Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Bisa menghilang


__ADS_3

Setibanya di rumah, Renita minta waktu kepada Sheila untuk sendiri dulu tanpa diganggu oleh siapapun termasuk putranya.


Kebetulan pas Renita masuk rumah, Rendy berada di dalam kamarnya. Jadi Reni tidak mengetahui bila sang Bunda sudah pulang. Menjadikan Renita lebih leluasa untuk masuk ke dalam kamar.


Ceklek. Renita mengunci pintu kamarnya kemudian dia menyimpan tas kecil dan kacamata hitam serta jaket yang melekat di tubuhnya, lalu dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur menutupi tubuhnya dengan selimut dan juga bantal yang menindih kepalanya! Renita menangis sejadi-jadinya di sana, sebagai luapan rasa sakit. Rasa pedih, kecewa dan terluka yang diakibatkan oleh suaminya.


Namun tangisan wanita tidak berlangsung lama, karena dia sadar kalau terlalu lama dan wajahnya bengkak nanti Rendy curiga ataupun suaminya nanti pulang akan mencurigai dirinya. Makanya Renita langsung bangun dan mengusap wajahnya apalagi sudah magrib sehingga dia buru-buru ke kamar mandi untung bersihkan diri dan mengambil air wudhu.


Setelah beberapa saat, Renita barulah keluar menemui putranya dan sang adik Sheila.


"Hai-hai-hai ... jagoan Bunda gimana, nakal nggak sama tante? jangan nakal-nakal ya? kasihan tantenya!" suara Renita sembari menghampiri putranya yang tengah bermain mobil-mobilan sehingga berantakan di lantai.


"Eeh ... Bunda kapan pulang? kok aku nggak bunda sudah masuk rumah. Kapan pulang sih? kok nggak bilang-bilang!" anak itu langsung menyeruak memeluk sang Bunda.


"Tahu nggak, Ren. Bunda itu kan bisa menghilang, makanya dia masuk tidak ketahuan siapapun. Tiba-tiba sudah ada aja di dalam kamar, iya kan Kak?" timpalnya Sheila sembari lari ke arah sang kakak yang wajahnya tampak sedikit pucat dan Sheila yakin kalau sang kakak habis menangis.


"Beneran ya, Bunda? Bunda bisa menghilang? kok aku baru tahu!" Rendy mengerutkan keningnya sembari mendongak pada sang bunda.


"Tante Sheila ada-ada saja mana ada bunda bisa menghilang, nggak lah. Cuma tadi bunda masuknya ketika Rendy lagi di kamar! makanya Rendy nggak tahu," ucap Renita Seraya menghela nafas panjang dan memeluk kepala putranya tersebut.


"Ya sudah ... Bunda mau masak dulu ya! kalian juga pasti lapar kan? Renita menatap ke arah Sheila dan juga Sang putra silih berganti.


"Tadi aku sudah makan mie, buatannya Tante tapi Rendy lapar lagi, mau makan masakan Bunda!" ucapnya Rendy yang tampan dan lucu tersebut.

__ADS_1


"Oh ... ya? kamu sudah makan mie ya? berarti tante ngasih mie sedikit ya? makanya Rendi masih lapar! Tante pelit ya," tambah sang Bunda sembari mengulas senyumnya kepada putra kesayangannya itu.


"Hooh, Tante pelit deh ..." kata anak itu sambil melirik pada tantenya yang sedang membaca buku.


Sejenak Renita menatap lekat wajah putranya tersebut yang lantas mengingatkan dia kepada suaminya! membuat hatinya kembali mencelos dan ingin meneteskan air mata! namun ia segera mendongak menatap langit-langit agar air mata yang ingin keluar itu terhadang dan tidak sampai keluar.


"Ya sudah! sayang ... Bunda mau masak dulu ya, dan Rendi main lagi sama tante. Oke?" Cuph! Renita mencium pucuk kepala sang anak, kemudian dia beranjak menuju dapur mau memasak buat makan malam untuk mereka bertiga saja.


"Sayuran sudah menipis begitupun dengan ikan, daging sudah habis. Yang ada tinggal telur saja, oke masak yang ada saja lah, biar besok aku belanja dulu!" gumamnya Renita sembari mengambil telur, sayuran bayam. Terong dan perbawangan.


Dan kebetulan masih ada tersisa di lemari pendingin yaitu ikan mujair, yang akan dia goreng kering. Kesukaan Rendy.


"Kak, gimana hasilnya?" tanya Sheila yang menghampiri sang kakak yang sedang masak.


"Ya ... Gimana hasil penyelidikan barusan? apa ada titik terangnya atau gimana?" Sheila merasa penasaran pada perjalanan sang kakak sore tadi.


Renita menatap sang adik sesaat dengan tatapan mata yang berkaca-kaca! kemudian dia berusaha untuk tidak sampai menangis atau mengeluarkan air mata tersebut, dari tempatnya.


"Dia ... kata orang kantor tiap hari juga pulangnya tepat waktu, bahkan lebih awal. Sementara ke rumah selalu lebih malam dan ... kata orang kantor pun tak ada lemburan di hari libur tapi kenyataannya mas Azam pun tidak ada di rumah, huuhh ..." suara Renita sembari menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan melalui mulut yang tampak berat sekali.


Sheila terbengong-bengong mendengarnya cerita sang kakak. "Terus?" Sheila tampak bertambah penasaran.


"Tadi Kakak mau pulang! tapi secara kebetulan kakak melihat mobil mas Azam dan langsung Kakak ikutin--"

__ADS_1


"Terus-Terus!" tanya sang adik sangat antusias ingin mendengarkan cerita sang kakak selanjutnya.


"Kakak kira di dalam mobil itu ... dia sendirian! terus mobil itu berhenti di sebuah halaman rumah dan ternyata ... dia turun bersama wanita itu dan juga kedua anaknya--"


"Terus Kakak datangi mereka, Kakak tampar, Kakak emek-emek wajahnya dan kakak Jambak rambut perempuan itu? dan kakak menghajar suami kakak yang kurang ajar itu yang tidak tahu diri dan apa lagi ya?" suara Sheila sangat menggebu-gebu.


Renita menggeleng seraya berkata. "Kakak tidak melakukan semua itu, Kakak hanya melihat dari kejauhan saja. Untuk sementara ini kakak harus pura-pura tidak tahu dulu apa yang mas Azam lakukan di luaran sana!" lirihnya Renita suaranya sangat pelan agar tidak didengar oleh Rendy.


"Oh my God ... ya ampun ... kenapa nggak kakak datangin saja, Kakak hajar keduanya tuh orang. Kurang ajar banget dia perempuan, nggak tahu apa itu laki orang dan mas Azam juga ngapain sih setiap hari datang ke tempat wanita tersebut? kalau nggak ada main tuh, kalau nggak dikasih makan sama wanita gatal itu!" malah kini Sheila yang tampak menggebu-gebu dan marah.


"Dari informasi yang kakak dapat, katanya wanita itu janda ditinggal mati oleh suaminya dan meninggalkan dua anak yang masih balita dan satu sudah sekolah kayaknya." Tambahnya Renita kembali.


"Cielah ... berarti dia janda dong, bertambah lah sejarah yang janda merebut suami orang, bertambahnya sejarah janda yang terpikat dengan pesona suami orang, huuh ... gila nian ..." Sheila menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sssttthh ... jangan keras-keras ngomongnya! nanti kedengeran Rendy. Kakak nggak mau kalau rendy sampai tahu papanya seperti itu," ucapnya Renita dengan nada sedih.


Sheila merangkul bahu kakaknya dengan merasa iba, ikut prihatin. "Kakak yang sabar ya? mungkin ini sudah takdir Kakak dan untuk depannya gimana, itu tergantung pilihan Kakak! aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakak!"


Renita memejamkan kedua manik matanya merasakan rasa sesak di dadanya tersebut ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2