Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Panik


__ADS_3

Tiba-tiba kepala Rendy timbul tenggelam, mulainya Azam melihat itu biasa saja namanya juga sedang ada di kolam renang dan bermain air orang anak itu sudah pandai juga berenang.


Namun lama-lama Azam merasa aneh karena anak itu tidak tampak naik lagi, walaupun sudah berapa saat Azam menunggu. Namun kalau air tampak tetap berontak dengan keadaan tetapi tubuh putranya tidak muncul juga ke permukaan.


Membuat Azam semakin gelisah dan tidak pikir panjang lagi tubuhnya meluncur ke dalam air.


Byuuuuuuurrrrrrrh. Air pun naik kepermukaan seiring dengan tubuh Azam nyebur.


Tumbuh Azam langsung meluncur mendekati dimana posisi Rendy berada dan membawa tubuh anak itu yang terasa kejang-kejang. Azam dengan cepat membawanya ke bibir kolam. Azam naik seraya berteriak minta tolong.


Azam membaringkan tubuh Rendy di atas kursi panjang. Yang terus kejang-kejang, namun detik kemudian Azam kembali menggendong putranya tersebut dan berlari keluar mendatangi mobilnya.


Semua yang ada di dalam rumah mendengar teriakan Azam langsung merasa panik apalagi Renita dia berusaha berdiri dan melihat ke arah kolam melalui pintu belakang! akan tetapi belum juga melintasi pintu sudah terlihat tajam yang basah kuyup menggendong putranya! setengah berlari melipir melintasi dirinya dan Bu Amelia yang hendak melihat ke lokasi.


"Rendy Rendy kenapa? Mas Rendy kenapa, Mas?" pekiknya Renita dengan nada cemas, gugup. Khawatir! semuanya bercampur menjadi satu dan langsung menyusul Azam ke depan.


Tanpa mikir panjang Renita langsung masuk mendahului Azam yang sudah terbaca akan membaringkan Rendy di dalam mobilnya, sehingga kepala Rendy pun akhirnya diletakkan di pangkuan Renita yang tampak gugup dan shock melihat kondisi Sang buah hati.


Azam nyasar semua sakunya. yang tidak mendapatkan kunci dan dia ingat kalau kunci berada di atas meja ruang keluarga rumahnya Malik. Membuat dia berbalik dan kebetulan ada bibi yang berdiri di teras bersama ibunya Malik yang tampak gugup dan tidak mengerti apa-apa.


"Bi, tolong ambilkan kunci beserta dompet juga ponsel saya di meja ruang keluarga? tadi saya menyimpannya di sana. Kalau tidak salah tolong Bi?" pintanya Azam dengan cepat.


Bibi pun langsung berbalik dan mencari kunci mobil Azam yang kebetulan memang ada di atas meja. Dan dengan cepat memberikannya kepada Azam.


Azam pun langsung memasuki mobilnya dan membawa lari mobil tersebut dengan tujuan ke rumah sakit terdekat.


Sementara Renita di belakang memeluk kepalanya Rendy dan sesekali tubuhnya bergerak, Ia panik, shock tidak tahu dan tidak mengerti kenapa? karena ini kali pertama Rendy seperti ini.


"Sayang kamu kenapa? kamu nggak biasanya seperti ini Nak ... ya Allah! lindungi lah anak hamba. dan jangan sampai terjadi apa-apa kepada Rendy ya Allah!" gumamnya Renita sembari terus memeluk dan mengusap wajah Rendy yang basah.


Setibanya di rumah sakit Azam pun langsung menggendong kembali tubuh Rendy dan di bawahnya ke ruang UGD agar langsung ditangani oleh dokter.


Seusai beberapa saat di tangani oleh dokter, Rendy pun mulai pulih dan anak itu sendiri kurang sadar dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, hanya ingat sedang berenang saja.

__ADS_1


Dan Rendy kebetulan tidak harus di rawat, dia diperbolehkan langsung pulang. Membuat hati Renita merasa lega setidaknya masa kritis barusan hanya sesaat saja dan sekarang mereka berada dalam mobil untuk menuju pulang.


Azam bisa bernafas lega selega-leganya, melihat putranya yang baik-baik saja. Setelah melewati kepanikan beberapa saat.


Renita pun dari rumah tidak sempat membawa apa-apa, tidak dompet, tidak ponsel makanya dia tidak sempat mengatakan apa-apa atau memberi kabar kepada Malik, suaminya! tentang kondisi Rendy. Apalagi sekarang dia sudah mulai membaik dan bisa di bawa pulang.


Azam menoleh ke arah Renita yang berada duduk di belakang sama Rendy, dipeluknya anak itu dengan sangat erat. "Sedang memberitahu Malik soalnya kejadian tadi?"


"Tidak boro-boro aku ingat. Lagian aku nggak bawa apa-apa! nggak dompet nggak ponsel, semuanya tuh tinggal di rumah saking paniknya aku nggak ingat membawa apa-apa." Jawabnya Renita.


Azam juga kalau saja dia tidak lupa menyimpan ponsel, dompet dan kunci di meja. Mungkin pas ke Rumah sakit dompetnya sudah basah kuyup beserta isinya.


Untungnya saja ketiga benda itu ia tinggal di meja ruang tengah yang mulanya dia duduk di sana.


"Oh ... ya sudah! nggak apa-apa. Lagian sekarang Rendy sudah agak baikan!" gumamnya Azam dari belakang kemudi.


Renita mengangguk seraya memberi minum air mineral kepada Rendy. Anak itu masih tampak lemah dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Bunda. Tangan Renita pun terus mengusap kepala dan juga bahu putranya penuh kasih sayang.


"Rendy tidak boleh sakit lagi ya. Bunda sangat cemas! khawatir dengan kondisi kamu, Nak. Rendy harus kuat! Rendy kan mau jadi pilot, kalau fisik Rendy nggak kuat gimana mau jadi pilotnya?" lirihnya Renita sambil membingkai wajah Rendy.


Renita menoleh ke arah Azam yang lalu Azam berkata kalau penyakit Rendy hanya demam biasa dan mungkin terlalu kedinginan! terlalu lama di kolam renang.


Mobil melaju dengan cepat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama di perjalanan.


"Rendy ... kamu gak kenapa-napa Nak?" sambut Bu Amelia setibanya Rendy di rumah di tuntun sang bunda berbadan besar.


"Rendy sudah agak baikan kok Oma!" jawabnya Renita yang menjawab kan.


"Oma sudah cemas." Bu Amelia mengukuti langkahnya Renita dan Rendy yang masuk ke kamar.


Rendy menggantikan bajunya oleh sang bunda, Yang kemudian di baringkan dan di selimuti. "Tunggu sebentara ya. Nanti bunda bikinkan bubur."


Azam duduk di bibir tempat tidur sambil memperhatikan putranya yang tampak lemah dan pucat. "Bobo sayang, cepet sembuh ya? nanti kita jalan-jalan lagi."

__ADS_1


Renita hendak keluar kamar Rendy dan di sana ada Azam juga Bu Amelia. Datang Malik yang tampak tergesa-gesa.


"Sayang, Rendy kenapa?" tanya Malik yang terburu-buru sembari mencium kening sang istri di hadapan Azam yang tampak salah tingkah.


"Tadi ... aku kurang tahu. Karena dia sedang di kolam renang dan mas Azam yang tahu kejadiannya." Jawabnya Renita sambil melihat langkahnya Malik yang mendekati Rendy yang tengah berbaring.


"Sakit apa sayang hem? masa pangeran Papa sakit. Jangan sakit ya?" Malik mencium pucuk kepalanya Rendy dan juga di usapnya.


Rendy hanya mengangguk lemah dan lalu mencoba memejamkan matanya.


Malik mengalihkan pandangan kepada Azam yang duduk di samping putranya. "Sebenarnya dia kenapa, Zam?"


Azam menghela nafas lalu bercerita yang apa dia lihat dari awal sampai akhirnya saat ini.


"Hem ... padahal kamu tidak punya riwayat buruk sebelumnya Nak!" Malik mengusap punggung tangan Rendy.


Renita datang membawa sebuah nampan yang berisi bubur dan juga sebotol air mineral. "Sayang, makan dulu!"


Wanita yang tengah hamil besar itu naik ke atas tempat tidur! lantas duduk di sampingnya Malik. Hendak menyuapi Rendy yang kini berusaha bangun.


"Ngam dulu, makan dulu biar nanti minum obat dan Rendy cepet sembuh juga." Kata Renita sambil menyuapi putrinya.


"Pangeran Papa harus sehat dan kuat. Tidak boleh lemah!" sambungnya Malik kembali.


"Papa Malik benar, putra Papa harus kuat apalagi kalau mau menjadi pilot. Kalau lemah mana bisa!" timpalnya Azam. "Oke, Papa mau pulang dulu ya, pakaian Papa basah. Besok Papa ke sini lagi."


Azam beranjak dari duduknya lalu mencium pucuk kepala Rendy, bukan tidak ingin menemani putranya, bukan juga tidak cemas. Tetapi ia tidak enak bila terus berada di sana.


"Kenapa buru-buru? santai di sini." Kata Malik pada Azam.


"Em ... lain kali saja aku datang lagi." Pamitnya Azam lalu keluar dari kamar Rendy.


Kemudian setelah Rendy selesai makan dan minum obat, lalu tidur dan Renita juga Malik keluar meninggalkan Rendy yang kini beristirahat ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2