
Kini Renita sudah berada di atas tempat tidur, dengan masih mengamati ruangan tersebut dengan seksama.
Pram mengambil bahu ganti untuk dirinya dan tanpa ragu dia membuka bajunya di hadapan Renita walau memunggungi, Renita yang merasa kaget dan malu sendiri langsung menundukkan pandangannya ke lain arah.
"Sayang, seandainya aku meminta sesuatu dari mu saat ini juga boleh nggak?" suara itu membuat Renita tersentak karena berada dekat di telinganya.
"Hah?" Renita langsung tertunduk malu dia mengerti dan maksudnya Malik.
Dia memang sakit tapi di bagian kaki bukan di bagian yang lain, setidaknya dia bisa membuat suaminya bahagia.
Malik mengangkat dagu Renita dengan jari telunjuknya. "Kok diam sayang, boleh nggak? tapi kalau belum siap juga sih ... tidak apa-apa dan aku tidak akan memaksa mu untuk itu, aku tahu kamu sakit." Malik berkata seolah-olah pasrah bila Renita belum siap.
Renita menggerakkan kedua manik matanya yang indah kemudian mengangguk kecil, dengan ekspresi wajah yang malu-malu. Dia tidak mungkin menolak kalau Malik benar menginginkannya.
Senyum man ddi bibir Malik sangat mengembang, ia sangat puas dengan jawaban dari sang istri. "Makasih sayang, aku tidak akan tergesa-gesa kok melakukannya. Aku akan sesantai mungkin agar kamu merasa nyaman." Bisiknya Malik membuat Renita meremang.
Sesaat keduanya saling bertukar pandangan dengan sangat dalam dan mesra. Secara perlahan wajah Malik mendekat dan akhirnya menyentuh bibir Renita untuk yang pertama kalinya.
Dan ini Riel ini yang pertama kali, di rumah sakit, Malik tidak berani macam-macam selain mencium kening dan pipi.
Renita terpejam sesaat di saat Malik menyentuh bibirnya, begitupun dengan Malik dia sangat menikmatinya.
Di saat Renita membuka kelopak matanya menangkap ada seseorang yang tampak mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit, mungkin Malik lupa mengunci nya tadi. Renita gugup, panik. Sontak ia mendorong dada Malik.
"Ada orang di balik pintu mengintip." Suara Renita seraya mendorong dada Malik.
Malik pun langsung menoleh ke arah pintu yang memang bergerak dan Malik melompat dari tempat tidur menuju pintu. Melihat ke luar namun tiada siapa-siapa, tapi yakin sih pintu barusan bergerak seperti ada yang menutup.
Bugh.
Malik menutup pintunya rapat-rapat lalu mendatangi kembali istrinya. "Yakin, tadi ada orang?"
"Aku yakin dan kamu juga tadi lihat kan ... kalau pintu tadi bergerak bagai ada yang merapatkan begitu!" Renita berusaha mengontrol nafasnya yang merasa gugup.
Malik menatap lekat pada Renita seraya menghela nafas dalam-dalam. Kepikiran siapa dia? Ibunya gak mungkin, asisten pun juga tidak mungkin. Dalam hati pun merasa kecewa karena aktifitasnya terganggu.
Renita menggeser duduknya. Ke tengah dan memposisikan kedua kakinya agar selonjoran yang terasa pegal-pegal.
__ADS_1
Tubuh Malik mendekat dan mengusap kedua kaki renita dan di pijatnya dengan lembut. Sejenak merubah posisinya bersila di sisi Renita lalu melanjutkan pijatannya.
"Kamu kan mau istirahat, sebelum berangkat ke kantor nanti." Renita menjauhkan kedua tangan Malik dari betisnya.
Malik tersenyum lalu menempelkan kepalanya di atas paha Renita namun sambil menelpon bibi agar mengantarkan minuman dan buah juga cemilan ke dalam kamarnya.
Renita yang kini duduk berdar, membelai rambut Malik yang tiduran di atas pangkuannya.
Tidak lama kemudian. Pintu di ketuk dari luar dan terdengar suara bibi yang mau mengantar pesanan Malik.
"Masuk!" Malik tanpa merubah posisi tubuhnya.
Retttt ....
Pintu terbuka di dorong sama bibi yang membawakan nampan yang berisi dua. Botol mineral, cemilan dan buah.
"Ini Bibi bawakan pesanan Aden!" Bibi berjalan mendekati tempat tidur. Dan menyimpan semua isi di atas nakas biar gampang di ambil sama Renita yang tidak bisa ke mana-mana.
"Terima kasih Bi ..." Renita mengulas senyum nya yang manis pada bibi.
"Sama-sama Non. Non cepat sembuh ya, sakitnya jangan kelamaan dan Allah segera mengangkat penyakit Non ini!" Bibi mengangguk lalu memundurkan diri.
"Huam ..." Renita menguap menandakan dia mengantuk berat, mau berbaring kasihan dengan Malik yang berada di atas paha nya itu.
Mau bangunin rasanya tidak tega. Tapi ngantuk berat dan akhirnya Renita menyandarkan dirinya di bahu tempat tidur dan menari bantal untuk menyangga kepalanya.
Setelah makan siang, Malik pun pergi ke kantor dan dia menitipkan Renita kepada bibi dan ibunya.
"Rendy ... jagain bunda ya, papa mau kerja dulu, main sama Genta ya ... Ya ganteng." Pesan Malik pada Rendy juga sambil mencium pucuk kepalanya.
"Oke, Papa ... Hati-hati ya dan jangan ngebut bawa mobilnya." Anak itu mengangguk sambil menikmati makannya.
"Baiklah ... Kalau begitu Papa pergi dulu ya dan ingat pesan Papa." Malik pun pergi sambil menenteng tas kerja nya setelah mengucap salam dan juga mencium tangan sang ibunda.
"Ayo Sayang makanya yang banyak ya biar sehat dan gemuk!" ucapnya sang Oma baru.
"Iya Oma ... tapi Rendy sudah kekenyangan ini perut ku sudah membesar," sahutnya anak itu sambil nyengir aja dan mengusap-ngungsa perutnya yang sengaja dia buncit kan.
__ADS_1
"Oh kalau sudah kenyang baiklah nggak apa-apa tapi yang ada di piring habiskan dulu ya? jangan di sisain, sayang kan kalau mubajir!" sambungnya sang Oma.
"Baik Oma ... Rendy nggak akan buang-buang makanan, karena masih banyak orang yang kelaparan tidak punya makanan sama sekali, jadi Reny akan habiskan yang ada di piring ini," anak itu mengangguk seraya mengumpulkan makanan yang masih berada di piring.
"Yamy, yamy ..." Anak itu menggoyang-goyangkan kepalanya sambil mengunyah.
Kemudian kedua manik mata Rendy melihat ke arah Sophia yang juga masih menikmati makan siang nya, dan ketika melihat ke arah rendy yang sedang menggoyang-goyangkan kepalanya sambil makan, mata Shopia melotot dengan sangat sempurna pada Rendy tanpa sepengetahuan sang tante.
Dengan refleks Rendy tertunduk dalam, dia menciut ketakutan makannya pun langsung berhenti. Anak itu tidak berani mengangkat wajahnya lagi.
"Rendy, kenapa makannya nggak dihabiskan? katanya mau dihabiskan ... sayang tuh tinggal 2 sendok lagi!" kata sang Oma sambil menunjuk piring Rendy.
"Maaf Oma, Rendy sudah kenyang banget. Em ... Oma Rendy pamit ke atas ya," suara anak itu dengan sangat hati-hati.
Sejenak ibunya Malik terdiam sembari mengunyah dan menatap ke arah Rendy yang ekspresi wajahnya berubah drastis tampak ketakutan. "Baiklah kalau hari ini mau ke kamar bunda."
"Terima kasih ya Oma," anak itu pun turun dari kursi tempat dia duduk yang kemudian berjalan mendekati tangga dengan kepala masih tertunduk melihat lantai.
Ibunya Malik menoleh pada bibi yang berada di dekat wastafel sedang mencuci perabotan. "Bi ... apakah Renita sudah makan?"
"Tadi sudah Bibi anterin buat makan siang ketika Aden masih ada di rumah." Jawabnya Bibi seraya menoleh ke lantai atas.
Rendy berjalan menaiki anak tangga, setengah berlari mendatangi kamar bundanya yang sekaligus kamarnya Malik.
Renita yang sedang duduk-duduk dan membaca buku, menoleh pada putranya yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Rendy sudah makan belum,? Papa sudah berangkat kerja ya?" selidiknya Renita sembari mengobati ekspresi wajah Rendy yang sedikit sendu.
"Papa sudah berangkat, Bun ... dan Rendy pun baru selesai makan!" Anak itu sambil mendekat dan duduk di samping sang Bunda.
"Makan sama apa Rendy?" Renita mengusap kepalanya Rendy.
"Sama ayam goreng telur dadar sama kentang kenyang deh," sahutnya Rendy sambil mengusap perutnya.
"Oh ya, kekenyangan ya? ya udah ... sekarang bobo siang dulu ya!setelah itu mandi bersih-bersih ganti sama baju yang bersih! Dan ... pakaiannya kotornya bawa nya ke sini. Simpan ke keranjang pakaian kotor punya papa ya. Nanti bunda sekalian cuci di kamar mandi." Ujarnya Renita.
"Bunda, Bunda ... em ..." tapi Rendy tidak meneruskan perkataannya seiring menolehkan kepalanya ke arah pintu ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya terima kasih.