Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Janda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Renita menangis dalam hati, tidak menyangka dari sebelumnya. Kalau suami yang dia cintai sebelumnya ternyata melakukan banyak kebohongan.


Rumah tangga yang selama ini Adam ayem, penuh kasih sayang dan perhatian! sekarang sudah mulai berubah. Kebahagiaan yang selama ini dia rasakan mulai terkikis dengan sebuah kebohongan yang Azam buat.


"Padahal aku sudah berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik yang menurut, dan melayaninya dengan sepenuh hati. Tapi kenapa Mas Azam melakukan semua itu padaku? kenapa?" batinnya Renita sembari terus menjalankan motornya Dan dia memutuskan untuk pulang saja.


Renita pun terus berpikir gimana caranya supaya dia mendapatkan informasi yang lebih kongkrit lagi, apa dia harus lebih intens mengawasi Azam hingga ke detail-detailnya.


Sejenak Renita berhenti di pinggir jalan dan dia membeli minuman dari sebuah warung. Karena dia merasa sangat haus dan tiba-tiba ... kedua menik matanya menemukan sesuatu, dia melihat mobil Azam yang melintasi walau dari kejauhan tentunya Renita hafal kalau itu mobil suaminya. Sehingga Renita buru-buru untuk menaiki motornya dan menyusul mobil dia yakini adalah mobil Azam, suaminya.


Renita terus mengikuti mobil suaminya itu dari kejauhan dan sebisa mungkin agar tidak ketahuan keberadaannya, sotot matanya terus tertuju ke arah mobil tersebut! namun tetap dengan kehati-hatian, dalam hatinya mulai bergejolak. "Akan aku ikuti sampai mobil itu berhenti di mana?"


Dan setelah beberapa puluh meter, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang terbilang sederhana dan minimalis. Begitupun dengan motor yang Renita kendarai biarpun jauh ... namun jelas! dia usahakan untuk jelas bisa melihat gerak-gerik suaminya.


Beberapa saat lamanya menunggu, akhirnya orang yang berada dalam mobil tersebut keluar dan benar saja. Itu Azam, namun semakin membuat hati Renita hancur. Karena Azam keluar dari mobil tersebut dengan seorang wanita yang memakai dress selutut.


Wanita itu menggendong balita dan tangan kanan Azam yang kanan menuntun anak perempuan, sementara tangan yang satunya lagi membawa paper bag.


Sejenak tubuh Renita mematung serta pandangannya pun tidak berkedip, lagi-lagi pemandangan itu dia dapatintidak jauh ketika dia melihat Azam ketika waktu berada di Timezone.


"Ya Allah ... ternyata wanita itu wanita yang kemarin di Timezone." Gumamnya Renita. "Dengan anak-anaknya juga, Astagfirullah ... jadi dia pulangnya memang ke tempat wanita itu, pantas kalau pulang nya tepat waktu tapi ke rumah tidak ada. Berarti Mas Azam mampir ke tempat lain, tega kamu Mas!"

__ADS_1


Renita dengan tak kuasa meneteskan air mata yang perlahan membasahi pipinya.


Suami yang selama ini dia percaya, ternyata penghianat. Pembohong dan telah menghancurkan perasaannya hingga tak berkeping! Renita ingin menangis sejadi-jadinya, menjerit sekencang-kencangnya namun dia harus tetap kuat, karena ini bukan akhir dari segalanya dan dia masih perlu dan membutuhkan bukti lainnya lagi.


Dengan kasar Renita mengusap wajahnya yang basah dan tidak terus bercucuran dengan air mata. Kemudian kepalanya menengok kanan kiri, siapa tahu ada seseorang yang mungkin tetangga wanita itu serta bisa dia tanyai.


Kebetulan sekali ada seorang ibu-ibu setengah baya yang menghampiri ke arah Renita, Renita tersenyum ramah dengan sopan juga, Renita menyapa sang ibu tersebut.


"Ibu, kebetulan saya ini mau menawarkan suatu barang pada pemilik rumah tersebut dan tadi saya sudah ke sana! tapi nggak ada orangnya, kalau boleh tahu siapa ya pemilik rumah tersebut?" selidik Renita.


Mulanya orang yang ditanyai oleh Renita tampak kebingungan! dia menatap begitu meneliti ke arah Renita dari atas sampai bawah bahkan motornya pun menjadi sasaran pandangannya.


"Oh pemilik Rumah itu ... yang itu yang ada mobil itu! barusan orangnya baru keluar dari mobil!" jawabnya si ibu sembari menunjuk-nunjuk ke arah rumah yang ada mobil Azam tersebut.


"Itu rumahnya Bu Wiwi, anaknya bernama Sharon dia seorang janda ditinggal mati--"


"Oh ... jadi yang barusan keluar dari mobil, perempuan yang tadi namanya Sharon, janda ditinggal mati ya? terus yang laki-laki barusan itu siapa? saya kira suaminya!" Renita langsung memotong perkataan dari si ibu.


"Setahu saya sih ... belum belum nikah lagi. Mungkin pacarnya kali. Tapi tidak tahu juga! masalahnya setiap hari saya melihat mobil itu nangkring di depan rumahnya, mungkin iya suaminya!" jawabnya si Ibu yang kurang meyakinkan, namun cukup jelas buat Renita kalau suaminya tiap hari datang ke sana.


"Berarti yang di gendong sama yang dituntun itu putra dan putrinya Sharon ya?" selidik kembali Renita sembari menahan rasa ingin menangis. Dadanya terasa begitu sangat sesak. Tubuhnya pun terasa bergetar lemas, Tetapi Renita harus berusaha untuk kuat.

__ADS_1


"Iya benar, ci janda gatel itu mempunyai dua anak yang masih balita dan satu sudah sekolah." jawabnya si buk kembali.


"Oh gitu ya? makasih y, Bu ....atas informasinya, mungkin besok akan balik lagi karena sekarang waktunya sudah terlalu sore!" ucapnya Renita sembari melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh iya, permisi ... saya mau ke warung dulu!" kata si Ibu sembari sedikit menundukan kepalanya dan tubuhnya pun membungkuk hormat ketika melintasi Renita yang masih berdiri di dekat motornya.


Renita berapa kali mengucap istighfar dan memohon kepada yang maha kuasa agar diberi kekuatan juga kesabaran, karena semuanya tidak mudah untuk menghadapinya.


Kemudian Renita membawa motornya menjauhi tempat tersebut, pulang membawa semua luka yang tertoreh di dada.


Motor Renita terus melaju menuju jalan pulang membawa perasaan yang tidak karuan, sesungguhnya dia shock. Terpukul dengan apa yang dia lihat dan apa yang dia dapatkan sore ini.


Air mata pun terus mengalir tanpa dapat dibendung membasahi pipinya, terus keluaran dari sudut mata yang tertutup kacamata hitam tersebut, rasa sesak di dada bagai tak ada ruang untuk dia bernafas! sangatlah menyiksa sehingga dia menepikan motornya untuk sesaat.


"Ya Allah ... beri aku kekuatan! beri aku kesabaran untuk menghadapinya, aku nggak boleh lemah. Aku harus kuat." Suara Renita sembari mendongak ke langit-langit dan sejenak melepas kacamata lalu mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.


"Aku harus terlihat baik-baik saja! apalagi di hadapan Rendy, anak itu tidak boleh tahu apa yang terjadi dan anak itu tidak boleh tahu kalau bundanya lagi sedih atau sedang bermasalah. Aku harus bisa berusaha untuk menutupi semuanya demi kebahagiaan anakku!"


Hari sudah semakin sore.bahkan mendekati magrib dan Renita tinggal berapa meter lagi untuk sampai ke tempat kediamannya selama ini ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2