Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Olah raga


__ADS_3

Azam kaget dengan mobil yang mendekatinya sehingga Azam pun hentikan langkahnya dan melepas pandangan pada mobil tersebut yang keluarlah dua orang bertubuh besar dan tegap.


"Bayar hutang mu segera!" suaranya sala satu orang tersebut dengan suara yang menggelegar.


"Hutang apa? aku tidak mengerti dan aku tidak mempunyai hutang pada mu!" jawabnya Azam merasa kebingungan.


"Jangan pura-pura, kamu berhutang banyak pada perusahaan dan kau harus bayar secepatnya, kalau tidak mau terjadi sesuatu pada mu!" bentak sala satunya, dia merasa kesal karena Azam seolah melupakan hutangnya.


"Sa-saya bu-bukan ... Tidak mau bayar, ta-tap saya ... nggak ada duit untuk membayarnya!" suara Azam terpatah-tah tatkala orang yang besar tinggi itu mencengkram bajunya ke depan.


"Jangan banyak alasan kalau tidak mau terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan, kheck." Orang yang satunya seolah-olah memberi kode akan memotong lehernya, membuat Azam sangat ketakutan.


Lutut Azam lemas, tubuh bergetar dan keringat dingin langsung. Shock dengan kedua orang tersebut.


Dugh ....


Hekkkkh ....


Pukulan hangat mendarat di dadanya Azam sehingga tubuh pria itu sempoyongan menahan sakit yang berujung rasa mual menyerang.


Lalu kedua orang itu pun kembali memasuki mobilnya setelah penuh ancaman kepada Azam. Kemudian mereka pun pergi bersama mobilnya.


Azam berjongkok, menahan sakit, untung pukulan itu tidak kena perut yang bekas luka kemarin.


"Ooh ..." lenguhan kecil lepas dari mulutnya.


Tatapan nya menyapu orang-orang yang berlalu lalang. Dan tidak perduli dengan sekitar termasuk dirinya yang kini berjongkok di tepi jalan.


"Aku pulang gimana? oh iya, aku telepon Jefri saja." Azam merogoh sakunya mengambil ponselnya beberapa kali menelpon Jefri tapi tidak tersambung.


...----------------...


"Saya harap kamu mengerti dengan saya katakan ini, setiap gerak-gerik mu di rumah ini dapat saya pantau! makanya berhati-hati lah!" ucap Malik sambil menatap tajam pada Shopia yang tertegun.


"Saya tau setiap yang kamu lakukan di rumah ini termasuk kau berbuat jahat pada istri dan anak ku!" tambahnya Malik semakin jelas.


Perasaan Shopia menciut. Dan mengerutkan keningnya. "A-apa maksud mu? aku tidak melakukan apa pun!"


"Tidak usah mengelak, karena aku tidak butuh pengakuan mu, hanya yang saya ingin tahu adalah ... apa. Maksud mu melakukan itu pada istri dan anak ku?" tanya Malik sambil melipat tangan di dada.


"A-aku tidak melakukan apapun pada anak dan istri mu, kamu jangan fitnah aku setelah kamu punya istri, setelah kau tidak lagi prioritaskan aku dan Genta." Elak Shopia tidak mengakui apa yang pernah dia perbuat.


"Apa, kau dan Genta tidak menjadi prioritas ku lagi? hem, apa kau sudah tidak punya uang dan aku biarkan kebutuhan kalian! apa ku biarkan kalian kelaparan di rumah ini?" tanya Malik dengan nada datar.

__ADS_1


"Em, kamu kasih uang kok. Cuma--"


"Cuma apa? kai itu sepupu ku bukan istri ku, jangan macam-macam terhdap mereka berdua lagi. Sebab mereka berhak tuk tinggal di rumah ini, camkan itu!" Malik menunjuk ke arah Shopia.


"Yank?" panggil Renita yang berdiri di dekat pintu kamarnya menatap ke arah Malik dan Shopia.


"Iya sayang," Malik menoleh pada Renita dan langsung menghampiri sang istri.


"Em ... ada yang ingin ku katakan." Renita masuk ke dalam kamar bersama Malik.


"Apa sayang?" Malik merangkul pinggangnya Renita dari samping.


"Itu, Sheila agak terlambat datang ke sini nya. Dia tadi ada tugas mendadak dari kampus katanya." Renita menjelaskan soal adiknya.


"Aku tidak masalah, tapi pasti datang kan?" Malik mencium pipi istrinya.


"Insya Allah datang ... cuman terlambat saja!" balasnya Renita sambil mesem dan memegangi tangan Malik yang merangkulnya.


"katanya sih temen aku juga mau datang sekarang. Tapi belum datang juga mungkin masih di jalan!" ucapnya Malik sambil menarik sang istri ke atas sofa.


Shopia mematung di tempat dengan perasaan yang kesal, marah. Tidak habis pikir bercampur menjadi satu. Shopia sama sekali tidak tahu kalau di rumah itu terpasang cctv.


"Dia tahu dari mana, apa dia cerita? atau ... di sini ada cctv?" kepala Shopia mendongak melihat ke atas dinding yang mungkin ada cctv nya.


"Assalamu'alaikum ..." ucapnya pria itu yang tiada lain dan tidak bukan adalah Dion temennya dari Malik.


"Wa'alaikumus salam, silakan masuk, Den ..." Bibi langsung menghampiri dan menyilakan tamunya masuk.


"Makasih Malik nya ada?" tanya sama kamu sambil berjalan memasuki ruang tamu dan duduk di sana.


"Den Malik ada sebentar bibi panggilkan," Bibi langsung ngeloyor untuk memanggil kan Malik dan berpapasan dengan Shopia.


"Siapa Bi?" selidiknya Shopia kepada Bibi yang berjalan melintasinya.


"Tidak tahu Non, Bibi juga baru melihatnya mungkin temennya Aden!" jawabnya Bibi sambil kembali terus berjalan mendekati anak tangga.


Di kamar, Malik tengah bermain-main dengan Renita dan hampir saja berolah raga sore. cuma di gagalkan dengan suaranya bibi yang sembari mengetuk-ngetuk pintu.


Tok ....


Tok ....


Tok ....

__ADS_1


"Den ... di bawah ada tamu sedang menunggu Aden!" suara bibi sambil mengetuk pintunya.


"Ck, bibi ... kenapa gak nanti saja sih? ketuk pintunya. Ganggu saja orang mau olah raga juga." Gerutu Malik sambil terduduk dan mengenakan kaosnya.


"Sabar ... jangan marah-marah. Lagian nggak tahu waktu sih, hi hi hi ..." Renita mesem sembari memeluk Malik dari belakang.


"Cuph, cuph. Cuph!" Malik mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri juga keningnya Renita dengan mesra.


"Ya sudah, lihat dulu. Siapa yang datang! mungkin temen kamu itu." Renita mendorong dada Malik dengan perlahan.


"Iya, sayang ..." Renita beranjak dari duduknya lalu meninggalkan wanita sendiri di kamar.


Bibi Renita maulah senyuman lagi punggung Malik yang berjalan melintasi pintu. Kemudian Ia pun merapikan pakaiannya yang kusut dan berantakan, lantas perlahan berjalan untuk menyusul Malik.


Malik melebarkan langkahnya ke lantai dasar dan menemui temannya yang langsung berdiri.


"Sudah datang," Malik mengulurkan tangannya.


"Sudah lama aku tidak ke sini. Pangling aku, Oya. Mana istri mu?" tanya Dion sambil menempelkan bokongnya di atas sofa.


"Ada. Masih di atas!" Malik menunjuk ke atas. Kemudian Malik berdiri kembali setelah melihat sang istri mau menuruni anak tangga.


Dian menatap ke arah Malik yang dengan sigap menjemput sang istri ke atas. Bibirnya pun menerbitkan sebuah senyuman ke arah Renita yang juga melirik tersenyum ramah.


"Istri Malik sangat cantik dan berkerudung, adiknya pun pasti cantik!" Dion menghela nafas dalam-dalam seraya berkata dalam hati.


"Assalamu'alaikum," Renita tersenyum ramah pada Dion setelah berada di hadapannya.


"Wa'alaikumus salam ... apa kabar?" Dion mengulurkan tangannya pada Renita.


Namun Renita hanya menyambut dengan menyatukan kedua tangan di depan dadanya. "Baik, Alhamdulillah ... silakan duduk."


"Jadi dia istrimu? dan yang ingin kamu kenalkan padaku adiknya?" tanya Dion kepada Malik dengan tatapan penasaran.


"Iya benar, ini istri ku namanya Renita. Dan sayang ... dia teman aku namanya Dion, yang ingin aku perkenalkan sama Sheila!" Malik melihat ke arah Dion dan Renita bergantian.


"Ooh, cantik! pasti adiknya juga cantik." Dion mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Tentu, istri aku sangat cantik. Adiknya juga pasti cantik dan insya Allah akan sebaik kakaknya." Malik tersenyum dan melirik pada sang istri.


Renita menunduk malu. "Jangan bicara seperti itu, nggak enak. Memuji-muji begitu."


"Memang istri aku sangat cantik dan yang ingin aku kenalkan sama Dion adiknya yang tidak kalah cantik, iya kan?" Malik mengulum senyumnya.

__ADS_1


"Eeh ... anak siapa itu?" pada kedua anak yang tengah bermain di lantai yang tiada lain adalah Rendy dan Genta ....


__ADS_2