
"Itu, tuh. Jefri ... ibu-ibu itu memang ku balita yang sering dipangku oleh Mas Azam!" Renita sangat antusias dan menunjuk ke arah seorang ibu yang keluar dari pintu rumah tersebut.
"Itu, Mbak?"
"Iya, itu ibu yang memangku balita, balitanya yang sering dibawa dan dipangku sama Mas Azam," jawabnya Renita.
"Bunda, Bunda lihat apa sih? sama Om!" celetuknya Rendy yang sedang makan es krim, dia duduk manis di atas jok motor.
"Nggak ... sayang, ini urusan Om sama bunda aja!" balasnya Jefri sambil melirik ke arah Rendy.
Anak itu terdiam kembali seraya menikmati es krimnya dan juga beberapa makanan yang ada di hadapannya tersebut.
"Terus, sekarang kita mau gimana Mbak?" tanya Jefri kepada Renita yang terus memandangi ke arah rumah yang diyakini adalah rumah Sharon.
"Kita berteduh di warung sana aja yok!" ajanya Renita sembari menuju ke arah warung yang ada di sekitar sana. "Tapi kita ke masjid dulu lah! kita kan belum salat ashar!"
"Di mana emang ada masjid? nggak kelihatan Mbak." Kata Jefri sembari celingukan mencari letak nya masjid.
"Gampang, Dek ... kita kan tinggal nanya sama orang warung, tuh banyak orang juga yang seliweran!" kata Renita sembari menunjuk orang-orang yang sedang berjalan.
"Oh iya, lupa Mbak he he he ..." Jefri nyengir, lalu mendorong motornya mendekati warung.
Dan bertanya kepada orang-orang di sekitar warung menanyakan sebuah masjid, dengan mudahnya mereka mendapatkan info lokasi masjid yang memang tidak jauh dari area tersebut dan mereka pun langsung capcus menuju masjid.
Setelah melaksanakan salat ashar. Mereka pun keluar dari masjid.
"Emangnya mas Azam, jam berapa pulang dari kantor?" tanya Jefri sembari memakai sepatunya.
"Sekitar jam 16.00 sore juga pulang!" jawabnya Renita singkat.
"Bunda-Bunda, kok aku berapa hari ini nggak ketemu sama papa ya? kangen Papa. Papa nggak ada nyusul kita ke tempat oma dan opa!" celetuknya Rendy sembari mendongak pada sang Bunda.
Sejenak Renita dan Jefri terdiam dan saling menatap, memikirkan jawaban apa yang harus di berikan.
Kemudian Jefri berkata. "Mungkin papa nya lagi sibuk ... jadinya nggak ketemu sama Rendy deh ... nanti kalau nggak sibuk bilangin, jangan sibuk-sibuk! Rendy mau main sama papa ya? bilangin gitu ya?"
__ADS_1
"Oke, Om. Nanti Rendy bilangin, Rendy marahin! kenapa sih Papa sibuk-sibuk mulu, sampai nggak ada waktu buat Rendy!" suara anak itu sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Ya jangan kesel-kesal juga. Nanti juga Papa pulang kok ... gak mungkin selamanya di luar." Tambah Jefri.
Mereka pun Kembali ke tempat tadi dan memilih duduk-duduk warung yang tidak jauh dari rumahnya Sharon.
Ketika baru saja mau duduk di sebuah warung, sambil memesan minuman teh manis netra nya Jefri melihat sebuah mobil yang melintasi warung tersebut.
Dan meluncur masuk ke halaman rumah yang sedang jadi pusat perhatian Renita dan Jefri, yang diyakini adalah rumah perempuannya Azam.
"Mbak-Mbak, itu mobil mas Azam bukan?" suaranya Jefri pelan sembari sedikit menunjukkan mobilnya Azam.
Renita pun yang sedang menerima beberapa gelas teh manis! langsung menoleh ke suatu tempat! yaitu arah rumahnya Sharon kemudian Renita mengangguk seraya berkata "Iya."
"Kurang ajar! biar aku samperin dia," Jefri bersiap nyamperin Azam.
"Eeh jangan, Jefri jangan-jangan ya? jangan! nanti aja dulu ... kita tunggu dulu waktu yang agak tenang! sekarang dia baru datang, kita nggak tahu yang akan dilakukannya di dalam." Renita langsung menarik tangan Jefri mencegahnya pergi.
"Tapi Mbak ..."
Sejenak Jefri memandangi ke arah Kakak ipar nya tersebut. Dia tahu benar kalau perempuan itu berusaha tegar! berusaha kuat padahal hatinya rapuh.
Kedua manik matahari Renita berkaca-kaca memandangi suaminya keluar dari mobil tersebut, dan mendatangi rumah itu.
Lantas Renita mengeluarkan ponselnya yang kemudian dia mencoba untuk menelepon Azam, yang langsung tersambung. Dan dari jauh pun terlihat Azam berhenti di depan pintu seperti menerima sebuah telepon.
Kemudian Renita berkata di ujung telepon tersebut. "Mas, kamu berada di mana? aku mau pulang."
Dan jawaban dari Azam. "Aku masih berada di kantor dan mungkin akan telat pulang."
Degh.
Dada Renita semakin sesak dibuatnya air matanya hampir saja tidak dapat dibendung! buru-buru dia mendongak dan sebisanya menghadang air bening itu agar tidak tumpah juga membasahi pipi, tangannya menyimpan ponsel ke dalam tas.
Jelas-jelas berada di depan mata, berkilah sedang di kantor.
__ADS_1
Jefri menatap kasihan pada sang kakak ipar seraya bertanya. "Gimana Mbak?"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Jefri, Renita menghela nafas dalam-dalam hingga berapa kali, dia berusaha untuk tenang. Berusaha untuk kuat dan berusaha untuk tegar. "Katanya dia masih di kantor dan akan terlambat pulang!"
"Brengsek Emang, yang di situ siapa? yang barusan masuk itu siapa? kalau bukan mas Azam." Gumamnya Jefri dengan suara pelan agar tidak membuat gaduh pengunjung warung.
Sementara Rendy, dia tengah asik menikmati teh manis beserta roti dan makanan ringan lainnya.
"Mbak gak tahan pengen masuk ke sana! tapi bagaimana dengan Rendy? masa harus ikut!" suara Renita bergetar dengan nada pelan.
Beberapa kali Jefri menghembuskan napasnya melalui mulut, seolah-olah ingin mengosongkan semua udara dari perutnya.
"Gini aja Mbak, gimana kalau diajak saja lah. Rendy belum tentu mengerti kok--"
"Nggak akan mengerti gimana? semua itu akan melekat dalam memorinya!" Renita memotong perkataan Jefri.
"Iya terus gimana? membiarkan mereka, gitu? kita harus tahu kebenarannya, Mbak!" rahang Jefri mengeras, tangannya pun mengepal. Rasanya dia sudah gatal ingin memukul sang kakak yang banyak berbohong kepada istrinya.
Tampak Renita menarik nafas yang begitu berat ... sekali, kemudian akhirnya dia memutuskan. Oke datang ke sana dan membawa sang buah hati apapun yang terjadi, karena nggak mungkin dia menitipkan nya di warung tersebut.
Akhirnya Renita dan Jefri memutuskan untuk mendatangi rumah tersebut dengan Rendy yang digendong oleh Renita, serta langkah yang terburu-buru hingga dengan cepat berada di depan pintu rumah tersebut. Sejenak manik mata mereka mengawasi mobil Azam yang nangkring itu.
"Bunda-Bunda, ini kan mobil papa. Kenapa ada di sini?" Rendy menatap heran pada mobil papanya yang berada di sana.
"Sssstttt ... Rendy jangan berisik ya? di dalam ada yang bobo, nanti ada yang terganggu! kan kasihan." Kata sang bunda, dan anak itu mengerti sehingga dia menutup mulutnya.
Keduanya mengucapkan salam dengan suara pelan! namun di rumah itu tampak sepi dan sunyi.
Lantas tanpa ragu Jefri mendorong pintu tersebut dengan perlahan! yang kebetulan tidak dikunci dan di dalam rumah itu pun kosong tak ada satu pun orang yang berada di sana! Renita dan Jefri saling bertukar pandangan sejenak.
Mereka terdiam dan memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan dukungan lainnya ya makasih banyak
__ADS_1