Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menuntut


__ADS_3

Dan Setibanya di kantor, Renita langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menyimpan bekal makanan yang dibawa dari rumah disimpan di atas meja.


Sejenak wanita cantik dan berkerudung pic itu terdiam dibatas kursi kebesarannya. "Aku kok jadi serba salah begini ya!"


Lalu Renita beranjak dari duduknya dan meraih bekal makan itu di bawanya keluar dari ruangannya tersebut.


Tetapi baru beberapa langkah dari pintu, Renita kembali masuk rasanya malu untuk membawanya ke Malik sehingga dia urung niat itu.


"Kenapa balik lagi? malu ya, ini buat aku kan?" suara itu tiba-tiba berada di belakang Renita dan mengambil alih wadah yang berada di tangan Renita.


"Kenapa kau ada di sini, ada apa?" Renita melongo dan berdiri tidak jauh dari pintu.


Sementara Malik berjalan ke sofa dan membuka bekal sarapan Renita. "Kebetulan sekali aku belum sarapan, tahu aja nih calon istri! kalau calon suaminya belum sarapan."


Renita mencabik kan bibirnya ke depan. Lalu berjalan ke kursi kerjanya.


"Ohok-ohok!" Malik terbatuk-batuk dan celingukan mencari minum.


Melihat Malik terbatuk-batuk, membuat Renita langsung membawakan minuman air mineral pada Malik.


"Ehem, makasih sayang!" Malik mengedipkan matanya pada Renita setelah meneguk minumnya.


"Iih, apaan sih kamu ..." Renita menggeleng tersipu malu.


"Kenapa emang? biasa saja." Malik meneruskan kembali sarapannya tersebut.


-------------


"Mas, kapan mau beli mobil untuk ku? biar aku kalau mau ke mana-mana itu tidak naik taksi." Sharon merajuk ingin membeli mobil.


Azam menoleh ke arah samping dimana Sharon berada. "Beli mobil itu tidak gampang sayang. Tidak semudah bicara, rumah pun cicilan nya masih ada. Gimana beli mobil. Nanti lah kalau rumah sudah lunas, tunggu beberapa bulan dulu lah."


"Tunggu beberapa bulan lagi? keburu gempor--"


"Emang kenapa sih ... wajib gitu? yang penting ada uang ... bisa naik taksi, bisa naik grab. Ojeg." Tambahnya Azam sambil fokus menyetir.


"Bukannya wajib Mas ... tapi aku ingin bila aku mau pergi Nisa bawa sendiri. Masa sih istri direktur naik taksi--"


"Emang nya kenapa, dosa naik taksi? kan nggak. Justru kamu harus bersyukur, masih bisa punya rumah dan kendaraan ini ada, kalau kamu tidak mau jalan sendiri ... perginya di saat aku ada di rumah saja, kan beres!" Azam berceloteh.

__ADS_1


"Nggak usah ceramah. Aku gak perlu di ceramahi," Sharon cemberut dan memalingkan muka ke luar jendela.


"Kamu harus sadar kalau kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan ekspetasi." Tambahnya Azam sambil menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Sharon pun turun dengan ekspresi yang kurang mengenakan. Dia berjalan mendatangi sebuah supermarket.


Azam sengaja membiarkan Sharon jalan sendiri. Karena barunya merasa kesal dengan sang istri.


Sharon dah masuk, namun tidak lama kemudian datang lagi dengan wajah yang di tekuk. "Uang nya mana?" seraya menengadahkan tangannya.


Azam mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang pada Sharon.


"Nggak cukup Mas." Sharon protes kalau uang yang Azam berikan tidak akan cukup.


Membuat Azam menambah lagi uangnya beberapa lembar. Tanpa bicara sedikitpun.


Lantas, Sharon kembali berjalan memasuki supermarket. Meninggalkan Azam yang menunggu di dalam mobil nya.


"Mau mobil aja malah di ceramahi. Apalagi meminta pesawat," gerutu Sharon sambil berjalan mencari semua keperluannya di supermarket.


"Emangnya gampang apa, membeli mobil? emangnya gak cukup pake duit seratus ribu apa? dulu aja bertahun hidup dengan Renita gak pernah minta yang macam-macam m, motor aja beli sendiri dari hasil kerjanya! gak seperti dia yang maunya menuntut." Kini giliran Azam yang menggerutu di dalam mobil.


Saat ini Sharon sudah duduk dan memasang bel safety dan sedikit membuka kancing bajunya bagian atas. Sehingga terlihat yang menyembul.


Azam menelan Saliva nya sendiri, yang dasarnya Azam mudah tergoda dengan pemandangan yang indah di depan mata membuat pikirannya langsung traveling untuk bermain-main di sana.


Azam menyalakan mesin mobilnya dengan mata yang terus melirik pada pemandangan yang ada.


Sharon mendekat dan memeluk tangan Azam bagian atas. "Mas ... dari pada menunggu beli mobil beberapa bulan lagi, kan lama ... Neli motor saja lah, ya? please ... motor Mio, palung harganya sekitar puluhan juta kan?"


Sharon merajuk dambil memeluk tangan Azam dan menciumi leher bagian samping. Berharap kalau Azam akan mengabulkannya.


Azam tersenyum mendengarnya. "Kalau itu sih ... bisa aku pikirkan," balasnya Azam yang harus menahan keinginannya untuk berjalan-jalan di tempat nan indah.


"Much ... terima kasih sayang! aku sayang deh sama kamu, nanti sepulang dari sini. Kita jalan-jalan yu, aku akan membawa mu kebtempat yang paling indah dan lebih menyenangkan tentunya. Spesial buat kamu yang mau mengabulkan permintaan ku." Sharon mengecup bahunya Azam.


"Baik lah ... siapa yang akan menolak dengan permintaan mu untuk berjalan-jalan, ke tempat yang aku sukai." Azam menunjukan wajah yang sumringah.


Selang beberapa puluh menit, Azam dan Sharon langsung bersiap untuk berjalan-jalan, sehingga membiarkan belanjaan pun di bereskan oleh asisten dan anaknya pun yang memanggil dan ingin pada mamanya di biarkan saja. Demi untuk bersenang-senang sejenak.

__ADS_1


Denis menangis sejadi-jadinya karena ingin sama mamanya. Sementara mamanya masuk kamar dan pintu pun di kunci.


Terpaksa pengasuhnya harus sebisa mungkin menenangkan Denis. Mana harus membereskan. Belanjaan lagi yang masih di mobil.


"Mbak ... denisnta kasihkan sama mama dong ... Vera lagi belajar nih ... ke ganggu!" saran Vera yang sedang belajar.


"Mamanya lagi sibuk Non ... biar saja nanti juga Denis nya berhenti menangis kok ..." kata si mbak sambil membawa Denis keluar rumah.


Sekitar 30 menit kemudian, Sharon pun muncul dengan penampilan agak semraut dan mencari putranya yang masih terdengar tangisnya. Sedari tadi berhenti sebentar, nangis lagi.


"Sini-sini? kenapa sih? mau apa sih ... menangis begini sayang ku ..." Sharon langsung mengambil Denis dari tangan pengasuhnya.


Setelah di pangkuan ibunya, Denis pun langsung tenang. Sharon kembali ke kamar dimana suaminya masih berselimut ria.


"Mas, kapan Mas beli motor nya? aku sudah tidak sabar nih ..." Sharon duduk di dekat suami nya sambil memberi dot pada putranya.


"Iya, besok! aku belikan." Azam memeluk guling sambil memejamkan kedua netra nya.


"Bener ya Mas ... aku senang deh. Jangan lupa ajak aku untuk memilih sendiri ya sayang ..." Sharon menyentuh pipinya Azam yang sedang tiduran tersebut.


""Iya, besok aku jemput kamu ke sini. Jangan khawatir. Aku tidak akan ingkar janji kok, sepintas teringat di ingatannya kalau setelah berpisah dengan Renita, dalam beberapa bulan ini dia mangkir dan tidak pernah memberikan nafkah buat Rendy dan Renita pun tidak pernah menuntut.


Biarpun sudah tertulis kalau dia harus memberikan nafkah sekian pada Rendy. Karena Renita pun tidak pernah meminta secara lisan membuat Azam merasa oh, mungkin Renita pun mampu untuk menghidupi putranya sekalipun tanpa campur tangan nya.


"Mas, Vera itu belum membayar SPP lho. Dan harus bayar besok hari," ucap Sharon sambil duduk memangku putranya yang tertidur. Rupanya dia mengantuk makanya nangis terus.


"Iya, besok saja aku kasih dan sekarang aku mau tidur dulu, capek. Perjalanan barusan terlalu bersemangat kali ya!" Azam menarik selimutnya dan terpejam kembali.


...-------------...


Mobil Malik sudah nongkrong di depan kediaman nya Renita dan menunggu Renita juga Rendy yang katanya baru selesai mandi Rendy nya.


Ada beberapa tengangga yang tampak berbisik-bisik, kalau ada pria yang sering datang mendekati janda muda.


Malik sesekali mengangguk hormat pada ibu-ibu tetangga nya sambil tersenyum ramah ....


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2