Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Pangkal masalah


__ADS_3

Sesuai permintaan sang Bunda Malik pun mendatangi rumahnya Yusna yang sudah berapa lama ini tidak pernah datang ke rumahnya.


''Reka, Mamah mana?" tanya Malik pada ponakannya yang tampak sedang membaca buku.


"Ada, Om di kamar!" balasnya reka sambil berdiri dan menyambut kedatangan om nya.


Pria ganteng itu terus mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar sang kakak.


"Emangnya Mama sakit atau gimana? soalnya mama sudah lama nggak ada ke tempat, Om!" Malik melirik pada reka.


"Sakit sih enggak, cuman jarang keluar saja!" jawab Reka yang sama-sama berjalan dengan pm nya.


Setibanya di depan kamar Yusna, keduanya berhenti dan berdiri.


"Mah, ada Om Malik." Pekik Reka sambil mengetuk pintu yang terkunci.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampak Yusna yang terlihat kusut. Membuat Malik kaget dengan penampakan itu.


Yusna pun langsung memeluk adiknya sambil menangis. "Malik."


Malik kebingungan dengan kakak nya yang menangis dalam pelukan. "Mbak kenapa?"


"Hik-hik-hiks, Mbak. Mbak ... hik-hik-hiks!" Yusna belum bisa bercerita tentang apa yang dia alami saat ini. Dia lebih ke ingin membuang beban yang ada dalam hati.


Setelah beberapa saat Yusna merasa tenang dan mereka pun duduk di ruang santai yang ada di lantai atas.


Kemudian Yusna bercerita tentang kondisi rumah tangga nya yang kini sedang proses perceraian.


"Apa?" Malik tersentak dengan cerita sang kakak.


Yusna mengangguk lalu berkata. "Benar, aku sedang proses cerai dengan dia. Itu gara-gara Shopia yang menghancurkan rumah tangga ku."

__ADS_1


"Astagfirullah ... kenapa Mbak gak cerita sama kita? sehingga di tanggung sendiri seperti ini." Malik mengusap wajahnya kasar.


"Aku malu, malu bila cerita. Biar semua aku yang tanggung dan menghadapi. Lagian semua sudah di proses. Aku ... mohon doa nya saja. Semoga semuanya lancar dan aku lama nggak menemui Mama kan aku, aku nggak mau jadi beban mau pikiran mama makanya aku nggak ke sana sampai aku merasa kuat!" bisa mereka kasar air matanya yang terus berenang.


Malik merangkul bahunya sang kakak. "Aku yakin, Mbak pasti bisa kuat dan bisa melewati semuanya! mama sangat khawatir karena kamu nggak datang ke rumah. Makanya dia menyuruh ku ke sini."


"Kalau bisa jangan chat-an dulu sama mama ya soal ini, nanti saja aku sendiri yang cerita. Kecuali dengar dari orang lain! kalau aku sudah merasa kuat ... aku akan datang ke rumah menemui mama dan untuk sekarang Ini aku titip saja sama kamu dan Renita! jagain mama ya!" Yusna berusaha mengeringkan wajahnya dengan berapa lembar tisu.


Reka yang berada tidak jauh dari mereka berdua, tampak ikut sedih dan menyeka air mata dari kedua sudut matanya.


Bagaimanapun Reka merasa sedih melihat mamanya menangis, dan juga kondisi keluarganya yang tidak pernah diadukan akan berpisah seperti ini.


"Aku nggak tahu harus bilang apa sama mama kalau seandainya dia bertanya!" Malik menatap sang Kakak sembari menghela nafas dengan dalam.


"Bilang saja, Mbak baik-baik saja dan Mbak ada kegiatan lain makanya nggak bisa datang ke rumah!" pesan Yusna kepada Malik.


Setelah beberapa saat kemudian, Malik pun berpamitan dan mewanti-wanti agar kakaknya ini tetap kuat, tegar dan sabar.


"Iya, mohon doanya saja! semoga Mbak di sini kuat dan satu lagi ... semuanya lancar agar cepat selesai, pokoknya kalau Mbak sudah merasa kuat, kakak pasti ke sana menemui mama!" Yusna pun berdiri dan mengantar sang adik sampai ke teras depan.


Begitupun dengan Malik. Setelahnya dia menyalakan mesin mobil, yang ngetik kemudian merayap keluar dari area halaman rumahnya Yusna.


Mobil mewah yang dikendarai oleh Malik, melaju dengan sangat cepat menuju kediamannya dan waktu sudah mulai gelap.


Setibanya di rumah, tentu saja Malik langsung diintrogasi oleh sang Bunda dengan rentetan pertanyaan tentang putri nya.


"Bagaimana, Bang kabar mbak mu, kenapa dia nggak pernah ke sini! dia sakit apa? punya masalah apa, kenapa dia nggak pernah menemui Mama. Reka pun tidak pernah datang ke sini, dilarang kah atau ada masalah apakah?" rentetan pertanyaan dari ibu Amelia.


Renita tersenyum kepada Malik mendengar pertanyaan-pertanyaan dari sang ibu mertua.


Malik yang baru saja mendudukan dirinya di sofa lalu meneguk minumnya yang disajikan oleh sang istri barusan. "Kabar mbak Yusna baik-baik saja, dia tidak ke sini karena ada kegiatan lain! terus Reka masih sibuk dengan belajar, nggak ada masalah apapun! mereka baik-baik saja kok, Mah."

__ADS_1


"Mama cuman merasa aneh saja, tidak pernah Mbak mu seperti ini. Biarpun sibuk ... lagian sibuk juga bukan bekerja di kantor, selalu datang mengunjungi mama--"


"Katanya sih rencananya. Mbak Yusna akan masuk kantor! dia akan bekerja kembali. Makanya mungkin saat-saat ini dia sedang menyiapkan diri untuk itu. Mama cukup doain aja lah semoga Mbak Yusna tidak ada masalah apapun ... setiap urusannya lancar!" Malik memotong perkataan dari sang Bunda.


"Kadang Mama itu kangen sama dia, video call aja dia sering nggak mau!" tambahnya Bu Amelia.


"Sudah lah, Mah ... kan kata Abang juga ... Mama cukup doain semoga di manapun Mbak Yusna berada baik-baik saja, berada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta'ala dan apapun urusannya. Allah lancarkan!" timpalnya Renita sembari mengelus punggung sang ibu mertua.


Renita merasa kalau ucapan sang suami itu sedikit tidak valid. Seperti ada yang disembunyikan! tapi Renita akan bertanya di lain waktu juga lain tempat. Mungkin ini disengaja karena menghadapi sang ibu.


Kini Malik dan Renita sudah berada di kamar dan Renita baru saja menidurkan Putri kecilnya Alena.


"Entah kenapa aku merasa kalau apa yang kamu katakan tadi di hadapan mama, seperti banyak yang ditutupi!" Renita menatap curiga kepada sang suami.


Malik saat ini sedang duduk di atas tempat tidur sambil membuka laptopnya menoleh ke arah sang istri, sebelum berbicara dia menghembuskan nafasnya dengan sangat panjang. "Itu benar! yang dikatakan olehmu memang benar!"


"Maksudnya gimana. Terus mbak Yusna gimana keadaannya?" Renita merasa penasaran lalu ia mendekati sang suami lantas duduk di sampingnya.


Kemudian Malik bercerita. Apa yang sedang dihadapi sang kakak ipar membuat Renita merasa shock, setengah tidak percaya dengan apa yang dia dengar! tapi gimana mau nggak percaya orang dia dengan mata kepala sendiri pernah melihat suaminya sama wanita lain.


"Astagfirullah ternyata itu benar Shopia ada main sama Mas Anto! ya ampun ... gimana perasaannya Mbak Yusna, pasti hancur dan saat ini dia pasti terpuruk!" Renita menutup mulutnya. Dia merasakan gimana perasaannya Yusna sekarang, seperti yang pernah dia rasakan dulu.


"Makanya mbak Yusna nggak mau datang ke sini karena dia merasa belum kuat, belum siap untuk bertemu sama mama! takutnya dia ... katanya tidak ingin membebani pikiran mama, dia bilang sama aku kalau dia sudah merasa kuat dan siap untuk bercerita sama mama. Dia pasti akan menemui mama dan dia pun menitipkan Mama sama kita berdua! haaa ... percaya tidak percaya memang itu kenyataannya dan kita hanya bisa mendoakan. Semoga semuanya lancar!" ujarnya Malik.


"Iya, Yank. Aku sangat berharap mbak Yusna bisa melewati ini dengan sabar dan kuat, aku tahu gimana perasaan mbak Yusna sekarang!" lirihnya Renita sembari mengusap wajahnya.


Terbayang gimana terpuruknya Yusna setelah mengetahui suaminya selingkuh! bahkan dengan sepupunya sendiri.


"Ya ampun ... mungkin dunia ini tak lepas dari perselingkuhan! bahkan dari lingkungan sendiri, yang ternyata bukan orang lain tapi dari keluarga sendiri," gumamnya Renita.


Beberapa kali terlihat kepala Malik menggeleng, tidak habis pikir Shopia lagi Shopia lagi yang jadi pangkal masalah ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2