Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mengajak dinner


__ADS_3

Mobil berhenti di halaman rumah Renita. Sementara mobil yang di bawa Jefri sudah lebih dulu tiba dan sudah berada di lama rumah.


"Nak, Malik ... makasih ya atas semuanya?" ucap ayahnya Renita setelah turun dari mobilnya.


"Sama-sama Pak ..." Malik mengangguk sembari tersenyum.


Kemudian setelah orang tua Renita masuk ke dalam rumah sambil menuntun Rendy. Malik berpamitan.


"Ok, hati-hati ya dan terima kasih atas semuanya. Terima kasih banyak." Kata Renita sambil mengangguk hormat.


"Sama-sama, sampai jumpa lagi besok di kantor. Dan ada yang ingin saya bicarakan sama kamu," ucap Malik sambil berjalan mengitari mobilnya.


Renita mengerutkan keningnya. "Soal ... soal apa ya?"


"Besok aja. Yo, Assalamu'alaikum!" Malik pun memasuki mobilnya.


Dan detik kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kediaman Renita.


Renita menatapi mobil Malik sampai menghilang dari pandangan dan barulah dia masik ke dalam rumahnya.


"Mana Malik nya? dah pulang?" tanya sang ayah yang sedang berkumpul di ruang tengah.


"Sudah," kemudian Renita masuk ke dalam kamar nya. Sementara Rendy masih bermain dengan om dan Tante nya.


Keesokan hari nya. Di pagi-pagi buta keluarga Azam sudah berangkat pulang di saat mata hari pun masih malu-malu untuk bersinar, namun sudah terasa kehangatannya. Menyelinap ke dalam kulit mengusir rasa sejuk dan ataupun dingin.


Rendy melambaikan tangan ke arah mobil yang membawa opa dan omanya juga yang lain.


Sheila, masih bermalas-malasan di atas sofa. Kebetulan hari ini tidak mengajar di TK sehingga dia bisa bersantai ria sebelum kuliah.


"Yo bangkit ... ikut menyiapkan sarapan napa? bukannya bersantai ria begitu." Kata sang ibu menghampiri.


"Ya ampun ... Ibu. Aku kan jarang-jarang bersantai ria begini, biarlah aku istirahat sebelum pulang." Jawabnya Sheila sambil tetap rebahan di sofa.


"Sebentar lagi kan kita mau pulang, sambil menunggu taksi pulang, kita sarapan dulu dan bantuin mbak mu beberes." Tambah ibunya.


"Iya tahu ... ibu ... aku tuh ingin bersantai sebentar." Sheila dengan malas nya.


Renita menoleh pada sang ibu dan adiknya. "Kalian debat apa sih?"


"Ini nih Mbak ... ibu gak boleh deh lihat aku bersantai barang sebentar." Sahutnya Sheila sambil menunjuk sang ibu dengan dagunya.


Renita hanya tersenyum sambil beberes. Kemudian dia menyiapkan sarapan bersama Feni.


Kemudian mereka pun sarapan bareng. Dengan seadanya.


"Randi mau makan sama nugget aja. Gak mau sama telor." Rendy merengut menatap sarapannya.


"Ooh mau sama nugget ... boleh bentar Bunda goreng dulu ya!" Renita yang sedang sarapan langsung berdiri dan mengambil nugget dari lemari pendingin lalu menggorengnya.

__ADS_1


"Biar Feni aja Bu ... yang goreng," Feni pun menghampiri Renita yang menghadap wajan penggorengan.


"Tidak apa, saya saja." Renita tetap ingin melakukannya sendiri.


Lalu dia menyajikannya pada Rendy. "Ini sayang, makan yang banyak ya! nanti kalau kurang bunda goreng lagi."


"Makasih ya Bunda ..." Rendy langsung melahap yang disajikan oleh bunda nya.


Selesai sarapan, Renita berpamitan untuk berangkat bekerja. "Bu, Bapak. Aku pergi dulu!" Renita mencium tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati ... Ren. Ibu juga agak siangan mau pulang." Balasnya sang bunda.


"Ooh, iya kalau gak mau menginap lagi. Aku gak bisa mengantar." Renita memeluk bundanya.


"Ren ... yang sehat dan murah rejeki ya, biar bisa beli mobil seperti yang Rendy mau." Tambahnya sang ayah sambil memeluk Renita.


"Aamiin ... ya Allah ..." Renita mengaminkan perkataan dari ayahnya.


Beberapa saat kemudian. Renita berangkat dengan motornya. Melaju dengan cepat.


"Kira-kira Malik mau bicara apa ya sama aku!" gumamnya Renita dalam hati sambil terus melajukan motornya tersebut.


Selang beberapa puluh menit di jalan. Akhirnya Renita tiba juga di kantor dan langsung menghadap ke ruangan Malik.


"Permisi, selamat pagi ..." Renita berdiri di depan pintu yang dia buka setengahnya.


Malik yang sedang membuka laptopnya dan dia pun sepertinya baru datang, menoleh pada Renita yang berdiri sebelum di persilakan masuk. "Silakan masuk!"


"Ada apa, apa ada masalah sehingga datang menemui ku sepagi ini?" selidik pria tampan yang kini mengarahkan wajahnya pada Renita.


"Em ... itu, katanya semalam anda ingin mengatakan sesuatu dan apakah itu?" rupanya Renita merasa penasaran atas perkataan Malik semalam.


Malik menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang indah dan bersahaja. Dia menatap lekat ke arah Renita yang tampak penasaran dengan apa yang dia akan katakan.


"Kamu penasaran ya!" padahal aku tidak ada yang ingin aku katakan kok." Malik membuka berkas yang ada di atas meja.


"Ooh, gitu. Ya sudah. Permisi lah!" Renita beranjak dari duduknya.


"Em ... nanti malam kita dinner berdua ya? bukan tidak boleh mengajak Rendy, tapi aku ada yang ingin di ungkapkan. Jadi ... bawa Rendy nya kalau ada kesempatan lain dan bersantai." Malik tampak serius dengan perkataannya.


Renita mengerutkan keningnya. Dan ia tidak habis pikir apa sih yang akan di katakan? sehingga harus dinner segala! padahal bisa bicara di mana pun.


"Harus dinner gitu? gak bisa bicara seperti ini?" Renita menatap datar ke arah Malik.


"Nggak, harus dinner dan mencari suasana yang bagus. Dan mood yang baik untuk mengungkapkannya." Malik menaiki turunkan alisnya yang tebal.


Renita semakin heran dan penasaran, apa sih maksudnya Malik?


"Sudah lah, aku akan bekerja dulu." Renita beranjak dari duduknya meninggalkan meja Malik.

__ADS_1


"Tapi ... kalau nanti Rendy mau ikut gimana?" Renita yang sudah beberapa langkah pun kembali menoleh kepada Malik.


"Em ... kalau seandainya Randy mau ikut ya ajak saja. Tapi usahakan jangan di bawa, karena ini penting dan soal ach pokonya penting." Jawabnya Malik.


Kepala Renita menggeleng pelan sambil meneruskan langkahnya yang mengayun ke luar dari ruangan Malik.


Malik menatap punggung Renita sampai menghilang dari pandangan. Dia berniat untuk mengatakan sesuatu pada Renita.


Siang hari. Malik ke restoran yang terdekat dan makan siang di sana! bertemu dengan Renita yang datang bersama staf lain dan duduk di dekat meja nya.


Namun ketika Malik masih menikmati makan siangnya. Mendapat telepon dari seseorang sehingga dia terburu-buru beranjak dari duduknya. Dan bilang sama Renita kalau dia mau pulang dulu sebentar dan nanti juga dia pasti kembali ke kantor.


Renita terdiam dan memandangi langkahnya Malik yang bergegas atau terburu-buru.


Sudah dua kali ini Renita mendapati Malik mendadak pulang dengan tergesa-gesa dan entah karena apa.


"Kenapa Bu ... apa ada yang aneh?" selidik staf lain yang bersama Renita.


"Ach, nggak. Aku cuma penasaran ada apa bos suka terburu-buru gitu. Pulang dengan sangat tergesa-gesa. Apakah keluarganya ada yang sakit atau gimana," balasnya Renita sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Keluarga yang mana ya? kok saya tidak pernah melihat pak bos perkenalkan keluarganya atau istri nya dengan klien atau staf bila ada pertemuan di kantor." Kata temannya tersebut.


"Oya, aku masih baru kan masuk kantor nya jadi tidak tahu keluarga nya sama sekali." Timpal nya Renita sambil menggerakan wajahnya.


Selesai makan, Renita kembali ke kantor dan melanjutkan kerjaannya yang masih menumpuk dan menunggu uluran tangan Renita.


Renita tampak sibuk dengan kerjaannya di meja. Sesekali ia meneguk minumnya yang baru saja office boy bawakan untuk nya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Boleh ku masuk?" Malik berdiri di dekat pintu.


Renita langsung menoleh dan menatap Malik dengan intens. "Kok sudah ada lagi di sini? bukannya tadi pulang ya?"


"Iya, tadi pulang dan sekarang sudah berada di sini lagi." Jawabnya Malik sambil berjalan maju lalu duduk di hadapan Renita.


"Jangan lupa nanti malam ya?" ucap Malik sembari menatap ke arah Renita.


"Apa tidak bisa di sini saja bicaranya? sebab aku kan jarang pergi di luar jam kerja tanpa Rendy." Renita mengingat Rendy yang tidak pernah dia tinggal selain bekerja.


"Nggak pa-pa, kalau dia mau ... ajak saja." Tambahnya Malik.


"Sebenarnya apa sih yang mau di omongkan?" tanya Renita siapa tahu Malik mau bicara saat ini juga.


"Buat apa dinner, kalau harus bicara di sini? percuma dong ... lagian saya lupa mau bicara apa?" killah nya Malik ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like, comment dan komennya ya makasih banyak.


__ADS_2