
Keduanya tampak kaget ketika melihat Malik sudah berada di sekitar sana. Dan juga melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan yang sangat tajam.
Sheila langsung mengontrol emosi dan dia merubah ekspresi wajahnya, menjadi begitu ramah kepada Malik. "Eeh Abang sudah pulang, apa kabar?" Sheila "langsung mengulurkan tangannya bersalaman dengan Malik.
Malik pun mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan dari sang adik ipar. "Baik gimana kabar sebaliknya?"
"Alhamdulillah baik, Bang. Seperti yang kau lihat, dan makanya aku bisa datang ke sini untuk menjenguk kakak ku. Karena seandainya aku sakit nggak mungkin datang ... kecuali sakit jiwa he he he ..." ucapnya Sheila sembari melirik dengan ujung matanya kepada Shopia.
Kedua manik matnya Shopia semakin terbelalak saja kepada sheila. Dia merasa kalau Sheila semakin mencari muka saja di hadapannya Malik.
"Apa maksud mu? mengatakan sakit jiwa! sementara kau menoleh kepadaku, seolah-olah aku ini sakit jiwa! kau jangan sembarangan ya ngomong. Sebenarnya kamu Ada masalah apa sih sama aku? sehingga begitu sinis sama aku?" ucapnya Sophia yang tampak dalam kepada Sheila.
"Siapa yang ke sini aku masih ini sama kamu biasa aja titik Sudah ya aku mau gabung lagi sama kakakku!" Sheila ngeloyor ke arah belakang sembari membawa gelasnya. Meninggalkan Shopia dan juga Malik di sana.
"Dasar cewek gila! berpendidikan tapi kayak orang rendahan!" gumamnya Shopia.
Melik hanya menetap tajam ke arah Sophia rasanya dia ingin marah atau menegur dengan apa yang sudah Shopia lakukan dengan bukti yang dia lihat dari CCTV. Tetapi Malik tidak bisa seperti itu.
Shopia menoleh kepada Malik. "Kau harus hati-hati sama adik ipar mu itu. Sebenarnya dia itu ular yang berbisa!"
"Oh gitu ya kok kamu tahu kalau dia orang berbisa? sementara diri kamu apa? dengar ya ... jangan pernah macam-macam karena aku sudah tahu siapa dirimu!" jelasnya Malik sembari melengos meninggalkan wanita itu sendiri.
Malik menghembuskan nafasnya dalam-dalam sembari berjalan menuju gazebo di mana sang istri dan keluarganya di sana.
"Assalamu'alaikum, semuanya ... selamat sore menjelang malam?" Malik langsung menghampiri sang istri dan mencium keningnya, lalu kemudian mencium tangan kedua wanita yang berstatus ibunda dan juga mertuanya.
"Wa'alaikum salam ..." jawab semuanya dengan serempak.
__ADS_1
"Apa kabar nak Malik? oh ya ada salam dari ayah!" ucapnya sang ibu mertua.
"Alhamdulillah baik, Bu ... Oh ya kenapa ayah nggak datang?" balasnya Malik sembari mendudukan dirinya di samping sang istri.
"Kebetulan Ayah lagi ada kesibukan dan Mungkin lain kali akan datang ke sini untuk bersilaturahmi, ayah pun merasa senang dan bahagia disaat mendengar Renita kembali bisa berjalan!" ucap ibunya Renita dengan ratu aja yang sumringah bahagia.
Malik melirik ke arah sang istri sembari berkata. "Iya Bu ... Alhamdulillah tidak terlalu menunggu begitu lama. Renita sudah mulai pulih!"
Karena sudah mulai terdengar suara azan maghrib, yang mengalun begitu merdu membuat mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah dan untuk melaksanakan magrib terlebih dahulu sebelum nanti makan malam bersama.
Renita tengah menyiapkan pakaian buat Malik yang kini sedang berada di dalam kamar mandi, sedang membersihkan dirinya.
Lantas Mereka pun melaksanakan magrib berdua dan yang ketiganya adalah Rendy.
Selepas salam ... Rendy langsung kabur entah ke mana, dan tinggallah Renita dan Malik. Malik mencium kening Renita dengan durasi yang lama. Renita mencium punggung tangan nya Malik penuh hormat.
Kepala Renita sedikit mendongak. "Soal apa?"
"Aku ... ada kawan pria, dia ganteng baik dan finansial nya pun sudah memadai. Aku berniat ingin mengenalkannya pada Sheila! itupun jika kamu setuju dan ... aku yakin kalau dia pria baik-baik dan memang kami sudah bersahabat lama!" ucapnya Malik dengan serius.
"Aku sih ... nggak ada masalah. Terserah, yang penting dia pria baik-baik dan soal ke depannya gimana? ya tergantung mereka juga, manusia kan cuman bisa berencana Tuhan juga yang menentukan, begitupun dengan niatmu itu," balasnya Renita sambil menggerakkan pelukannya di punggung Malik.
"Terima kasih sayang, kalau kamu setuju dan ... suatu saat nanti aku akan kenalkan mereka. Bila perlu aku kenalkannya di sini saja biar temen aku yang namanya Dion datang, adakan acara makan malam misalnya. Gimana setuju nggak?"
"Aku sih setuju- setuju saja! gimana kamu saja lah ... karena aku tahu kamu lebih mengetahui yang terbaik!" balas Renita kembali.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyusun rencana. Oh ya sayang kenapa kamu nggak pernah bilang dengan sikap Shopia kepada mu?" Malik mulai menyebut nama Shopia.
__ADS_1
"Ha? dia ... dia biasa saja kok, baik!" akunya Renita dia tidak mau berkata yang sebenarnya tentang Shopia, karena Renita takut nanti hubungan mereka memburuk. dan yang akan dicampur itu adalah namanya karena setelah adanya dirinya di rumah itu sebut hubungan balik dan shopia tidak harmonis.
"Kamu tidak perlu bohong, karena aku tahu semuanya!" gumamnya Malik pelan.
Renita memudarkan nakulannya lalu menatap ke arah Malik. "Maksudnya tahu apa? aku nggak mengerti!"
"Sebenarnya Shopia tidak suka sama kamu. Dan dia terkadang berusaha untuk jahatin kamu, iya kan?" ungkap Malik dengan jelas.
"A-aku tidak tahu itu dan aku tidak ingin memikirkan hal itu! justru yang aku takutkan hubungan kalian jadi tidak harmonis! hanya gara-gara kehadiran aku di sini!" sebenarnya Renita kaget juga dari mana Malik tahu dengan sikapnya Shopia kepadanya.
Malik mengusap pipinya Renita aja. "Sayang, kalau seandainya hubungan kita tidak harmonis ... itu bukan gara-gara kamu karena memang sifatnya aja seperti itu!"
"Tapi yank ... kalian tidak mungkin kan berseteru kalau tak ada sebabnya, selama ini mungkin kamu sangat memperhatikan dia prioritaskan mereka! sementara sekarang kamu sudah menikah mereka tidak menjadi prioritas kembali--"
"Aku tahu itu. Sayang ... tapi kan wajar jika aku lebih memperhatikan istri dan anak ku. Lagian sampai saat ini keperluan mereka masih aku yang penuhi. Terus aku harus kayak gimana lagi? jangan samakan aku yang dulu dan sekarang! dulu aku tidak punya prioritas pribadi dan saat ini aku sudah punya kamu dan Rendy." Ujar nya Malik kembali Saya berdiri.
"Aku tahu posisi kamu seperti apa? tapi kan yang lain belum tentu mengerti dan paham. Ya sudah ... jangan panjangkan masalah itu lagi, lupakan saja!lagian aku maklum kalau dia nggak suka sama aku," ucapnya Renita dengan sangat rendah hati.
"Ya sudah ... kita makan dulu yo?" Oh ya Rendy ke mana ya? dia kan belum makan?" ajaknya Malik seraya meraih tangan Renita.
Namun Renita, dia melepaskan dulu mukenanya, lalu merapikannya di atas nakas beserta sajadah yang baru saja Malik lipatkan.
Kemudian mereka berdua berjalan pelan sambil bergandengan dan Sebelum turun ke lantai dasar! Mereka pun menemui Rendy yang ternyata berada di dalam kamarnya, sedang bermain dan belajar menggambar.
Di meja makan bundar yang lumayan luas, kemudian mereka pun makan bersama walau dengan suasana yang sedikit aneh apalagi di antara Sophia dan Sheila ....
.
__ADS_1
Bersambung.