
Malik memeluk erat Rendy dan menggerakkan tangannya naik turun mengusap punggung putra sambungnya tersebut seraya menghela nafas yang panjang Malik pun berkata.
"Semua yang Papa lakukan untuk kamu dan juga bunda itu sudah kewajiban, Papa sebagai suami dan juga Ayah, yang jelas jika semuanya dah rampung dan kamu bisa menggapai semua cita-citamu itu, sebuah kebanggaan yang sangat-sangat istimewa buat Papa, sebuah kebahagiaan yang tidak terhingga bagi Papa dan Bunda khususnya," tangan Malik terus mengusap punggung Rendy dengan lembut.
Malik pun tidak bisa berkata-kata lagi, yang dia bisa lakukan saat ini adalah memeluk Putra sambungnya itu dengan penuh kasih sayang dan perasaan yang campur aduk. Terlihat Renita mengusap dua sudut matanya yang berair dan rasanya memanas ingin mengeluarkan lahar bening yang banyak dari bendungannya.
"Keinginanmu untuk menjadi pilot Papa dukung sepenuhnya dan Papa akan terus berusaha membantumu agar dapat bisa meraih cita-citamu itu. Janji ya! nanti kalau sudah kamu dapatkan, janganlah kamu sia-siakan. Jadilah orang yang amanah orang yang bertanggung jawab, dan orang yang pandai menghargai semua yang sudah kamu perjuangkan dan selama ini!" ucap Malik yang langsung dibalas dengan anggukan kecil oleh Rendy.
"Aku akan selalu ingat pesan Papa juga bunda dan tidak akan pernah aku lupakan yang selama ini selalu menjadi pedoman untuk aku, di dalam hidup ku!" menggerakkan tubuhnya menoleh ke arah sang Bunda pergantian dengan Malik.
Di dekat tangga, baru saja turun Alena berdiri dan menetap ke arah mereka bertiga. "Wah ... ada sungkem-sungkeman nih, perasaan belum lebaran udah masuk sungkeman aja. Mana aku nggak diajak-ngajak lagi, diajak-ngajak kek, bukan membiarkan aku jadi patung yang hanya bisa mengedipkan mata!"
Renita menoleh ke arah putri kesayangan nya. "Sini dong Sayang."
"Ada apa sih, kok kayaknya sedih-sedih kayak begini. Kayak orang mau pisah jauh aja?" kata Alana sembari membawa langkahnya mendekati mereka bertiga.
"Kamu itu tidak akan tahu dan tidak akan merasakannya, tapi nanti kalau sudah waktunya kamu akan mengerti!" ucap Rendy pada Alena yang mendudukan dirinya di samping bunda.
"Em ... emang aku nggak ngerti, tapi tahu sih ... udahlah aku nggak mau melo-melo gitu. Ngapain cengeng, cengeng nah ..." Alena langsung beranjak kembali dari duduk dan meninggalkan, Malik, Rendy dan juga Renita.
"Sebaiknya, Rendy Minta doanya juga sama papa dan mama Rosita, agar semua urusan Rendy dilancarkan," lirih Renita sembari mengusap bahu putranya penuh kasih dan sayang.
"Aku sudah kok, Bun sudah bicara sama papa dan mama, dan Papa sudah transfer uang untuk keperluan aku sampai wisuda nanti. Jadi bunda sama Papa di sini nggak usah khawatir, soalnya aku sudah punya bekal untuk berapa bulan ke depan, ya ... Terkecuali kalau ada kepepet aku pasti minta sama papa dan Bunda!" Rendy mengangguk mengingat dia memang sudah bicara dengan Azam dan sudah mendapatkan transferan uang.
Malik sedikit mengerutkan keningnya. "Oh, ya sudahlah nggak apa-apa. Kalau Papa Azam sudah memberimu uang dan nanti kalau kurang ... bilang aja sama bunda atau Papa di sini, siapa tahu ada keperluan yang mendadak."
__ADS_1
"Nanti aku pasti ngomong kalau aku butuh! ya sudah, sekarang aku mau ngerjain tugas dulu dan Besok pagi-pagi aku harus berangkat juga sorenya entah pulang atau enggak, tapi Bunda sama papa nggak usah khawatir ya. Karena aku bukan kelayapan tapi emang keperluan!" Rendy menatap ke arah Bunda dan papanya yang mengangguk mengerti.
"Iya hati-hati aja ya! dan jangan lupa memberi kabar biar Bunda dan Papa di sini nggak khawatir, jangan lupa juga dengan kewajibanmu sebagai umat muslim di manapun kamu berada!" lagi-lagi Renita berpesan bahwa Rendy harus menjadi orang yang taat dan bertanggung jawab.
Rendy mengangguk lalu mengecup kening bunda nya, lantas berdiri dan meninggalkan tempat itu membiarkan papa dan bunda nya berduaan.
.
.
Azam mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia merasa kalau waktunya sudah mepet untuk menghadiri acara wisudanya putra sulungnya. Rendy.
"Mas, tolong tenang dan jangan ngebut begini. Aku takut, ngeri, Mas ..." Rosita tampak gelisah dan wajahnya tampak tegang sekali melihat suaminya yang tampak tidak sabar. Ingin segera sampai.
"Kita sudah terlambat sayang. Acaranya pasti sudah di mulai, sementara aku ingin menyaksikan dia diwisuda. Ini yang sangat aku tunggu-tunggu, sayang ... dan dia meminta aku untuk datang, menyaksikannya--"
"Sayang ... nggak akan ada apa-apa dan berdoa saja, aku tidak ingin terlambat dan aku ingin menyaksikan putra aku di wisuda--"
Jiussssssh.
Brok-brek-brakk ....
Mobil yang Azam dan Rosita tumpangi terseret hingga berapa puluh meter dari tempat sebelumnya jungkil-balik hingga beberapa kali dan pandangan mereka berdua pun mendadak gelap lantas tidak sadarkan diri.
.
__ADS_1
.
.
Malik dan Renita tampak duduk dengan tenang di barisan kursi dan menyaksikan para mahasiswa dan mahasiswi di wisuda, namun lain lagi dengan wajah Rendy yang tampak tegang, dia dia terlihat sangat gelisah kepalanya terus celingukan seakan mencari seseorang.
"Bun, Pah. Kok papa Azam belum datang juga ya? sementara aku bentar lagi di wisuda, padahal terakhir dia chat aku dia sudah OTW ke sini tapi belum juga datang." Rendy menatap cemas pada sang Bunda dan juga kepada Malik.
"Aduh Kakak ... gelisah amat sih mereka Pasti lagi di jalan, bukannya aku dengar bahwa om dan tante akan menyaksikan Kakak di wisuda hari ini, jadi nggak usah khawatir gitu ... nggak usah tegang gitu kali ah ... nanti juga mereka datang!" sambar Alena yang duduk di samping Bundanya.
"Alena mungkin benar, Papa pasti sedang di jalan. Mungkin saja terjebak macet dia, nggak mungkin nggak datang ... mungkin saja mama Rosita itu repot dengan anak-anak, sabarlah, yang tenang. Mungkin saja mereka masih diperjalanan, berdoa semoga di perjalanannya lancar sehingga dapat menyaksikan Rendy di wisuda! yang tenang ya!' Renita mengusap tangan Rendy yang sangat tampak gelisah bukan hanya karena ini hari istimewa untuk dia, tapi juga gelisah karena papanya belum datang.
Rendy berusaha untuk menenangkan diri, menghela nafas dalam-dalam lalu Ia memutuskan dengan-sangat panjang mengontrol dadanya yang terus berdebar, jantung bergetar tak karuan. Inilah hari-hari yang dia tunggu-tunggu! yang menandakan berakhirnya dia mengenyam pendidikan di kampus ini. Dan beberapa langkah lagi dia akan menjadi seorang pilot.
Hingga pada akhirnya namanya pun dipanggil dengan wajah yang masih tampak gelisah, dia berdiri dan menoleh ke arah belakang kanan dan kiri tetap saja papa Azam belum juga nampak.
"Papa di mana sih? kenapa belum datang juga, katanya mau menyaksikan aku di wisuda." Melangkah naik ke hadapan yang di berjejer para dosen pembimbing, dan profesor lainnya.
Dengan perasaan yang deg-degan jantung berdetak dengan sangat kencang. Kini dia berdiri di Prosesi wisuda bagi para wisudawan.
Rendy berdiri di mimbar untuk mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai ucapan terima kasih kepada para dosen pembimbing, profesor. Keluarga dan juga teman-teman semua. Sekilas bibir Rendy tersenyum melihat ke arah Azzam yang berdiri dan menunjukkan senyuman bahagianya melihat Rendy berdiri di atas mimbar, setelah wisuda berlangsung.
Lalu kemudian Rendy pun melanjutkan kembali perkataannya dan melihat ke arah yang seketika Azam sudah tidak di tempat, jangankan Azam mama rosita pun memang tidak terlihat sedari tadi. Namun meskipun begitu Rendy sudah merasa cukup dan senang berhubung biarpun terlambat papanya hadir juga di hari yang penting ini untuk para wisudawan.
Rendy menghampiri kedua orang tuanya yang entah kenapa di balik senyumannya tampak sekali ketegangan dan kekhawatiran. Rendy memeluk keduanya bergantian setelah mengucapkan selamat atas keberhasilannya menjadi seorang serjana ....
__ADS_1
.
Bersambung