
"Assalamu'alaikum ... lagi kumpul, eh ada Tante!" Rendy langsung menghampiri Rosita yang sedang mengasuh Alena dengan papa Azam. Dan di sana juga ada papa Malik tapi tidak ada bundanya.
"Wa'alaikum salam ... hai ganteng. Baru pulang ya, les." Rosita dengan senyuman ramah.
"Hooh, bunda mana?" Rendy celingukan mencari keberadaan sang bunda.
"Bunda lagi di dapur." Malik pun berdiri dan mendatangi istrinya yang lagi sibuk memasak.
Rendy pun menyusul papa Malik menemui sang bunda sebentar lalu kembali ke ruang tengah menemui Azam dan Rosita.
"Mas, Alena nya bobo."Rosita melirik pada Azam.
Azam celingukan mencari tempat tidur bayi yang memang ada di pojokan. "Sini, Mas tidurkan."
"Nggak, Mas, aku saja!" Rosita ingin menidurkannya sendiri dan memajukan kursi roda nya yang akhirnya di bantu oleh Azam mendekati ranjang bayi.
Lantas Rosita menidurkan baby Alena di tempatnya dan Rosita penuh senyuman. "Aku senang dengan anak kecil."
"Nanti kita bikin ya! baby yang lucu seperti Alena ini--"
"Bikin bikin apa?" Rosita menatap heran ke arah Azam.
"Iya, nanti kalau kita sudah menikah buat adiknya Rendy." Tambahnya Azam sambil mesem-mesem.
Rosita tersipu malu mendengar omongan dari Azam. "Siapa juga yang mau punya baby dari kamu?"
"Ehem, masa sih ... nggak mau?" goda Azam.
"Em ... emangnya serius?" Rosita menatap penasaran.
"Serius dong masa nggak. Kalau cuman main-main ngapain Aku ajak ke sini segala! dan dikenalkan sama mantan istri serta suaminya dan juga putra aku! buat apa?" Jawabnya Azam dengan serius.
"Ya ... mana ku tahu, kali aja cuman main-main! kan siapa tahu." Rosita menaikan bahu nya.
"Saya serius, dia akan secepatnya melamar kamu. Setelah kita menikah nanti ... kamu tidak pernah bekerja lagi, diam saja di apartemen ku dan cukup melayani ku juga, menunggu ku pulang." Ungkap Azam dengan sangat meyakinkan.
"Ayo, kita makan siang dulu. Nanti keburu dingin masakannya!" Suara Renita yang muncul dari area dapur! mengedarkan pandangannya ke arah Azam, Rosita dan Rendy yang sedang asyik bermain miniatur pesawat.
__ADS_1
Pandangan Renita tertuju pada Alena yang tertidur di tempatnya. "Alena bobo ya, nggak bikin tante repot kan?" Renita menoleh ke arah Rosita.
Rosita menggeleng seraya berkata. "Tidak Mbak. Dia tidak rewel dan tidak merepotkan. Dia sangat anteng dan aku sangat suka!"
"Katanya dia sangat suka dengan anak kecil dan itu lebih baik, biar nanti kalau setelah kita menikah tidak membuat jarak agar Rendy segera punya adik ha ha ha." Azam tertawa lepas.
Rosita mendelik kepada Azam. "Apaan sih, Mas ... malu-maluin ich." Seraya mengulum senyumnya.
Sejenak Renita terdiam. Dengan melihat ke arah keduanya! kemudian menarik kedua sudut bibirnya kepada mereka berdua. "Bagus itu. Ayo kita makan dulu Abang sudah menunggu, sayang, Rendy. Makan dulu!"
"Ayo, Bun kebetulan Rendy sudah lapar sekali. Ayo Pah, Tante kita makan dulu." Dan anak itu ikut mendorong kursi rodanya Rosita.
Rosita menoleh ke samping dan tersenyum kepada Rendy. "Terima kasih ya ganteng!"
"Sama-sama Tante, lain kali Randy mau main lagi ya ke tempat Tante. Tapi Tantenya kan sibuk terus ... jadi kapan aku mau mainnya ke sana! kalau malam males ah, ngantuk!" balas Rendy.
"Jangan kuatir ... sebentar lagi Papa sama tante akan menikah! dan tante pasti akan lebih banyak waktu luang, karena 'kan tinggal di apartemen nya Papa. Dan papa nggak akan biarin tante untuk bekerja lagi biar di Mension saja!" Timpalnya Azam kepada Rendy sambil terus berjalan mendatangi ruang makan.
Rosita melongok ke arah meja yang begitu banyak menu yang tersaji di sana, kemudian dia menatap ke arah Renita yang tersenyum padanya dan menyilakan ia untuk berada di dekat meja juga memberi tempat untuk kursi roda miliknya di dekat meja makan tersebut.
"Ayo, Mbak jangan ragu-ragu anggap saja rumah sendiri. Jangan malu-malu juga anggap saja kita ini keluarga dan akan menjadi keluarga! bukannya begitu?" Malik menoleh ke arah Rosita dan Azam bergantian.
Malik melirik ke arah sang istri yang juga menoleh ke arah dirinya. "Bagus itu lebih cepat lebih baik! tapi kalau soal belanjaan ... kalau nggak ngerti, ya ya ....minta tolong aja sama istriku ini, dia pasti mau bantu kok! ya kan sayang?"
"Nggak apa-apa! nanti aku bantu. Emangnya belanja apa aja, tentunya keperluan Mbak Rosita bukan?" Tambahnya Renita.
"Beneran nih, nggak apa-apa? jika direpotkan aku! takutnya ngerepotin gitu. Sudah suaminya aku suruh antar, istrinya juga suruh belanja." Azam menatap keduanya.
"Tidak apa-apa! kami merasa senang jika memang dibutuhkan, ya 'kan sayang?" Malik kembali menoleh pada sang istri yang langsung menanggapinya dengan anggukan pelan sambil mengambil piring untuk suaminya.
"Kalau mau acaranya lusa ... berarti besok harus membeli hantaran buat lamarannya dan besok Mbak Rosita jangan kerja dulu! belanja sama aku, biar besok aku yang akan menjemput Mbak, kirimkan alamatnya."
Rosita merasa terharu! dia sama sekali tidak menyangka jika akan secepat ini dan begitu kagum dengan kebaikannya Renita juga Malik. Hingga tatapan matanya Rosita tampak nanar dengan bibir yang tersenyum haru.
"Lho kok. Tante nangis. Jangan sedih dong ... Tante harus bahagia kalau kami semua sangat menyayangi Tante." Suara Rendy ketika melihat Rosita tampak terharu dan tatapan matanya pun berkaca-kaca.
Rosita menutup mulutnya yang menganga! tampak jelas wajahnya kalau dia sangat merasa terharu.
__ADS_1
"Rendy benar, kami semua menyayangi Mbak Rosita dan kita akan menjadi keluarga." Tambahnya Renita.
"Sekarang sudah dulu ngobrolnya dan kita harus makan siang dulu, setelah itu kita berjamaah dan barulah kita lanjutkan kembali obrolan ini." Malik memulai meneguk minumnya.
Terdengar Rendy membaca doa, setelah itu barulah mereka menyantap makannya masing-masing dengan lahap dan nikmat.
Kebetulan Hari ini Ibu Amelia sedang tidak berada di rumah. Dia sedang mengunjungi saudaranya yang berada di luar kota.
Setelah semuanya menyudahi makannya! setelah beberapa saat menikmati beraneka menu yang ada di meja. Mereka pun langsung menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim dan sholat berjamaah.
Sesudahnya, mengobrol kembali dan berbuatlah keputusan bahwa besok hari Rosita akan dijemput oleh Renita sama sopir untuk berbelanja buat hantaran lamaran nya Azam.
"Sebaiknya orang tua, Mas Azam dikasih tahu dulu soal rencana ini. Biar mereka pun langsung ke sini!" ucap Renita kepada Azam.
"Itu pasti, nanti sore aku akan telepon mereka. Bila perlu ku jemput tapi biarlah! orang ada Jefri." Sahutnya Azam.
"Keluarga kamu pasti akan bahagia mendengar rencana ini," tambahnya Malik kepada Azam.
"Iya. Semoga semuanya berjalan dengan lancar!" kata Azam sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aamiin. Kami mendoakan semoga semuanya lancar. Dan kalian berjodoh sampai akhir nanti." Timpalnya Malik.
Kemudian mereka pun mengobrol segala macam! Randy pun ikut senang dengan rencana papanya yang akan menikahi Rosita.
...------...
"Mah, kenapa isi tabunganku ludes. Dan hanya tersisa sebesar 1 juta saja? apa maksudnya nih," Anto menatap sang istri dengan heran dan merasa marah kenapa isi tabungannya tiba-tiba menghilang dan hanya tersisa satu juta saja.
Yusna yang sedang duduk di depan cermin! menatap suaminya yang baru saja datang, dari pantulan kaca yang berada di hadapannya itu. "Datang-datang bilang soal tabungan 'kan kamu sendiri yang pegang ngapain nanya sama aku?"
"Karena hanya kamu yang tahu sandi saya. Dan nggak mungkin orang lain yang memindahkan isi tabunganku kalau bukan dirimu!" suaranya Anto meninggi.
"Oke, aku tahu sandi kamu iya. Sekarang aku tanya sama kamu, tabungan kamu itu banyak! tapi kenapa akhir-akhir ini semakin tipis dipakai apa dan dibawa ke mana?" Suara Yusna pun tak kalah tinggi dan sedikit menghentakkan sisir yang berada di tangannya ke meja.
Kedua netra mata Anto melotot ke arah sang istri dan tangannya pun sedikit mengepal. Dia yakin kalau istrinya lah yang menguras isi tabungannya.
"Dan berapa bulan ini tak ada hadiah yang kamu berikan sama aku! yang biasanya kamu ngasih kejutan, hadiah. Tapi berapa bulan terakhir ini tidak pernah ada! sementara tabungan kamu semakin menipis. Kamu pakai apa dan kamu bawa ke mana? karena biaya anak-anak pun semuanya dari rekening ku." Tegasnya Yusna sambil menatap tajam pada Anto.
__ADS_1
Anto mendekat sambil mengepalkan tangannya. Sorot matanya pun memerah, dia merasa marah karena tabungannya tiba-tiba ludes ....
Bersambung.