
Hari-hari Sharon semakin dekat dengan Jono dengan kedok teman kencan plus-plus. Alias hubungan terlarang, Sharon menjadi langganannya Jono.
Hampir setiap malam jalan sama Jono dan terkadang sewa kamar hotel, Sharon menjadi teman ranjangnya jono. Dari situlah Sharon dapat uang lebih karena jualan gorengan hanya sebagai kedok saja dikala siang hari.
Namun lama-lama Apa yang dilakukan Sharon yang juga berkencan sama pria, tercium juga oleh warga apalagi banyak pria di sana yang iseng kepada Sharon bahkan ada beberapa pria yang mengaku kalau mereka pernah menicip-icip Sharon. Membuat warga pun geram dan mengusir dari kontrakannya.
Sharon diusir dari tempat tinggalnya bukan karena nggak bayar kontrakan dan Ibu kontrakan pun tidak ada masalah selama bayar kontrakan tepat waktu, cuman warga yang tidak mengizinkan Sharon tinggal lagi di tempat tersebut dengan alasan jijik dengan perilaku Sharon sebagai wanita murahan.
"Mah kita ma tinggal di mana? kok mereka tega sih ... mengusir kita bukannya kita sudah bayar kan? kita bayar sama ibu kos bukan sama warga!" gerutunya Vera sambil berjalan membawa tas punggung, sementara adiknya Denis yang sama membawa tas punggung.
"Nggak tau lah, juga nggak mengerti. Ya sudah kita cari aja lagi kontrakan yang lain! masih banyak kontrakan lain. Sharon menghentikan sebuah taksi lalu mereka menaikinya walaupun Sharon bingung harus mencari kontrakan di mana?
Masih mending kalau dirinya masih dipakai sama si Jono, kalau nggak dia kan mendapatkan uang dari mana?
Mau nelpon Jono pun ia urungkan mengingat saat ini jono pasti sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu.
Seharian Sharon mencari kontrakan ke mana-mana dan pada akhirnya ketemu juga kontrakan.
"Rumah ini sudah komplit beserta isinya, kalian bisa tinggal menempati saja saja dan 1 bulannya rp1.500.000 tidak memikirkan token, ini itu lagi air sudah dibayarin. Jadi kalian tinggal nempatin saja barang-barang pun sudah komplit, " kata si Ibu kontrakan.
"Oh iya, Makasih Bu ... tapi tidak apa-apa kan kalau saya bayarnya berapa hari lagi? untuk saat ini saya belum pegang uang, Bu ..." ucapnya Sharon sambil menunduk.
"lah, masa iya berapa hari lagi? di mana-mana biar kontrakan bisa di tempati harus di muka di maka, nempatin harus bayar dulu bukan nempatin dulu baru bayar!" seru si Ibu kontrakan dengan tatapan yang kurang bersahabat.
"Tapi Bu ... saya cuman minta waktu berapa hari saja! sebelum saya mendapatkan uang, untuk saat ini saya hanya pegang uang untuk makan saja!" ucap Sharon sangat memelas berharap dikasihani oleh lawan bicaranya.
"Ya tidak bisa lah, harus bayar dulu baru ditempati. Saya tidak mau tahu ya? setidaknya harus ada uang muka!" ketusnya si Ibu dengan kunci yang tadinya sudah diberikan kepada Sharon diambil kembali dengan cepat.
__ADS_1
"Kasihanilah kami, Bu ... sudah seharian ini kami mencari kontrakan dan baru ketemu di sini sekarang juga cocok, tolong Bu ... beberapa hari saja. Saya berjanji akan secepatnya." Sharon semakin memelas berharap dikasihani.
"Tidak bisa! harus ada uang muka dulu." Kata si ibu dengan ketusnya.
"Tapi Bu ... saya belum pegang uang lebih." Sharon mengeluarkan dompetnya yang berisi uang cuman 250.000.
Yang 200 langsung di rampas oleh si ibu kontrakan sebagai uang muka. Dan dia mewanti-wanti kalau berapa hari lagi dia akan datang, dan menagih uang sewa rumah untuk sebulan ke depan.
"Iya, Bu ... saya berjanji, berapa hari lagi saya akan menyediakan uang untuk bayar sewa rumah." Sharon lagi-lagi berjanji dan mengambil kunci dari tangan Ibu kontrakan.
Sementara Vera dan Denis sedari tadi duduk simpuh di teras, tampaknya mereka berdua sangat capek dan lapar.
"Mah Denis laper!" Aku maunya Deni sembari berusaha berdiri setelah si ibu kontrakan pergi.
"Iya nanti beli." Kata Sharon sambil menatapi beberapa koper dan tas ke dalam rumah. Perabotan dapur pun tidak di bawa karena repot juga terburu-buru, takut di amuk masa.
"Nggak apa-apa, lagian kan di rumah ini katanya komplit! coba kita lihat ke dapur!" Sharon membawa langkah ke dapur dan memang benar di sana komplit perabotannya, memang benar kata si ibu. Tinggal pakai saja.
Untungnya Sharon masih sempat membawa beras dan Mie rebus. sehingga Sharon bisa memasaknya sekarang juga buat makan dia dan anak-anak.
Sebelum Sharon beres-beres semua barang-barangnya, dia memilih untuk memasak terlebih dahulu karena Denis pun sudah merengek lapar. begitupun dengan Vera.
Sambil memikirkan gimana caranya untuk bisa mendapatkan uang buat bayar kontrakan yang baru. Padahal kontrakan yang lama pun belum lama ini bayarnya baru sekitar 5 hari yang lalu untuk sebulan ke depan.
"Tapi rumahnya ini lebih bagus ya Mah? daripada rumah yang kemarin!" kata Denis sambil makan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Iya benar, makanya bayar nya pun pasti lebih mahal ya kan Mah?" Vera menimpali perkataan dari sang adik.
__ADS_1
Sharon mengangguk sambil menyisir pandangannya ke setiap sudut ruangan. Memang rumah ini lebih bagus dan isinya pun komplit termasuk televisi.
"Tapi gimana dengan sekolah kita Mah? kan jauh lagi!" wajah Vera berubah lesu mengingat sekolahnya yang jarak tempuhnya akan lebih jauh kalau dari tempat tinggal yang sekarang.
"Hooh, sekolah kita jadi lebih jauh ya Kak?" tambahnya Denis pada sang kakak.
"Iya, kalian sudah ... makan saja nggak usah banyak pikiran. Biar Mama yang pikirkan itu semua, kalian cukup jalani dan menurut kata Mama." Ujarnya Sharon sambil memandangi keduanya.
Sharon pun berpikir keras gimana caranya agar dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan dia mempunyai rencana kalau dia akan melamar kerja di restoran. Sharon berpikir dia harus berubah lebih baik dan dia tidak bisa meratapi nasib, karena tidak akan merubah semuanya, kecuali bergerak sendiri dan merubah hidup sendiri.
"Ya, aku harus merubah hidup ku. Mencari pekerjaan yang lebih baik dan memadai dalam segi kehidupatan dan juga keuangan." Batinnya Sharon sambil mengunyah serta pandangan menatap lekat kepada dua anaknya yang membuat dia harus kuat dan menjalani hidup.
Sharon Harus kuat dan mampu menghidupi kedua anaknya juga yang berstatus yatim dan keluarga dari ayahnya pun tidak ingat sama sekali. Padahal anak yang di tinggal meninggal oleh ayahnya adalah tanggung jawab keluarga dari ayahnya.
Bikin hati Sharon semakin mencelos. Bila mengingat kedua anaknya yang tidak di sayangi oleh keluarga ayahnya. Namun kendati demikian tidak membuat Sharon mengemis-ngemis kepada keluarga suaminya. Meski sekedar minta dikasihani dan meminta nafkah untuk kedua anaknya.
Sharon lebih baik usaha sendiri sekalipun jalan yang diambil itu salah. Mending kalau keluarganya ngasih, kalau nggak! cuman menimbulkan sakit hati yang ada.
"Kenapa Mama melamun?" tanya Vera tatkala melihat mamanya melamun.
"Ach. Nggak. Mama nggak melamun kok! udah lanjutin aja makannya ya, Mama mau ke kamar dulu mau beres-beres!" Sharon beranjak dari duduknya dan masuk kamar untuk sekalian membereskan pakaian.
Vera dan Denis melanjutkan makannya meski hanya dengan mie rebus tersebut.
Sharon langsung mengeluarkan barang-barang dari koper dan tas. Termasuk barangnya Vera dan Denis ....
.
__ADS_1
Bersambung.