Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menginap


__ADS_3

Renita menenteng tas kecilnya dan menuntun Randy, dia hendak pergi ke rumah lama dan ingin menginap di sana. Kebetulan Malik sedang ada urusan sehingga pulangnya pun akan terlambat dan ia pun sudah berpamitan pada suaminya tersebut kalau dia akan ke rumah lama.


"Mau ke mana Reni? Rendy mau ke mana?" tanya sang kakak ipar yaitu Yusna yang melihat Renita terburu-buru membawa langkahnya menuruni anak tangga.


"Em ... Aku sudah lama nggak main ke rumah dan katanya orang tuaku sedang balik kampung, jadi rumah kosong!" Kembali terus berjalan hingga akhirnya menapakkan kedua kakinya di lantai dasar.


"Oh, jadi mau menginap di sana? sambungnya sang kakak ipar sembari melepas pandangannya yang meneliti ke arah Renita dan putranya.


"Kira-kira ... seperti itu sih, Mbak. Pengen nginep sampai Ibu dan Bapak balik dari kampung!" sahutnya Renita kembali sembari mengecek isi tasnya.


"Sudah bilang sama Malik kalau kamu mau ke rumah lama?" selidiknya Yusna mengingat sang adik belum pulang.


"Dia sudah tahu kok," kalimat itu begitu singkat dan kemudian Renita melanjutkan langkahnya menuju keluar rumah.


Namun tidak lupa, Renita pun berpamitan lebih dulu pada sang ibu mertua yang sedang bersantai di ruang tamu.


"Mah, Reni mau pergi dulu ya! sudah lama tidak melihat rumah dan kebetulan katanya Ibu sama Bapak sedang balik kampung! jadi di rumah kosong." Pamitnya Renita pada Mama mertua.


"Oh iya, jangan lama-lama di sana di sini sepi! Rendy sama Oma aja di sini ya? nggak usah ikut biar besok sekolah perginya dari sini saja." Bu Amelia melepaskan pandangannya kepada sang mantu dan juga cucu sambungnya bergantian.


"Nggak mau ah ini mau ikut sama Bunda, dadah Oma ..." Rendy malah berlari mendahului bundanya melintasi pintu utama.


"Ya sudah Mah. Aku pamit dulu, Assalamualaikum!" ucapnya Renita lalu kemudian berjalan menyusul sang buah hati yang sudah berada di teras dan sepertinya sudah bicara dengan sopir! menyuruhnya Untuk mengantarkan mereka ke rumah yang lama.


Renita menutup kedua belah manik matanya seiring helaan nafas dalam-dalam, sebelum memasuki mobil yang akan mengantarnya ke rumahnya tersebut.


Insya Allah dengan keluar sejenak dari rumah itu, akan memberi ketenangan dan ketentraman hati Renita yang selama ini kacau, stress. Gelisah dan rasa cemas yang selalu menghantui lalu menjawabnya.


Tatapannya Renita tertuju keluar jendela, sebuah tatapan yang kosong serta pikiran yang melayang entah kemana, Rendy beberapa kali menyapa sang Bunda tidak digubrisnya. Sebab Renita sedang melamun begitu anteng.


Setibanya di rumah. Renita dan Rendy pun gegas turun dari mobil tersebut, Rendy yang menggendong tas nya berlari ke teras celingukan.


"Pak, makasih ya!" kata Renita pada sang supir.


"Iya, Bu kapan harus jemput lagi ke sini?" supir menatap ke arah Renita yang sudah berdiri di samping mobil.

__ADS_1


"Em, entah Pak. Gimana nanti saja ... gampang lah di telepon kalau perlu." Timpalnya Renita sambil menoleh ke rumah nya tersebut.


"Baik lah, kalau begitu saya pamit dulu Bu ..." pamitnya sang supir sambil kembali menyalakan mesin mobil.


"Iya, Pak hati-hati!" Renita menatap ke arah mobil yang mulai merayap meninggalkan nya.


"Bun, aku temukan kunci nya nih!" Rendi menunjukan sebuah kunci rumah.


"Iya, buka saja!" Renita menyisir pinggiran yang ditanami bunga-bunga yang tetap tampak terawat dengan baik.


Suasana yang mulai gelap karena sudah sangat sore dan bentar lagi pun akan terdengar suara adzan magrib.


Senja di atas cakrawala sangat memerah dan siap akan tergantikan dengan langit yang kelam dan lama-lama akan menghitam, gelapnya malam yang merupakan waktu untuk sebagian orang beristirahat dari aktifitas dan penatnya di waktu siang.


Sebelum Renita masuk ke dalam rumah. Ia berbincang dengan tetangga yang paling dekat yang menyambutnya dengan hangat, dan melepas rindu karena lama tidak bertemu.


"Apa kabar ... tambah cantik saja ya, pasti rajin perawatan." Sapa tetangganya tersebut menatap dengan intens ke arah Renita yang lebih terawat dan cantik.


"Alhamdulillah baik ... gimana sebalik nya? lama ya kita tidak jumpa." Renita memeluk tetangganya tersebut.


"Iya lama, Jeung Renita sih jarang ke sini. Oya, Rendy mana. Pasti sudah masuk sekolah SD ya?" ibu itu menanyakan Rendy yang sudah masuk ke dalam rumah.


Tetangganya pun pulang ke rumah nya yang bersebelahan dengan rumah Renita.


Rendy yang sudah berada di dalam dan menyalakan lampu di setiap ruangan.


"Nenek dan kakek kapan pulang ke sini lagi nya Bun?" tanya Rendy.


"Bunda juga kurang tahu sayang!" jawabnya Renita sembari menyisir pandangannya ke setiap sudut ruangan dan mendatangi nya yang lama tidak ia kunjungi.


Lalu mendudukan dirinya di atas tempat tidur yang berada di dalam kamarnya. Tempat yang menyimpan sejuta kenangan.


"Mungkin di sini pikiran ku akan lebih tenang, permasalahan yang sangat mengganggu pikiran dan batin ku ini." Renita menghela nafas dalam-dalam.


Lantas mendatangi lemarinya, membuka mengecek isinya yang tetap rapi dan tidak ada yang berubah posisi baju nya sedikitpun. Renita beranjak ke kamar mandi yang sebelumnya mengajak Rendy untuk mengambil air wudhu.

__ADS_1


"Rendy mau makan apa? biar pesan aja ya, soalnya di lemari pendingin nggak ada apa-apa cuma ada mie doang, kita pesan go food aja ya?" Renita menoleh bersama buah hati yang sedang melipat sajadahnya.


"Rendy mau makan ayam bakar, Bun. Sama ... apa ya? sama pecel!" jawabnya Rendy pada sang Bunda.


"Boleh ... kita tunggu dulu!" Renita mengambil ponselnya dari tas dengan niat mau memesan go food untuk makan malam.


Sebab jika harus masak, nggak ada yang harus di masak. Di luar terdengar suara mobil yang begitu halus! namun jelas Renita dan Rendy hafal itu suara mobilnya Malik.


"Itu Papa Bun, papa menyusul kita!" anak itu langsung melonjak naik dan berlari menyambut kedatangan papanya.


Begitupun Renita yang langsung keluar kamar setelah mengambil kerudungnya. Menyambut kedatangan Malik di rumah itu.


"Pah, aku kira Papa tidak akan menyusul ke sini." Rendy memegang tangan Malik di tariknya masuk.


"Ke sini dong ... di mana kalian berada, di situ Papa pun berada." Malik berjalan masuk dan bertemu dengan Renita.


"Langsung pulang ke sini bukan?" tanya Renita seraya mencium tangannya Malik.


"Hooh. Kok mendadak ingin menginap di sini sih?" Malik membuka jasnya lalu duduk di atas sofa.


Renita yang masih berdiri, terdiam sambil menatap sang suami. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang sudah dia dengar dari sang ibu mertua dan kakak iparnya, biarlah dia simpan sendiri.


"Nggak! pengen aja! sudah lama kan aku nggak pernah menginap di sini, setelah pindah ke sana. Lagian sudah berapa hari ini ibu dan bapak sedang balik kampung! jadi rumahnya kosong." Jawabnya Renita sambil membalikan tubuhnya untuk mengambil minuman buat Malik.


Sementara Sheila kan sudah menikah dengan Dion beberapa bulan lalu, dan tinggal bersama suaminya itu.


Beberapa saat kemudian wanita pun kembali dengan membawa segelas air putih lalu ia berikan pada Malik seraya duduk menemaninya.


Sementara Rendi mulai mengacak mainannya yang di kardus besar.


Renita meneruskan niatnya untuk memesan go food untuk makan malam bertiga. "Oh ya mau makan apa? aku mau pesan makanan, soalnya di rumah nggak ada yang bisa aku masak!"


Malik menyimpan gelasnya setelah ia meneguk isinya. "Sup buntut dan ... ikan bakar."


"Baiklah aku pesan dulu!" Renita tampak serius dan memesan makannya.

__ADS_1


Sebelum masakan datang, Renita beres-beres terlebih dahulu. Karena mungkin sudah beberapa hari tak ada yang menghuni. Lantai tampak kotor dan Malik pun membersihkan diri terlebih dahulu ....


Bersambung


__ADS_2