Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kangen papa


__ADS_3

Karena merasa tidak enak bila lama-lama di kediaman nya Renita. Malik memutuskan untuk pulang saja. Soal motor, nanti juga pasti di antar oleh supirnya ke tempat Renita langsung.


"Reni ... Aku pulang duluan ya? nanti motor pasti balik kok sama sopir aku, jangan khawatir ilang!" suara Malik dengan sedikit nada tinggi karena Renita itu sedang berada di dalam rumah.


Tidak lama kemudian, Renita pun muncul dari balik pintu. "Oh mau pulang ya, em ... makasih ya sudah mengantar ku pulang, sekali lagi makasih banyak!"


Malik mengangguk dan tersenyum seraya mengangguk, sejenak dia menatap wanita yang tampak cantik nan anggu, raut wajahnya teduh dan menenengkan. Kemudian Malik membalikan tubuhnya dan berjalan mendekati mobil. Beberapa saat kemudian mobil Malik pun melaju setelah pemiliknya menggunakan bell safety di tubuhnya.


"Om mau ke mana?" tanya Rendy ketika melihat mobil Malik pergi, dia baru saja datang dari warung habis jajan yang dia mau sehingga dia menenteng kantong kresek.


Renita pun tersenyum menoleh ke arah Rendy seraya berkata. "Om Malik harus pulang, karena hari sudah sore!"


Rendy hanya mengangguk serta berlari ke dalam rumah dan melintasi sang Bunda yang masih berdiri di teras.


Feni pun menyusul Rendy yang berlari masuk ke dalam.


Renita masih juga berdiri di teras sambil menunggu motornya tadang, tidak lama kemudian. Datanglah sebuah motor yaitu motor Renita sendiri yang dibawa oleh sopirnya Malik.


Renita bergegas menghampiri sang sopir untuk mengambil kuncinya.


"Bu, ini saya persembahkan motornya dan beserta kuncinya!" kata sang supir sembari menyerahkan sebuah kunci kepada Renita yang langsung menyambutnya.


"Sebaiknya Anda duduk dulu, saya akan ambilkan minum!" pinta Renita sembari berniat untuk masuk ke dalam untuk mengambilkan minum.


"Oh tidak usah, Bu ... Saya akan segera pulang. Terima kasih banyak!" sang sopir pun berpamitan.


Tapi kedua manik Renita mendapatkan sesuatu yang aneh pada motornya, yaitu kedua ban motor kesayangannya itu sudah tampak baru. "Sebentar Pak? kok ada yang aneh ya pada motor saya, ban nya kok seperti baru!" Renita menatap ke arah motor dan sopir tersebut bergantian dengan tatapan yang merasa heran.


"Oh iya, Bu ... Tadi tuan menyuruh saya menggantinya sekalian!" Sang sopir mengiyakan kalau kedua ban motor Renita sudah diganti dengan yang baru.


"Diganti," Renita tampak terkejut. "Berapa semuanya Pak? sebentar saya ambil uangnya." Renita berbalik sembari memutar bola matanya, padahal di dompet isinya tipis, ada juga uang tabungan di ATM belum ngambil.


"Uang buat apa, Bu?" tanya sang sopir pada Renita yang hampir saja melintasi pintu.


"Uang ... buat membayar ban motor. Berapa semuanya harga kedua ban motor tersebut?" Renita kembali berbalik.

__ADS_1


"Karena semua orisinil ... harganya kurang lebih 2 juta--"


"Ngahh ... 2 juta nggak salah Pak ban 2 harganya 2 juta?" Renita terkesiap, dan shock karena belum kepikiran harga dua ban mencapai segitu, dia pikir yang biasa paling minimal 1 jutaan dapat 2 ban.


"Iya, Bu ... benar! harganya per satu itu satu juta dan dua jadi dua juta, ini yang kualitas bagus, Bu ... bukan yang biasa! tapi ibu nggak usah kuatir! karena semuanya sudah dibayar oleh Tuan. Mungkin Tuan tidak tega melihat ibu berapa kali motornya mogok makanya suruh saya ganti kan!" kata sang sopir.


"Jadi sudah dibayar?" selidiknya Renita kembali setelah merasa sedikit shock dan tidak percaya.


"Iya benar, Bu. Saya cuma untuk menjalankan tugas saja, ya udah. Saya pulang dulu sudah sore!" sang sopir membalikan tubuhnya dan berjalan, berlalu meninggalkan Renita yang terbengong-bengong rasa percaya kalau ban motornya menjadi bagus kembali.


Setelah sekian lama bengong dan sadar, orang yang tadi sudah tidak ada! ternyata baru ingat kalau dia belum mengucapkan banyak terima kasih kepada sopir maupun pada Malik.


Renita menepuk jidatnya sendiri seraya berkata. "Aduh, kok bisa lupa nggak bilang terima kasih? atau apa gitu? kayak orang gak tau berterima kasih aja."


Kemudian Renita menyimpan motornya ke garasi, kebetulan adzan maghrib sudah terdengar dari kanan dan kiri. Belakang dan depan, sehingga dia bergegas masuk setelah mengunci pintu garasinya.


Setelah mengucap salam lalu membaca doa Renita, Renita mengarahkan pandangan ke arah pintu di mana terdengar suara tangisan Rendy yang sedang dibujuk oleh Feni.


Wanita itu buru-buru keluar dari kamarnya dengan masih mengenakan mukena, bergegas menghampiri Rendy yang sedang menangis yang tidak jauh dari Feni.


"Tidak tahu, Bu! tiba-tiba dia menangis dan tidak bisa ditenangkan ataupun dibujuk!" Jawabnya Feni.


"Ooh ... Ayo sayang sama Bunda!" Renita langsung memangku anak itu ditenangkan di pelukannya. Lantas dia bawa ke kamarnya.


Rendy dipeluk erat, lalu di elus-elusnya kepalanya anak itu, pun dadanya seraya membaca sholawat karena anak itu belum bisa ditanya! masih juga menangis sampai tersedu dan terdengar begitu pilu.


Setelah beberapa saat dan anak itu tampak lebih tenang dan tinggal sesenggukan nya saja, tangisnya pun sudah berhenti dan pada akhirnya Renita bertanya.


"Apa yang membuatnya Rendy sedih Hem, Rendy pengen apa? dan sedih kenapa? coba bilang sama Bunda! kalau Rendy nggak bilang. Bunda mana ngerti!" selidik Renita dengan suara lirih.


"Rendy, Rendy kangen sama papa. Setelah Papa pergi, Papa nggak pernah menemui Rendy apa Papa sudah lupa sama Rendy?" ucap anak itu dengan tatapan nanar kepada sang Bunda.


Membuat Renita mencelos mendengarnya! rupanya anak itu kangen sama papanya yang sampai detik ini sama sekali tidak pernah menanyakan kabar apalagi menemuinya.


Renita memeluk Rendy dengan sangat erat dan menempelkan dagunya di pucuk kepala anak itu. "Yang sabar ya. Nanti juga Papa akan menemui Rendy, Rendy mau telepon Papa Hem? kalau mau Mama telepon dia!"

__ADS_1


"Nggak mau ... mau ketemu papa. Tapi pengen papa nya yang datang." Anak itu menjadi merajuk. Dia ingin ketemu bapaknya.


Renita jadi bingung harus gimana? sampai dia ketiduran dalam pelukan sang Bunda. Sementara buat telepon ataupun chat Azam. Rasanya Renita males banget! lagian besok akan bertemu di pengadilan.


Akhirnya Renita pun menidurkan Rendy di atas tempat tidurnya, biar malam ini Rendy tidur bersama nya saja.


Ditatap dengan sendu dan haru, hatinya Renita terasa sakit bagai tergores sembilu ketika mendengar sang buah hati ingin bertemu dengan papanya sendiri. Sementara papanya nggak tahu ingat atau enggak! yang jelas dia nggak ada kabar.


Kini Renita sedang menikmati makan malam bersama Feni. "Apa Rendy sudah makan tadi sore?" tanya Renita kepada Feni.


Feni menjawab sembari mengangguk. "Sudah tadi sebelum sore, dia sudah disuapin."


"Oh, baguslah kalau Rendi sudah makan, ya sudah kita lanjutkan lagi makannya!" kata Renita seraya menyuapkan ayam goreng ke mulutnya.


Renita menyudahi makannya dengan segelas air putih, kemudian dia bawa ke wastafel dan mencuci bekas piringnya.


"Oh ya, Bu ... Tadi ada kabar dari kak Sheila katanya besok mau datang sama Bapak juga Ibu," ucapnya Feni.


"Kapan mereka telepon? tadi ada telepon aku tapi akunya lagi sibuk jadi nggak ke angkat." Tanya Renita sembari mencuci tangannya dan lantas mengeringkan nya.


"Tadi siang," jawabnya Feni kembali.


Setelah itu ... Renita langsung memasuki kamarnya karena dia nggak tahu mau ngapain juga berada di ruang tv, lagian masih banyak berkas yang harus dia fahami.


"Oke Fin, nanti pintu kunci ya? saya mau di kamar ada kerjaan yang harus saya kerjakan," Renita menoleh ke arah Feni yang langsung mendapatkan angkutan dari gadis itu.


Renita membawa langkahnya ke dalam kamar, dia duduk di dekat meja lalu dia mengambil berkas yang tadi siang dia bawa pulang. Dia membuka dan memahami isinya kebetulan dia belum ngantuk, nanti setelah dia merasa ngantuk baru akan meninggalkan kerjaannya dan beristirahat.


"Huam ... Huam ..." Beberapa kali Renita menguap pertanda dia sudah lelah, matanya merasa ngantuk! pikirannya pun capek sehingga dia menutup berkas yang tadi, dia simpan pada tempatnya.


Ketika mau berbaring ponselnya pun bergetar, Rettt ... Rettt .....


...🌼---🌼...


Ayolah ... mana dukungannya agar aku tambah semangat. Dan bagi yang sudah memberi dukungan Terima kasih banyak m

__ADS_1


__ADS_2