Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tidak mandul


__ADS_3

"Kamu sayang. Sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa kursi roda?" Malik menatap sang istri yang tersenyum padanya.


Renita mengangguk pelan dan dia dengan perlahan melangkahkan kedua kakinya, mendatangi Malik seraya mengulurkan tangannya kepada pria tersebut yang langsung disambut.


"Alhamdulillah sekarang aku bisa berjalan biarpun 2-3 langkah." ungkapnya Renita sembari memeluk Malik.


"Syukurlah sayang, itu yang aku harapkan. Dan kamu harus lebih semangat lagi ya untuk terapi, biar lebih baik lagi." Balasnya Malik seraya mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Sementara waktu keduanya saling berpelukan, bagaimanapun keduanya merasa bahagia dengan perkembangan Renita yang sekarang sudah mengurangi duduk di kursi rodanya.


Kini Renita bisa makan bersama di meja makan. Putra dan keluarganya Malik. Sang ibu mertua Sophia dan kebetulan malam ini ada kakaknya Malik yang bernama Mbak Yusnawati.


"Malik. Katanya ... Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kamu, gimana sudah ada tanda-tandanya belum nih?" tanya mbak Yusnawati yang ditujukan kepada Malik.


"Ya nggak tahu Mbak, kan aku nggak hamil yang kemungkinan hamil kan istri aku he he he ..." Malik tersenyum garing mendengar pertanyaan dari sang kakak demikian.


"Terus gimana kamu Ren ... sudah ada tanda-tanda belum?" kini Yusna melirik ke arah Renita.


Renita sejenak terdiam seraya mengunyah makanannya yang berada di mulut. "Em ... sepertinya belum Mbak."


"Program dong ... kalau belum ada tanda-tandanya, lagian kan Rendy sudah besar wajar lah kalau dia punya adik dia kan Rendy mau kan punya adik baby ..." Yusna mengarahkan pandangannya pada Renita dan Rendy.


"Ya ampun ... perasaan aku nggak mandul kok, mungkin Allah belum waktunya saja memberikan momongan padaku dan Malik secepatnya." Batinnya Renita tanpa dia ucapkan pada yang bersangkutan.


"Rendy mau punya adik, Tante. Rendy mau punya adik baby perempuan biar lucu kayak boneka." Sahutnya Rendy.


"Mandul kali Mbak, makanya belum ada tanda-tandanya!" Celetuknya Shopia.


Dengan refleks Malik, Renita dan juga ibunya Malik menoleh ke arah Shopia.


"Kamu nggak perlu ngomong seperti itu, Shop. Aku dan Renita belum lama menikah, 2 bulan juga belum! kok bisa sih bilang seperti itu?" Malik menggelengkan kepalanya dia merasa kesal Shopia tiba-tiba bilang seperti itu.

__ADS_1


"Dan kita sendiri tidak ada latar belakang mandul, jadi nggak mungkin kalau Malik pun seperti itu. Jangan sembarangan bicara ach, pamali," ibunya Malik pun protes kepada Shopia.


"Tapi kalau tes kesehatan, apa salahnya juga. Tiada salahnya lho kalau mereka tes kesehatan subur atau enggaknya, untuk jaga-jaga!" tambahnya Mbak Yusna.


Renita hanya mengatakan bibirnya, terdiam dan tidak ingin menjawab perkataan dari Shopia maupun saran dari mbak Yusna. Dia melihat ke arah Rendy putranya.


"Sayang udah kan makannya?" tanya Renita kepada Rendy.


"Sudah Bun, Rendy dah kenyang dan juga sudah habis!" Anak itu langsung turun setelah meneguk minumnya, lalu membawa piring dan gelasnya ke dalam wastafel dan setelah itu dia pergi entah ke mana.


"Kalau soal periksakan kesehatan ... itu pasti, tapi sepertinya tidak sekarang. Mungkin ... Allah belum waktunya untuk memberikan momongan, ya ... namanya juga masih baru, Siapa tahu Allah memberikan kita di bulan-bulan yang akan datang! sabar aja lah dulu bukankah kalau sudah rejeki kita tidak akan ke mana," ujarnya Malik yang ditujukan kepada mbak Yusna.


"Iya Mama juga sabar kok, mbak mu aja yang ngomongnya gitu amat." Kata sang ibu mertua sembari melihat ke arah Renita yang sudah lebih banyak terdiam.


Kemudian Renita membereskan semua piring bekas makan semuanya dan Bibi yang membereskannya.


Karena Malik merasa kalau lebih lama berkumpul mungkin akan mengganggu suasana hati Renita sehingga dia berinisiatif untuk mengajaknya ke atas saja.


"Aku harap, kalau ada kata-kata yang menyinggung! jangan diambil hati ya? namanya juga keluarga," ucapnya Malik selalu istrinya yang sudah berada di atas tempat tidur.


Renita mengusap tangan Malik yang tengah memeluknya. "Aku tidak apa-apa kok. Aku juga ngerti dengan perasaan mama yang ingin segera menimang cucu dari kamu, dan aku tidak tersinggung sama sekali dengan omongan Shopia ataupun Mbak Yusna."


"Terima kasih sayang, kamu orang yang pengertian. Lagian kalau menurut aku ... mungkin belum waktunya Allah ngasih kepercayaan itu. Dan mungkin juga memberi kesempatan aku untuk menikmati masa-masa pacaran kita, iya gak?" Malik naik turunkan alisnya.


"Hem ... mungkin juga." Balasnya Renita.


Hening ...


Di dalam keheningan Malik mulai melakukan perjalanan, ya siapa tahu aja perjalanannya kali ini akan membuahkan hasil. Sesuatu yang mungkin diharapkan oleh keluarga dan juga dirinya.


Malik melakukan pendakian yang lebih tinggi, mencari lembah atau danau kecil yang indah memanjakan mata untuk membenamkan dirinya di sana. Mencari ketenangan dan kesenangan yang selalu bergelayut dalam hati untuk merasakan traveling yang memanjakan jiwanya.

__ADS_1


Sebagai istri Renita pun mengikhlaskan suaminya untuk mendapatkan kesenangan yang dia mau, dan ia pun berusaha agar suaminya mendapat kepuasan dalam melakukan perjalannya.


Angin malam yang semilir lembut menyapa kulit, membawa rasa sejuk mengusir rasa panas yang mendatangkan kebahagiaan bagi yang sedang merasakan kesenangan, saling menggenggam satu sama lain dan memberikan rasa nyaman dan tentram.


Setelah itu Malik langsung ngorok, menjemput mimpi. Dan Renita menatap Wajah pria itu dengan sebuah senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Menatap pria yang berusaha untuk membahagiakannya.


Kemudian Renita menghela nafas dalam-dalam lalu mengembuskan nya dari hidung sembari memeluk Malik, dia mengingat gimana nasibnya Ajam sekarang ya?


Kata Jefri sih, Azam sekarang sudah berpisah dari Sharon dan wanita itu sudah diceraikan, katanya lagi sekarang Azam tinggal sama orang tuanya. Sudah tidak punya apa-apa! mobilnya pun sudah dijual untuk berobat.


Dan katanya lagi ... Azam pun sudah dipecat dari perusahaan nya tempat dia bekerja, karena dia sudah korupsi. Atau menggelapkan uang sekian ratus juta dari perusahaan, makanya dia dipecat dikeluarkan dari perusahaan.


"Ya ampun ... kasihan juga ya nasib mu sekarang Mas!" Gumamnya Renita dalam hati sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Malik, menempelkan pipinya di dada bidang Malik yang terbuka yang sedang tidak memakai baju.


"Huam ..." beberapa kali Renita menguap dia merasa ngantuk dan akhirnya kedua manik matanya pun terpejam.


Malam semakin larut, beranjak menyambut pagi yang akan menggantikan sang malam. Dinginnya pagi ini seakan menusuk ke dalam tulang, kicauan burung-burung terdengar mengalun merdu, embun yang bergenang di daun bak permata yang berkilauan.


Malik mengajak Renita berjalan-jalan di taman menyambut pagi yang indah, dan Malik menemani berjalan menapaki rumput yang berembun. Rendy pun ikutan, sebelum dia bersiap untuk sekolah.


Dan setiap hari Rendy memang diantar jemput oleh sopir sekolahnya. Terkadang juga memang ditunggui sama supirnya Malik.


Begitulah Rendy setiap harinya, selalu di antar jemput atau ditungguin sama sopir, namun terkadang juga ditungguin sama neneknya karena Feni yang waktu itu mengasuhnya, tidak kembali lagi. Katanya sih mau menikah.


"Eh pangerannya Papa, mau ikut jogging atau olahraga?" tanya Malik ketika melihat Rendy mendatangi mereka.


"Hooh. Sebelum bersiap sekolah kan Bun, ya Pah!" jawabnya Rendy sambil menggerak-gerakan kedua kakinya.


Renita dan Malik tersenyum dan saling melempar pandangan. melihat anak itu tampak semangat untuk berolahraga, namun tiba-tiba terdengar suara riuh dari dalam rumah ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Apa kabar reader ku semua, semoga baik-baik saja ya. Dan terima kasih banyak sampai detik ini kalian masih mengikuti ku, Padahal kalau dipikir-pikir aku ini ratunya typo. Is the best lah buat kalian semua.


__ADS_2