
Dengan tagihan kartu kredit yang sangat membengkak. Tentunya membuat Azam sangat marah pada istrinya, Sharon.
Brakh.
Tangan Azam menggebrak meja kerjanya, namun tidak sampai membuat barang-barang yang berada di atas meja tersebut berjatuhan. Rahang Azam mengeras dan rasanya tangan pria tersebut ingin menonjok sesuatu, pertanda kalau dia sedang sangat marah.
"Bisa-bisanya tagihan kartu kredit ku membengkak seperti ini, dia itu belanja apa saja sih? sehingga tidak kira-kira dalam waktu singkat sebesar ini!" gumamnya Azam sembari mengatakan giginya.
Azam menutup laptopnya lalu dia masukkan ke dalam tas, yang kemudian dia jinjing. Berjalan dengan tergesa-gesa pergi keluar dari ruangan kerjanya disebut.
Beberapa staf menyapa pun tidak dia dengar apalagi dia sapa balik. Bibirnya monyong dan mukanya ditekuk begitu masam.
Berjalan cepat menuju mobil yang terparkir di parkiran staf. Mengarahkan remote pada puntu yang terkunci dan gegas dia masuk, sebelum menyalakan mobil tersebut. Azam memukul kemudi.
"Ha? brengsek ... aku bayar dari mana? tabungan ku sudah menipis." Teriak nya Azam hingga terdengar oleh orang yang kebetulan berada di sana. Menoleh pada mobil Azam.
"Emangnya dia pikir bayarnya pakai daun apa? dengan mudahnya membeli ini dan itu!" Azam kembali bersuara keras dan beberapa kali memukul kembali kemudi.
Lalu Azam menghidupkan mesin mobil dan tancap gas, mobil Azam melesat bak anak panah yang lepas dari busurnya.
"Salah ku juga sih yang sudah memberikan kartu kredit pada Sharon. Seharusnya tidak ku berikan kartu itu dan cukup ku berikan uang kes saja!" Azam merutuki dirinya.
"Tapi kalau yang kes, tiap hari minta uang bikin telinga ku ini panas dan kepala ku pecah." gerutu Azam sambil memutar kemudi, membelokan mobilnya ke jalan menuju ke rumah ia dan Sharon.
Azam pada akhirnya tiba di kediamannya. Selang beberapa puluh menit bergelut di jalanan. Dia turun dari mobilnya dengan langkah yang sangat lebar memasuki pintu utama dengan kedua netra mata nya mencari keberadaan Sharon, istrinya.
"Mbak, Sharon mana?" tanya Azam sambil berdiri serta tangan di pinggang. Panggilan pun nama, bukan nyonya.
Mbak terdiam sejenak lalu celingukan ke arah dalam rumah, Sharon memang ada tapi baru saja datang setelah jalan seharian. "Em, Nyonya ... ada kok!"
__ADS_1
Azam memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan! dengan tetapan yang tajam, berharap istrinya muncul di sana. "Sharon? Sharon ...."
Dan tidak lama kemudian Sharon memang muncul di tempat sambil gendong putranya, Denis. "Ada apa sih Mas teriak-teriak? dapat lotre apa?"
"Iya lotre yang sangat mengejutkan alias mencengangkan, yang sangat fantastis. Apakah kamu ingin membunuh ku secara pelan-pelan hah?" sergah Azam sembelih menatap tajam ke arah Sharon.
"Maksud kamu apa sih Mas? membunuh gimana caranya? aku tidak mengerti dengan maksud mu itu?" Sharon kebingungan dengan yang dimaksudkan oleh Azam.
"Ck, tagihan kredit ku sangat membengkak! kamu belanja apa saja. Saya kan sudah bilang, belanja yang penting-penting saja yang tidak penting nggak usah dibeli. Kalau cuman ke salon untuk mempercantik diri, perasaan nggak akan tagihan bengkak seperti itu? kamu itu belanja apa saja?" tanya Azam dengan suara yang tinggi.
Mbak yang masih berdiri di situ dan melihat gelagat Azam yang demikian, dia langsung berinisiatif untuk mengambil Denis dari tangan Sharon. Dan membawanya ke ruangan lain.
Mendapat bentakan dari Azam Sharon menciut ketakutan. dan suaranya blabab-blebeb. "It-itu ... aku membeli tas, pakaian dan perhiasan! dan ... aku juga ke salon agar tampil cantik dan ka-kamu ti-tidak malu ka-kalau istri mu cantik."
"Saya tidak masalah kamu membeli semua barang itu, tapi yang jadi masalahnya. Kenapa bisa seperti itu? kan bisa yang biasa-biasa, gak harus sampai tagihan mencapai ratusan juta. Saya dari mana akan bayarnya itu semua? tabungan saya saja sudah menipis, membeli rumah. Motor, tanah yang seperti kamu mau. Sekarang saya mau bayar tagihan dengan apa?" nada suara Azam semakin tinggi.
"Saya tanya ... kamu membeli apa? tanah, sawah atau barang berharga lainnya? sehingga menghabiskan uang ratusan juta!" lagi-lagi Azam membentak wanita yang berada di hadapannya tersebut.
Membuat Sharon memejamkan kedua matanya. Dia sangat ketakutan. Melihat Azam yang mengeluarkan taringnya! wajahnya benar-benar tampak marah serta kedua matanya merah.
Apalagi ketika terdengar suara bugh ... rupanya Azam memukul dinding, tampak Sharon semakin gugup, panik. Ia sangat ketakutan hingga mundur berapa langkah, lututnya pun melemas ambil saja tubuhnya luruh ke lantai.
"Putra saya saja yang nafkahnya cuma berapa juta/bulan tidak pernah saya kasih dan Itu semua buat siapa? buat kamu! tapi kamu dalam waktu singkat menghabiskan ratusan juta dan itu tidak jelas membeli apa? bukannya dipergunakan dengan baik, saya memberikan kamu kartu kredit saya biar dalam waktu kepepet! saya nggak ada, di saat kamu butuh uang bisa pakai itu dulu, bukannya malah keenakan!"
Azam pun memutar tubuhnya! lalu dia setengah berlari menaiki anak tangga. Untuk menjangkau lantai atas dan menuju kamarnya.
Sharon yang tambah panik, langsung menyusul suaminya ke lantai atas. Hatinya gelisah was-was cemas bercampur menjadi satu.
Setibanya di kamar, Azam langsung menghampiri lemari milik Sharon yang lantas membukanya dan mengobrak-abrik semua isinya. Dia ingin tahu barang apa saja yang sudah istrinya beli.
__ADS_1
Namun yang ditemui hanya barang-barang baru tidak akan mencapai harga yang tertera atau sesuai nominal tagihan. Tentu membuat Azam semakin heran. Makanya dia bertanya kembali, di pakai apa? diinvestasikan seperti apa uang yang sudah Sharon ambil dari kartu kredit miliknya.
Sharon yang menunduk bak burung dapat mukul, tidak bisa menjawab! yang diakui hanya membeli barang-barang itu saja. Ke salon dan makan-makan sama teman.
"Saya harus membayar tagihan itu dengan apa ha? saya sudah tidak punya uang sebanyak itu, kau pikir bisa membayarnya dengan daun?" bentaknya Azam.
"Ya ... terserah bayarnya dengan apa, bukan urusan ku untuk membayar kok. Aku dikasih ya aku ambil dan aku pergunakan! soal membayar nya aku nggak mau tahu!" monolognya Sharon dalam hati, saya menunduk dalam! dari keningnya. Tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Azam mengacak rambutnya frustasi, lalu dia mengambil tas Sharon dan mengacak isinya! mencari kartu kredit yang lalu dia sita kembali. "Mulai sekarang, tidak ada namanya ke salon. Tidak ada belanja-belanja ataupun shopping dan tidak ada makan sama teman!"
"Tapi Mas ... masa aku nggak boleh ke salon sih? nanti aku bulukan dong, nanti aku kucel dan yang malu siapa? kamu juga!"
Sharon protes dan kebingungan kalau kartu itu disita, dia belanja. Jalan! ke salon. Siapa yang akan bayar? toh gebetannya bukannya ngasih, dibelanjain. Bayarin! tetapi yang ada malah sebaliknya, makanya tagihan Azam membengkak.
"Nggak bisa gitu dong, Mas. Ngasih nafkah kan kewajiban kamu! terus aku menggunakan apa kalau kamu nggak bekali aku uang, uang kes juga nggak!" Sharon menatap cemas ke arah Azam yang masih tampak marah.
"Dengar ya? Ranita aja nggak pernah ke salon! dia bisa kok tampil cantik, tidak seperti apa yang kamu bilang itu. Ke salon itu cuma formalitas doang! buang-buang duit saja yang penting kamu bisa merawat diri di rumah!" Jelasnya Azam dengan pandangan dingin.
"Mas, Mas tidak perlu membandingkan aku dengan mantan istri mu yang kere itu. Yang tidak tau mempercantik diri, sehingga kamu pun bosan dan berpaling pada ku!" kini berbalik Sharon yang bernada tinggi.
"Saya tidak peduli dengan omongan mu itu! sekali tidak tetap tidak." Kini Azam menjatuhkan bokongnya di atas tepi tempat tidur dan membuka sepatunya, melepas juga baju formalnya dengan wajah yang terus ditekuk tak ada senyuman sama sekali.
Hening ....
Sharon pun terdiam dengan rasa kesal yang menghinggapi perasaannya saat ini ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa jejak nya ya juga kritikan dan saran. Makasih
__ADS_1