Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Berencana


__ADS_3

Azam memasang jam di tangan, lalu mengajak putranya untuk sarapan.


Renita yang menyiapkan sarapan, menolah kenarah suaminya yang menuntun Rendy, lantas duduk di meja makan.


Renita pun langsung menyajikan sarapannya di hadapan kedua pria kesayangannya tersebut. Tapi itu dulu, karena sekarang yang menjadi kesayangan Renita hanyalah satu yaitu putranya, Rendy.


Mungkin dengan perlahan perasaan Renita terhadap suaminya akan terkikis jika memang kecurigaan itu adalah terbukti.


"Malam ini ... aku akan lembur! jadi pasti lebih malam," gumamnya Azam sembari memakan sehelai roti yang tersedia di hadapannya.


Rendi yang memakan nasi goreng buatan ibundanya, menatap lekat pada sang ayah. "Kok tiap hari sibuk sih Pah ... kapan ada waktunya di rumah temenin aku bermain!"


Renita yang juga tengah menikmati sarapan! mengerahkan matanya melihat ke arah putra dan suaminya.


"Nanti bila sudah nggak sibuk ... Papa temani Rendy bermain dan jalan-jalan Oke?" Azam mengusap kepala Rendy sembari tersenyum.


"Sibuk apa Mas? sibuk bermain dengan perempuan ya? sehingga tak ada waktu buat kami berdua!" gumamnya Renita dalam hati.


"Iya sayang, Rendy ... kalau Papa nggak sibuk. Pasti ajak Rendy bermain dan jalan-jalan! sekarang sabar aja dulu ya?" ucap sang Bunda yang ditujukan kepada Rendy dan anak itu langsung mengangguk walaupun memasang wajah yang ditekuk.


Kemudian Azam beranjak dan meraih tasnya. "Aku pergi dulu! Rendy belajar yang bener ya? biar menjadi orang yang pintar!" Azam


menyempatkan diri untuk mencium kening putranya.


"Sebentar ya? Bunda nganterin Papa dulu! Rendi makan yang banyak ya? biar cepat besar dan sehat." Renita berdiri lalu mengikuti suami ke teras.


"Mas hati-hati ya? jangan ngebut!" ucapnya Renita kepada Azam sembari meraih tangannya untuk dicium penuh hormat.


"Iya, aku akan hati-hati!" jawabnya Azam sembari mencium kening Renita dengan singkat.


"Oh, ya Mas ... ada bayaran yang belum aku lunasi di sekolahannya Rendy." Sambungnya Renita sembari menatap ke arah Azam yang mau memasuki mobilnya.


"Iya nanti lah, aku kirim kan! aku belum gajian! tahu kan ini bukan waktunya gajian? masih berapa hari lagi," jawabnya Azam dengan nada dingin.


"Tapi kan Mas--"

__ADS_1


"Sudahlah tunggu aja berapa hari lagi, yang penting buat makan makin masih ada, buat bayaran nanti saja!" suara Azam sambil mendudukkan dirinya di belakang kemudi dan brugh ... pintu pun di tutup.


Renita hanya menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepalanya, dan lagi-lagi inilah perubahan dari Azam.


Kemudian Renita memasuki rumahnya menghampiri sang anak yang masih berada di meja makan.


"Gimana sayang makannya! sudah habis belum?" tanya Renita sembari mengusap kepala Rendy.


"Sudah, Bun ... sarapan rendy sudah habis!"


"Ooh iya ... mau lagi nggak? tambah lagi ya!" lalu Renita mengambil piringnya.


Namun anak itu menggeleng. "Tidak mau, Bun." Rendy sudah kekenyangan.


"Oke, sekarang minum susunya ya ... biar sehat ... biar pintar, jagoan Bunda kan harus kuat!" Renita memberikan segelas susu kepada Rendy.


Dan anak itu langsung menerima dan meneguknya sampai tinggal setengahnya lagi.


"Nah ... sekarang Bunda mau beres-beres meja makan dulu ya? dan Rendy harus habiskan susunya. Setelah itu kita siap-siap berangkat sekolah. Oke?" Renita pun segera membereskan bekas sarapan barusan.


Sementara anak itu masih terduduk menghadapi meja makan, bersama segelas susunya serta bermain mobil-mobilan.


"Bunda ... lama deh kita tidak ke tempat oma, kapan ya kita ke tempat omah Putri Rendy kangen sama Oma Putri, sama opa Wawan!" suara anak itu terdengar penuh rindu.


Renita menoleh dan menatap lekat pada putranya. "Rendi kangen sama oma Putri dan opa Wawan?"


"Iya, Bun ... lama ya mereka tidak ke sini juga!" anak itu mengangguk.


Oma Putri dan apa Wawan itu adalah orang tuanya Azam berarti mertuanya Renita, yang berada di luar kota.


"Kalau begitu ... Minggu depan kita ke sana ya, mau?" ajaknya Renita sambil mendekati putranya.


"Sama papa ya, Bun? papa nya di ajak ya Bun?" anak itu menatap ke arah bundanya dengan tatapan yang penuh harap.


"Em ... Bunda nggak janji ya! soalnya kan nggak tahu papa nya masih sibuk atau tidak, yang penting kita berdua saja ke sana nya! seandainya papa tidak bisa mengantar kita." Renita sembari mencium keningnya Rendy, kemudian dia melanjutkan aktivitasnya kembali.

__ADS_1


"Ya ... nggak seru dong ... kalau Papa nggak ikut, kan kalau papa ikut ke sananya. Kita bisa pakai mobil! kalau kita berdua berarti pakai motor saja, kasihan bundanya." Ungkap anak itu.


"Nggak apa-apa sayang, kalau nggak mau pakai motor kita naik taksi aja, gimana?" suara Renita dari dekat wastafel.


"Iya, Bun. Naik taksi aja ya? biar Bunda nggak capek, kasihan kalau Bunda capek-capek naik motor!" anak itu menyambut saran nya sang Bunda.


Kemudian setelah itu Renita bersiap-siap untuk pergi mengantarkan Rendy ke sekolah. Sementara anak itu memang sudah siap tinggal berangkat saja.


Renita yang berkerudung warna peach itu tidak lupa mengenakan helmnya, setelah menaikan sang putra di depan atas motornya. Sementara dia pun membawa tas punggung milik Rendy yang berisi buku dan juga bekal buat makan siang.


"Bismillah hiwakaltu alallah ..." Renita bergumam membaca doa sebelum bepergian.


Begitupun dengan Rendy, membaca dengan logat anak kecilnya! yang terdengar lucu dan menggemaskan. Detik kemudian motor tersebut meluncur menuju ke sekolahannya Rendy.


Tidak lama di perjalanan, akhirnya sampai juga di sebuah sekolahan playgroup di mana Rendy belajar di sana.


Anak itu tampak happy bertemu dan berbaur dengan teman-teman sebayanya! sementara Renita hanya menunggu di luar saja bersama ibu-ibu lainnya.


Dalam diam Renita berpikir, mulai hari ini dia harus bertindak cepat! dia harus mencari tahu sebenarnya Azam Itu sibuk bekerja atau gimana? dan Renita berencana. Nanti sore akan ke kantornya walaupun Renita bingung dengan alasan apa dia mendatangi kantor Azam.


"Sudahlah. Nanti aja dipikirkan lagi, yang harus dipikirkan sekarang ... gimana caranya supaya aku tidak membawa Rendy, karena nggak mungkin aku membawa Rendy!" Renita berpikir keras gimana caranya supaya tidak membuat putranya pergi.


Renita menghembuskan nafas dengan kasar melalui mulutnya.


"Kenapa Jeung, sepertinya ada yang sedang dipikirkan? tanya wanita yang begitu dekat duduknya dengan Renita.


"Nggak ... gak ada apa-apa kok jeung!" jawabnya Renita sembari tersenyum ramah.


"Sepertinya aku harus menyuruh Sheila untuk ke rumah, bila perlu menginap di sana." Gumamnya Renita sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


Renita bencana kalau dia akan menyuruh Sheila untuk menginap di rumah, agar dapat menemani putra semata wayangnya ....


...🌼---🌼...


Apakah ada yang suka dengan kisah ini atau tidak ya? kok sepi banget bagi yang suka Makasih ya.

__ADS_1


__ADS_2