Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Papa kangen


__ADS_3

"Bunda besok ada lomba menggambar dan semua teman-teman sama bundanya aku gimana?" suara anak itu lesu.


"Oh gitu ya, besok sama Bunda aja, kebetulan besok Bunda nggak ada terapi karena dokternya ada urusan. Sayang! nggak apa-apa kan aku ke sekolahnya Rendy?" Renita pun mengalihkan pandangan ke arah sang suami yang kini sedang duduk tidak jauh dengan dirinya.


"Aku sih nggak ada masalah, kalau sayang kuat nggak apa-apa. Lagian di sana juga paling duduk-duduk!" rasman Malik yang langsung menyetujuinya.


"masa sih sayang!" Renita menyentuh teman Malik yang senyuman yang manis.


"Yey ... setelah sekian lama ... Rendy mau sekolah sama Bunda lagi. Terima kasih Papa! udah izinkan Bunda untuk mengantarkan Rendy ke sekolah!" anak itu mencium pipi Malik yang sedikit bengong.


"Sama-sama pangeran kecilku! sekarang sudah malam! sebaiknya sekolah dan istirahat agar besok pagi tidak kesiangan! oke?" Malik dan bingkai wajah Rendy lalu mencium keningnya.


"Oke Papa sekarang aku mau bobo dulu ya, Bunda ..." Rendy menatap keduanya bergantian.


Renita mengangguk dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan.


Lalu dia mundur dan mengembalikan tubuhnya keluar dari kamar tersebut, yang diikuti oleh langkah Malik untuk menutup pintu dan menguncinya.


"Langsung masuk kamar ya? bobo ... jangan main lagi dan jangan lupa baca doa!" pekiknya Malik sebelum menutup pintu kamarnya.


Malik berbalik dan berjalan mendekati sang istri. Dengan gejolak yang ada pada dirinya membuat dia merasa tidak sabar untuk melancarkan aksinya yang ingin berolah raga di malam ini.


Malik langsung menyerang Renita yang sesungguhnya belum siap. Sehingga Renita terkesiap dan mencoba menyesuaikan dirinya dan mengimbangi gerakan dari Malik.


Yang mencumbunya penuh gairah. Bertraveling ke tempat-tempat nan indah dan cukup memanjakan mata, jiwa dan raga. Bermain-main di puncak pegunungan yang tinggi melepa pandangan ke alam sekitar.


Menjelajah hutan rimba dan lembah, mendaki perjalanan yang teramat mengasikan.


Tada kontak suara yang terdengar di antaranya kecuali deru nafas dan nikmatnya sebuah traveling, membuang penat dari aktifitas lainnya dan menyingkirkan rasa jenuh dan pikiran yang kacau balau dari seharian dengan segala urusan keseharian yang terkadang bikin jenuh.


"Huuh ..." lenguhan panjang terdengar dari mulutnya Malik yang sudah mulai merasa lelah dan beberapa kali menuju puncak rasa yang menjalar sampai ke ubun-ubun.


"Ach ... makasih sayang. Sudah menemani ku bermain-main sampai ku puas." Cuph mendaratkan kecupan di kening Renita.

__ADS_1


"Sama-sama sayang ..." sembari memejamkan pasang mata nya. Tatkala bibir Malik menempel di keningnya.


Malik menurun kan dirinya dan beristirahat di tempat yang paling ternyaman. Renita menarik sudut bibirnya ke samping sambil menatap wajah suaminya yang sumringah dan cerah, bersinar bak rembulan di tgl 17.


Dalam hitungan detik, Malik sudah terdengar dengkuran halus dari hidungnya. Begitupun dengan Renita yang beberapa kali menguap dan pada akhirnya rasa kantuk pun menyerang sehingga Renita merasa kalah dan manik matanya pun terpejam.


...-------...


Setelah timur ke barat, selatan ke Utara. Azam mencari pekerjaan yang tidak kunjung di terima. Semuanya menolak dengan bermacam alasan.


"Huuh ... sudah lama mencari kerjaan, namun hasilnya nihil. Mana sudah tidak ada tabungan. dep kolektor sudah mondar-mandir menagih hutang, pecah kepala saya!" Azam mengacak rambutnya frustasi. Memikirkan nasibnya yang seperti demikian.


Dia menjadi teringat pada putranya yang selama ini tidak bertemu. Tatapannya tertuju pada anak laki-laki yang mengenakan seragam TK. Dan usianya tidak beda jauh dengan Rendy.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Rendy. Dimana kabar dia sekarang? aku lama sekali tidak menemuinya." Azam membayangkan wajahnya sekarang gimana.


"Dia pasti lebih ganteng dari sebelumnya, aku rindu anak itu. Aku ingin bertemu dengannya." Azam merogoh saku nya mengambil ponsel yang berubah dari ponsel canggih nan mahal, kini menjadi ponsel jadul yang tak ada layanan internetnya.


Beberapa handphone yang canggih dan super mahal yang dia miliki. Tain di jual untuk kesehariannya karena malu jika segalanya di cukupi oleh orang tua. Sudah jelas di rumah ia tidak memikirkan apapun. Taunya makan aja.


Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sekolah TK yang dimana putra nya, Rendy sekolah di sana.


Tatapannya di lepas ke arah dalam sekolah yang tampak dari luar masih masa belajar.


Kepala Azam celingukan ke gedung sekolah tersebut dan mengarahkan pandangan ke arah dalam.


"Rendy, Papa kangen sama kamu Nak ... apa kamu sudah lupa sama papa mu ini?" gumamnya Azam sambil menajamkan tatapannya ke arah sekolahan tersebut.


Azam melihat ada sebuah kursi yang ada di luar sekolah dan di sampingnya sebuah warung. Dan Azam memilih duduk di sana.


Sambil menunggu anak-anak sekolah keluar, Azam membeli minum. Di bawanya ke tempat duduk semula.


Tidak lama kemudian. jam sekolah berakhir dan anak-anak berhamburan keluar, ada yang berlari dan ada juga yang berjalan santai keluar dari area sekolah tersebut.

__ADS_1


Pandangan Azam mencari keberadaan putranya dan dia yakin kalau Rendy pasti sekolah, Azam ingin sekali bertemu sama anak itu. Setelah sekian lama tidak bertemu atau menyentuhnya.


Dari jauh tampak anak kecil mengenakan seragam membawa tas punggung bergambar kartun kesayangannya. Di tuntun oleh seorang wanita cantik berkerudung cream, berjalan dengan santai menuju pintu gerbang.


Kedua netra mata Azam berbinar ketika melihat keberadaan putranya yang bersama Renita. Wanita itu semakin tampak cantik saja dengan penampilan sekarang.


Bibir Azam menganga melihat keduanya. Ada rasa sedih dan bahagia, ada juga terbesit rasa sesak yang bergelayut mesra di benaknya. Kenapa dulu ia tega menyiapkan anak dan istrinya.


Sebuah penyesalan yang tidak akan pernah berarti lagi. Semuanya percuma, tidak mungkin mampu mengulang lagi yang sudah terjadi.


Azam berdiri dan menyambutnya. Dengan senyuman seraya berkata dengan suara pelan. "Azam?"


Renita yang menuntun tangan Rendy dan sedang menunduk tidak memperhatikan suasana sekitar, terkesiap kaget mendengar suara itu yang berasa kenal.


"Mas!" gumamnya Renita dengan ekspresi yang terkejut melihat Azam berada di sana.


Renita menatap penampilan Azam yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu dia selalu berpenampilan rapi, pakaian bersih. Wangi dan licin! rambut pun klimis rapi dan pendek! sekarang gondrong, kucel penampilan berantakan. Sangat tampak tak ada yang mengurus.


"Rendy, ini papa masih ingat kan sayang?" ucapnya Azam sembari berjongkok menatap ke arah Rendy yang bengong menatap dirinya, seolah-olah tidak mengenalinya.


Rendy menolak pada sang Bunda seakan-akan merasa heran dengan keberadaan papa biologisnya. Yang tiba-tiba berada di hadapan setelah sekian lama menghilang.


"Dia Papa Azam, Rendy ... salam sayang!" Renita menyuruh Rendi untuk mencium tangan papanya.


Walau dengan sedikit kebingungan, Rendy tetap menuruti perkataan dari bundanya. Rendy meraih tangan Azam dan menciumnya.


Azam langsung memeluk anak itu sangat erat. Dan tak kuasa menahan air matanya yang berjatuhan. Bagaimanapun dia adalah seorang ayah yang masih punya hati pada sang anak.


"Papa kangen sama Rendy. Maafkan Papa sayang!" gumamnya Azam sambil memeluk erat sang buah hati.


"Ya ampun ... penampilan mu sekarang yang hampir tidak kenali!" batin nya Renita sembari memandangi dengan tatapan yang meneliti.


Renita menatap haru dan hatinya mencelos melihat Azam yang memeluk erat dan menciumi Rendy yang tak ayal menjatuhkan air matanya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa meninggalkan jejak nya ya, makasih


__ADS_2