
Renita terus membawa langkahnya meninggalkan ruangan seorang CEO dari perusahaan itu, berjalan bersama hati yang penuh rasa syukur. Hingga akhirnya dia sampai juga pada motor kesayangannya.
Kini Renita sudah berada di atas motor kesayangan dan tidak lupa memakai helm, melajukan dengan kecepatan sedang menuju jalan pulang, namun sebelumnya dia akan mampir dulu di sebuah swalayan untuk berbelanja semua keperluan dapur.
"Alhamdulillah ya Allah ....akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga, akan aku buktikan pada mas Azam kalau aku bisa hidup tanpa dia, aku bisa membahagiakan Rendi tanpa kehadirannya." Gumamnya bibir Renita seraya terus menjalankan motornya tersebut, hingga akhirnya berhenti di depan swalayan.
Di tengah-tengah asik berbelanja, ternyata mendapatkan suara tangisan balita yang begitu keras dan melengking. Khawatir kali aja itu balita kenapa-napa dan kedua manik matanya Renita memutar mencari sumber suara.
Ternyata dan ternyata, manik mata Renita menemukan balita tersebut sedang menangis kejer, tampak dia sedang mengamuk dan wanita yang sedang memangkunya terlihat sangat kewalahan.
Terlihat ada beberapa orang menghampirinya dan menyuruh si wanita muda itu mendiamkan nya.
Renita buru-buru menghampirinya seraya mendorong troli belanjaan. Siapa tahu dirinya bisa menenangkan balita tersebut.
"Kenapa bayinya Mbak nangis seperti itu? sini saya gendong. siapa tahu saya bisa menenangkan dia," Renita berniat ingin mengambil bayi tersebut dari pangkuan wanita yang Renita kira adalah ibunya.
Namun wanita itu mundur dengan tatapan tajam ke arah Renita yang berniat menolong. Lalu melihat kanan dan kiri, dimana ada beberapa orang pengunjung swalayan wanita yang hanya berdiri dan mengoceh saja. "Kamu mau menculik anak saya ya?"
"Oh, tidak, mbak ... Saya cuma berniat menolong saja, siapa tahu saya bisa menenangkan anak itu yang menangis sampai segitunya, kasian!" Renita menggeleng kasar.
"Bu dikondisikan dong bayinya ... jangan sampai menangis seperti itu, berisik dan mengganggu orang. Sakit nih telinga! kita ke sini mau belanja bukan mau mendengarkan tangisan itu bayi!" kata pengunjung lain.
Membuat Renita dan wanita itu pun menoleh.
"Tapi kan dia menangis bukan keinginan saya!" katanya wanita yang sedang memegangi balita tersebut.
Baby itu terus menangis dan meronta, di kasih susu lain di bawa duduk juga lain! di bawa jalan juga sama, ibunya pun sudah tampak panik, merasa kesal. Bingung bercampur menjadi satu dan wajahnya memerah. Membuat Renita merasa kasihan dan meminta lagi baby itu.
"Mbak, saya bukan orang jahat ataupun penculik anak! saya hanya ingin mencoba siapa tahu anak itu bisa tenang di tangan saya." Renita dengan suara lirih.
Setelah di bujuk dengan susah payah, akhirnya wanita muda itu memberikan juga bayinya kepada Renita sehingga Renita bisa menggendong dan sedikit menggoyangkan nya dalam pelukan di tempelkannya di dada, mengusap punggung juga Kepalanya berharap si balita tenang.
Dan alhamdulillah dalam hitungan detik pun, anak itu tangisannya mulai reda dan tampak tenang di dalam pangkuan Renita membuat bibir Renita tersebut tersenyum mengembang.
Begitupun dengan wajah ibunda dari bayi tersebut dari pucat Paseh berubah warna dan menjadi sedikit ... sedikit tenang walaupun wajahnya menggambarkan ekspresi yang biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mbak baby nya udah tenang. Ini saya kembalikan!" Renita mengembalikan baby yang sudah mulai tertidur tenang di pangkuannya, dikembalikan kepada sang Ibunda yang langsung menyambutnya.
"Terima kasih ya!" kata si ibu muda tersebut kepada Renita.
Kemudian Renita kembali berjalan menghampiri trolinya meneruskan belanja yang tadi sempat tertunda.
Renita menghela nafas dalam-dalam seraya dihembuskan dengan sangat panjang. "Huuuh ... aku merasakan gimana ... gitu, di saat anak ngamuk, nangis. Marah yang tidak mengerti apa yang dia inginkan! membuat hati merasa sedih, kesal. Marah! bingung bercampur menjadi satu, rasanya kepala mau pecah saja," gumamnya Renita sambil terus berjalan.
Setelah membayar semua belanjaan, Renita pun membawa belanjaannya keluar swalayan. Membawa langkahnya mendekati motor yang terprkir cantik di parkiran tidak jauh dari tempat ia belanja barusan.
"Mbak. Terima kasih ya? soal yang tadi ... saya minta maaf jika saya sudah berburuk sangka kepada mu!" suara wanita dari arah belakang Renita.
Renita pun menoleh ke arah sumber suara yang ternyata ... wanita tadi yang bayinya ngamuk, dia berdiri di dekat sebuah sedan putih yang tampak ada sopirnya.
Lagi-lagi Renita pun mengangguk seraya berkata. "Sama-sama Mbak, tidak apa-apa! gimana baby nya, tidur?"
Wanita itu seraya menunjuk dengan dagunya ke arah dalam mobil. "Iya tidur nyenyak. Oke! kalau begitu saya permisi!" mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya.
Renita pun gegas mengenakan helm setelah duduk manis di atas jok motor kesayangannya itu, kemudian melaju dengan sangat cepat yang ingin segera sampai dan bertemu sang buah hati.
"Assalamu'alaikum ... sayang. Iya dong Bunda balik lagi. Tapi Bunda punya berita baik buat Rendy. Terima kasih doanya ya? Bunda sudah diterima kerja! dan besok Bunda akan mulai bekerja--"
"Oh jadi bunda kerjanya mulai besok ya?" tanya anak itu dengan tatapan yang penasaran.
"Iya sayang, Bunda mulai besok bekerjanya! terima kasih doanya ya dan satu lagi, Rendy tidak boleh nakal, tunggu bersama Kak Feni ya?" pesannya Renita sembari menoleh ke arah Feni yang tengah berdiri di teras dekat pintu.
"Iya, Bunda ... Rendy akan ingat pesan Bunda dan Rendy akan sekolah sama Kak Feni juga gak nakal. Tapi Bunda kalau pulang cepat jangan ke mana-mana ya? langsung pulang ke rumah!" pintanya Rendy serta tetapan yang penuh harap.
Renita berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Rendy. "Itu pasti sayang ... Bunda pasti akan segera pulang ke rumah! tak akan ke mana-mana dulu, paling belanja buat keperluan rumah buat keperluan kita makan. Nggak akan kelayapan kok ... Bunda janji," balasnya Renita dengan lirih lalu memeluk putranya sangat erat tampak dari ujung matanya buliran air bening menghiasi.
"Feni, mulai besok saya akan bekerja dan tolong jagalah Rendy baik-baik ya? jangan biarkan dia bersama orang lain sekalipun papanya! tanpa izin saya! apalagi orang yang tidak dikenal," kata Renita kepada Feni dan dia yang dipercaya untuk menjaga Rendy.
"Baik, Bu ... insya Allah saya akan menjaga Rendy dengan baik dan Ibu jangan khawatir, saya pasti ingat pesan Ibu jangan biarkan Rendy sama orang lain ataupun dengan papanya sendiri tanpa ingin Ibu." Feni sedikit menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum masuk ke dalam rumah, Feni mengambil belanjaan Renita dari motor. Sementara Renita sendiri menuntun putranya yang langsung ingin bermanja kepada sang Bunda.
__ADS_1
Baru saja mau mendudukkan bokongnya di atas sofa, sebelum lanjut ke kamar sudah terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah Renita.
Degh.
Dada wanita berdebar curiga, apakah mobil tersebut adalah mobilnya Azam yang ingin bertemu dengan Rendy atau urusan lain?
Renita langsung menoleh mengintip di balik jendela, sontak dadanya merasa lega karena yang datang bukanlah Azam melainkan Yati bersama suaminya, Riko. Dengan membawa sebuah paper bag berjalan menuju teras.
"Assalamu'alaikum ... Reni, Rendy hai ternyata ada di sini?" Yati menghampiri Renita yang baru saja berdiri.
"Wa'alaikum salam ... kok nggak bilang-bilang sih mau datang?" sambutnya Renita sembari memeluk Yati.
"Hei ... buat apa bilang-bilang?surprise dong ..." jawabnya Yati sembari melepaskan pelukannya lalu mendekati ke arah Rendy.
"Hai ganteng ... manis, cakep ... tante kangen sekali sama Rendy Apa kabar mu nak? Oh ya. Tante bawa oleh-oleh buat Rendy coba tebak apa ya? apa ya coba?" Yati menunjukan paper bag.
Kedua netra anak itu menatapi ke arah paper bag yang dipegang Yati. "Apa ya? paling mainan!" tebaknya Rendy.
"Em ... Kalau mainan nya coba apa kira-kira? Ayo tebak lagi karena kalau nggak mau nebak nggak akan tante kasih!" ucapnya kembali Yati sembari memeluk paper bag yang berada di pangkuannya.
"Mainan... Mobil-mobilan!" tebak Rendy, namun Yati menggeleng. "Apa ya?"
"Apa dong ... ditebak dulu, nanti Tante kasihkan!" gumamnya Yati kepada Rendy.
"Itu pasti pesawat-pesawat, kan? yang belum dirakit kan?" seru anak itu dengan sangat yakin.
"Eeh ... Kok tahu sih? kok tahu! siapa yang bilang!" Yati menoleh kanan kiri pada Renita dan juga Riko suaminya.
"Mana kutahu sayang," Riko menaikkan kedua bahunya menandakan kalau dia tidak tahu dan gak bilang-bilang.
Bibir Renita tersenyum. "Mungkin kebetulan saja kali ... kalau memang benar! emang beneran gitu?"
"Tereng ... Rendy pinter! yang tante bawa memang mainan pesawat dan memang belum dirakit, kok Rendy pintar sih, iih ... bikin gemes ..." Yati memberikan hadiahnya seraya mencubit kedua pipi Rendy dengan gemasnya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, makasih