
Sharon sedang berada di sebuah cafe dengan Jono yang baru saja datang.
"Kamu sudah lama menunggu ya. Sorry macet." Kata Jono sambil mendudukan dirinya di kursi berhadapan dengan Sharon.
"Iya, tidak apa-apa kok." Jawabnya Sharon sambil menunduk berwajah sendu.
"Kamu kenapa berwajah sedih kayak gitu, apakah ada masalah? seperti orang susah aja he he he ..." Jono sekenanya saja bicara.
"Memang aku orang susah! dan aku lagi sedih. Aku di usir dari kontrakan, dan hari kemarin aku pindah dari tempat yang lama ke tempat yang baru dan belum bayar juga." Ungkap Sharon dan ekspresi wajah yang sedih.
"Kenapa belum bayar? kontrakan itu kan kita harus bayar sebelum masuk!" Jono menatap tajam ke arah Sharon.
"Gimana mau bayar? orang nggak pegang duit, kemarin aku pegang duit sisa ongkos jalan-jalan mencari kontrakan sana-sini itu Rp 250, tadinya kan buat bekal makan tuh uang sehari-hari, eh di ambil sama Ibu kontrakan Rp 200 sebagai uang muka katanya. Akhirnya ku pegang rp50.000 habislah ... buat makan aja nggak cukup. Haduh ... pusing pala baby."
Jono menatap ke Sharon seraya menghela nafas dalam-dalam. "Berapa sebulannya kontrakan yang sekarang?"
"Perbulannya yang sekarang ... rp1.500.000 rumahnya lebih besar dari kemarin dan juga barang-barangnya lengkap! aku dari kontrakan lama nggak bawa apa-apa selain pakaian dan peralatan sekolah. Kebetulan di kontrakan yang sekarang perabotan dapur pun ada televisi jug ada!" ujar Sharon kembali.
"Ngomong-ngomong kenapa diusir, kamu sering dapat duit dari aku! masa nggak bisa bayar kontrakan?" Jono menganggap kalau Sharon tidak membayar kontrakan makanya diusir.
"Ya ampun ... aku baru bayar kontrakan 5 hari yang lalu untuk satu bulan ke depan, dan aku di usir bukan gara-gara bayaran. Ibu kontrakan pun nggak masalah kok apalagi bayarannya bener. Akan tetapi aku diusir sama warga yang anggap aku bekerja tidak benar, apalagi ada warga di sana yang suka iseng sama aku. Ma-maksud aku iseng merayu begitu!" Sharon langsung meralat omongannya.
"Kerjaan yang mana? bukannya berdagang gorengan itu kerjaan halal?" Jono menautkan alisnya.
"Em, bukan soal berdagang gorengan. Tetapi soal kita ... mungkin mereka ada yang tahu kalau kita sering jalan, entahlah pokoknya aku diusir dari sana dan bukan Ibu kontrakan yang mengusir aku. Tetapi warganya!" Sharon menggelengkan kepalanya.
Jono mengerutkan keningnya, kemudian menyesap minumnya sedikit demi sedikit. "Jadi sekarang kamu butuh duit?"
"Tentu! ibu kontrakan bilang kalau dalam 2-3 hari ini akan datang lagi mengambil uang kontrakan! dan aku bingung! sampai sekarang aku belum pegang uang, buat makan pun nggak ada!" jawabnya Sharon menatap penuh harap kalau Jono bisa menolong dirinya.
__ADS_1
"Baiklah ... berapa yang ku butuhkan sekarang?" tanya Jono dengan nada serius. "Oh iya ngomong-ngomong terus anak-anak mu sekolahnya gimana?"
"Aku nggak tahu, karena lokasi sekolahnya semakin jauh! dipindahin ... repot lagi!" wajah Sharon menunjukkan kalau dia sedang kebingungan.
"Walaupun jarak jauh, kalau seandainya masih bisa ditempuh ya kenapa tidak daripada anak-anak tidak sekolah?" Jono menggoyangkan kedua bahunya. Dia peduli juga dengan pendidikan anak-anak Sharon.
"Iya juga sih, nanti ku pikirkan lah. Sekarang aku sedang mencari loker dulu! aku ada niatan untuk mencari kerja di restoran kerjaan yang lebih baik dan keuangannya bisa diandalkan!" ucapnya Sharon sambil memakan hidangan yang ada di meja.
"Oh ya kamu belum jawab berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Jono kembali.
"Saat ini aku butuh uang sekitar 2 juta. Buat bayar kontrakan sisa 200 itu, terus ... sisanya buat sehari-hari!" Sharon pun menyebutkan nominal uang yang dibutuhkan.
Jono menghembuskan napasnya melalui hidung. Kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil sejumlah uang sesuai yang Sharon pinta. Sebelumnya ia hitung kembali.
"Ini uangnya anggapnya sebuah pinjaman dan harus kamu kembalikan, dan bayarannya kamu sudah tahu itu." Jono memberikan uang itu kepada Sharon.
"Makasih, makasih banget ya Jon! kamu sangat baik dan aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikanmu biarpun ini sebagai pinjaman yang harus aku bayar, sekali lagi Makasih ya?" Sharon mengangkat tubuhnya dan mencondongkan, sehingga dia bisa menjangkau wajahnya Jono dan mengecupnya.
Sepersekian detik kemudian mereka pun check out dari tempat tersebut, menuju mobilnya Jono yang berada di parkiran.
Pria itu menutup pintu mobilnya setelah Sharon berada di dalam, dan barulah dia mengitari mobil tersebut lantas duduk di belakang kemudi, melaju meninggalkan area cafe yang barusan yang mereka tempati.
...----------------...
Di Bandara, Renita dan Rendy sedang menunggu kepulangan nya Malik setelah berapa hari berada di luar kota.
"Kok lama ya, Bun? apa pesawatnya belum mendarat juga?" tanya Rendy dengan wajah yang tampak gelisah.
Renita yang tengah duduk tersenyum simpul. "Belum Sayang, bentar lagi. Kok nggak sabar sih pengen ketemu Papa apa menunggu oleh-olehnya?"
__ADS_1
"Kangen sama papa dan juga kangen oleh-olehnya hi hi hi ..." jawabnya Rendy sambil terkekeh sendiri.
"Rendy kayak anak kecil aja ach, sudah besar lho ... dah SD." Kata Renita sembari menggelengkan kepalanya dengan bibir yang tersenyum mengembang.
"Biarin, biarpun masih SD kan masih anak-anak!" jawabnya sambil berjalan maju mendekati dinding kaca yang tembus pandang sehingga dapat terlihat bila pesawat mendarat.
"Wah ... lapangannya besar sekali muat berapa pesawat ya Bun? pasti banyak, luasnya ... kanan kiri depan belakang!" gumamnya anak itu sembari melepaskan pandangan keluar.
Dan Renita hanya tersenyum saja melihat ke arah putranya yang tampak antusias sekali, melihat pemandangan di area bandara.
"Bun, seandainya Rendy menjadi pilot ... berarti Rendy nanti bawa pesawat juga ya? dan Rendy akan ajak Bunda, Papa jalan-jalan ke mana ... saja, tanpa harus bayar!" gumamnya kembali tanpa menoleh pada sang Bunda.
Renita hanya mengarahkan pandangannya pada anak itu seraya berkata dalam hati. "Aamiin."
"Aku akan mengajak Bunda sama Papa jalan-jalan ke luar Negeri, ke Eropa ... ke Asia. Berlibur ke mana saja yang Bunda mau, mungkin nggak ya Bun aku menjadi pilot?" kini kepala Rendy menoleh pada sang Bunda yang sedari tadi tidak ada suaranya dan hanya dia saja yang berceloteh.
"Tentu bisa, apapun bisa! asalkan Rendy giat belajar, sekolah yang bener dan belajar yang serius biar pintar, rajin. Jujur dan juga banyak berdoa insya Allah cita-cita Rendy akan terkabulkan, yang penting doa dan usaha!" ujar bundanya.
Anak itu terdiam dan kembali melihat ke arah luar. Tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah mendadak mendung. Dan gerimis pun mulai turun membasahi area Bandara.
"Ya ... hujan, Bun! apakah cuaca akan buruk dan apakah akan mengganggu pendaratan pesawat, Bun?" Rendy kembali menoleh pada sang Bunda.
Sesaat Renita terdiam dan pandangannya lepas jauh keluar. Dalam hati memanjatkan doa, semoga semuanya lancar dan tidak ada halangan apapun yang menjadi kendala pesawat yang membawa suaminya untuk pulang.
"Insya Allah tidak, doain aja ya. Semoga semuanya lancar dan Papa pulang dengan selamat!" ucapnya Renita yang sebenarnya dalam hati merasa was-was, gusar ataupun cemas.
"Tentulah, Bun. Aku doakan semoga Papa pulang dengan selamat." Kata anak itu dengan pandangan yang terus lepas ke area bandara.
Sementara cuaca di luar bisa dikatakan semakin buruk dan hujan pun semakin deras jatuh membasahi bumi ....
__ADS_1
.
Bersambung.