
Dengan malu-malu Renita menganggukan kepalanya tanda setuju. Yang kalau tidak terlihat nyaris tidak akan ketahuan.
Tentunya Malik yang menatap Intens ke Renita merasa senang dan bahagia karena melihat anggukan dari Renita. "Yees. Terima kasih kau sudah menerima aku, dan sekarang kita berdua bukan hanya partner kerja atau atasan dan bawahan saja. Tapi juga calon suami istri! sekali lagi terima kasih!"
Renita hanya tersenyum manis ke arah Malik, kemudian melirik ke arah sang ibunda Malik yang juga tersenyum bahagia.
Biarpun baru ketemu kali ini. Tapi beliau merasa suka dan cocok dengan sosok Renita dan dia nggak ada masalah biarpun Renita berstatus janda dan punya anak satu! yang penting putranya bisa menerima dan bahagiakan mereka berdua.
"Menurut saya ... niat baik ini jangan ditunda-tunda lebih lama, lagi pula kau sudah benar-benar lepaskan dari mantan suamimu? maksud saya sudah habis masa iddah nya? dan kalau memang seperti itu ... apa salahnya kalian secepatnya menikah. Saya sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari Malik, Iya putra kamu juga jadi cucu saya juga. Cuman ... Tidak salah kan kalau saya berharap ingin segera mempunyai cucu kandung dari Malik? tapi bukan berarti saya nggak sayang sama putra kamu, bukan!" Ibunya balik bicara dengan hati-hati namun terbaca gimana maksudnya.
Renita menoleh ke arah Malik yang tersenyum dan juga menganggukkan kepalanya. Lalu kemudian Renita menunduk kembali, dia bingung harus menjawab apa? tapi dia akan setuju saja kalau memang Malik ingin segera meresmikan hubungan ini, karena memang daripada lama-lama ... kan nggak enak sama tetangga, mendingan segera menikah saja.
"Gimana sayang, setuju kan kalau secepatnya kita menikah? daripada pacaran lama-lama ... takutnya gimana-gimana mendingan segera nikah saja, kita pacaran setelah menikah!" tanya Malik kepada Renita yang langsung melotot, bukan apa-apa. Karena panggilannya itu, sayang. Di mata ibunya sendiri.
"Kenapa melotot? emang aku ngomong salah ya?" Malik bertanya kembali.
"Bukannya salah. Nggak salah kok. Em ... Aku setuju setuju saja gimana baiknya, kalau memang sudah pasti kapan mau datangnya ke rumah, aku akan mendatangkan keluarga!" ucapnya Renita.
Sang Bunda memandangi ke arah Malik lalu dia berkata dengan lirih. "Ibu ingin secepatnya! kebetulan kan besok hari Minggu ... gimana kalau besok sore saja ke sana? menemui orang tuanya, dan kita nggak perlu lah mengadakan pesta lamaran segala, karena yang penting sakralnya kan? kalau pernikahan nanti ... it's oke mau pesta besar-besaran juga gak masalah."
"Tapi sebelumnya aku minta maaf, karena aku bukanlah orang dari kalangan berada! seperti yang Malik tahu ... kami hanya orang biasa!" ucapnya Renita sembari menunduk. Dia mengakui kalau dia bukanlah orang yang berada seperti Malik sekarang yang menurut dia berbeda kalangan atau kasta.
"Emangnya kamu mencari istri dari kalangan tinggi?" sang Bunda menatap tajam ke arah putranya.
Sementara Malik hanya menggeleng, karena seharusnya sang Bunda tidak bertanya seperti itu. Karena beliau pun tahu kalau ini urusan hati bukan urusan komersial.
"Tuh kan ... Malik pun menggeleng, berarti dia nggak masalah kamu mau dari kalangan manapun. Karena ini urusan hati, dia cinta dan sayang sama kamu. Terus buat apa mempersalahkan status ekonomi?" Tambahnya sang Bunda dari Malik yang di tujukan kepada Renita.
__ADS_1
Renita merasa tenang dan dia bahagia dia diterima dengan baik oleh keluarganya Malik yang kalau membandingkan kasta ya jauh beda.
Kemudian mereka pun salat magrib berjamaah bersama, seperti biasa Rendy, dia pun diikut sertakan. Agar belajar Gimana caranya salat, dan membiasakan nya.
Selepas salat berjamaah, Rendy bermain dengan putranya Sophia, dia tampak gemas sekali pada balita tersebut.
Kalau dilihat-lihat ... Sophia itu orangnya memang agak cuek, nggak begitu ramah ataupun banyak bicara. Tapi tidak menjadi masalah buat Renita karena dia pikir memang sifatnya seperti itu. Jadi buat apa dipermasalahkan atau diambil hati.
"Makan malam sudah siap! sebaiknya kita makan malam dulu sebelum kalian pulang!" ucap sang calon ibu mertua kepada Renita yang sedang memperhatikan putranya yang telah bermain dengan putranya Sophia.
"Ayo sayang kita makan dulu?" Ajaknya balik sembari menyentuh punggungnya Renita.
"Apaan sih? bisa nggak jangan panggil sayang gitu, di depan ibumu, malu." Bisiknya Renita kepada Malik.
Malik menggeleng sebari berkata. "Nggak aku nggak bisa, mulai sekarang panggilanku sama kamu akan tetap memanggil sayang, di depan siapapun."
Renita menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendahului Malik ke ruang makan. Tidak lupa lebih dulu mengajak Rendy putranya dan putra Sophia, di pangkuannya.
Lalu kemudian mereka pun lantas menikmati makan malamnya dengan lahap, dan Rendy pun tidak susah makannya apapun dia mau, beda kalau di rumah kalau pengen ini ya ini. Itu ya itu, kalau di tempat orang dia pun mengerti.
"Rendy makanya yang banyak ya? biar lebih gemuk dan bilang aja kalau ada menu yang tidak suka, kalau maunya makan sama apa? jangan sungkan-sungkan ya?" kata Sang ibunda Malik kepada Rendy.
Rendy pun mengganggu dan dia menjawab kalau dia suka dengan yang ada. Dan dia makan bersama sop buntut dan juga telur.
Sesudah makan Renita ikut membantu bereskan meja makan sampai bersih. Lalu dia ikut cuci piring juga, kata calon ibu mertua sih, nggak usah. Namun Renita tetap saja mengerjakannya.
Setelah itu, Renita pun berpamitan untuk pulang pada ibundanya Malik.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? nanti aja pulangnya, atau nginep sepertinya Rendy betah di sini ada temennya tuh!" Ucap ibundanya Malik.
"Kalau boleh jalan kali saja main lagi ke sini untuk sekarang kami pamit dulu dan sudah malam!" Tambahnya Renita sambil mencium tangan wanita sepuh tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu suruh Malik untuk hati-hati bawa mobilnya, dan sampaikan salam saya kepada orang tuamu dan besok sore kami pasti datang untuk melamar mu. Ini janji kami, yang tidak akan kami ingkari." Kata wanita sepuh tersebut.
"Rendy ... lain kali main lagi ke sini ya? Oma senang Rendy bermain lagi di sini. Genta pun jadi ada temennya," ucap wanita sepuh itu kepada Rendy yang langsung menjemput tangannya penuh hormat.
"Iya Oma, lain kali Randy akan main lagi ke sini. Genta ... Rendi pulang dulu ya?" Rendy mengalihkan pandangannya ke arah Genta, anak balita itu bengong melihat kearah Rendy, lalu Rendy mencubit pipinya dengan gemas.
"Assalamu'alaikum, kami pulang dulu ya? dah ...."
Renita dan Rendy berjalan menuju mobil Malik yang sudah menyala mesin. Kini mereka sudah berada di dalam mobil Malik yang menyarankan untuk memakai bell safety. Dan Rendy minta di belakang saja duduknya.
Mobil Malik pun melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kediamannya merayap di jalanan raya menuju rumahnya Renita.
Sepanjang perjalanan tidak banyak kata yang terucap, hanya sesekali saling lirik dan senyuman yang terulas dari kedua bibir mereka berdua.
Sampai pada akhirnya ... Mobil Malik tiba juga di depan kediamannya Renita yang tampak sangat sepi.
"Ya sudah, aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah diantar pulang!" Ucapnya Renita sembari membuka bell safety lalu menoleh ke arah Rendy yang duduk di belakang, ternyata anak itu tertidur dan tampak pulas. Mungkin dia kecapean.
"Pantas anak itu tidak berceloteh, rupanya tidur. Sudah, biar aku aja yang angkat kamu buka aja pintunya. Oh iya di rumah ada Feni kan? apa kamu bawa kunci sendiri?" Malik lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Renita.
"Aku bawa kunci sendiri kok," Renita langsung berjalan menuju teras.
Dan Malik langsung menggendong Rendy tidur di mobil ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like dan komennya ya ... sebagia penyemangat aku nih