Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tangis bawang


__ADS_3

Shopia dan putra nya naik taksi entah tujuannya mau kemana? karena dia masih bingung harus kemana. Dengan segala kekesalannya pada Malik dan Renita, yang sudah membuat dirinya keluar dari rumah tersebut. Semakin tambah benci saja Shopia pada Renita.


 “Aku bingung harus kemana?” gumamnya Shopia sambil menatap ke arah putranya yang di dalam pangkuannya


sambil makan kue.


“Mau kemana Mbak?” tanya supir taksi yang belum di kasih tahu harus kemana membawa penumpangnya.


Shopia bengong dan tidak segera merespon pertanyaan dari sang sopir taksi yang tampak kebingungan harus membawa penumpang nya kemana.


Pada akhirnya Shopia memutuskan untuk mendatangi mbak Yusna yaitu kakaknya Malik, untuk meminta tumpangan di sana. Kebetulan rumahnya cukup luas dan anaknya baru dua dan masih sekolah SD.


“Ke jalan xx ya Pak?” pintanya Shopia sambil menoleh pada sang supir.


“Baik Mbak, kalau begitu kan jelas saya mau bawa kemana, kalau tadi saya bingung harus membawa kemana?” kata supir taksi yang melanjutkan membawa mobilnya melesat ke suatu tempat yang sudah Shopia sebutkan tadi.


Setibanya di kediaman Yusna. Shopia langsung masuk dengan tas besarnya membuat Yusna merasa heran bin aneh alias tidak mengerti.


“Kamu mau kemana? kok membawa koper segala sih ... kaya orang mudik saja!” selidiknya Yusna sambil menatap heran ke arah Shopia yang sedang menenangkan putranya yang agak rewel.


Dengan wajah sedih, Shopia bercerita kalau dia di usir oleh Malik gara-gara hal sepele saja. Sekarang Malik memang banyak berubah setelah menikah dengan Renita, Malik begitu dingin padanya dan Genta. Dia di marahi habis-habisan, bahkan hampir di tampar.


“Kok bisa begitu sih? masa Malik tega mengusir kamu segala?” Yusna setengah  tidak percaya pada Shopia.


“Beneran Mbak ... aku tidak bohong, aku Cuma mengambil minumnya yang disediakan oleh Renita dan dia langsung marah, Malik pun membela istrinya Mbak ... makanya aku di usir. Hik-hik-hiks.” Shopia menangis.


“Kok bisa sih ... si Malik tega begitu sama kamu.” Yusna mengerutkan keningnya.


“Aku tidak bohong Mbak. Dan ada yang ingin aku katakan pada Mbak, sesuatu yang aku pendam selama ini.” Shopia tampak sangat serius sambil mengusap air matanya.


“Tentang apa itu?” Yusna menatap penasaran pada Shopia yang tampak serius namun mendudukan terlebih dahulu putranya.

__ADS_1


“Mbak harus percaya sama aku Mbak?” Shopia memegangi tangan Yusna berharap kalau wanita itu akan mempercayainya.


“Percaya apa emang? kamu belum cerita dan aku harus percaya apa?” Yusna kebingungan.


Shopia kembali menangis bawang di hadapannya Yusna. “Aku pernah ... aku pernah itu sama Malik Mbak.”


“Pernah apa? bicara lah ... jangan bikin penasaran deh ...” Yusna semakin dibuat penasaran.


“Em ... aku pernah tidur sama Malik Mbak—“


“Apa?” Yusna terhenyak mendengarnya apa yang di katakan oleh Shopia yang sungguh tidak dia duga sebelumya. “Apa kau tidak bohong kan? kalia itu ada pertalian darah lho, kanapa harus begitu?”


“Entah Mbak, aku waktu itu mengantarkan minuman yang dia pinta. Tapi dia memaksa ku untuk tidur dengan nya Mbak, untung saja gak sampai terjadi yang lebih karena aku keburu berontak Mbak.” shopia tanpa ragu mengarang cerita agar yusna merasa simpatik padanya.


“Ya ampun ... kok si Malik kurang ngajar sekali sih? dah tahu kalian itu saudara, kenapa bisa seperti itu? terus kamu diapain saja ha?” Yusna tampak geram pada adiknya.


“Ya begitu Mbak. Di raba-raba, aku malu dan merasa jijik sama diri ku sendiri Mbak,” ucap Shopia menunduk dalam dan sembari menautkan kedua tangannya,


“Aku tidak berani Mbak ... dan aku malu untuk mengatakannya pada Mbak, mendingan kalau di percaya, kalau tidak? aku yang sangat malu Mbak. Hik-hik-hiks.” Shopia menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah sambil menangis.


Yusna menari kepala Shopia ke dalam pelukannya. “Mbak tidak menyangka sama sekali. Kalau Malik pernah berbuat mesum pada mu Shopia, Mbak akan marahi dia. Lihat saja aku habisi dia nanti!”


“Sebenarnya aku ingin bicara dari dulu tapi ya itu aku malu sangat malu dan baru kali ini aku punya keberanian untuk bercerita.” Sambungnya Shopia dalam rangkulannya Yusna.


“Seharusnya kamu jangan malu untuk cerita, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini lho ...” Yusna mengusap bahunya Shopia.


...----------------...


Di kediaman Malik. Setelah pulang dari kantor sekitar pukul lima sore. Malik kembali sidang oleh sang bunda terkait kepergian Shopia dari rumah tersebut, masalahnya kasian kalau dia itu sudah tidak punya siapa-siapa selain saudara saja. Dia mau tinggal di mana sekarang?


“Mama ... saudara dia itu bukan Cuma kita saja, masih banyak kok dan kalau dia mau bisa tinggal dimana saja bukan hany adi rumah ini saja.” Jelasnya Malik menatap sang bunda.

__ADS_1


“Mama tau kalau saudara dia itu banyak dan bisa tinggal sama siapa saja, tapi ... dia kan berasa sudah lebih dekat saja di sini. Apa salahnya kamu memaafkan dia?” sambungnya sang bunda.


Sementara Renita yang sedang menemani Rendy belajar. Hanya menyimak saja tanpa berkata sepatah kata pun. Sesekali melihat ke arah suami dan mertuanya.


Malik terdiam dan berpikir, dalam benaknya terlintas sebuah rencana yang akan membuat ibunda nya dan juga istrinya mengerti. Kenapa ia membiarkan Shopia pergi dari rumah ini.


“Rasanya Mama tidak bisa membayang kan kalau dia tinggal di tempat lain dan gimana kehidupannya Malik?” suara ibunda dengan nada sedih.


“Nanti aku akan tunjukan sesuatu yang akan membuat Mama percaya dan tidak akan menyalahkan ku lagi.” Jelasnya Malik sambil beranjak ingin mandi terlebih dahulu.


“Mau menunjukan soal apa?” pada akhirnya Renita bersuara juga karena merasa penasaran dengan yang di ucapkan oleh suaminya barusan.


“Aku mau mandi dulu. Nanti aku tunjukan sesuatu pada kalian berdua,” balasnya Malik sambil berjalan membawa langkahnya mendekati tangga.


“Oh ya udah, Rendy lanjutkan sendiri belajarnya ya? Rendy kan pintar.” Renita beranjak dan hendak menyiapkan pakaian ganti Malik.


Malik tatkala melihat istrinya menyusul, menunggu sebentar agar berjalan bersama dengan sang istri. Malik menuntun tangan Renita dan berjalan berdampingan di tangga menuju kamarnya.


“Sayang. Kamu harus tahu kalau di rumah ini hampir di setiap sudut ruangan ada cctv nya dan apapun yang terjadi dapat terekam dan bisa aku cek kapan saja, termasuk di kamar kita.” Kata Malik sambil berjalan.


“Oh ... apa? di kamar kita juga di pasang? jangan dong yank ... malu dong.” Pintanya Renita langsung memerah kulit wajahnya.


“Ha ha ha ... tenang saja, setelah aku menikah, cctv di kamar ku matikan kok.” Malik tertawa sambil melepas semua kancing kemejanya.


“Beneran ya ... tidak pernah di aktifkan? aku marah bila ternyata bohong.” Renita memajukan bibirnya sembari menyiapkan pakaian ganti nya Malik.


“Nggak kok. Kecuali sebelum menikah aku sambungkan. Setelah kita berdua di sini tidak pernah kok sayang.” Malik menyakinkan sang istri sambil memeluk dengan erat walaupun Renita memberikan penolakan.


Beberapa saat kemudian, Malik pun mengayunkan langkahnya ke dalam kamar mandi dengan perasaan yang jadi tidak beraturan begini ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... agar menambah semangat untuk aku terus menulis. Terima kasih semuanya.


__ADS_2