Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Calon istri


__ADS_3

Pada akhirnya Renita keluar dengan menuntun tangan Rendy yang tampak ganteng dengan kemeja dan celana pendek warna senada.


"Hi ... si ganteng, pangeran kecil ku. Sudah siap nih ..." Malik menyambut Randy serta di tuntun tangannya.


"Sudah dong Papa ... lama menunggu ya, Rendy kelamaan nih mandi nya." Kata Rendy.


"Hooh jadi Om Malik nya menunggu lama kan," timpalnya Renita yang sebentar bicara dengan Feni.


Para tetangga yang berada di teras rumahnya mendekati Renita sambil menggoda kalau Renita sekarang sudah punya pangeran baru.


Dan Renita hanya mesem-mesem ramah saja tanpa berkata-kata sedikit pun.


Kemudian Malik dan Rendy masuk duluan ke dalam mobil di susul oleh Renita.


"Papa-Papa, di rumah Papah itu ada siapa saja sih? orang nya baik-baik gak?" tanya Rendy sambil mendongak pada Malik.


Bibir Malik tertarik ke samping sambil melirik ke arah Rendy. "Insya Allah ... baik-baik kok, dan akan suka sama Rendy juga sayang sama Pangeran kecil Papa ini!"


"Takut galak, nanti Rendy di usir gimana!" Rendy terus berceloteh.


Renita hanya tersenyum mendengar perkataan dari Randy. dalam pikirannya pun masih kepikiran wanita itu yang awalnya dia pikir adalah istri Malik.


Renita pun masih ingat kalau ketemuan yang kedua kalinya adalah di supermarket, ketika anaknya nangis dan ngamuk. Nggak bisa ditenangkan dan wanita itu mengira kalau Renita yang mau menolong adalah penculik Anak.


Bibir Renita membentuk sebuah senyuman dan seraya menggeleng mengingat hal itu.


"Buat apa aku menculik anak? Rendy pun di asuh orang, bagaimana aku bisa mengurus nya." Batinnya Renita.


"Nggak kok Rendy ... keluarga Pspa nggak galak-galak! baik-baik kok," Malik mengacak rambutnya anak itu.


"Iih Papa ... kok ngacak-ngacak rambut Rendy sih ... kan sudah dirapikan sama bunda kan jadi acak-acakan lagi." Rendy merapikan rambutnya lalu Renita pun sambil tersenyum merapikan rambutnya.


"Iya dong Papa ... jangan nakal-nakal," Renita menoleh ke arah Malik.


Malik ke senyum bahagia baru dipanggil Papa aja sama Renita rasanya hidup ini sempurna, biarpun keinginannya belum terlaksana dan lamarannya belum diterima tanamannya belum diterima. Namun dengan panggilan itu mampu membuat hati Malik berbunga-bunga.


"Kenapa senyum-senyum? ada yang lucu ya?" Selidik Renita ketika melihat Malik senyum-senyum sendiri.


"Ach, nggak ... biasa saja kok." Elaknya Malik. "Bunda mau membeli apa buat oleh-oleh?" tawarnya Malik.


Kedua manik mata Renita mendelik ke arah Malik kok panggil Bunda sih.


"Rendy ... Papa kan nanya sama Bunda, Bunda mau beli apa buat oleh-oleh ke rumah Papa. Kok Bundanya malah melotot sih sama Papa. Emang Papa salah apa ya Dy?" ucap Malik kepada Rendy.

__ADS_1


Anak itu menoleh ke arah Malik dan juga bundanya bergantian. "Iya benar tidak ada yang salah Bunda mau beli apa buat oleh-oleh?"


"Em ... Bunda bingung, kan Bunda nggak tahu kesukaan keluarganya apa? buah-buahan suka nggak?" balasnya Renita sambil celingukan mencari toko buah yang berada di pinggiran jalan.


"Buah-buahan suka ... seperti anggur, jeruk dan apel merah! suka kok!" jawabnya Malik seraya melirik sekilas lalu fokus kembali melihat ke arah depan.


"Ya udah, cari supermarket dulu lah buat belanja buah-buahannya!" pintanya Renita sembari menoleh ke arah Malik.


"Ck, ngapain ke supermarket? tuh ada berapa toko buah di depan, beli aja di situ," Malik menunjuk ke arah depan di mana beberapa toko buah berjajar di sana.


"Emang gak kenapa-napa ya kalau beli di sana? takutnya gimana-gimana!" Renita mengerutkan keningnya.


"Ya ampun Bunda ... emangnya kenapa? yang namanya bareng sama aja cuma beda tempatnya doang. Emang apa bedanya sih supermarket dan toko buah biasa?" tanya Malik.


"Menurut aku sih ... sama aja! bahkan kita membeli dari orang yang jualan di tempat biasa itu lebih bagus! setidaknya kita membantu perekonomian mereka yang kalangannya menengah ke bawah, sementara yang supermarket kan sama aja kita membantu orang kaya biar lebih kaya kan?" ujarnya Renita.


"Makanya, belanja di situ saja. Nggak usah macam-macam sama aja kok, jangan merasa sungkan atau gimana-gimana!" sambungnya Malik sambil menepikan mobilnya.


"Emang apa bedanya ya! buah di toko pinggir jalan dengan yang ada di supermarket?" tanyanya Rendy menjadi penasaran.


"Sama aja kok Sayang ... kualitasnya juga sama. Hanya beda tempatnya saja." Kata Renita sambil turun menuju toko buah menuntun Rendy.


Malik pun turun, menyusul Renita dan Rendy yang kini sudah berada dekat toko buah dan Renita memilih-milih buah yang berkualitas bagus.


"Ini aja lah, mereka suka kan?" Renita melirik ke arah Malik.


"Suka. Lagian di sana yang ada ibu ku dan sepupu ku saja. Tidak adik ataupun yang lain," kata Malik sambil membayar belanjaan Renita.


Renita terdiam sejenak, namun dia tidak banyak bertanya.


Setelah itu Renita menenteng kantong yang berisi buah-buahan. Dan Rendy malah mau buah pir dan lengkeng.


"Beliin saja Bun ... nggak pa-pa!" Malik berdiri menghadap Renita.


"Apaan sih ... Bunda-Bunda?" Renita Lagi-lagi mendelik matanya pada Malik.


"Terus harus panggil apa dong sayang ... kan Rendy panggil kamu bunda." Malik mesem sambil kembali ke toko buah.


"Ya ... panggil nama aja biasa nya juga, PD amat sih ..." Renita mengulum senyumnya.


"Nggak pa-pa PD juga, alnya sudah pasti kok." Malik dengan percaya dirinya kalau dia dan Renita akan menjadi sepasang kekasih.


"Iih ... g'r nya kebangetan." Renita menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini Pah ..." Rendy menunjuk buah pir dan lengkeng agar Malik membayarnya.


Malik pun membayar dan segera berjalan kembali ke mobil. Cuaca tampak mendung dan mulai gerimis.


Mereka buru-buru masuk ke dalam mobil, mana Rendy lelet malah makan buah pir dan lengkeng.


"Nanti dong sayang ... kalau sudah di mobil makannya." Renita menarik tangan Rendy.


"Iya, Bunda ..." anak itu sambil terus menikmati buah pir yang tinggal setengahnya tersebut.


Malik hanya tersenyum dan melajukan kembali mobilnya.


Sekitar pukul 17.00. Mobil Malim tiba di kediamannya, sebuah rumah mewah bercat putih dan dominan berwarna putih tulang.


"Uaw ... rumahnya besar sekali. Ini rumah Papa ya!" Rendy selingkuhan melihat rumah tersebut dan juga kepada Malik.


"Iya ini rumah Papa, kalau rumah nenek ada di ujung sana tapi ditinggalin sama kakak Papa." balasnya Malik seraya bukakan pintu untuk Renita dan Rendy agar turun dari mobil.


"Wah ... di belakang ada tempat permainan! apakah di sini tempat bermainnya anak-anak TK?" selidiknya Rendy kembali.


"He he he ... bukan Ren ... bukan tempatnya bermain anak TK. Tapi Papa bion sengaja buat tempat itu agar ponakan atau anak-anak Papa. Biar bisa bermain di sana." Malik sambil melirik ke arah Renita yang mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Iih ... ngapain lirik-lirik ke arah aku segala?" batinnya Renita.


"Kalian masuklah orang rumah sudah tahu kok kalau akan kedatangan tamu!" Malik terus berjalan mendekati pintu utama.


"Assalamu'alaikum." Salam dari Malik sambil terus berjalan menuju ruang tengah.


Dan di ruang tengah sudah ada beberapa orang yang terdiri seorang wanita sepuh dan seorang wanita muda yang wajahnya memang sudah tidak asing lagi bagi Renita.


"Assalamu'alaikum ..." kini Renita yang mengucap salam sambil berjalan menghampiri wanita sepuh tersebut, dan dia yakin kalau wanita sepuh itu adalah ibundanya dari Malik.


"Wa'alaikum salam ... warahmatullahi wabarakatuh, wanita sepuh itu menatap ke arah Malik dan juga Renita yang menuntun putranya.


"Mama, kenalkan ini Renita calon istri Aku. Dan dia putranya bernama Rendy. Ren, kenakan. Beliau ini ... bundaku!" Malik memperkenalkan mereka berdua, tanpa ragu Malik mengakui kalau Renita adalah calon istrinya.


Renita langsung ganggu hormat lalu meraih dan mencium tangan wanita sepuh tersebut. "Gimana kabarnya Bu?"


"Baik ... kamu yang bernama Renita ya? oh ini wanita yang kamu idamkan yang sejak SMA dulu sehingga kamu tidak tertarik dengan wanita lain!" suara Ibu sepuh itu sambil melihat ke arah Malik dan Renita bergantian.


Dan dengan yakinnya. Malik mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh sang Bunda ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ... setelah membaca, karena itu sesuatu yang menambah author bersemangat. Makasih banyak


__ADS_2