
"Sesibuk apapun ... luangkan lah waktu untuk Rendy. Kasihan dia, sudah lama dia tidak banyak waktu dengan mu aku nggak tega melihatnya!" ucapnya Renita setelah berada di dalam kamar.
Azam yang tengah duduk sembari membuka sepatunya dan membuka kemejanya, hanya terdiam.
"Aku ngerti kamu sibuk, tapi bukan berarti nggak ada waktu sama sekali untuk memperhatikan anak mu, ajak dia bermain. Ajak jalan-jalan ... jangan sampai kehilangan momen bersama dia, Mas pasti ngerti itu!" lirihnya sang istri sambil mengambil pakaian yang barusan Azam pakai.
Namun Renita mencium sesuatu dari baju Azam. Bau parfum wanita yang wanginya begitu semerbak, beberapa kali hidung Renita mendengus! tetap saja hasilnya sama. Mulutnya Renita sudah menganga, mau bertanya kenapa parfumnya bau wanita. Namun ketika melihat ke arah Azam, orangnya sudah menghilang dan sepertinya dia masuk kamar mandi.
Nyess ....
Dada Renita dibuat sesak. Hatinya di tambah torehan luka satu lagi. Dan kali ini dia akan tetap mengunci mulutnya agar tidak bertanya tentang kecurigaannya, kalau Azam mempunyai wanita idaman lain.
Dia bertekad akan diam seribu bahasa lebih dulu, sebelum dia mengumpulkan bukti yang lebih banyak. Renita akan pura-pura tidak tahu dengan semua yang Azam lakukan diluar sana.
Kini Renita sudah berada di atas tempat tidur, duduk bersandar sambil membaca buku! melihat suaminya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Menghampiri untuk mengambil pakaiannya yang sudah Renita sediakan.
"Mas, kok sekarang Mas lebih dingin ya? maksud aku ... ach sudah lah, tidak usah di pikirkan!" Renita mengibaskan tangannya lalu berbaring sambil menarik selimut dengan posisi tidur miring.
"Hem, Nggak jelas banget!" Azam menggelengkan kepalanya seraya berpikir dengan maksudnya sang istri.
Azam teringat, kalau sudah lama ini dia tidak menyentuh sang istri. "Lah, bisa-bisa dia curiga! kalau aku tidak menyentuhnya, dia bisa menduga kalau aku bermain di luar." Batinnya Azam sembari menatap ke arah sang istri dengan tatapan yang sedang mengundang hasratnya.
Yang tadinya mau memakai pakaian pun, Azam urung dan lantas menghampiri sang istri dengan bertelanjang dada ke atas tempat tidur.
Renita berusaha memejamkan mata dan membuang semua pikiran yang menghantui dirinya. Dan Renita pun membuang pikirannya soal sentuh menyentuh, tak penting lah kalau Azam tidak menyentuhnya lagi pun. Terserah tidak menunaikan kewajibannya sebagai suami. Renita tidak peduli.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ada tangan yang menyentuh tangan Renita dengan lembut. Serta bisikan yang lama tidak Renita dengar.
"Reni sayang, lama ya kita tidak bermain-main. Gimana kalau sekarang ... kita bermain dulu sebentar, hem?" bisik Azam tepat di dekat telinganya Renita.
Membuat wanita itu meminjamkan kedua manik matanya, merasakan sebuah desiran yang hebat dan aneh serta sensasi yang menaikan libidonya.
Tangan Azam bergerak meraba-raba sesuatu yang akan membuatnya bergairah malam ini, dia tidak boleh melewatkan malam ini bersama istri yang lama tidak dia sentuh tersebut.
Azam pun dengan cepat menarik bahunya Renita agar terlentang dan menghadap ke arah dirinya.
Renita terpejam dan terbayang wajah wanita itu yang lekat di ingatan, dia tak akan lupa pada wanita tersebut di mana tampak mesra dengan suaminya tadi siang di tempat Timezone.
Namun untuk menolaknya Azam itu tidak mungkin, karena itu suatu dosa buat seorang istri bila menolak untuk melayani suaminya.
Tangan Azam yang sudah sedari tadi meraba-raba dan bermain-main dia suatu tempat tempat yang indah dan empuk, kini membuka kancing piyamanya Renita dengan sedikit terburu-buru, seolah tidak sama lagi untuk melakukannya.
Dengan sebelumnya yang selalu sabar dan pelan-pelan namun kali ini dia begitu terburu-buru sehingga tidak peduli kalau wanita belum siap pada akhirnya dia merasakan sakit yang luar biasa.
"Och, Mas. Sakit!" tangan wanita mendorong dada Azam.
Namun Azam tidak perduli dengan desis sang istri, dia tidak mengindahkan permintaan Renita untuk melepaskannya! Azam terus saja mengayuh, bergerak maju mundur, bahkan semakin mempercepat. Karena dia ingin menyelesaikannya lebih cepat pula. Dan tidak sabar ingin segera menuju puncaknya, sehingga tidak peduli dengan kenyamanan sang istri.
Buliran air bening menggenangi kedua sudut mata Renita, luapan rasa sakit di bagian intinya yang belum siap membuka pintu. Eh ... mahluk astral milik Azam nyelonong duluan dengan Mambawa murahan laharnya yang panas. Dan juga rasa sakit hati karena kecurigaannya bahwa suaminya tersebut mempunyai wanita lain selain dirinya.
"Och ... uch ... huuh ..." Azam dengan cepat menarik paksa mahluk astral dari gua kecil Renita serta menjatuhkan tubuhnya di samping Renita yang dia rasa terlalu pasif.
__ADS_1
Renita langsung membalikan badannya memunggungi Azam yang terdengar dengan suara nafas yang memburu.
Renita pun berusaha untuk mengontrol nafasnya dan air mata yang mengalir terasa panas melewati sudut mata.
Wanita tersebut menangis namun tidak bersuara, dan Azam pun tidak mengetahui istrinya happy atau gimana? dan tidak ada ucapan terima kasih seperti biasanya! dulu kalau sudah melakukan kewajiban. Selalu mengecup kening dan pipi sebagian ucapan terima kasih sebab sudah memberikan yang dia mau.
Tetapi kali ini tidak, Azam hanya diam saja bagai patung yang bernafas tidak bergerak dan tidak berucap. Hanya deru nafas saja yang terdengar dan juga suara denting jam yang berdetak di dinding.
Suasana begitu hening, malam pun semakin larut dingin mencekam, terasa bertambah dingin! sikap Azam memang berubah tidak sehangat dulu! itu yang di rasakan Renita saat ini.
Waktu terus berputar membawa sang malam berlalu, bergantian dengan sebuah pagi yang tampak begitu indah nan cerah. Langit terlihat bersih, burung-burung berkicau menyambut datangnya sang pagi ini, dan embun bergenang di dedaunan tampak sangat bersinar yang terkena cahaya matahari. Bak permata yang berkilauan indah.
"Papa, kok semalam tidak bertemu sama Randy! emangnya Papa pulang jam berapa?" tanya Rendy sembari mendongak melihat pada sang ayah yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Papa ... pulang di saat Rendy sudah tidur!" jawabnya Azam begitu singkat.
"Papa itu sibuk terus sih ... sehingga tidak ada waktu buat bermain sama Rendy, Rendy kan kangen seperti dulu lagi. Papa yang sering menemani Rendy bermain dan jalan-jalan!" sambungnya anak itu dengan masih menatap pada sang ayah, dengan tatapan mata yang terlihat begitu bening.
"Papa, kan sedang mencari uang buat masa depan kita, dan jagoan Papa harus mengerti. Lagian kan ... ada Bunda yang terus menemani Rendy, Papa itu ... tugasnya mencari uang yang banyak! buat Rendi besar nanti." Jawabnya Azam beralasan.
Rendy sejenak terdiam dengan manik mata bergerak memperhatikan pada sang ayah ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya ya terima kasih 🙏
__ADS_1