Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mengungatkan


__ADS_3

Semakin hari Azam semakin dekat dengan Shopia. Dan mereka merasa semakin cocok. Hingga Azam membincangkan niatnya itu pada Malik dan Renita kalau dia mau menikah lagi.


Kini Azam bersama Renita juga Malik sedang bersantai di belakang rumahnya Malik, setelah jam bermain lari-larian dengan Rendy.


Datanglah Ibu Amelia ikut bergabung dengan mereka beliau sudah berdamai dengan keadaan kalau mau Malik lah yang bermasalah sehingga sampai saat ini belum juga dikasih momongan.


"Sebenarnya saya datang untuk mengatakan kalau saya ingin menikah lagi, tapi apa kira-kira hari ini mengijinkan ya?" Azzam menatap ke arah Malik dan juga Renita.


"Baguslah kalau Mas mau menikah lagi, biar ada yang ngurusin dan aku rasa ... diijinkan atau tidak sama Rendy nggak jadi masalah. Lagian Rendy kan tidak tinggal sama Mas!" sambutnya Renita sambil menoleh ke arah Rendi yang sedang bermain sendiri taman.


"Reni benar kalau ada calonnya mendingan seperti itu kamu menikah lagi nggak ada yang ngurusin biar lebih tenang tentram, soalnya Rendy ... anak itu belum tahu apa-apa! yang penting kamu tetap memperhatikan dia, menyayangi dia. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah! itu yang akan menjadi dia trauma kembali!" tambahnya Malik yang sangat setuju dengan niat Azam untuk menikah kembali.


"Emangnya Nak Azam sudah punya calonnya? kenapa nggak dibawa ke sini sekalian, biar mengenali putranya dan agar dia pun menerima dari awal bahwa Nak Azam itu sudah punya Putra." Bu Amelia ikut punggung obrolan mereka.


"Ada, Bu ... dan dia pun sudah punya putra satu. Saya rasa sih ... dia pasti bisa menerima dan menyayangi putra saya!" balasnya Azam dengan sangat percaya kalau calonnya itu akan menyayangi Rendy seperti putra nya sendiri.


"Kok Nak Azam bisa berkata seperti itu? emangnya mereka sudah dikenalkan? kan belum. Emang berapa tahun putranya, apakah seusia Rendi?" selidiknya Ibu Amelia mewakili pertanyaan yang ingin Renita ajukan.


"Putranya itu ... sekitar 2 atau 3 tahunan lah, Bu." Jawabnya Azam, dia sendiri sih baru bertemu dengan putranya Shopia satu kali.


"Oh masih kecil usianya di bawah Rendy!" gumamnya Renita sambil meneguk minumnya.


"Yang penting itu ... saling menyayangi satu sama lain, dia sayang sama Putra kamu begitu pun sebaliknya! jangan mau sama mama nya sama papanya doang, anaknya nggak mau disayang." Tambahnya Malik sambil menatap tajam pada Azam.


"Dia itu ... katanya sudah tidak punya orang tua sama sekali, tinggalnya pun ngontrak." Azam seakan berpikir dan mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Biarpun dia sudah tidak punya orang tua, dia pasti punya keluarga lainnya kan?" tanya ibu Amelia kepada Azam.


"Punya, tapi saya belum pernah dikenalkan sama keluarganya itu. Tapi insya Allah akan secepatnya saya temui." Azam sedikit menggelengkan kepalanya.


"Saya dan istri saya pasti mendukung kalau kamu ingin berkeluarga kembali, hanya mengingatkan saja! cari wanita yang baik-baik dan menyayangi putra kamu, jangan seperti yang sudah-sudah, itu aja! ya kan sayang?" Malik melirik ke arah sang istri.


Renita pun mengangguk tanda setuju dengan perkataan sang suami. "Abang benar, hanya itu sih yang kami harapkan. Mas mendapatkan istri yang baik dan juga bisa menerima dan sayang sama Rendy seperti putranya sendiri, aku sih tidak meragukan ya ... Mas itu pasti bisa menyayangi putra dari istri Mas. Tetapi istri Mas bisa nggak nerima Rendy? biarpun kalian tidak tinggal bersama! tapi setidaknya dikala ketemu itu bisa menerima atau enggak!"


Azam terdiam dia mengatupkan bibirnya seraya mengurut pelipis. Dia membayangkan kembali ketika dulu ia menikah dengan Sharon, dia sendiri yang salah! tergoda dengan wanita yang seperti itu. Bahkan ia sendiri terbawa dengan alur yang ada sehingga dia benar-benar menyianyiakan istri dan anak.


Membuat rumah tangga dan Renita hancur berantakan, setelah menikah dengan seorang perempuan dia lepas tanggung jawab dan lupa kepada Rendy, menjadikan anak itu jauh dari dirinya. Baru-baru ini mereka dekat kembali.


"Yah aku tidak tahu itu!" Azam menggelengkan kepalanya pelan seraya menghela nafas dalam-dalam.


Karena sesungguhnya dia pun tidak bisa memastikan apa istrinya nanti akan sayang sama Rendy, menerima dia kalau dia seorang ayah! atau hanya seperti Sharon kemarin yang hanya ingin diperhatikan dia dan anak-anaknya saja tanpa mau peduli dengan anak dari suaminya.


"Omongan Ibu itu ... memang ada benarnya sih, mungkin saya terlalu terburu-buru kali ya. untuk menikah lagi," mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah berapa waktu mengobrol panjang lebar, akhirnya Azam pun berpamitan dan mengajak Rendy untuk ke apartemennya. Anak itu pun langsung menyambut dengan senang hati dan minta izin pada Bunda dan papanya, dia mau ikut sama Azam ke apartemen. Kebetulan besok itu hari libur.


"Boleh, tapi jangan nakal ya? dan harus nurut sama papanya jangan main sendiri keluar, bahaya!" pesannya Malik pada Rendy.


"Baik Pah ... Rendy akan menuruti Papa Azam dan gak akan jauh-jauh sama dia, Rendy akan buntuti kemanapun hi hi hi ... lagian Rendy takut ketinggian, Pah ... kalau sendirian!" Rendy mencium tangan Malik, Bundanya dan omah.


Azam tersenyum dan mengacak rambutnya Rendy, mendengar anak itu berkata demikian.

__ADS_1


"Iya, makanya jangan jauh-jauh dari Papa Azam ya tambahnya Renita!" cuph mencium kening dan kedua pipi putranya.


"Siap Bunda!" kemudian mereka berlalu dari tempat tersebut.


"Gimana kalau kita ... sebelum ke apartemen ke tempat oma dan opa dulu yuk? sudah lama Papa nggak datang ke sana!" ajaknya Azam kepada Rendy.


"Ketemu Om Jefri gak Pah?" anak itu hentikan langkahnya dan menolak pada sang ayah.


"Iya, kalau om Jepri nya ada di rumah opa, kalau nggak ada ya jauh lagi." Sambungnya Azam sambil kembali menuntun tangan Rendy mendekati mobil Belum lama ini dia beli dengan cara kredit.


"Oke lah kalau begitu, aku suka deh sama mobilnya Papa. Nyaman seperti mobilnya papah, Bunda juga nyaman makanya aku suka tidur di sana!" Rendy mengedarkan pandangannya ke dalam mobil tersebut sembari menyadarkan punggungnya ke belakang jok.


"Syukurlah kalau jagoan Papa suka!" Azam bersiap memutar kemudi setelah menghidupkan mesin mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil Azam pun melesat meninggalkan area rumahnya Malik dan Renita.


Sementara Malik dan Renita juga Ibu Amelia beranjak meninggalkan gajebo, masuk ke dalam dan dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzan yang mengalun terdengar begitu merdu memenuhi gendang pendengaran.


Renita berjalan setengah berlari melewati anak tangga, sedangkan Malik masih di bawah yang masih berbincang dengan ibunya.


Setibanya di kamar, tiba-tiba Renita merasa. Kok ada yang aneh. Kepalanya terasa pusing memutar dan perutnya pun terasa mual pengen muntah.


"Ya ampun ... aku pusing banget dan mual sekali, apa aku masuk angin kali ya?" gue mau menyala Nita sembari bergegas memasuki kamar mandi.


Dan ohek-ohek oooo ... membuang isi perutnya di wastafel yang berada di kamar mandi ....

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like comment agar aku tambah semangat.


__ADS_2