juga, karena acaranya mau dimulai." ucapnya Rendy kembali.


"Yang sabar dulu ya! lagian kan ada Om Jefri." Renita menunjuk ke arah Jefri yang sedang mengobrol dengan keluarganya.


"Maunya ada papa Malik juga Bunda." Rendy menoleh pada Jefri dan wajahnya berubah murung.


"Eeh. Ada apa ini? kenapa ponakan ku menjadi murung begini mukanya! bahagia dong ... senyum ... kan sedang di hari istimewa, jari ulang tahun! masa temen-temennya mau ikutan sedih juga!" Jefri menghampiri dan menggendong Rendy.


Sheila berbisik pada sang kakak. "Papanya tahu nggak dia ulang tahun? maksud aku diundang gak!"


Renita menolehkan kepalanya pada sang adik. "Waktu itu Mbak udah bilang! kalau Rendy akan merayakan ulang tahun di tanggal ini, dan seharusnya dia ngitung dong tanggal berapa! ya sudahlah nggak usah diingatkan, kasihan. Lagian dia juga nggak nanyain papanya kok."


"Lah, terus dia nanyain siapa?" selidiknya Sheila.


"Dia nanyain Om Malik yang yang katanya sudah janji mau datang hari ini tapi belum datang." jawabnya Renita.


"Ooh!" Sheila membulatkan mulutnya.


Kemudian acara pun dimulai dengan doa yang dibawakan oleh pak ustad yang sengaja diundang di acara tersebut, bingkisan pun sudah banyak tersedia di salah satu ruangan. Dan Renita tidak mengijinkan teman-temannya Rendy untuk membawakan hadiah ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


__ADS_2