Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kendala biaya


__ADS_3

Hari-hari rasa gatal Shopia kian menyerang, semakin lama semakin menjadi dan gak kuat, pada akhirnya Shopia periksakan ke dokter ahli kulit.


Kata dokter, itu penyakit langka. Apalagi yang paling parah adalah di bagian ke-ma-lu-an, apalagi karena merasa gak tahan dengan gatalnya. Menjadikan Shopia sering menggaruk sehingga lecet dan bernanah. Dan itu salah satu penyebab nya menjadikan semakin parah.


Dan lama-lama gatal itu pun menyerang ke seluruh tubuh termasuk wajah. Membuat wajahnya merah-merah dan panas juga, Genta merasa sangat khawatir dengan kondisi sang Bunda sementara untuk berobat lanjut tidak ada biaya. Kerja ... nggak. Motor nya pun sudah di jual untuk biaya sehari-hari.


...----------------...


"Kembalikan! itu punyaku, Bunda ... Kak Rendy nih ... usil Mulu iih!" teriaknya Alena pada sang Bunda yang sedang menyiram tanaman.


"Huh ... bisanya ngadu, berusaha sendiri dong ... jangan suka ngadu!" ejeknya Rendy sembari memegangi tempat pensil gambarnya Alena dan juga menjulurkan lidah pada adiknya itu.


"Kak Rendy ... sudah besar, kok kayak gitu bukannya momong adiknya, ini adik di usilin!" Renita sembari menggeleng dan melihat ke arah kedua putra putrinya.


Yang kemudian Rendy pun memberikan apa yang menjadi milik sang adik, lantas dia melompat ke dalam kolam renang dan bergaya katak di sana.


Alena bengong melihat sang kakak melompat ke kolam renang, sementara dia kurang suka dengan berenang. Dia lebih suka dengan buku gambar serta peralatan lainnya sebab dia lebih suka yang namanya pelajaran seni. Sehingga Malik dan Renita akan memasukkannya ke sekolah yang lebih menjurus ke bidang seni, nantinya.


"Bu, ada tamu yang mencari ibu!" Kata seorang asisten yang mendekati Renita.


"Tamu, siapa?" tanya Renita sembari mengerutkan keningnya, dia menatap ke arah asistennya tersebut.


"Kurang tahu, Bu ... yang jelas dia masih anak remaja dan dia ingin ketemu sama ibu dan juga menanyakan bapak!" Balasnya sang asisten sembari menuju ke arah depan dengan dagunya.


"Siapa ya, apa bukannya menanyakan Rendy? mungkin temennya!" Renita mengunci aliran air yang di selang.


"Saya kurang tahu, Bu ... yang jelas dia ingin bertemu sama ibu dan juga sama bapak." Kata sang sistem kembali yang kemudian Renita pun berjalan bersama-sama asisten ke depan.


Sesudah sampai di depan, Renita menatap ke arah tamunya yang telah duduk di kursi yang berada di teras, seorang remaja laki-laki yang berambut ikal sedang menatap ke arah jalanan tampak melamun.

__ADS_1


"Bi, bikinkan minumnya jangan lupa dengan kuenya!" perintah Renita yang langsung mendapat anggukan.


Sejenak Renita terdiam menatap ke arah remaja tersebut yang tiada lain adalah Genta putranya dari Shopia. Yang jadi pertanyaan dalam hati Renita. Ada apakah gerangan sehingga anak itu datang kemari? yang tumben-tumbenan


"Genta, ya?" sapa Renita sembari melangkah mendekati remaja tersebut. Dengan senyuman ramah di bibirnya yang ia tunjukkan kepada sang tamu.


Genta melonjak sangat kaget, dia yang sedang melamun. Mendengar dan melihat kehadiran Renita di sana. "Tan-Tante." Sembari menganggukkan kepala dia terlihat gugup dan tegang.


"Genta. Apa kabar Nak? dan sama siapa ke sini, Mama mana, kenapa nggak sama Mama ke sininya?" Rentetan pertanyaan dari Renita lalu menyilakan anak itu kembali duduk di tempat semula.


Lagi-lagi Genta menganggukkan kepala seraya berkata. "Iya. Aku sendiri saja ke sini, Tante, om nya ... ada?"


"Em ... Om kebetulan sedang keluar, sedang ada urusan! Ya udah, kita masuk yok! ngobrolnya di dalam aja?" ajak Renita sembari berdiri namun anak itu menolak dengan alasan biar ngobrol di luar saja.


Asisten Renita datang membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas minuman dan juga kuenya, kemudian dia berjongkok dan menyodorkan yang dia bawa di meja yang berada di teras tersebut.


Lantas dia ngeloyor kembali ke dalam. Membawa nampannya kembali.


Genta terdiam sembari menatap ke arah meja. Tatapan nya fokus ke gelas minuman, yang seolah-olah melambaikan tangan agar segera ia teguk.


"Tapi ... sebaiknya Genta minum aja dulu minumannya dan kuenya dicicipi, nanti setelah itu barulah Genta bicara." Lirihnya sembari mendekatkan gelas dan piring kue ke arah Genta.


Setelah dipersilakan, Genta pun tidak membuang-buang waktu! tangannya segera meraih gelas yang berisi minuman air segar. Lantas meneguknya sampai kandas, tampak sekali kalau dia sedang haus! melihat pemuda itu sangatlah haus. Sehingga Renita memanggil kembali Bibi yang barusan agar membikin kan kembali minuman buat Genta.


Genta tampak malu-malu, ketika Renita menyuruh asistennya untuk membikin kan minumnya kembali.


"Tidak apa-apa, jangan malu-malu kayak siapa aja! makanya tante ajak kamu untuk ke dalam, di dalam kamu bisa makan dulu. Sudah makan belum?" Tanya Renita menatap ke arah Genta yang langsung menggeleng namun ia ralat menjadi mengangguk.


"Sudah. Tante, sudah makan kok di rumah." Jawabnya sembari meraih kue dari piring.

__ADS_1


Membuat kedua sudut bibir Renita tertarik membentuk sebuah senyuman. "Gimana kabarnya Mama, kenapa nggak datang ke sini?"


Mendengar pertanyaan itu menjanjikan Genta teringat pada sang Mama dan tujuannya sebenarnya datang ke sini pun karena berkaitan dengan sang mama.


"Tante, tujuan aku datang ke sini. Sebenarnya mau minta tolong dan aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi kalau bukan ke sini!" Genta menyimpan kuenya ke dalam piring kembali.


Melihat pemuda itu tampak serius Renita pun penasaran. "Emangnya ada apa dan kenapa? ada apa dengan Mama?


"Mama ... Mama sakit dan kami tidak ada uang untuk berobat lebih lanjut, jangankan untuk berobat kontrakan pun sudah nunggak 2 bulan! sudah 4 bulan ini Mama tidak bisa bekerja karena sakitnya dan aku juga sudah seminggu tidak masuk sekolah karena nggak ada ongkos. Aku bisa kemari juga ... aku menggadaikan ponselku ke konter--"


"Masya Allah ..." Renita menggelengkan kepalanya.


"Tante, aku serius dan aku tidak berbohong keadaan Mama, seandainya Tante tidak percaya ikut saja dengan ku untuk melihat mama," ucap anak itu dengan sangat sungguh-sungguh.


"Genta, Genta ... Tante percaya kok dengan omongan Genta. Emangnya Mama sakit apa?" Renita menatap dengan penuh menyelidiki.


"Sakit ... yang kelihatannya sih cuman gatal-gatal, Tante, tapi sepertinya Mama sangat tersiksa. Gatalnya di seluruh badan, berapa bulan lalu pernah berobat tapi karena kendala biaya! tidak bisa melanjutkan sementara penyakitnya semakin parah!" Genta menunduk dengan sedih.


"Astagfirullah ... kalau gitu Genta tunggu di sini. Tante mau ngambil tas dulu ya?" Renita berdiri dan membalikan tubuhnya, namun tampak Rendy yang menggunakan kaos oblong berdiri di ambang pintu.


"Tante, Shopia kenapa Bun?" Selidiknya Rendy sambil menatap pada sang Bunda dan juga Genta bergantian.


"Tante Shopia sakit dan Bunda mau ke sana--"


"Rendy ikut ya, Bun?" pinta anak itu sembari dengan cepat masuk lagi ke dalam, mungkin untuk mengambil celana panjangnya karena dia hanya menggunakan celana boxer saja.


Tanpa sempat menjawab, Renita langsung membawa langkahnya ke dalam rumah, yaitu mengambil tasnya yang berada di kamar lantai atas yang ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2