Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Anak dan anak


__ADS_3

Ketika di rumah, semua terbuka lagi segala masalah yang merundung Malik dan Renita perihal keturunan.


Seperti saat ini sang ibu sudah kembali bertanya hal yang sama.


"Mah ... kalau seperti ini, justru Renita akan stres Mah ... dan semakin membuat sulit, jangankan Renita. Aku juga pasti akan stres dan gak fokus dalam menjalaninya!" ucap Malik dengan lirih.


"Malik ... Mama cuma ingin--"


"Sudah ya Mah, nggak usah lanjutkan lagi. Aku sudah tahu apa maunya Mama, keinginan Mama," potongnya Malik sembari beranjak dari duduknya.


Bu Amelia terdiam begitu saja menatap pada putranya yang sudah berdiri.


"Mah, sudah malam! sebaiknya Mama istirahat. Apa perlu aku antar ke kamar?" Malik memandangi sang Bunda.


"Tidak usah ... Mama bisa sendiri! Kamu urus aja istrimu itu!" gua Amelia pun beranjak lalu berjalan pelan menuju kamarnya, perkataannya terdengar sinis.


Malik bengong memandangi punggung sang Bunda yang bila ditelaah perkataannya membuat tersinggung perasaan orang. Tapi Malik tidak mau memikirkan itu! dia tidak mau ambil pusing,


Lantas dia pun bergegas mengayunkan langkahnya yang lebar menuju tempat peraduan bersama sang istri yang mungkin sekarang sudah tidur.


Malik mandiri sejenak di depan pintu yang kemudian tangannya mengarah kepada handle lalu ia dorong membukanya ke dalam.


Tampak sang istri sudah berbaring di atas tempat tidur meringkuk di bawah selimut yang tebal dan pencahayaan kamar pun sudah menjadi temaram.


Dengan perlahan Malik menutup pintu dan menguncinya. Sambil berjalan dia membuka kaos sehingga mengekspos dadanya yang bidang. Lalu merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping sang istri.


"Sayang sudah tidur ya? Apa menunggu lama?" gumamnya Malik dengan sangat pelan dan menempelkan bibirnya di bahu sang istri yang berbaring miring memunggungi dirinya.


Tangan Malik bermain-main di rambut indahnya Renita beberapa kali rambutnya itu diciumnya.


Lantas mencium kepala sang istri dengan penuh kasih sayang dan kemesraan. "Met bobo Sayang. Semoga mimpi indah.


Renita yang sudah tidur sedari tadi, merasakan pergerakan dari Malik, sehingga dia terbangun dan lantas menoleh. Merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan sang suami.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?" suara parau Renita sembari berusaha membuka matanya yang begitu sepet dan perih.


Kedua sudut bibir Malik tertarik ke samping. "Belum sayang. Istri ku sudah tidur duluan nih."


"Aku ngantuk banget, capek ... Ini aja mataku sulit dibuka?" Renita berusaha membuka matanya yang sulit. Hanya mampu memicing sedikit.


"Ya sudah nggak apa-apa, lanjutkan lagi tidurnya! sini aku peluk dan tidurlah di dada ku." Malik menarik kepalanya Renita agar tidur di atas dadanya.


"Cuph, bobo sayang. Semoga mimpi indah, dan aku tidak akan mengganggu mu malam ini! kasihan sekali istriku ngantuk banget. Nampaknya." Malik memeluk bahunya sang istri.


Lalu membelai rambutnya nan mesra sembari ia pun mencoba untuk memejamkan kedua netra matanya.


"Hem ..." gumamnya Renita sembari mengeratkan pelukan di pinggangnya Malik.


"Peluk aku sayang. Dan ... jangan biarkan aku lepas." Gumamnya Malik sambil mendaratkan kecupan di keningnya sang istri.


Malam semakin larut dan terasa dinginnya menusuk ke dalam tulang, kian syahdunya bagi sepasang insan yang melewati malam yang panjang ini saling berpelukan.


Program hamil atau bayi tabung pun sedang di jalankan. Namun sudah beberapa bulan ini belum juga ada hasil yang memuaskan.


Dan Renita semakin stres dengan desakan ibu mertua yang hampir tiap hari ngomongin baby.


"Tuh, tetangga sebelah baby baru 2 tahun sudah lahiran lagi. itu namanya subur apa mungkin kamu kurang subur?" ucap ibu mertua sambil membuat minum untuk nya.


Renita menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu membuang memberi slruang dadanya yang terasa sempit. Kemudian menoleh pada sang mertua. "Mama kan tahu, kalau aku nggak ada masalah dan subur-subur saja!"


"Tapi kenapa kalau subur ... sampai saat ini belum hamil juga? bukankah justru yang subur itu rentan dengan kehamilan?" suara Yusna yang kebetulan sedang berkunjung di rumah itu.


"Terus aku harus bagaimana Mbak ... aku dan Malik sudah berusaha semampunya! dan hasilnya masih tetap sama." Renita menelan saliva nya, tenggorokan terasa sangat kering menyiksa rongga.


Kalimat-kalimat yang keluar dalam mulut ibu mertua dan Yusna sangat menyesakkan dada Renita.


"Bila perlu ke luar Negeri berobat, uang banyak ngapain juga? harta itu buat anak! keturunan. Kalau nggak punya keturunan harta mau di kemanakan? dibagi-bagikan dengan percuma?" Yusna kembali memberi komentar apalagi mengingat Renita dan Malik sekarang lebih rajin bersedekah.

__ADS_1


"Ya ... paling dibagikan juga sama keluarganya! seperti Paman, adik dan saudara lainnya! bukankah itu lebih menyenangkan mendapatkan rejeki nomplok alias harta warisan!" Renita sudah mulai jengah dengan sikap mertua dan kakak iparnya itu.


"Kamu jangan lancang ya? dan itu wajar jika kami mendapatkannya! kan kita saudaranya!" Yusna melotot dan tersinggung dengan perkataan Renita.


"Tapi kan, begitu kan ... kalau seandainya Abang tidak punya keturunan, automatis hartanya akan jatuh pada saudaranya Mbak." Tambahnya Renita sembari menahan rasa sesak di dada.


"Kalau begini, Mama mau carikan wanita yang siap mengandung benihnya Malik biarpun sekedar bayi tabung atau ... bila perlu dinikahkan juga tidak apa!" ucapnya Bu Amelia dengan santai dan ringannya bicara demikian! seolah tidak memikirkan perasaan orang lain, khususnya Renita.


Renita menggerakkan manik matanya melihat ke arah ibu mertua dengan tatapan yang nanar, dadanya terasa diremas-remas. Nyeri di hati. Begitu terasa sakitnya seolah-olehnya tidak dianggap sebagai istrinya Malik, hanya gara-gara belum memberikan dia cucu.


"Mama yakin ...akan mencari mantu baru?" Yusna menatap lekat pada sang ibu. Dia pun merasa tercengang dan sedikit menggelengkan kepalanya.


Sang bunda tersenyum samar, yakin tidak yakin ... dia harus bisa mencarikan wanita yang siap memberikan Malik anak, karena dia ingin putranya memiliki keturunan.


"Yakin tidak yakin ... tapi Mama akan berusaha kalau dalam berapa bulan ini Renita tidak hamil juga." Balas wanita sepuh itu dengan menghela nafas dalam-dalam.


"Mah, sungguh aku tidak menyangka. Kalau Mama tega bicara seperti itu. Gimana kalau itu berada di posisi putri Mama yang mengalami keterlambatan? gimana perasaan Mama, perasaan putri-putri Mama?" suara Renita bergetar menahan tangis yang hampir tak kuasa ingin keluar dari bendungannya.


"Ini terpaksa Reni ... ya bagus-bagus kamu segera hamil." Timpal bu Amelia.


Sementara Yusna terdiam, dia menjadi kepikiran omongan Renita yang mengena ke hati, benar juga. Apa jadinya bila itu terjadi pada dirinya atau wanita lain.


"Renita benar juga Mah ..." gumamnya Yusna yang membenarkan perkataan dari Renita.


Bu Amelia tiba-tiba terdiam mematung dan tercengang, tatkala mendapat pesan dari dokter kandungan yang ia tanyai perihal kesuburan anak dan mantunya.


Yang ternyata ... Malik sendiri yang kurang subur. Padahal selama ini Malik sangat menjaga kesehatannya termasuk merokok pun tidak pernah. Tubuh bu Amelia melemas, namun ia tidak ingin menunjukannya pada Renita maupun Yusna, putrinya.


Bu Amelia terpukul, shock dengan kabar kenyataan yang baru saja ia dapatkan, kenyataan yang tidak menyenangkan dan membuat perasaannya kacau balau. Di kira Renita yang sedikit bermasalah ... rupanya putranya sendiri yang kurang subur. Dia tau dari dokternya sendiri yang menangani Malik.


Renita beranjak dari duduknya dan meninggalkan tempat dan orang-orang tersebut yang membuat hatinya terluka. Terbesit di benak nya kalau dia ingin menenangkan dirinya ke rumah lama. Mungkin di sana hati dan pikirannya akan lebih nyaman dan juga tenang tanpa ada yang mengungkit soal anak dan anak ....


Aku tetap ingatkan ya ... jangan lupa lik dan komennya karena jempol lakukan penambah semangat ku. Makasih

__ADS_1


__ADS_2