Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Pulang


__ADS_3

Setelah sekian lama dirawat di Rumah sakit, akhirnya Renita dibawa pulang dan langsung dibawa ke rumahnya Malik. Dan Malik akan mendatangkan dokter ahli tulang ke rumah, untuk merawat Renita agar istrinya itu segera sembuh dan bisa berjalan kembali seperti semula.


"Jadi ... aku akan langsung bawa ke rumah mu?" Tanya Renita pada Malik yang sedang menggendongnya dan memindahkan tubuhnya ke kursi roda.


"Iya sayang, kita akan langsung saja pulang ke rumah ku. Rumah kita, kalau kita rumah mu dulu ... berabe! tidak apa-apa kan? biar nanti sopir menjemput Rendy dari sekolahan dan membawa semua barang-barangnya ke rumah kita!" balasnya Malik sembari merapikan rok panjangnya Renita dan menutupi kakinya.


Malik sudah membayar atau mengurus administrasi dan tektek bengeknya. Dan saat ini mereka akan pulang berdua saja, karena orang tua Renita pun sudah berapa hari tidak menunggui di rumah sakit lagi. Tetapi dia di rumahnya Renita untuk mengurus Rendy yang sekolah.


Renita tidak menjawab Dia sedikit melamun, rasanya sedikit ragu bila harus pulang ke tempatnya Malik. Tapi dia tidak mungkin menolak kehendak suaminya.


"Biar nanti barang-barang sopir yang bawa, bismillah ... kita akan pulang sekarang juga, meninggalkan tempat ini yang setidaknya menjadi kenangan! di mana kita bisa menjadi suami istri?" Malik menatap seluruh ruangan tersebut dengan kedua tangan yang memegangi pegangan kursi roda.


"Gimana kabar orang yang sudah menabrak ku?" Renita Tiba-tiba mengingat orang yang sudah menabrak nya.


"Hem ... Entah, aku tidak mau tahu. Abu benci sama orang yang sudah membuat mu begini. Seandainya saja aku tahu akan kejadian nya seperti ini. Gak mungkin kamu mau tinggalkan waktu itu. Siapa tahu kita berdua atau aku yang kena--"


"Shuutttt ... jangan bicara begitu apa pamali. Justru harus bersyukur juga kalau yang kena itu cuma salah satu di antara kita. Kalau saja keduanya yang terkena insiden ... terus siapa yang akan rawat? jangan bicara seperti itu ach." Renita langsung memotong perkataan dari Malik.


"Ya ... mungkin setidaknya kejadiannya tidak seperti itu. Kadang aku merutuki diri sendiri dan menyesali, kenapa waktu itu aku meninggalkan mu!" Kenangnya Malik.


"Sudah ah jangan ngomong gitu lagi, aku ngeri aku tidak mau mendengarnya lagi. Sudah cukup keadaan ku yang seperti ini!" ucapnya Renita yang tidak ingin mendengar soalan itu lagi.


"Oke, kita tidak usah bahas itu lagi dan mendingan sekarang kita pulang!" ucapnya Malik.


Kemudian Malik pun mendorong kursi roda yang Renita duduki keluar dari ruangan tersebut, bertemu dengan suster yang mau membereskan kamar tersebut dan sopir pun masuk untuk mengambil barang-barang miliknya Renita.

__ADS_1


Malik terus berjalan mendorong kursi Renita menuju pintu. Untuk menyambungkan ke lantai dasar.


Renita malah senyumnya pada orang yang berada di aktif yang sama. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka yaitu di lantai dasar yang akan mempertemukannya dengan mobil yang terparkir di depan.


Malik mengangkat tubuh Renita lalu di dudukannya di dalam mobil, sementara kursi roda dibereskan sopir dan disimpan di dalam bagasi belakang.


"Maaf ya aku menjadi merepotkan mu," ucapan Anita setelah Malik duduk di sampingnya.


"Kenapa bilang seperti itu? apalagi sekarang aku ini suami mu. Jadi janganlah merasa sungkan ataupun tidak enak hati, dan aku sudah menyiapkan dokter ahli yang akan terapi mu di rumah. Agar kamu segera bisa jalan lagi seperti dulu." Balasnya Malik seraya merangkul bahu sang istri.


Renita menatap nanar ke arah Malik, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Iya berada di dalam kondisi seperti sekarang ini. Renita menghilang nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan begitu kasar, namun Apa yang bisa dilakukan selain sabar dan menerima keadaan.


"Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan mu seperti ini. Aku akan berusaha untuk mengobati mu bagaimanapun caranya, bila perlu ke luar Negeri sekalipun aku siap!" Malik mengusap-usap bahu Renita yang ia tarik ke dalam pelukannya.


Selang waktu di perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di kediaman nya Malik dan di sana Renita disambut oleh mamanya dan juga Shopia dengan wajahnya yang jutek itu.


"Assalamu'alaikum, Mah ..." ucapnya Renita dengan lembut, kemudian meraih tangannya setelah dia berada di teras dekat dengan sang ibu mertua.


"Wa'alaikum salam ... sebaiknya, kamu langsung masuk aja istirahat di kamar. Oh ya Rendy di mana?" ibunya Malik celingukan ke arah mobil Malik mencari buah hatinya Renita. Tetapi yang ada hanya sopir yang membawakan cover miliknya Renita.


"Rendy sekolah, Mah ... dan sekarang mau dijemput sama sopir dari sekolahnya langsung ke sini sekalian bawa barang-barangnya!" Jawabnya Malik sambil terus mendorong kursi roda Renita ke dalam rumahnya itu.


"Oh iya. Mama lupa kalau anak itu sekolah, ya baguslah kalau mau dijemput! ya sudah bawa istrimu ke dalam kamar, biarkan dia istirahat. Oh ya kamu hari ini kamu mau ke kantor apa istirahat saja!" tanya sang Ibu sambil jalan ngikuti langkahnya Malik, begitupun dengan Shopia.


"Nanti setelah makan siang aku akan kembali ke kantor! untuk saat ini ... aku istirahat aja dulu sebentar," sahutnya Malik.

__ADS_1


Karena di tangga tidak bisa menggunakan kursi roda, pada akhirnya Malik mengangkat tubuh Renita digendongnya, berjalan ke lantai atas yaitu ke kamarnya Malik berada.


Dan Malik meminta tolong sopir agar membawakan kursi rodanya ke lantai atas, setelah sopir itu menyimpan cover ke dalam kamarnya.


Ibunya Malik dan Sofia hanya bisa menatapnya. Melihat Malik yang membawa Renita dengan cara menggendongnya. Kemudian sopir pun membawa kursi roda tersebut ke atas.


"Apa seperti itu tidak merepotkan Tante? Ini baru hari pertama lho ... belum besok-besoknya, gimana dia mandi, ke toilet dan semacamnya. Apa itu tidak memerlukan orang lain termasuk Malik, gimana pekerjaan Malik di kantor!" gumamnya Shopia kepada tantenya.


Sang tante menolehkan kepalanya kepada Shopia. "Hidup adalah pilihan, kalau begitu pilihannya ... kenapa tidak? jadi jangan urusin kehidupan orang sendiri, kalau mereka bahagia! tidak jadi masalah bagaimanapun keadaannya!"


"Tapi Tante ... apa nggak kasihan sama Malik yang secara tidak langsung dijadikan budak untuk melayani semua keperluan wanita itu!" Sophia kembali berucap.


"Ini sebuah keadaan yang tidak diinginkan oleh Renita ataupun Malik, sesuatu yang tidak pernah diharapkan. Sudah tidak usah bahas itu Shopia ... masuklah, kebetulan Tante juga mau ke kamar. Belum duha." Wanita sepuh itu berjalan dengan pelan menuju kamarnya membiarkan Sophia berada di ruang tengah tersebut. Mungkin sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Uuh ... Semua orang membela dia, semua orang sayang sama dia dan sekarang aku dan juga putra aku tersisih di rumah ini!" Shopia bergumam dalam hati dan menunjukkan wajah yang sedikit kesal, karena omongannya tidak didengar oleh sang tante.


Sementara Malik dan Renita yang sudah berada di dalam kamar mereka.


"Alhamdulillah, sekarang kita sudah sampai di kamar kita. Dan inilah kamar kita sayang!" ucapnya Malik setelah membuka pintu kamar dan dia berdiri sekitar lima langkah dari pintu.


Renita menatap suasana kamar tersebut yang tampak rapi dan juga ternyata di dekor ala kamar pengantin. Dengan tangan yang masih merangkul pundaknya Malik, Renita tersenyum mengembang.


Malik kembali menatap wajah Renita yang Tengah menerbitkan senyuman serta melepaskan pandangan ke seluruh kamarnya tersebut ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... sebagai dukungan dan menyemangati aku untuk melanjutkan tulisan receh ku ini, dan aku banyak-banyak terima kasih kepada kalian semua! hingga sampai saat ini masih menjadi teman setiaku dan semoga engkau berada dalam lindungan sama Maha kuasa dan beri kemudahan dalam segala hal.


__ADS_2