
Sudah hampir 1 jam Yusna menunggu dalam mobil dan suaminya, Anto. Belum juga kelihatan batang hidungnya dan mobilnya pun yang tadi dia rusak masih juga nongkrong di parkiran.
...----------------...
Setelah waktu itu bersama Rendy Azam mendatangi Rosita! dia semakin Intens mendatangi rumahnya, walau hanya untuk sekedar mengirim makanan dan bahan-bahan dapur.
Seperti saat ini Azam mengantar Rosita pulang ke rumahnya dari warung kopi, dan mampir dulu walau sekedar untuk mengobrol sebentar.
"Ros, seandainya ada pria yang ingin menjadikan mu istri, kamu ... mau nggak?" tanya Azam sambil menatap lekat ke arah Rosita.
Rosita tampak gugup mendengar pertanyaan dari Azam dan keringat dingin pun langsung membasahi kedua tangannya.
"Em, kenapa bertanya seperti itu? karena rasanya tidak mungkin ada pria yang mau memperistri aku dengan keadaan seperti ini! tidak ada yang bisa di harapkan," sahutnya Rosita seraya menundukan kepalanya dalam-dalam, dia menjadi malu untuk menatap wajah Azam.
"Tidak boleh ngomong seperti itu juga, siapa tahu suatu saat nanti ada yang dengan ikhlas menerima kamu apa adanya! mencintai kamu, menyayangi kamu. Sebab semua orang itu tidak sama dan bukankah Tuhan menciptakan makhluk nya berpasang-pasang, jadi tidak perlu berkecil hati!" ujar Azam sambil menarik kedua sudut bibirnya menunjukan sebuah senyuman.
Rosita bertambah gugup! dan dia semakin tidak berani untuk mengangkat wajahnya. "Iya ... mungkin saja ada, tapi rasanya aku minder banget!"
"Gimana kalau saya yang mau menjadikan mu istri, mau nggak kira-kira?" tambahnya Azam lirih.
Degh.
Rosita mengatupkan bibirnya dengan rapat dengan tetap menunduk sambil menautkan kedua tangannya di atas pangkuan.
"Kamu kenapa jadi grogi begini? nggak usah nervous biasa aja! kaya orang baru ketemu aja." Azam mesem-mesem melihat wajah Rosita yang tampak sekali grogi atau serba salahnya.
"Eeh siapa yang grogi sih? nggak ada biasa aja, cu-cuma ... apa ya ... em ... gak mungkin ach." Rosita menggeleng.
"Sesungguhnya tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi sesuatu yang bisa diusahakan!sesuatu yang bisa diraih!" Azam menatap ke arah Rosita semakin lekat.
Sementara yang dipandangi sama sekali tidak mengangkat wajahnya seolah-olah ingin menyembunyikannya dari Azam.
"Em. Aku masuk dulu ya! sudah malam!" Rosita mulai menggerakkan kursi rodanya.
Akan tetapi dengan refleks setengah Azam menangkap tangan Rosita. Menahannya untuk pergi.
"Kenapa? sudah malam lho ... jarum jam nya sudah menunjukkan pukul 10 malam, sebaiknya Mas pulang!" barulah Rosita memberanikan diri untuk menatap Azam.
__ADS_1
"Tapi. Kamu belum menjawab--"
"Menjawab apa, Mas?" potong Rosita.
"Soal yang tadi aku katakan," Azam merasa penasaran dengan jawaban yang belum dia dapatkan.
"Em ... yang mana sih, Mas?" Rosita pura-pura tidak mengerti.
"Yang tadi! yang saya katakan tadi." Azam berharap Rosita menjawabnya sekarang juga.
Rosita mengerutkan rekeningnya. "Yang mana sih, Mas?"
"Ros ... masuk dah malam?" suara Ibunya Rosita memanggil agar Rosita segera masuk ke dalam! mengingat waktu sudah malam.
"Tuh ... Mas ibu sudah manggil aku, sudah malam! sudah dulu ya! aku mau masuk dulu dan Mas pulangnya hati-hati ya? jangan ngebut!" setelah mengucap demikian, Rosita pun melanjutkan pergerakan kursi rodanya yang ia majukan ke dekat pintu untuk mendorong nya yang kemudian dia masuk ke dalam rumah hingga hilang dari pandangan Azam.
"Huuh ..." Azam membuang nafasnya melalui mulut, lalu kemudian dia berdiri merapikan kemejanya dan lantas berjalan meninggalkan kediaman Rosita. Mendatangi mobilnya yang terparkir di depan warung kopi tadi.
Azam pun pulang dengan perasaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata ada rasa bahagia karena setidaknya sudah mengungkap perasaan meskipun belum mendapatkan jawaban.
"Tapi buat apa diajak ke apartemen. Lagian dia nggak bakalan mau bila diajak ke apartemen!" gumamnya dalam hati Azam.
Setibanya di apartemen! Azam langsung membersihkan diri dan tidak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
...----------------...
"Sayang?" gumamnya Malik.
Renita yang berada dalam pelukan Malik mendongak. "Hem ... ada apa?" lalu menempelkan kembali kepalanya di atas bahu Malik.
"Aku jadi kepikiran!" tambahnya Malik sembari lepas pandangannya yang kosong ke langit-langit.
"Emangnya kepikiran apa sih?" Renita gerakan tubuhnya juga mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Malik.
"Aku kepikiran Mas Anto yang bersama Shopia. Aku curiga kalau mereka berdua ada sesuatu di balik kita semua!" gumamnya Malik dengan yakin.
"Jangan berpikiran jelek takutnya jadi fitnah siapa tahu mereka hanya rekan kerja, mereka sedang ada bisnis yang sesungguhnya kita tidak tahu bukan? jangan suudzon." Balasnya Renita sambil mengusap-ngusap dada bidangnya Malik.
__ADS_1
"Aku tidak berpikiran jelek sayang ... dan juga bukan suudzon, tapi memang sudah ada beberapa orang yang melihatnya bahkan di kamar hotel." Tambahnya Malik.
Renita tertegun mendengar perkataan dari suaminya, setengah tidak percaya! apa benar Anto dan Shopia melakukan sejauh itu!
"Sudah lama nggak usah mikirin itu udah malam kita bobo!" Renita mengeratkan pelukannya pada tubuh Malik yang bertelanjang dada.
"Iya sih ... ngantuk. Tapi kangen ingin main, si joni dah tegang dan tidak tahan ingin berolah raga," tajuknya Malik seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Renita.
Dan mulai mencumbu sang istri yang akhirnya menyatukan kedua jiwa! saling memberi dan menerima satu sama lain. Dalam ritual yang menjadi candu bagi Malik.
"Auhhhh ... aku merasa lega sekali dunia ini, makasih sayang ... aku sayang sama kamu. Ouch ... jangan pernah berhenti!" racau Malik sambil mendongakkan wajahnya ke langit-langit.
Renita merangkul kuat pundaknya Malik, sehingga keduanya begitu rapat dan tidak ada celah sedikitpun untuk nyamuk sekalipun yang ingin mengganggu ritual keduanya.
Malik mempercepat larinya sehingga sampai di finis, membuat tubuh keduanya merasa tegang bagai di setrum listrik. Namun terasa memuaskan.
"Cuph,kasih sayang!" Malik memberi kecupan di keningnya sang istri yang sebelumnya ia singkirkan terlebih dahulu anak rambut yang menghiasi kening dan pipinya Renita.
"Sama-sama!" Renita memeluk punggung Malik dengan kuat.
"Semoga rumah tangga kita akan tetap seperti ini bahagia, adem dan ayem. Di mana ada aku pasti ada kamu istri ku!" tambahnya Malik seraya membelai rambutnya Renita.
"Aamiin, semoga saja seperti itu!" sahutnya Renita sambil menatap wajahnya Malik dengan tatapan penuh cinta.
"Aku semakin sayang sama istri ku dan keluarga ku!" Malik dengan masih di posisi yang sama dan memunggungi langit-langit.
"Terima kasih sayang, aku juga sayang sama kamu." Renita mencium kedua pipinya Malik.
"Bobo, yo?" bisik Malik sambil menurunkan tubuhnya merubah posisi, berbaring di sampingnya Renita yang menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya.
Renita menggerakkan tubuhnya tiduran di atas dada Malik lalu memeluknya sangat kuat.
Sepersekian detik kemudian keduanya sudah terlelap dan berada di alam mimpi ....
.
Bersambung.
__ADS_1