Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Morotin


__ADS_3

Bagaimanapun Azam merasa bingung dengan penagihan yang ada, belum pengeluaran ini itu sehari-hari! mingguan, bulanan bikin pusing kepala.


Padahal dulu ketika berumah tangga dengan Renita tidak pernah seperti ini, cukup transfer uang bulanan saja tidak pernah memikirkan belanja ini itu. Semuanya cukup di handle oleh Renata dengan sebaik-baiknya dan tanpa mengeluh ataupun mengatakan kekurangan uang.


Tapi sekarang malah kebalikannya, dia sendiri yang harus mengurus semuanya bikin pusing dan rasanya mau pecah ini kepala.


"Ha ... lama-lama aku bisa mati berdiri, kalau kau tidak bisa menghandle keuangan," lagi-lagi Azam dengan suara yang tinggi disertai bentakan.


Membuat Sharon tersentak. Di barengi rasa gugup yang baru saja terasa hening, tiba-tiba terdengar lagi suara Azam yang bak petir menyambar.


Sharon terdiam seakan berpikir memutar otak, agar dia mendapat kartu sebagai alat pembayaran.


Perlahan Sharon mendekati dan menyentuh bahu Azam dari samping dengan lembut.


"Mas, Mas pasti capek. Aku pijitin ya?" Sharon menggerakkan jari jemarinya untuk memijat pundaknya Azam, yang sebelumnya Sharon naik ke atas tempat tidur. Berlutut tepat di belakangnya punggung Azam.


Sharon pikir kalau Azam akan luluh dengan sikapnya yang baik-baikin. Namun ternyata tidak sesuai ekspetasi, Azam dengan tiba-tiba beranjak dan menghempaskan kedua tangan Sharon yang memijat pundaknya.


Sehingga Sharon hilang keseimbangan terjerembab ke belakang, Blak ... membuat posisi tubuhnya terlentang di atas tempat tidur.


"Aku tidak meminta mu untuk memijat ku," lalu Azam berlalu ke kamar mandi.


Sharon mengangkat tubuhnya yang sesaat barusan terdiam dan terkejut, ternyata Azam masih marah dan tidak bisa di bujuk dengan pijatan.


Manik matanya celingukan mencari dompet miliknya Azam, karena semua kartu pasti ada di dalam sana dan Sharon ingin mendapatkan salah satu kartu yang sekiranya dia tahu pin-nya! namun jangankan kartunya dompetnya aja nggak ada.


"Oh iya, dompetnya pasti di saku celana panjang nya yang dipakai barusan, mana celananya? ya ... dibawa ke kamar mandi, sialan! aku harus ekstra lagi meluluhkan hatinya dia, mau bangkrut kek nggak bisa bayar, Terse ... rah, yang penting aku bisa bahagiakan diriku sendiri." Sharon tersenyum licik lalu menolehkan kepalanya ke pintu kamar mandi yang terdengar suara air yang mengalir dari dalam.


Sharon buru-buru memposisikan dirinya berbaring miring di atas tempat tidur. Dengan diri yang polos, tanpa sehelai benang pun untuk menggoda Azam yang sedang marah dan berharap luluh, mencair kemarahannya. Tidak perduli dengan isi lemari yang berserakan di lantai. Yang penting mengurus dulu Azam.


Blak ....


Daun pintu kamar mandi terbuka, Azam keluar, sambil menenteng celana panjangnya yang barusan dia pakai. Celana panjang itu tergantung di tempatnya dan menjadi sasaran pandangan Sharon.

__ADS_1


Ketika belum melihat ke arah tempat tidur, Azam santai-santai saja dan terlihat tenang! namun ketika netra matanya menemukan sesuatu yang polos. Tubuhnya sontak menegang dan panas dingin. Dan ... tidak bisa menahan diri dia langsung menyerang dengan buas.


Bibir Sharon menyungging penuh kemenangan dan merasa kalau apa yang dia lakukan tidak akan sia-sia, kalau dia akan mendapat alat pembayaran lagi seperti semula.


Setelah puas bergoyang dangdutan. Segera Azam menyudahi nya dan menjatuhkan tubuhnya di samping Sharon yang langsung memeluk dengan wajah yang menerbitkan senyuman.


"Aku tahu yang jadi akal bulus mu, kamu ingin kan kartu itu kan? sekalipun kau pegang itu lagi, tidak akan pernah bisa menggunakannya, hem!" Azam menyunggingkan bibirnya seakan tau dan bisa membaca pikiran Sharon saat ini.


Degh.


Kok bisa-bisanya Azam membaca pikiran Sharon tentang kartu itu, semua kartu yang dia pegang semuanya sudah ganti sandi.


...----------------...


Keesokan hari nya. Sharon sedang menunggu kekasih nya di sebuah Cafe, dengan kepala yang celingukan perasaan gelisah dan cemas kok pria nya tidak muncul juga.


"Hi baby ... sudah lama menunggu ya?" secara tiba-tiba setelah itu hadir dari belakang nya Sharon dan mencium keningnya wanita tersebut. Lantas dia duduk saling berhadapan.


"Baby, bayar dulu itu bil nya. Aku tidak ada uang!" Sharon melirik ke arah pria nya.


"Apa, aku gak bawa dompet baby. Biasa nya juga kamu yang bawa dompet!" kening pria itu mengerut.


"Kenapa sih setiap jalan, kamu itu tidak pernah membawa dompet? dan tidak perlu bawa dompet yang penting uangnya." Kata Sharon sambil menatap heran, dia tidak menjadi masalah nila dia sendiri pedagang uang atau alat pembayaran dan masalahnya sekarang dia tidak punya alat itu.


"Kan biasanya juga kamu yang bayar, sekalipun aku yang ingin membayarnya. Sekarang aku benar-benar tidak membawa uang!" balasnya pria itu dengan nada kesal.


Mana malu di sana ada pelayan cafe menunggu pembayaran.


"Aku tidak jadi masalah kalau aku pegang uang dan alat pembayaran lainnya. Ini aku nggak punya dan kartu ku sudah disita orang yang punya, dan ... sekalipun aku bisa mengambil kartu itu, pin-nya sudah diganti. jelas aku tak bisa menggunakannya lagi!" ucapnya saran dengan jelas.


"Apa jadi kamu nggak pegang lagi kartu itu?" selidik pria nya dengan tatapan yang penasaran, dan kalau memang iya. Apalagi yang bisa diharapkan dari wanita macam Sharon?


Sharon menggeleng seraya berkata. "Iya, gara-gara tagihan yang membengkak. Tidak sesuai harapan dia ... jadinya kartu aku disita dan sandi nya pun diganti, makanya sekarang aku nggak pakai kartu itu lagi dan uang yang dia kasih hanya seperlunya saja!" tambahnya Sharon dengan suara yang pelan.

__ADS_1


"Terus gimana dong ... kita jalan tuh butuh duit, sementara aku nggak bawa duit. Ini juga belum dibayar gimana?" sembari memegangi kepalanya sangat menunjukkan kalau dia sedang kebingungan. "Ck!"


Pelayan kafe yang sudah sedari tadi berdiri mengamati obrolan dari Sharon dan pria nya akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya. "Gimana ya Mas? Mbak, mau bayar pakai kartu kredit. Cash atau gimana?"


Sharon dan pria nya saling bertukar pandangan. Keduanya semakin bingung, Sharon berharap pria nya itu bisa berbuat sesuatu untuk membayar apa yang sudah mereka makan Dan minum di tempat itu.


Nama si pria tidak berbuat apapun yang signifikan dia hanya diam saja dan menetap ke arah Sharon, seolah-olah tidak punya inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu.


"Rrghhh ... lama," gumamnya Sharon. "Mbak, kalau dia nggak bayar. Tahan aja lah! suruh nyuci atau apa kek! tampang doang keren!" Sharon langsung berjalan keluar meninggalkan pria nya tersebut.


"Hi ... kok ninggalin saya sih?" si pria mau menyusul Sharon, tangan pelayan cafe meraih tangannya.


"Eeh, Mas ... mau kemana? bayar dulu main pergi aja suruh pikir ini kapan nenek moyangmu!" ucap pelayan cafe.


Mau tidak mau, akhirnya si pria pun mengeluarkan uangnya dari saku celana yang paling dalam.


"Gitu dong, Mas ... susah amat dari tadi! cowok itu jangan pelit-pelit ... yang ada nanti ditinggalin!" kata si mbak lagi dengan nada ketus nya.


Si pria berlari menyusul Sharon yang sudah berada di luar.


"Tunggu?" panggil pria itu 0ada Sharon. "Saya pinta kita putus!"


Sharon menoleh dan hentikan langkahnya menatap tajam pada pria nya itu. "Dasar pria kere. Siapa juga yang mau jalan sama cowo macam kamu ha? tampang aja yang kau andalin. Sementara tidak ada uangnya, yang ada morotin aku!"


"Oya, bagus lah kalau begitu. Saya juga tidak sudi jalan sama ema-ema yang yang tidak berduit--"


"Iya, karena lo cowo matre! menyesal saya kenal sama kamu, brondong kere!" Sharon menaiki motornya, meninggalkan pria itu yang menggerutu.


"Emangnya gue pikirin ... gue gak rugi. Pisah sama kamu." gumamnya Sharon sambil melajukan motornya ....


...🌼---🌼...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2