
Sharon berjalan di pinggiran jalan, di bawah sinar remang-remang. Bagai orang linglung, kebingungan dengan kondisi yang ada. Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk hari esok dan seterusnya juga yang paling penting juga adalah bayar kontrakan.
"Kemana aku harus cari uang untuk makan dan bayar rumah, gak mungkin aku bawa mereka tidur di kolong jembatan, atau aku ... pulang saja ke rumah ibu kali ya." Gumamnya Sharon sambil berjalan gontai.
Langkah Sharon yang tanpa tujuan terus melangkah di pinggiran jalan, orang yang berpapasan hanya melihatnya dengan dingin.
"Aiwh ..." tiba-tiba Sharon memekik seiring tubuh yang terjatuh di tengah jalan. Dia sedang melamun sehingga tidak sadar menyebrang dan kesenggol sebuah mobil Yamaha berwarna putih.
Sehingga pengemudinya langsung menghentikan mobilnya tersebut, kemudian keluar dengan terburu-buru menghampiri si korban yang sudah lebih dulu di kerumuni orang-orang yang berada di sana.
"Makanya mengemudi itu pakai mata! biar nggak ada korban! seenaknya saja. Emangnya ini jalan nenek moyang Lo apa?" pekik seorang warga.
"Orang nya saja yang nyebrang sembarangan, jangan nyalahin orang lain juga!" timpal nya warga yang lain.
"Gimana keadaannya? saya akan bawa ke rumah sakit kok, saya akan bertanggung jawab!" kata si pengemudi yang tampak panik dan gugup, bagaimanapun dia takut kalau orang yang dia tabrak itu kenapa-napa dan juga dia takut dengan warga yang terkadang lebih ganas untuk menghakimi.
Akan tetapi Sharon hanya terpental saja dan yang lecet hanya kedua lututnya dan siku tangan sebelah kanan yang sempat menumpu tubuhnya. Serta kepalanya sedikit pusing.
Sharon pun langsung dibawa ke mobil tersebut dan mau dibawa ke rumah sakit terdekat, warga yang mengantarkan hanya satu orang saja yang ikut masuk mobil itu.
Wanita itu terus merintih kesakitan, karena lututnya emang lecet dan juga sikunya juga.
"Aduch, aduch sakit." Rintihnya Sharon yang duduk di jok belakang.
Namun dalam pikirannya Sharon tetap teringat pada masalah yang tengah dia hadapi dan bergejolak dalam hati, sesekali menatap pria yang sedang membawa mobil Yamaha tersebut.
"Mudah-mudahan aku dapat duit, setidaknya buat makan besok! malahan aku juga lapar dari pagi belum makan!" gumamnya Sharon dalam hati.
Setibanya di rumah sakit terdekat, Sharon pun langsung dibawa untuk mengobati luka-luka nya sekaligus dikasih obat karena Sharon bilang dia pusing-pusing.
"Ini obatnya ya Bu obat sakit kepalanya, jangan lupa diminum ya Bu. Dan ini juga obat luarnya, takutnya lutut dan siku Ibu kena infeksi nantinya!" Kata bapak-bapak yang menemani Sharon dan menebus obatnya kalau uang tentunya si pemilik mobil yang bertanggung jawab.
"Oh iya makasih ya Pak, makasih banget," ucapnya Sharon sambil mengambil obat dari si bapak.
"Kalau nyebrang itu hati-hati Mbak ... Jangan melamun masih mending Mbak kenapa-napa, coba kalau Mbak lebih parah dari ini ... semua juga berabe Mbak." Kata si pria yang membawa mobil Yamaha tersebut dengan sedikit nada kesal.
__ADS_1
"Maaf Mas, saya tadi melamun dan rasanya berasa tidak sedang menyebrang gitu, merasa berjalan di pinggir saja, sekali lagi saya minta maaf Mas?" Sharon berulang-ulang meminta maaf.
"Kalau soal minta maaf, aku juga minta maaf Mbak! aku juga salah mungkin aku juga lalai." Timpalnya si pria tersebut, orangnya manis tampilannya juga rapi. Enak juga dipandang mata.
Lalu kemudian mereka pun keluar dari rumah sakit, kembali ke dalam mobil yang tadi. Dan mereka pun bertanya di mana tempat tinggalnya Sharon.
Dan Sharon pun langsung memberikan alamatnya, namun sebelum mengatakan Sharon, si pria itu berniat untuk mengantarkan si bapak, warga tadi yang menemani mereka ke rumah sakit. Setidaknya ke tempat tadi mereka bertemu.
Kini di mobil hanya berdua saja yaitu Sharon dan pria tersebut, sesekali saran melihat memandangi pria itu dari kaca spion yang berada di atas kepalanya.
"Hem, wajahnya manis juga dan usianya lumayan masih muda kayaknya. Kira-kira dia masih lajang nggak ya? kalau masih lajang mau ku pepet! tapi kalau sudah beristri Rasanya nggak deh, kecuali untuk nyicip-nyicip doang." Batinnya Sharon sambil terus memandangi Wajah pria tersebut.
"Oh ya Mbak! namanya siapa? kalau nama aku ... Jono." Pria itu yang bernama Jono bertanya akan namanya Sharon dan langsung menyebutkan namanya sendiri.
"Oh iya nama aku Sharon! Makasih ya Mas mau mengantarku dan juga mengajak ku berobat! jadi malu! padahal ini cuma kesalahan aku sendiri hi hi hi ..." ucapnya Sharon diakhiri dengan ketawa kecil.
"Oh ... Mbak Sharon! nggak apa-apa lah, Mbak. Kita berdua sama-sama salah kok dan itu sudah tanggung jawab saya juga untuk mengobati Mbak!" sambungnya si Jono sambil melirik melihat ke arah Sharon yang berada di belakangnya.
"Iya, jadi nggak enak hati nih!" timpalnya lagi Sharon dengan nada manja dan menggoda. Penampilannya yang agak seksi.
Jono yang melihat ekspresi wajah Sharon yang tampak kebingungan tentunya bertanya. "Mbak kenapa kok tampak kebingungan seperti itu? kalau nanti Mbak kenapa-napa. Terus mau berobat lagi hubungin aja saya, nanti saya akan membayarnya!"
"Saya merasa bingung, karena kedua lutut saya sakit. Sementara besok saya nggak bisa berjualan. Sementara saya di rumah punya dua anak yang harus saya hidupi!" Sahutnya Sharon dengan lirih.
Jono menautkan kedua alisnya. "Mbak jualan, jualan apa?" sembari memerankan laju mobilnya.
"Saya jualan gorengan ataupun punya tetangga. Dan pendapatannya pun tidak menjamin. Saya sudah berusaha mencari pekerjaan lain tapi nggak diterima," ucapnya Sharon sembari menggaruk tengkuknya.
"Em ... Suami Mbak--"
"Suami saya sudah meninggal berapa tahun silam, jadi kedua anak saya anak yatim!" Siaran langsung memotong perkataan dari Jono.
"Oh ... jadi Mbak ditinggal meninggal sama suaminya?" selidiknya kembali Jono.
"Iya Mas itu betul sekali." Sharon mengangguk.
__ADS_1
"Semoga aja orang ini nggak pernah mengenal ku, maksudku ... nggak pernah melihatku ketika viral di media sosial waktu itu, tapi itu kan sudah lama sekali. Kemungkinan sudah lupa tapi cuman tetangga-tetangga aku aja di kampungnya begitu! yang nggak pernah lupa!" monolog Sharon dalam benaknya.
"Oh ... Kasihan juga ya!" gumamnya Jono Seraya menghentikan mobilnya karena permintaan Sharon biarpun agak jauh dari rumahnya. Tapi Sharon meminta mobil tersebut berhenti saja.
"Iya, Mas. Kasihan banget aku! mana sudah tidak punya keluarga cuman ibu dan jauh juga. Nggak punya rumah, kerjaan pun gak mapan, komplit lah sudah penderitaan ku." Rajuk nya Sharon.
"Ngomong-ngomong kenapa berhenti di sini Mbak bukannya alamatnya masih jauh?" Jono menoleh dan menatap heran.
"Karena kontrakan ku nggak bisa masuk mobil, Mas. Paling bisa motor doang jadi biar saya jalan saja nanti." Sharon sedikit menggerakkan kakinya lalu merintih kesakitan.
"Kenapa Mbak?" tanya Jono yang mendengar Sharon merintih. Kemudian Jono pun berpindah duduk nya masuk ke pintu belakang dan duduk di sampingnya Sharon yang memegang kedua lututnya.
"Rasanya perih, Mas dan pegal-pegal. Padahal aku mau turun!" akunya Sharon sembari memegangi kedua kakinya.
Tanpa ragu Jono pun menyentuh kakinya Sharon bergantian sedikit dipijatnya. "Semoga dengan pijatan saya ... kaki Mbak merasa lebih baik. Sayang sekali ya rumah Mbak nggak bisa masuk mobil, jadinya saya nggak bisa ngantar dengan mobil, kalau masuk kan enak, nggak harus jalan jauh!"
Sharon terdiam sembari menatap wajah pria tersebut yang begitu dekat dengan wajahnya. Sehingga hembusan napasnya pun terasa menyapu di kulit wajah Sharon.
Dengan perlahan menggerakkan tangannya merangkul pundaknya Jono. Pria itu tampak gugup tapi bibirnya tersenyum senang. Apalagi ketika Sharon berbisik dengan kata-kata.
"Mas perlu service nggak? saya siap kok nemenin. Mas, biarpun semalaman dan soal harga bisa negosiasi! sebenarnya saya butuh uang buat bayar kontrakan dan juga makan, saya gak mau berhutang karena hutang itu wajib dibayar! jadi sebagai bayarannya--" Sharon menggantungkan perkataannya seiring dengan jari telunjuk Jono menempel di bibirnya Sharon.
"Emang berapa bila semalaman? dan bila service Mbak memuaskan! saya pasti akan memakai jasa Mbak sesering mungkin!" selidiknya Jono Seraya menatap dengan sangat lekat kepada Sharon.
"Tapi Mas jangan mikir yang macam-macam ya! saya hanya menawarkan diri pada Mas! tidak pada semua pria," akunya Sharon meyakinkan.
Jono menatap dengan tatapan yang mulai nakal.
"Dan saya melakukan ini demi anak-anak saya juga! kalau Mas setuju ... 500.000 semalam. Saya jamin Mas akan puas, tapi sebelum subuh saya harus sudah pulang! kasihan anak-anak saya menunggu!" Tambahnya Sharon.
Yang langsung saja mendapat persetujuan dari Jono, melihat dari penampilan nya saja sudah tergoda apalagi ditawarin ....
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya agar aku tambah semangat terima kasih.
__ADS_1