
Hari ini Rosita pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari Rosita di rawat dan luka-lukanya sudah mulai mengering, kini dia bisa mengasuh lagi kedua putrinya yang masih kecil-kecil itu.
"Rendy. Makasih ya Abang sudah mau jagain Popi Syifa selama Mama di rumah sakit. Mama nggak tahu kalau seandainya Rendy nggak jagain mereka mungkin mereka hanya dijagain sama bibi saja, sementara nenek kan sakit-sakitan seperti yang Rendy tahu. Terima kasih ya!" Rosita menatap lekat pada Rendy.
"Iya, Ma ... sama-sama. Lagian kebetulan Abang kan nggak terlalu sibuk kuliahnya, jadi bisa bolak-balik sini!" balasnya pemuda tampan itu sembari menunjukkan senyumnya yang menawan bikin hati gadis tertawan.
"Iya, sekali lagi Mama ucapkan terima kasih ya, Rendy sudah perhatian sama adik-adiknya! tolong bilang juga terima kasih mama sama bunda dan papa Malik yang sudah perhatian sama mama." Tambah Rosita kepada Rendy kembali.
"Iya, Mah ... nanti Rendy sampaikan sama Bunda, oya nanti malam juga mau pulang ke sana," balasnya sambil mengambil kan mainan punya Syifa yang kini berada di pangkuan sang mama. Dia tampak kangen sama mamanya yang setelah berapa hari tidak bertemu karena anak-anak memang tidak dibawa ke rumah sakit untuk menemui mamanya selama di sana.
"Kenapa pulang? nggak nginep lagi saja di sini?" suara sang Papa yang baru saja mendudukan dirinya di atas sofa.
Rendy mengalihkan pandangannya ke arah sang papa. "Kebetulan hari ini Rendy ada tugas menggunakan laptop dan laptop Rendy berada di rumah Bunda, nggak ada di sini!"
"Kalau Randy mau ... kan ada laptop Papa punya mama juga nganggur nggak pernah dipakai." tambahnya Azam sambil memeluk Popi yang glendotan manja.
"Nggak ah, punya Rendy aja nanti di rumah!" lanjut anak itu sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan Azam juga Rosita beserta anak-anaknya. "Rendy mau ke kamar dulu."
Sejenak Azam memandangi punggung putranya yang berjalan cepat menaiki anak tangga. Lalu kemudian mengarahkan pandangannya pada sang istri yang sedang menciumi Syifa. "Alhamdulillah, sekarang kamu sudah pulang!"
"Iya, Mas. Alhamdulillah sekarang aku bisa menjaga lagi kedua putriku!" Rosita mengangguk pelan dan menolehkan kepala pada sang suami.
"Lain kali ... lebih berhati-hati lagi kalau mau berbuat sesuatu, bila perlu minta tolong aja sama orang lain. Kalau sekiranya kamu tidak mampu--"
"Itu bukan tidak mampu, Mas ... tapi itu memang musibah, emangnya mas pikir aku sehari dua hari jaga di warung kopi? bertahun-tahun, Mas ....tapi nggak pernah kerjain seperti itu baru kali itu saja!" Rosita langsung memotong perkataan suaminya.
__ADS_1
"Iya-Iya ... pokoknya hati-hati saja lah dan aku tidak mau sampai itu kejadian lagi!" tekannya Azam kepada Rosita.
"Iya, Mas ... insya Allah nggak akan kejadian lagi seperti itu." Rosita tersenyum lalu sedikit memundurkan kursi rodanya mendekati sang suami. "Aku juga minta maaf, kalau aku sudah ngerepotin kamu!"
"Bukannya merasa direpotkan Sayang ... tapi aku ini khawatir, panik ... sebab apa yang bisa kamu lakukan, aku belum tentu bisa melakukannya." Balasnya Azam sembari menyentuh tangan sang istri dengan lembut.
"Ih ... Papa dan Mama pacaran, nggak boleh. Nanti yang ketiganya setan, setan itu jahat lho!" celetuknya Popi sambil menatap tanpa ekspresi ke arah kedua orang tuanya.
Azam dan Rosita saling bersi tatap, bibirnya pun tersenyum mendengar ucapan Putri sulungnya tersebut, yang tengah menatap mereka berdua. Kemudian anak itu berlari ke ruang bermain yang sudah disediakan.
Azam menyentuh pipi Rosita di belainya dengan sangat lembut, lalu dia memberikan kecupan yang mesra di kening dan di kedua pipinya. "Ehem. Jadi ingin ngasih nafkah nih, sudah beberapa hari ada seminggu ya. Aku tidak ngasih nafkah!"
"Bagaimana kamu ngasih nafkah, lagian aku gak bisa belanja. Nggak bisa ini itu. Sementara aku di rumah sakit," ucap Rosita yang pura-pura tidak tahu dengan maksud nya Azam.
"Bukan itu maksud aku, memang iya juga sih ... karena kamu di rumah sakit juga. Mau gak. Aku ngasih nafkah, hem?" manatap dalam dan lembut pada wajah istrinya tersebut.
Azam menatap sang istri yang hanya diam saja dan menunduk malu, lalu menoleh ke arah putri kecilnya yang sedang bermain boneka, membuat Azam mengerti. "Kamu pasti kepikiran anak-anak masih berkeliaran ya? takutnya nanti kalau kita sedang asik-asiknya anak-anak mengganggu! Oke lah kalau begitu, nanti saja kalau anak-anak sudah tidur, hah ... di tahan lagi."
Rosita menatap ke arah sang suami yang tampak kecewa, yang harus menunda kemauannya itu. tangan Rosita mengusap tangan Azam sambil di ciumnya. "Begitu lah! kalau udah punya anak yang tidak bisa dianggap dunia milik berdua, he he he ...."
Kedua sudut bibirnya Azam mengembang membentuk senyuman, cuph. Kecupan kecil mendarat di pucuk kepala Renita, lalu di usapnya dengan penuh kasih sayang. Walau dalam otaknya terbayang wajah Renita.
Azam berusaha untuk membuang bayangan itu dari pikirannya yang memenuhi ruang kepalanya tersebut. Memang tidak sepantasnya dia memikirkan terus Renita yang sudah menjadi mantan dan bahagia bersama pria lain, begitupun dirinya bisa bahagia dengan wanita lain seperti sekarang ini.
Sehabis magrib dan juga sudah salat, Rendy pun berpamitan kepada Azam dan juga Rosita, kalau dia mau pulang ke rumah Bundanya yaitu Renita. Tidak lupa berpamitan juga pada kedua adiknya Poppy dan Syifa.
__ADS_1
"Eh, bocil ... jangan nakal-nakal ya? kasihan Mama ya! besok bermain lagi sama Abang, oke!" ucapnya Rendy sembari berjongkok dan mengusap kedua kepala adik-adiknya itu yang langsung mengangguk mengerti.
"Mah, Pah. Aku pulang dulu ya?" Pamitnya Rendy sembari meraih tangan keduanya bergantian yang ia cium punggungnya penuh hormat.
"Baiklah hati-hati ya? jangan ngebut bawa motornya ingat!" Pesan sang ayah sembari menepuk-nepuk pundak putranya.
"Iya, Papa ... aku nggak akan ngebut, paling melaju cepat saja he he he ..." ucapnya sambil terkekeh membuat papanya menggelengkan kepala.
"Dasar anak nakal, ya sudah hati-hati sana!" lagi-lagi pesan Azam pada putra semata wayangnya yang langsung ditimpali oleh sang istri.
"Papa itu benar, kamu harus hati-hati bila berkendaraan lihat kanan kiri. Jangan sampai kejadian sesuatu yang tidak diinginkan. Tubuh kamu kan harus mulus jika kamu menjadi pilot, bukan sembarangan! hidup tak terkendali." Tambahnya Rosita yang ditujukan kepada Rendy.
"Iya Mah ... Rendy pasti, terima kasih atas perhatian kalian berdua." Lalu anak itu pun pergi meninggalkan Azam dan Rosita setelah mengucapkan salam sebelumnya.
Kini Rosita dan Azam sudah berada di meja makan dan Rosita sibuk menyuapi kedua putrinya, karena anak-anak itu minta disuapin sama mamanya. Setelah sekian hari mereka jauh dari mamanya.
Azam pun yang sedang menikmati makannya sesekali melihat ke arah sang istri dan kedua buah hati. Sementara Rosita sendiri nggak sempat menyuap untuk dirinya sendiri. Saking sibuknya ngurus kedua anaknya itu.
Padahal piringnya sudah tersedia nasi dan lauk pauknya. Tapi belum sempat terus kita sentuh sama sekali dengan tangannya yang terus menyuap ke mulutnya Poppy dan Syifa.
"Angh! sayang, buka mulutnya?" Suara Azam dengan sendok ditangan, menyuruh Rosita membuka mulutnya. Sementara dia yang menyuapi. Agar sang istri tidak kehilangan waktu untuk makan.
Sesaat Rosita menatap kepada sendok yang berada di udara yang berisi nasi dan lauknya, juga ke arah Azam silih berganti lalu kemudian dia pun membuka mulutnya.
Prekk!
__ADS_1
.
Bersambung.