
"Silakan kamu cari buktinya, Mas. Dan aku nggak takut ketahuan, karena kamulah yang memulai ini semua dan aku akan bermain cantik di belakang mu Mas." Gumamnya Yusna setelah suaminya berada di dalam kamar mandi.
Anto yang berada di dalam kamar mandi, terus saja berpikir! siapa yang sudah memecahkan kaca mobilnya. Sementara security dan penjaga perkiraan pun tidak mengetahui kejadian tersebut, lagi-lagi kepalanya Anto menggeleng tidak habis pikir.
...-------...
Suatu hari Anto mendapat laporan rekaman CCTV yang memutar kejadian mobilnya Yang dirusak sama orang yang tidak dikenal. Namun rekaman itu tidak cukup menjelaskan siapa orang tersebut, karena dia memakai hoodie hitam dengan kepala pun ditutup dengan kepala Hoodie nya.
Kalau dari gerak-geriknya sih seperti seorang wanita, tapi tidak bisa memastikan juga siapakah wanita tersebut yang sudah nekat merusak mobil Anto dengan batu.
Dengan perasaan deg-degan Yusna memandangi rekaman CCTV tersebut yang ada di ponsel suaminya saat ini. "Siapa itu Mas? kamu ada main kali sama perempuan! makanya dia berbuat seperti itu!"
Anto melirik ke arah Yusna dengan muka yang mendadak pucat pasih. Ketika sang istri bilang kalau dirinya ada main sama perempuan. "Mana ada? nggak mungkin aku berbuat seperti itu, aku ini pria yang setia kamu jangan juga seperti itu! nanti menjadi doa."
"Aku 'kan cuman bertanya apa mungkin kamu ada main dengan perempuan! sehingga perempuan itu merusak mobilmu!" ucapnya lagi Yusna sambil menatap curiga.
"Iya, tapi sama aja dengan mencurigai ku! mana mungkin aku berbuat yang macam-macam, aku nih udah punya istri punya dan anak dua!" elaknya Anto sambil menggeleng dan tidak mau mengakui itu, walaupun dalam hatinya dia sadar dengan yang dia lakukan bersama Shopia.
"Ya ... kalau kamu tidak merasa! nggak usah tersinggung juga." sambungnya Yusna.
"Jangan bicara yang macam-macam. Saya tidak suka, seenaknya saja bicara!" kata Anto sambil pergi meninggalkan istrinya.
Yusna menatap datar ke arah Anto yang pergi begitu saja meninggalkannya. "Hem, aku akan buat kamu lebih dari ini. Jika kau tidak punya apa-apa, apakah gundal mu itu masih mau sama kamu."
Yusna pun beranjak dari tempatnya. Kemudian membawa langkahnya yang entah kemana.
...-------...
Azam dan Malik saat ini sedang berada di warung kopi, sambil memperhatikan Rosita.
"Gimana menurut mu?" tanya Azam sambil menyeruput kopinya dan melirik ke arah Malik yang juga sedang menikmati secangkir kopi buatan Rosita.
"Kalau menurutku sih. Oke! apalagi dengan kelihatannya ... dia orangnya gigih, semangat nya tinggi apapun keadaannya dia terus mau berjuang dan berusaha! aku rasa ... baik!" kepala Malik manggut-manggut.
"Jadi kamu dan Renita akan setuju dong ... kalau seandainya aku menikah sama dia?" tambahnya Azam.
__ADS_1
"Kalau soal setuju dan tidak setujunya, ya ... pasti kami setuju setuju saja! apalagi kecocokan 'kan yang merasakan kalian berdua. Jadi sebenarnya kami hanya bisa mendoakan! semoga saja kalian berjodoh, adalah jodoh yang terbaik dan yang terakhir!" ucapnya Malik.
"Terima kasih! dan aku rasa sih ... Rendy juga cocok sama dia--"
"Oya, Rendy pernah ketemu dia. Tapi dia nggak pernah cerita lho sama kita berdua, biasanya apapun dia cerita gitu! tapi ini nggak." Potong Malik kepada Azam.
"Iya, pernah dan aku ajak dia ke rumahnya yang tidak jauh dari sini. Bahkan kemarin dia bilang sama saya, Pah kapan ke rumahnya tante Rosita lagi, katanya. Sementara saya nggak enak kalau dia diajak malam-malam apalagi ke warung kopi kayak gini. Sedangkan Rosita sendiri tiap hari ya seperti ini sore sampai jam 09.00 atau 09.30 di sini kerja! di warung ini dan siangnya dia mencuci! sementara siang kita yang sibuk." Ujarnya Azam.
"Apakah kalian akan nambah lagi kopinya? atau cemilannya!" tanya Rosita yang menghampiri.
"Makasih, Mbak! tapi ini masih cukup kok gampang lah!" balasnya Malik dengan senyuman yang ramah.
"Oh ya, kenalkan Rosita ... ini suaminya mantan istri aku namanya Malik." Azam mengenalkan Rosita kepada Malik.
Keduanya saling mengangguk lalu berjabat tangan.
"Malik," ucap Malik pada Rosita.
"Namaku Rosita!" balasnya Rosita dengan lirih.
"Alhamdulillah, lama." Jawabnya Rosita sambil mengangguk.
"Saya salut dengan Mbak yang begitu semangat menghadapi hidup! dalam keadaan apapun mau bekerja!" tambahnya Malik kepada Rosita yang hampir saja mau mengembalikan kursi rodanya untuk meninggalkan mereka.
Rosita menghela nafas dalam-dalam. "Bukankah bagaimanapun keadaan kita, kehidupan pun akan terus berjalan! tidak berhenti begitu saja. Begitupun saya yang tidak bisa berpangku tangan demi terus menjalani hidup."
"Hebat Mbak, semangat mbak menjadi motivasi. Untuk yang lainnya! kalau hidup itu harus semangat dan kuat juga tidak bergantung pada orang lain." Malik begitu salut pada wanita yang berada di hadapannya dan duduk di kursi roda tersebut.
"Tapi rasanya ... saya tidak seberapa bila dibandingkan yang lain di luar sana, banyak orang yang lebih dari kondisi yang aku alami ini, dan dia tatap bisa melanjutkan hidupnya! mencari nafkah tanpa dia meminta-minta pada orang lain!" tambahnya Rosita.
Beberapa saat kemudian Rosita pun berpamitan untuk melanjutkan lagi pekerjaannya. Sekalian saja Azam juga Malik pun berpamitan untuk pulang.
"Oh ya Mbak, lain kali datanglah ke rumah bersama. Mas Azam! kami akan merasa senang dengan kedatangan Mbak ke rumah kami!" kata Malik pada Rosita.
"Saya?" Rosita menunjuk hidungnya sendiri yang merasa diundang oleh Malik.
__ADS_1
"Iya Mbak, lain kali sama Mas Azam datang ke rumah! istri saya juga pasti akan merasa senang ketemu dengan Mbah Rosita." Tambahnya Malik.
Rosita dan Azam saling bertukar pandangan dengan bibir yang mengulas sebuah senyuman.
"Saya dan mas Azam sudah seperti keluarga sendiri, dengan mantan istrinya ataupun istri saya seperti keluarga jadi tak ada namanya canggung atau gimana-gimana. Apalagi kan antara kami ada anak jadi sebisa mungkin kita harus menciptakan pertalian keluarga yang lebih dekat." Lanjut Malik.
Rosita mangut-mangut! dia jadi teringat sama Rendy yang kemudian dia bergumam dalam hati. "Oh jadi putra Mas Azam tinggalnya sama bunda dan papa sambungnya ini, dan hubungan mereka begitu akrab! aku salut sama mereka, hubungannya nagai sahabat!"
"Oke, Mas pulang dulu ya! baiklah lain kali Mas akan jemput untuk bersilaturahmi ke rumahnya Abang Malik ini." Pamit Azam sambil menepuk bahunya Malik juga.
"Iya." Rosita mengangguk sambil tersenyum.
Azam dan Malik pun pergi setelah membayar kopi dan hidangannya dan keduanya Rosita tatap dari kejauhan.
"Ayo mau pilih yang mana? ke dua-duanya ... sepertinya orang yang baik!" kata si Ibu warung.
"Ach Ibu bisa aja, yang satunya sudah punya istri Bu. Dan dia adalah suami dari mantan istrinya Mas Azam, apa itu namanya madu atau apa sih Bu?" menatap ke arah Ibu warung.
"Oh istrinya Azam itu menikah lagi dengan pria yang itu, gitu maksudnya?" tanya si Ibu warung dan mendapat balasan dengan anggukan dari Rosita.
"Pasti anak laki-laki tempo hari itu putranya ya?" tanya si Ibu warung kembali.
"Benar, Bu ... dan putranya itu tinggalnya sama bunda juga papa sambungnya." Jelas Rosita.
Malik dan Azam yang sudah berada di dalam mobil, mulai merayap meninggalkan tempat tersebut dan yang pertama mau dikunjungi adalah rumahnya Malik. Untuk mengantarkan Malik lebih dulu. Sebab dia tidak membawa mobil karena dirinya lah yang menjemput Malik.
Selang sekitar 20 menit mobil Azam pun memasuki garasinya kediaman Malik. Disambut oleh Rendy.
"Kalian dari mana sih, kok aku nggak diajak? tega nih ... Papa," Rendy menatap ke arah keduanya bergantian.
"Papa habis ngantar Papa Azam yang menemui calon istrinya!" jawabnya Malik sambil berjalan memasuki teras.
"Calon istrinya ..." Rendy menjadi bengong ....
.
__ADS_1
Bersambung.