Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Diterima


__ADS_3

Kini Renita sudah berada di kantor memulai aktivitasnya kembali seperti semula. Semua staf dan karyawan menyambut hangat kehadiran Renita kembali ke kantor dan mereka sangat bahagia dengan kembalinya Renita yang mereka anggap seorang atasan yang baik dan perhatian.


“Selamat datang kembali di kantor ini Bu ... kami sangat gembira dengan kembalinya Ibu di kantor ini lagi,” ucap seorang staf pada Renita.


“Hooh, saya kira Ibu tidak akan kembali ke kantor, mengingat sudah menjadi istrinya Bos dan alhamdulillah Ibu kembali lagi ke sini.” Tambah yang lainnya.


Renita hanya mengulas senyumnya atas sambutan mereka padanya. Menandakan kalau dirinya punya tempat tersendiri di hati mereka semua.


“Rasanya sepi tanpa ada kehadiran Ibu di kantor ini. Bagai tiada  yang perhatikan. Iya gak?” tambahnya sala seorang lagi.


“Oke, sekarang kalian berkerja lah, nanti saya yang kena tegur dan selamat bekerja ya. Semangat?” Renita sambil mengangkat tangannya di udara dan lalu dia mengayunkan langkahnya untuk memasuki ruangan kerjanya.


Semua staf saling berbincang soal kembalinya Renita kembali bekerja. Dan itu masih sempat terdengar oleh telinga Renita membuat wanita itu melukiskan senyumannya di wajahnya. Lantas berdiri sejenak di depan pintu ruangan HRD yang menjadi tempat kerjanya tersebut. “Akhirnya aku kembali bekerja di sini. Setelah sekian lama vakum.”


Renita membawa langkahnya ke dekat meja kerja yang tampak rapi dan bersih. Ia duduk di kursi yang menjadi kursi kebesarannya.mulai membuka laptop dan mengesampingkan beberapa berkas yang harus dia cek dan pelajari kembali.


Sekitar pukul 10 pagi menjelang siang. Renita kedatangan seorang tamu dan membuat Renita dan juga tamunya merasa kaget sejenak tidak ada kata di antara mereka berdua.


Namun setelah beberapa saat kemudian, Renita pun tersadar. Kalau tamu yang berada di hadapannya itu belum dipersilakan duduk. “Em ... silakan duduk Mas?”


Tamunya Renita yang tidak lain adalah Azam juga tidak menyangka kalau pihak HRD itu Renita. Dia mendapat undangan dari Malik agar datang ke kantornya membawa data yang lengkap. Tentu di sambut oleh Azam yang memang merasa tidak sanggup untuk meneruskan bekerja sebagai kuli bangunan yang sama sekali bukan lah bidangnya.


“Oh iya, makasih.” Sambutnya Azam sambil menarik sandaran kursi yang lalu dia duduki.


“Ehem. Apa ada yang dapat saya bantu.” Renita pada akhirnya membuka obrolan.


“Saya mau ke sini karena di tawari oleh Malik untuk melamar kerja di sini, siapa tau kau berkenan menerima ku.” Azam menatap pada Renita lalu menyerahkan berkas-berkas berisi data pribadinya.


Renita menerimanya dan membuka berkas milik Azam, sejenak ia terdiam. Sesekali menoleh pada layar laptop nya dengan membaca email yang muncul.


“Em ... perusahaan ini sedang membutuhkan seorang manajer pemasaran yang kebetulan sedang cuti, jadi butuh orang yang siap untuk menggantikannya.” Jelasnya Renita tanpa menatap ke arah wajah nya Azam.

__ADS_1


Azam hanya mendengarkan dan menatap gerak geriknya Renita yang tampak sedikit kaku berhadapan dengannya. Bagaimana tidak? bagaimana pun mereka adalah mantan yang pernah hidup bersama, dan rumah tangga nya terlerai dengan adanya pihak ketiga. Nyesek memang bila mengingat itu.


“Ren, aku minta maaf atas segala kesalahan ku, aku salah banyak salah padamu dan Rendy,” ucapnya Aam yang tiba-tiba berucap demikian.


Renita menoleh dan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan lirih. “Sebaiknya tidak membicarakan hal pribadi di nisi, ini kantor dan tempat bekerja em ... tidak perlu membahas masalah pribadi.”


Azam menghela nafas dengan panjang dan sedikit menganggukan kepalanya. “Maaf.”


“Sekarang ... anda diterima di sini bisa mulai bekerja hari ini juga, silakan nanti mempelajari berkasnya dan ... em ... minta berkasnya ke sekertaris.” Renita menutup berkas miliknya Azam.


“Jadi aku em ... saya di terima kerja di sini?” tanya Azam meyakinkan diri apakah dirinya di terima bekerja di perusahaan yang di naungi oleh Malik.


“Iya, anda di terima. Selamat bekerja!” Renita mengulurkan tangan pada Azam sambil berdiri.


“Aduh makasih ya Ren, Bu?” raut wajahnya Azam begitu sumringah setelah diterima bekerja di perusahaan tersebut. Dia pun berdiri dan berjabat tangan dengan wanita yang kini menjadi atasannya itu.


“Silakan, saya antar ke ruangan tempat anda bekerja dari mulai saat ini.” Renita mengayunkan langkahnya keluar dari tempat tersebut menuju ruangan manajer yang akan Azam tempati sekarang ini.


Azam mengedarkan pandangannya ke area sekitar dan juga Renita mengenalkan Azam sebagai staf baru pada staf lainya yang berpapasan dengan mereka.


Azam menyisir melihat ruangan tersebut dan dia pun bersyukur karena sudah mendapat pekerjaan lagi tanpa harus panas-panasan lagi mencari sesuap nasi. Azam mengembuskan nafasnya dengan panjang.


“Makasih ya sudah menerima aku ah saya di perusaan ini.” Azam menatap ke arah Renita.


“Sama-sama. Selamat bekerja dan bekerja sama dengan yang lainnya.” Renita pun berlalu setelah mengantar Azam ke rungan kerjanya.


Azam menatap punggungnya Renita sebelum pada akhirnya dia duduk di kersi yang akan menjadi kursi kebesarannya itu.


Renita terus berjalan keluar dari tempat itu dan membawa langkahnya kembali ke rungan kerja semula. Dia mengembuskan nafasnya seraya berkata dalam hati.


“Semoga kamu betah dan amanah kerja di perusahan ini.” Sambil menoleh ke arah ruang Azam.

__ADS_1


Kemudian melanjutakan lagi langkahnya yang sempat terhenti. Renita mendudukkan dirinya di kursi dan melanjutkan aktivitas kembali. Sesekali melirik ke arah jam yang berada di tangan yang sudah menunjukan pukul


11 siang.


“Rendy pasti sudah pulang.” Renita menelpon pihak rumah untuk menanyakan kalau Rendy sudah pulang atau belum.


Wanita itu merasa lega karena sang buah hati sudah berada di rumah, pulang sekolah dengan selamat. “Alhamdulillah ... kalau sudah pulang, dan berada di rumah.”


Saat ini Renita sedang makan siang bersama suaminya, Malik. Di restoran yang dekat kantor saja. keduanya menikmati makannya dengan sangat lahap.


Malik menetap istrinya sambil mengunyah. “Gimana apa hari ini Azam melamar pekerjaan sayang?”


“Ngah, ada dan ... sudah aku terima dia sudah aku tempatkan menjadi staf manajer. Kan begitu yang kata kamu juga,” jawabnya Renita sambi menikmati makannya.


“Syukurlah kalau sekarang dia sudah punya pekerjaan yang lebih baik.” Malik mengangguk pelan sambil mengulas senyuman yang di tujukan pada Renita.


“Hooh, sudah. Dan ... sekarang dia sudah menjadi staf  di sini.” Renita mengangguk pelan.


Selesai makan, mereka pun melanjutkan ke masjid terdekat untuk melaksanakan salat duhur terlebih dahulu dan lalu kemudian merkea beranjak dari tempat tersebut, kembali lagi ke kantornya yaitu ke ruangannya masing-masing.


“Nanti aku jemput kalau mau pulang. Atau sayang ke ruanganku saja, kalau aku telat. Oke?” Malik mencium pucuk kepala wanitanya yang di balut dengan kerudung berwarna merah muda tersebut.


“Hooh, nanti aku yang ke ruangan kamu.” Balasnya Renita sambil mengangguk dan melepaskan rangkulannya pada pinggangnya sang suami.


Mereka berdua pun terpisah di sebuah koridor dan berjalan dengan tujuannya masing-masing. Renita berpapasan dengan Azam yang sepertinya dari sehabis makan siang.


Azam sempat melihat kemesraan antara Renita dan Malik yang bikin iri yang memandang. Dan  ... Azam hanya bisa menghela nafas dalam-dalam melihat mantan istri sudah bahagia dengan suaminya yang baru.


“Andai saja kau masih istri ku dna yang menyentuh kamu itu ... memperlakukan mu dengan mesra tentunya hanya aku saja yang tidak satu orang pun ku biarkan menyentuh mu selain diriku.” Batinnya Azam sambil berjalan dengan mata yang terus memandangi punggungnya Renita sampai hilang dari pandangan.


Renita pun sempat melihat keberadaan nya Azam tatkala dirinya dengan Malik saling gandeng dengan mesra. Ada rasa canggung dan gak enak menyapa kalbu perasaan yang bagaimanapun mungkin karena belum terbiasa.

__ADS_1


Jadinya Renita merasa kurang nyaman ....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... makasih,


__ADS_2