
Azam tidak peduli dengan tangisan Shopia yang tersedu, ia tetap saja fokus dengan tugasnya! menjalankan mobil dengan kecepatan yang sangat cepat. Menuju ke rumahnya Shopia untuk mengantarkannya pulang.
Shopia terus saja menangis, berharap kali saja Azam merasa iba dengan tangisannya dan dia pun terus merajuk dan minta maaf. Ia berjanji kalau dia akan merubah sikap dan akan menyayangi Rendy seperti putranya sendiri.
Namun kata-kata itu tidak dihiraukan oleh Azam dia seolah-olah menulikan kedua telinganya tidak mendengar atau mau percaya dengan omongan Shopia, entah kenapa Azam langsung merasa benci saja sama Shopia. Padahal berapa waktu lalu dia sangat bucin pada wanita tersebut yang kini malah berubah 99%.
"Aku minta maaf dan aku janji, aku akan menyayangi Rendy seperti putraku sendiri dan tolong jangan batalkan pernikahan kita! aku cinta sama kamu! hik-hik-hiks." Shopia menyentuh tangannya Azam yang langsung menghindar.
Azam diam membisu, dia malas untuk merespon Shopia yang terus merajuk meminta maaf dan tidak mau di putuskan.
Dan setibanya di depan kediamannya Shopia, Azam langsung menghentikan mobilnya dan lekas turun dan membukakan pintu untuk Shopia. "Turun?"
"Aku gak mau turun sebelum kamu memaafkan ku." Shopia tidak mau turun dari mobilnya Azam.
"Aku bilang turun, ya turun ..." hardik Azam dengan tatapan kesal dan tangannya mencoba meraih tangan Shopia yang tidak mau turun.
"Sudah ku bilang! aku tidak mau. Jangan paksa aku!" suara Shopia tidak kalah tingginya.
"Terus mau kamu apa ha? mau ku antar pulang, sudah. Sekarang sudah sampai dan kamu tidak mau turun. Sekarang aku minta kamu turun! ngerti gak?" Azam menarik tangan Shopia untuk keluar dari mobilnya.
"Aku tidak mau ... sebelum kamu memaafkan ku!" pekik kembali Shopia sembari menghempaskan tangan Azam dan dia pun kini sudah berada di luar mobil.
"Oke sudah, sudah ku maafkan. Terus maunya apa lagi ha? karena menangis darah sekali pun tidak akan pernah bisa membuat ku berubah pikiran lagi. keputusan ku sudah bulat bahwa kita tidak akan pernah menikah! sekalipun pacaran tidak akan berlanjut!" Brugh! pintu mobil Azam banting.
Lalu ya sendiri mengitari mobil tersebut untuk menjangkau jok belakang kemudi, kemudian ia melajukan kendaraan yang beroda empat dengan sangat cepat.
Azam melarikan mobilnya meninggalkan Sofia yang teriak-teriak memanggil namanya, yang tidak peduli diliatin oleng tetangga.
Azam yang berada di dalam mobil hanya menggelengkan kepalanya kasar. Dan kemudian menghela nafas dalam-dalam! membuang semua beban yang ada dalam hati dan pikiran. Kini setidaknya dia merasa lega ... sudah terlepas dari Sophia. Yang dia yakini dilanjutkan pun tak akan baik ke depannya.
Dan atas semua pertimbangan yang harus dia pikirkan membuat dia harus mengambil keputusan demikian. Sophia bukanlah yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Azam pun pasrah seandainya mendapatkan wanita yang lebih baik alhamdulillah ... tidak juga .... ya tidak mungkin juga jika Allah tidak memberikan dia pasangan lagi.
...--------...
Beberapa bulan kemudian. kehamilan Renita semakin membesar. Dan usianya kehamilannya sudah mencapai 8 bulan. Dan Renita pun sudah mulai mengurangi kegiatannya seperti di kantor yang sudah mengambil cuti hamil.
"Ini susunya jangan lupa diminum! harus diperhatikan kehamilannya, jaga kesehatannya jangan seenaknya saja! kamu itu sedang berbadan dua bukan dirimu sendiri saja!" ucap Bu Amelia sambil menyodorkan susu bumil buatannya kepada Renita.
"Terima kasih Mah, iya aku tidak pernah lupa kok." Renita sembari mengangguk dan mengambil gelas yang berisi susu bumil yang masih rutin itu ia konsumsi.
Sebab kalau lupa atau cuman diminum sedikit saja bu Amelia pasti ngomelnya bisa sekampung tahu. Dibilang kurang perhatian lah sama kehamilan, kurang menjaga kesehatan lah! seperti bayi yang tidak diharapkan lah. bikin kepala Renita pusing dan kedua telinganya merasa terbakar.
Akan tetapi sejauh ini Renita menganggap itu sah-sah aja, wajar-wajar aja! dikarenakan bu Amelia yang sudah semakin tua dan dia benar-benar menginginkan menggendong cucu dari Malik.
Setelah putus dengan Shopia dan pernikahannya pun batal, Azam semakin rutin menjemput atau menemui Rendy setiap minggunya! selalu ada biarpun hanya sekedar menemani belajar dan bermain di rumah.
"Neng ada Den Azam di luar!" ucap bibi yang baru saja menghadap pada Renita.
"Oh baik, Bu kalau begitu!" balasnya Bibi sembari mengundurkan diri kembali untuk menyuruh Azam masuk.
"Ngomong-ngomong Abang mu ke mana? nggak mungkin kan hari ini tugas?" tanya sang mama mertua mengingat putranya yang tidak kelihatan.
"Abang memang sedang keluar! katanya ada urusan sebentar mungkin sebentar lagi juga pulang!" jawabnya Renita mengingat pada sang suami yang memang sedang keluar rumah.
"Kok mama tidak tahu dia pergi, apa emang dianggap pamitan atau Mama nggak dengar!" ucapan Bu Amelia sembari meneguk minumannya.
"Kalau soal itu entah, Reni tidak tahu Mah! mungkin tadi ketika Reni masih di atas!" sambungnya Renita.
"Assalamualaikum!" suara Azam yang masuki ruangan keluarga dimana Renita dan sang ibu mertua sedang bersantai.
"Wa'alaikumus salam, eh ... Nak Azam ... silakan duduk? mau ketemu Rendy?" sambut Bu Amelia kepada Azam.
__ADS_1
Azam duduk setelah mencium tangan bu Amelia seraya berkata. "Iya, katanya kemarin mau jalan-jalan melihat melihat miniatur pesawat!"
"Oh anak itu kekeh sekali pengen jadi pilot, semoga cita-citanya tercapai ya?" Bu Amelia tersenyum penuh harap.
"Iya tante, Aamiin. Semoga cita-citanya tercapai!" balasnya Azam sembari melirik ke arah Renita yang dengan perut buncit duduk di hadapannya.
"Mungkin dia masih di atas! atau mungkin dia lupa kalau ada janji sama papanya!" timpal kembali bu Amelia sembari melihat ke arah lantai atas.
"Rendy itu ... Mah lagi renang Mah di belakang, dia tidak lupa dengan janji sama papanya kok! sebab tadi dia bilang kalau papanya akan datang dan menjemput!" lirihnya Renita sembari menunjuk ke arah belakang di mana ada kolam renang yang sedang digunakan oleh Rendy.
"Oh ... dia lagi renang ya, ya sudah aku mau ke sana dulu ya?" ucap Azam yang ditujukan kepada Renita lalu kemudian dia beranjak dari duduknya.
Renita hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa banyak berkata-kata sembari mengusap-usap perutnya.
Benar saja! tampak Rendy sangat asik bermain di kolam renang biarpun tanpa teman. Serta di tangannya membawa mainan pesawat yang seolah-olah sedang terbang di atas permukaan air.
"Dasar jagoan ku!" kepala Azam menggeleng dan bibirnya menyunggingkan senyuman dengan tatapan mata yang mengarah kepada Rendy.
Randy yang menoleh pada papanya langsung tersenyum dan berteriak. "Pah aku lagi renang dulu ya? mau ikutan nggak?"
Azam menggeleng sembari mencari keberadaan kursi untuk dia duduk! lantas kemudian Ia pun menempelkan bokongnya di kursi yang tidak jauh dari kolam renang sambil melihat putranya bermain air.
"Ach Papa nggak asik! kalau nggak mau turun, seperti papa Malik dong suka nemenin aku berenang juga!" pekiknya anak itu sembari memuncratkan air yang berada di hadapannya.
Pria yang mengenakan kemeja putih tersebut hanya tersenyum ke arah putranya yang tampak asik bermain sendiri di kolam renang.
Namun tiba-tiba ada sebuah kejadian yang tidak terduga ....
.
Bersambung.
__ADS_1