Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Traveling


__ADS_3

Kini Malik dan Renita sudah berada di dalam kamar hotelnya, berdua saja karena Rendy bersama nenek dan kakeknya di kamar lain.


Malik baru saja dari kamar mandi dan setalah itu Renita yang masuk ke kamar ke mandi dan gantian.


Malik menatap tempat tidur yang bertabur dengan kelopak bunga dan sepasang angsa putih yang cantik. Bibir Malik tersenyum dan memindahkan ke meja agar tidak menghalangi tempat tidur yang akan mereka gunakan memadu kasih yang kesekian kalinya dan bukan yang pertama lagi.


“Sayang,” gumamnya Malik di saat Renita keluar dari kamar mandi dan ia sendiri sudah berbaring di atas tempat tidur yang berhiaskan kelopak bunga mawar merah.


Renita menoleh pada sang suami sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. “Hem, ada apa? apa ada yang ingin kau katakan?”


“Nggak sih ... Cuma manggil saja, oya sudah selesai ya M nya?” Malik menatap intens pada sang istri yang keramas dengan bibir yang menyungging.


“Sudah, emangnya kenapa? lagian ini kan membersihkan dari obat-obat rambut yang tadi pagi sempat di semprotkan.” Jawabnya kembali Renita.


“Oh ...gitu  ya?” Malik mengangguk lalu bangun dan mendekat, meraih tangan nya Renita yang hendak ke depan cermin dan mau memakai wewangian dan juga body lotion.


“Eeh, aku mau pakai minyak wangi nih, belum pakai body lotion dan ... belum menyisir rambut juga.” Renita merasa heran namun tidak ayal menuruti juga lalu naik ke atas tempat tidur.


“Tidak usah, sudah wangi kok ...” Malik tidak melepaskan tangan sang istri yang tampak kebingungan lalu merapikan Rambut Renita dengan tangannya.


“Gini juga cantik kok, aku sudah tidak sabar utuk traveling, apalagi sudah seminggu lebih kita tidak traveling sayang. Jadi ... aku minta malam ini juga kita bisa melepas kerinduan untuk mengeksplor yang biasa kita lakukan, kepala ku pusing banget sayang, berat⁰


“Mungkin kamu kecapean. Mau ku carikan obat?” Renita jadi khawatir kalau Malik bilang sakit kepala dan Renita pun siap mencarikan obat.


“Nggak usah sayang. Aku tidak butuh obat lain selain yang satu dari kamu.” Malik menatap lekat dan mengarahkan tangan nya ke dagu sang istri yang sedikit menunduk.


Renita pun mengangkat wajahnya seraya berkata. “Apa itu?”


“Masa gak ngerti sayang. Sudah minta di manja nih, meronta ingin di lepaskan! sudah seminggu tidak ku lepaskan dan ku kurung terus jadinya sakit kepala dan berat banget nih,” Malik merajuk dan mengeluh dengan yang dia rasakan ini.


Kedua sudut bibir Renita membentuk senyuman dan di arahkan nya pada Malik yang merengek seperti anak kecil. Ia yang duduk bersimpuh di dekatnya Malik merubah posisi duduknya serta menjulurkan kakinya ke depan, menyandarkan punggungnya ke bahu tempat tidur. Malik pun mengikuti pergerakan sang istri.

__ADS_1


“Gimana? mau mulai sekarang atau nanti?” Malik mendekat dan mendaratkan ciuman nya di kening dan kedua pipi sang istri dengan sangat mesra.


"Terserah maunya gimana dan maunya kapan! aku ngikut saja." Suara lembutnya Renita begitu sangat merdu di telinganya Malik.


Malik menyeringai dan semakin senang setelah mendapat ijin dari sang istri, membuat ia semakin melancarkan aksinya. berpetualang, menjelajah alam sekitar yang gundul maupun yang rimbun. Perhutanan yang di jaga dan tidak setiap orang bisa memasukinya.


Renita pun tidak menunjukkan penolakan sedikitpun. Dia pasrah dengan kemauan nya Malik yang ingin bertraveling di tempat-tempat yang dia suka. Dari mulai menggapai ketinggian dan berselancar di sana. Mengeksplor daratan dan perairan yang tidak luput dia jelajahi dan menjadi penikmatnya indahnya alam tersebut.


Malam yang semakin larut, dingin dan menyelimuti tubuh. Menusuk ke dalam tulang. Namun menambah kesyahduan yang di rasakan oleh sepasang manusia yang sedang menikmati indahnya malam, karena dinginnya malam ini justru mereka rasakan begitu panas membakar jiwa.


Renita membiarkan Malik menjelajah tempat-tempat wisata semalaman, tanpa jeda dan lelah. Sehingga paginya badan mereka khususunya Renita terasa remuk dan sakit. Bagai di malam pertama saja sampai lupa waktu.


...-------------...


Setelah beberapa bulan kemudian. Azam sudah lebih dekat dengan Rendy, hubungan mereka pun lebih membaik. Kini Azam pun tinggal di sebuah apartemen! sehingga dia pun sering mengajak Rendy bermain ke sana malah tak ayal di ajaknya menginap.


“Pah, Rendy mau menginap ya di sini, boleh ya?” pintanya Rendy pada sang ayah.


“Papa telepon saja, Papa Malik nya ya Pah ...” Rendy menyuruh Azam untuk menelpon Malik untuk meminta ijin menginap.


Azam pun langsung mengambil ponselnya dan menelpon Malik. Tidak lama kemudian ... telepon Azam pun di angkat yang kebetulan suara yang mengangkatnya adalah Renita.


Azam langsung memberikan ponselnya pada sang buah hati. Dan Rendy pun menyambutnya, langsung bicara sama sang bunda.


“Bunda-Bunda, Rendy mau menginap ya di papa, kan besok libur sekolah. Boleh ya?” Rendy penuh permohonan.


“Maaf sayang ... jangan sekarang ya, menginapnya! lain kali saja ya. Sekarang Bunda nggak ada temennya. Papa Malik ke luar kota. Jadi pulang saja ya?” suara Renita dari ujung telepon dan menyuruh Rendy untuk pulang saja.


Setelah dilarang sang bunda untuk menginap. Rendy tampak lesu tapi anak itu dengan cepat ceria kembali dan mengerti dengan alasan sang bunda. “Papa ... Rendy mau pulang saja.”


“Lho ... bukannya mau menginap di sini?” Azam menatap lekat pada buah hatinya tersebut.

__ADS_1


"Papa Malik, kan. Sedang keluar kota jadi bunda nggak ada temennya! makanya Rendy nggak boleh menginap di sini, Papa ..." jelasnya Rendy menggunakan sepatunya.


"Emang mau pulang sekarang?" tanyanya Azam sembari menatap pada putranya yang sudah siap-siap untuk pulang.


"Iya Pak. Sekarang aja pulangnya nanti keburu kemalaman!" Rendy berdiri dan meraih tangan papanya agar segera di antar pulang.


"Oh baiklah kalau begitu. Papa mau ngambil kunci dulu ya sebentar!" Azam mengambil kunci motornya dari kamar.


Lantas setelah mengantongi kuncinya, Azam menuntun Rendy meninggalkan kamar apartemennya.


Selang berapa puluh menit kemudian. Rendy pun sudah tiba di kediamannya Renita dan Malik. Rendy langsung turun berpamitan pada papanya.


Kebetulan hari pun sudah sangat gelap dan waktu pun menunjukkan pukul 07.00 malam.


"Pah Rendy masuk dulu ya! Sampai jumpa lagi!" Rendy melambaikan kedua tangannya kepada Azam.


Di teras sudah berdiri Renita yang menyambut kepulangan putranya. "Sayang, ayo masuk? sudah malam!"


"Iya Bunda ..." anak itu gegas menoleh pada sang bunda.


"Maaf ya ... kali ini Bunda nggak izinkan Rendy menginap tempat papa! soalnya di sini bunda nggak ada temennya, Rendy kan tahu kalau papa Malik sedang keluar kota!" ungkapnya Renita sambil menatap pada putranya.


"Iya Bunda hari ini juga minta maaf, lupa kalau Papa sedang tidak ada di rumah." Rendy menonjok dalam.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah, tidak lupa.mengunci pintunya nya rapat-rapat.


Sementara Azam setelah Rendy dan bundanya masuk ke dalam rumah, dia langsung membawa motornya melesat dari kediaman tersebut dan hendak kembali ke apartemennya.


Sampai saat ini dia belum memikirkan lagi perihal berumah tangga, apalagi dia masih banyak cicilan yang harus dia bayar. Setelah berumah tangga dengan Sharon kemarin, yang meninggalkan hutang yang cukup lumayan besar ....


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya agar aku tambah semangat terima kasih.


__ADS_2