Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Terbang ke atas


__ADS_3

"Oh ini ban nya kempes dan terpaksa aku dorong deh, karena sepertinya di depan ada tambal ban. Kalau nggak salah sih ... itupun kalau buka!" jawabnya Renita menoleh ke arah motornya.


Lantas pria itu pun turun dari mobilnya. "Masuk ke dalam mobil panas kasihan!" dan Rendy pun langsung digendong sama pria tersebut.


"Kamu juga masuk ke dalam mobil? panas sekalian barangnya dibawa tasnya." Titahnya pria tersebut yang kini mengenakan topi putih menambah ketampanan wajahnya.


"Tapi motorku ..." jawabnya Renita sembari menunjuk motornya.


"Motornya biar supirku aja yang bawa ke tambal ban. Kamu naik aja ke dalam mobil! kasihan kan Rendy panas gini pasti capek juga! emang mau ke mana?" tanya kembali si pria bertopi putih.


"Ke rumah orang tuaku dan perjalanan motor sekitar kurang lebih 1 jam lagi!" sahutnya Renita sambil mengambil tas dan barang lainnya dia tidak ragu kalau harus numpang ke mobil tersebut.


"Astagfirullah ....satu jam lagi?" kata pria tersebut sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Iya kurang lebih satu jam lagi perjalanan!" Renita menganggukkan kepalanya sembari menyimpan tasnya ke dalam mobil mewah berwarna silver yang sudah dibukakan oleh sang empu.


"Suamimu mana?" tanya si pria itu.


"Eem ... dia masih sibuk, dan dia nanti akan menyusul belakangan!" jawabnya Renita sambil kembali mengambil Rendy dari pangkuan pria tersebut lalu duduk di dalam mobil.


Setelah itu si pria menyuruh sopirnya untuk membawa motor Renita ke depan, untuk mencari tambal ban. Serta tidak lupa memberikan uang untuk biayanya.


"Aduh, makasih banyak ya!" kata Renita kepada pria tersebut. Sambil menggendong Rendy yang tanpa ngantuk dan berkeringat, makanya Renita membuka jaketnya Rendy.


"Sama-sama!" jawabnya, lalu melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke depan hingga berhenti di depannya tukang tambal ban, dan menunggu motor Renita yang didorong oleh sopirnya pria itu.


Kebetulan di samping tukang tambal ban tersebut, ada warung makan sehingga pria itu yang tiada lain Dan tiada bukan adalah Malik, mengajak Renita untuk makan di sana.


"Nggak usah deh, aku masih kenyang kok. Terima kasih atas tawarannya!" jawabnya Renita dan dia pun merasa nggak enak hati.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, ayo turun kita makan aja dulu? sambil nunggu tambal ban dan Rendy belum tidur kan? yok kita ajak makan dulu, kasihan dia pasti lapar!" Malik pun langsung membukakan pintu untuk Renita dan Rendy.


Renita menatap pada Randy yang ada di pelukannya, tampak ngantuk tapi dia nggak tidur! pada akhirnya Renita pun turun. Setelah Malik menutup pintunya barulah mengajak Renita berjalan ke warung tersebut.


"Ada menu apa aja, Bu. Di sini?" tanyanya Malik sambil mendudukan dirinya di bangku yang panjang.


"Oh, ada banyak ... coba lihat-lihat Mungkin banyak yang disukai," kata si Ibu warung sambil menunjuk ke etalase masakannya.


Malik menatap ke etalase dan di sana memang ada banyak menu, seperti telur balado. Ayam goreng, ayam pepes. Ati ampela goreng! ikan pepes, ikan goreng, tahu/tempe, lalapa. Sambal dan juga banyak lagi menu lainnya.


Kemudian Malik menoleh ke arah Rendy dan Renita yang sedang menyedot minumnya, Rendy pun tampak segar kembali setelah dikasih minuman jeruk.


"Mau makan sama apa? atau mau ngambil sendiri saja!" tanya Malik pada Renita.


"Hah!l? biar aku ngambil sendiri saja lah, Rendy mau makan sama apa?" tanya Renita kepada Rendy.


Anak itu berdiri di bangku yang sedang dia duduki, melihat-lihat katalase ingin tahu ada apa saja sambil menggaruk-garuk tengkuknya, anak itu berkata. "Rendy mau ... mau itu, mau


Kemudian Renita pun mengambil lebih dulu untuk makannya Rendy ikan goreng dan juga tumis-tumisan nya yang sekiranya Rendy sukai dan setelah itu barulah mengambil untuk dirinya sendiri, seperti ayam, lalapan dan sambal.


Begitu pun dengan Malik yang mengambil beberapa menu-menu ke piringnya.


Lanjut Mereka pun langsung menyantap makannya dengan sangat lahap. Sesekali Renita pun menyuapi Rendy yang makannya masih berantakan! apalagi makannya sama ikan goreng yang takut kena durinya.


Selesai makan, Renita langsung hendak membayar bekas makannya berdua dengan Rendy, namun Malik mencegahnya. Karena biar dia saja yang membayarnya.


"Nggak usah, Ren ... biar aku yang membayarnya, kan aku yang mengajak kamu makan di sini, masa kamu bayar sendiri? nggak lah aku saja!" larang nya Malik sambil melihat ke si Ibu warung agar tidak menerima uang dari Renita.


"Tapi nggak pa-pa, aku bayar sendiri kok, lagian ada uang ... kecuali kalau aku nggak ada uang, baru boleh kamu bayarin." Balasnya Renita kembali.

__ADS_1


"Sudah, nggak usah. Aku yang ngajak, masa bayar sendiri. Sudah sekalian bayarin bekas makan ku! ha ha ha ... aku cuma bercanda kok, sudah nggak usah! jangan biar aku yang bayar aja semuanya!" Malik langsung mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang yang dia berikan kepada si Ibu warung.


"Aduh, makasih ya? makasih banyak ... banget, hari ini kamu sudah banyak menolong ku," ucapnya Renita sembari menyatukan kedua tangan di depan dagu.


"Sudah, biasa aja kok. Janganlah canggung begitu, orang kita bukan baru kenal. Tapi sudah lama cuman waktu saja yang memisahkan kita." Tambahnya Malik sembari mengulas senyumnya sehingga menunjukan lesum pipinya.


"Kamu nggak berubah ya? sama aja baiknya seperti dulu!" puji nya Renita kepada Malik.


"Jangan memuji, nanti hidungku terbang, masih mending terbang ke bawah bisa aku tangkap! kalau ke atas kan sulit!" seru nya Malik sambil nyengir menunjukkan gigi yang putih bersih.


"Eh, Om Malik, di mana-mana terbang itu ke langit bukan ke bawah, kalau ke bawah itu namanya jatuh. Om gimana sih!" pada akhirnya Rendy pun ikut nimbrung pembicaraan Bunda dan Malik.


"Oh iya ... kalau terbang tuh ke langit ya? kalau jatuh ke bawah, Om lupa gimana dong? kok bisa ya Om lupa!" Malik mengusap punggung Rendy lalu menawarinya lagi untuk tambah makannya.


Namun anak itu menggeleng sambil mengusap-usap perutnya yang katanya sudah kekenyangan.


"Den tambal bannya, sudah selesai!" kata Sang sopir sembari berdiri tidak jauh dari Malik.


"Oh ... sudah selesai, sudah dibayarkan?" jawabnya Malik diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Sudah, Den ... dan ini kuncinya," kata Pak sopir sembari menyerahkan kunci kepada Malik yaitu kunci motor miliknya Renita.


"Oke, makan aja dulu! kami tunggu di mobil." Balasnya Malik sembari berdiri melintasi bangku yang barusan dia duduki, begitupun dengan Renita yang langsung menuntun putranya.


"Ya sudah, kalau begitu ... aku mau lanjutkan perjalanan lagi dan mohon kuncinya?" Renita meminta kunci motor dari Malik.


Namun kunci tersebut, Malik tahan sembari mengajak Renita kembali ke mobilnya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2